-



Jika anda sedang berlibur di Bandung dan memerlukan kendaraan, Kami menyediakan mobil rental.
ANSOR
085759846855
Pin BB: 2050780F
YM: achonk2001@yahoo.com

Friday, May 24, 2013

Beginilah Cara Alquran Memberangus Miras

Untuk kesekian kalinya, publik kembali digemparkan dengan berita para pesohor yang terjerat kasus narkoba. Negeri ini sepertinya sudah menjadi surga bagi peredaran barang haram yang satu ini. Penggunanya merata di semua kalangan, tidak pandang bulu.

Artis, selebritis, politisi, pejabat, preman dan tentunya generasi muda sebagai kelompok yang  paling terancam. Tidak salah jika masalah narkoba dan sejenisnya menjadi musuh kedua terbesar bangsa ini setelah korupsi. Keduanya sama-sama merusak moral dan tatanan kehidupan berbangsa.

Keharaman Narkoba diserupakan dengan keharaman khamar (miras), karena kedua-duanya memiliki ‘illat yang sama yaitu memabukkan dan dapat menutupi akal orang yang mengkonsumsinya. Selain itu, Narkoba juga merupakan makanan yang buruk yang diharamkan Allah dalam firman-Nya, “… dan Dia menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk…” (Q.S. Al A’raf: 157)

Untuk memberantas peredaran dan penggunaan Narkoba di Indonesia, bangsa ini sudah selayaknya belajar dari Alquran. Bagaimana Alquran yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. 14 abad yang lalu mampu membebaskan ummat dari budaya miras yang sudah menggurita.

Konon, orang-orang Arab terbiasa minum khamar seperti layaknya kita minum air biasa. Sudah begitu mendarah dagingnya kebiasaan buruk ini. Namun hanya dalam tempo hitungan tahun, Alquran berhasil menyelesaikan problem sosial yang mengancam kehidupan ini.

Menurut Muhammad Ali As Shabuni  dalam At Tibyan fi ‘Ulumil Quran, Allah Swt  tidak mengharamkan khamar secara sekaligus. Namun pengharaman ini berlangsung secara tadarruj (bertahap). Ada empat tahapan ayat-ayat yang Allah turunkan terkait dengan pengharaman khamar ini.

Ayat pertama, firman Allah, “Dan dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti.” (Q.S. An Nahl : 67).

Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan nikmatnya kepada manusia melalui dua pohon; kurma dan anggur. Namun ada manusia yang menjadikan buahnya untuk sesuatu yang buruk, yaitu membuat minuman yang memabukan. Dan ada yang menjadikannya wasilah mendapat rezeki yang baik. Bagi orang yang berakal yang melihat ayat (tanda kebesaran Allah) tentu akan menghindari tipe pertama.

Kemudian turun ayat kedua, “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya.” (QS. Al Baqarah : 219)

Ayat ini jelas menyebutkan adanya unsur dosa dalam khamar. Walaupun ayat ini belum menegaskan keharamannya. Namun bagi orang yang menjaga kesucian diri, tentunya akan memilih menghindari setiap perbuatan yang menyeretnya pada lembah dosa.

Ayat yang ketiga QS. An Nisa : 43, “Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati shalat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai sadar apa yang kamu katakan…” Ayat ini mengharamkan khamar pada sebagian waktu saja, yaitu pada waktu-waktu shalat. Namun demikian, bagi orang yang menjaga shalatnya tentu sudah tidak ada waktu lagi untuk bersantai menyia-nyiakan waktu bersama barang haram ini.

Adapun ayat keempat yang merupakan tahap pengharaman secara mutlak yaitu; QS. Al Maidah : 90. “Wahai orang-orang yang beriman ! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”

Ketika ayat ini turun, sontak Madinah saat itu banjir khamar, karena kaum muslimin bergegas memenuhi seruan Ilahi ini dengan membuang semua persediaan khamar yang ada. Sebuah keta’atan yang tidak akan terjadi pada undang-undang dan peraturan manapun di dunia ini. Sebab undang-undang Allah direspon dan dicerna dengan aqidah dan keimanan.  

Dari tahapan-tahapan ayat pengharaman khamar ini, kita bisa mempelajari kiat dan cara menjauhi narkoba, miras dan sejenisnya. Pertama dengan meningkatkan keimanan melalui pembacaan ayat-ayat Allah.

Kedua, selalu berusaha menghindari perbuatan-perbuatan dosa. Sebab dosa ibarat siklus; yang satu dan lainnya saling terkait dan terhubung, satu dosa akan menghadirkan dosa lainnya, dan begitu seterusnya.

Ketiga membentengi diri dengan shalat, sebab shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Keempat, berlindung diri dari godaan setan dan menjauhi tipu dayanya.

Wallahu a’lam bishawab!               
Oleh Imanuddin Kamil Lc

sumber : www.republika.co.id

Thursday, May 23, 2013

Manusia yang Akan Mendapat Laknat Allah SWT

Tujuan diutusnya para rasul ke dunia adalah agar umat manusia mengetahui hakikat kehidupan dunia dan mampu menghindari keburukan-keburukan yang ditimbulkan oleh ketidakmengertian dan hawa nafsu.

Akibat kebodohan dan hawa nafsu, manusia akan mendapatkan kehinaan, siksa, dan malapetaka. Padahal sesungguhnya manusia diciptakan di dunia adalah untuk beribadah dan menjadi khalifah, panutan, dan pemimpin yang baik di muka bumi ini.

Maka, sangat merugi golongan orang-orang yang kafir dan ingkar terhadap Allah. Di antara golongan yang merugi itu adalah orang-orang yang membunuh saudara sebagian mereka, mengusir golongan dari mereka dari kampung halaman mereka, saling bantu-membantu dengan berbuat dosa dan permusuhan, mereka pun beriman kepada sebagian al-kitab (Taurat) dan kufur terhadap sebagian yang lain (QS Al-Baqarah: 85).

Golongan lain adalah orang-orang yang murtad dari agamanya, memusuhi Islam semasa hidupnya dan mati dalam keadaan kafir (QS Al-Baqarah: 217), orang yang menghalangi menyebut nama Allah SWT dalam masjid dan berusaha merobohkannya (QS Al-Baqarah: 114), orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah SWT, yang membunuh para nabi tanpa hak  (QS Ali Imron: 22 dan 56), membuat kerusakan di bumi (QS Al-Maidah: 33), orang-orang Yahudi yang pendusta (QS Al-Maidah: 41), serta orang-orang malas mengerjakan shalat dan mengeluarkan zakat (QS At-Taubah: 54-55).

Selain itu, golongan lain yang akan mendapatkan laknat dunia adalah orang-orang munafik dan kafir yang menggunakan kekuasaannya secara batil (QS At-Taubah: 69), orang-orang munafik (QS At-Taubah: 74), tidak mau berjihad di jalan Allah (QS At-Taubah: 8-85), serta penduduk suatu negeri yang tidak beriman kepada nabi mereka dan mereka tidak mendapatkan keimanan apabila mereka beriman, seperti kaum Yunus (QS Yunus: 98).

Begitu pula golongan orang yang suka membantah tentang Allah SWT tanpa ilmu pengetahuan dan yang menyembah Allah SWT dengan tidak penuh keyakinan. Mereka juga seperti golongan orang-orang yang suka berita-berita kekejian dan menyebarluarkan di kalangan orang-orang beriman (QS An-Nur: 19), orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik melakukan perzinaan (QS an-Nur: 23), orang-orang yang menyakiti Allah SWT dan rasul-Nya (QS Al-Ahzab: 57), orang-orang dzalim yang mendustai para rasul sepanjang masa (QS Az-Zumar: 25-26), kaum Ad yang sombong di muka bumi dengan mengatakan, “Siapa yang paling kuat daripada kami?” mereka juga kufur terhadap ayat-ayat Allah SWT (QS Fushilat: 15) dan orang-orang Yahudi Bani Nadzir yang diusir oleh Rasulullah dan orang-orang Islam dari kota Madinah Al-Munawaroh karena pengkhianatan dan permusuhan mereka (QS Al-Hasyr: 2-3).

Merekalah golongan-golongan yang terancam dengan laknat dunia dan akhirat akibat kelalaian dan kekafiran mereka. Rasulullah sesungguhnya telah mengajarkan dan menuntun kepada syariat yang benar. Telah ada pada diri Rasulullah uswatun hasanah (teladan yang baik). Maka, sudah sepatutnya kita menjalankan syariat Allah SWT dan hendaknya jangan melakukan perbuatan kafir dan khianat seperti golongan orang-orang yang merugi tersebut.

Pengasuh PP. Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan
Oleh KH Muhammad Dawam Saleh

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, May 22, 2013

Berjamaah Dalam Muamalah

Salah satu perintah utama ajaran Islam pada umatnya adalah agar membiasakan berjamaah dalam segala aktivitas kebaikan.Baik aktivitas yang berkaitan dengan ibadah mahdhah kepada Allah SWT maupun ibadah yang terkait dengan pembangunan kesejahteraan masyarakat dan bangsa, serta umat manusia secara luas (muamalah).

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk
.” (QS al-Baqarah [2]: 43). “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS al-Maidah [5]: 2).

Shalat berjamaah di masjid sebagai contoh, selain pahalanya lebih besar 27 kali lipat dibanding shalat sendirian, juga akan membangun silaturahim dan ukhuwah Islamiyah antara sesama orang yang shalat.

Akhirnya, diharapkan akan menguatkan kesatuan dan persatuan. Bahkan, pada zaman Rasulullah, shalat berjamaah dijadikan sebagai medium kontrol terhadap perilaku dan keadaan sahabat-sahabat beliau.

Apabila beliau selesai mengimami shalat Subuh, beliau memalingkan tubuh dan wajahnya ke arah jamaah sambil menanyakan apakah sahabatnya lengkap hadir atau tidak.

Jika ada yang tidak hadir, ditelusurinya mengapa sampai tidak hadir. Yang sangat mengesankan, berjamaah ibadah di zaman Rasulullah dan para sahabat melahirkan semangat berjamaah dalam bidang muamalah.

Misalnya, bidang ekonomi, politik, kepemimpinan, dan pengentasan kemiskinan, serta peningkatan kesejahteraan. Jamaah masjid pada saat itu menjadi jamaah dalam bidang ekonomi.

Para jamaah akan membeli keperluan hidupnya hanya pada kios dagangan yang dimiliki oleh sesama jamaah. Akibatnya, perdagangan dan ekonomi umat berjalan secara baik dengan berbasiskan jamaah masjid.

Artinya, berbasiskan nilai-nilai keimanan, ketakwaan, amanah, dan kejujuran, serta tidak ada khianat dan terjadi penipuan.

Terkenallah ucapan beliau, seperti dikemukakan dalam hadis sahih, “Nahnu qoumun, laa na’kulu illaa tho’aama taqiyyin, walaa ya’kulu tho’aamanaa illaa taqiyyun” (Kami adalah kaum yang tidak pernah mengonsumsi, kecuali dari makanan orang takwa, dan tidak mengonsumsi makanan kita, kecuali orang yang bertakwa). Oleh sebab itu, jelas terdapat garis ketakwaan yang menghubungkan antara produsen dan konsumen.

Seyogyanya, jamaah masjid sekarang pun menjadi jamaah ekonomi umat. Tidak akan pernah jamaah bertransaksi pada perbankan, kecuali perbankan syariah atau lembaga keuangan syariah lainnya, seperti asuransi syariah atau pegadaian syariah.

Tidak akan pernah jamaah mengonsumsi makanan, kecuali makanan yang bersih dan halal yang diproduksi oleh sesama kaum muslimin.

Hubungan antarjamaah kaum Muslimin selain dibangun atas dasar kesamaan akidah dan ibadah, juga kesamaan dalam bidang muamalah.

Dan, jika ini yang terjadi, akan lahir kekuatan umat yang mampu berkontribusi di dalam pembangunan bangsa secara lebih luas. Karena itu, mari kita kuatkan berjamaah dalam ibadah dan dalam bidang muamalah.
Oleh: KH Didin Hafidhuddin

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, May 21, 2013

Sayang dan Santun

Sayang dan santun terhadap sesama Muslim adalah kewajiban dan amal mulia yang menjadi indikator terkuat kesempurnaan iman.Hal ini bisa dilihat dari sabda Rasulullah, "Belum sempurna iman kalian, sehingga kalian berkasih sayang." (HR Thabrani). Dengan kata lain, Muslim sejati adalah Muslim yang senantiasa sayang dan santun terhadap sesamanya. (QS 48: 29).

Oleh karena itu, Allah mengelompokkan Muslim yang senantiasa saling berwasiat dalam kesabaran dan kasih sayang ke dalam kelompok kanan, yakni kelompok yang benar dan akan mendapat kemenangan dan kebahagiaan. "Kemudian, dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berwasiat untuk bersabar dan berkasih sayang, mereka itulah golongan kanan." (QS 90: 17-18).

Dikatakan golongan kanan karena di dalam beberapa hadis disebutkan pahala seorang Muslim yang sayang dan santun terhadap sesama dan makhluk hidup lainnya sungguh sangat luar biasa.
Seperti yang diriwayatkan Abdullah bin Amr bin ‘Ash, Rasulullah bersabda, "Orang-orang yang penyayang dan santun akan diberi rahmat oleh Allah. Oleh karena itu, sayangilah penghuni bumi, niscaya penghuni langit akan menyayangi kalian." (HR Abu Dawud).

Dalam kajian sosiologi, sayang dan santun tidak saja akan menciptakan terjadinya kerukunan hidup, tetapi kemajuan masyarakat. Karena, sifat sayang dan santun pada akhirnya akan mengantarkan masyarakat cerdas dalam bersikap dan bijak dalam bertindak.

Lebih dari itu, nilai-nilai persaudaraan menjadi hal paling utama di atas segala macam bentuk kepentingan pribadi dan golongan, sehingga kecil kemungkinan akan terjadi kesalahpahaman, apalagi pertikaian, permusuhan, dan perkelahian.

Islam mewajibkan umatnya mengamalkan sifat sayang dan santun, tidak saja terhadap sesama Muslim, tetapi juga kepada makhluk Allah lainnya, seperti tumbuhan dan hewan.

Mu’awiyah bin Qurrah meriwayatkan, seorang laki-laki berkata, "Rasulullah, sesungguhnya aku benar-benar menyayangi domba yang akan disembelih." Rasulullah kemudian bersabda, "Jika kamu menyayanginya, Allah pasti akan menyayangimu." (HR Al-Hakim).

Bahkan, sebuah riwayat menyebutkan ada seorang hamba Allah masuk surga karena menolong seekor anjing. Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda, "Suatu ketika, ada seseorang turun memasuki sebuah sumur. Dia minum air di dalamnya. Setelah kembali dari dalam sumur, ternyata dia melihat seekor anjing menjulur-julurkan lidahnya karena kehausan. Orang itu merasa kasihan dengannya.

Akhirnya, dia kembali turun memasuki sumur untuk kedua kalinya. Salah satu sepatunya dia penuhi dengan air dan diangkat ke atas. Kemudian, anjing itu dia beri minum. Anjing itu bersyukur kepada Allah dan mendoakan orang itu, sehingga Allah memasukkannya ke dalam surga." (HR Bukhari Muslim).

Jadi, sifat sayang dan santun adalah perkara mulia. Dengan demikian, mari senantiasa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika terhadap hewan saja Allah berikan jaminan surga, bagaimana jika terhadap sesama manusia? Tentu Allah akan berikan balasan yang berlipat ganda setelah balasan surga.

Oleh: Imam Nawawi
sumber : www.republika.co.id

Monday, May 20, 2013

Hukum dan Fakta

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid ra, ia berkata: “Rasulullah saw mengutus kami ke Huraqah, salah satu suku Juhainah. Pada pagi hari, kami mendatangi sumber air mereka, lalu saya dan seorang sahabat Anshar mengejar salah seorang diantara mereka. Ketika kami telah mengepungnya, ia mengucapkan “La ilaha illallah”.

Sahabat Anshar tadi melepaskannya, tetapi saya menikamnya dengan tombak saya sehingga saya membunuhnya. Ketika kami sampai di Madinah, berita itu telah sampai pada Nabi saw, beliau berkata kepada saya, “Hai Usamah, kenapa kamu membunuhnya padahal ia telah mengucapkan “La ilaha illallah?''

Saya menjawab, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ia mengucapkan kalimat itu karena takut pada pedang.” Beliau bertanya: “Apakah sudah kamu belah dadanya sehingga kamu mengetahui isi hatinya; Apakah ia mengucapkan kalimat itu dengan setulus hati atau tidak?” Beliau berkali-kali mengulang pertanyaan itu, sehingga saya berangan-angan baru masuk Islam pada hari itu.”

Kisah di atas memberikan tuntunan kepada kita bahwa di dalam masalah hukum hendaknya seseorang berpegang pada asas fahkum bidhawahir, yakni menghukumi seseorang dilihat dari fakta lahiriyahnya dan amal perbuatan yang muncul darinya.

Sebab, hukum harus dikaitkan dengan aspek lahiriyah dan tidak boleh menyelisik apa yang ada dalam batin manusia. Itu karena yang dapat kita ketahui dari seseorang sebagai dasar pengambilan suatu keputusan adalah dari lahiriyahnya dan amal perbuatannya karena apa yang ada di dalam hatinya kita tidak akan mengetahuinya, hanya dia dan Allah SWT yang mengetahuinya.

Dari Umar bin Khattab ra, ia berkata dalam khutbahnya: “Sesungguhnya manusia di masa Rasulullah dituntut dengan wahyu. Sesungguhnya wahyu ini telah putus dan kami sekarang menuntut kamu dengan amal-amalmu yang kelihatan bagi kami.”

Bila kita memutuskan suatu hukuman terhadap orang lain berdasar fakta lahiriyah dan dari amal perbuatannya akan mencegah terjadinya kesalahan.

Selain itu, kita memiliki alat bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS al-Maidah [5]: 47).

Untuk itu, hukumilah seseorang berdasarkan fakta lahiriyahnya jangan berdasarkan asumsi atau dugaan kita. Adapun urusan batinnya, apakah batinnya jujur atau tidak kita serahkan perhitungannya kepada Allah SWT.

Akhirnya, untuk memperteguh sikap fahkum bidhawahir (hukum sesuai fakta) ini, Rasulullah saw mengingatkan; “Sesungguhnya aku manusia biasa dan jika kalian membawa perkara kepadaku dan barangkali sebagian dari kalian lebih kuat argumentasinya daripada sebagian yang lain, kemudian aku memutuskannya berdasarkan sesuatu yang aku dengar. Maka barang siapa aku putuskan mendapatkan sesuatu dari hak saudaranya, maka ia jangan mengambilnya, karena aku memberinya potongan dari neraka.” (Muttafaq Alaih).
, Oleh Moch Hisyam
sumber : www.republika.co.id

Sunday, May 19, 2013

Menghormati Derajat Pekerja

Aparat kepolisian berhasil membongkar praktik perbudakan di sebuah industri pengolahan limbah menjadi perangkat aluminium yang berlokasi di Kampung Bayur Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan Timur, Tangerang, Banten. Sebanyak 34 orang buruh berhasil dibebaskan, dan sampai saat ini polisi telah mengamankan lima tersangka.
Dalam temuan kepolisian, pemilik pabrik tak membayar gaji sebagian besar buruh, pemilik pabrik juga tak memberikan fasilitas hidup yang layak, tak mengizinkan buruh untuk melakukan ibadah shalat, tidak memperbolehkan para buruhnya istirahat, serta melakukan penganiayaan terhadap buruh.
Sungguh tragis membaca berita tersebut. Tidak ada satupun ajaran agama di dunia ini yang membenarkan praktik kejam seperti itu. Terlebih agama yang agung, Islam. Sejak diturunkan, Muhamad saw selalu mengajarkan Islam untuk menghormati pekerja, yang notabene telah membantu kita.
Ada baiknya kita membaca riwayat kisah Anas bin Malik ra. Anas bin Malik adalah di antara daftar pernah menjadi pembantu Nabi saw. Selama hampir 9 tahun lamanya, sejak di usia 10 tahun, beliau melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah testimoni sahabat Anas dikisahkan,  suatu hari (sewaktu masih kanak-kanak), beliau menyuruhku untuk tugas tertentu.
Aku bergumam: Aku tidak mau berangkat. Sementara batinku meneriakkan untuk berangkat menunaikan perintah Nabi Allah. Aku pun berangkat, sehingga melewati gerombolan anak-anak yang sedang bermain di pasar. Aku pun bermain bersama mereka.
Tiba-tiba Rasulullah saw memegang tengkukku dari belakang. Aku lihat beliau, dan beliau tertawa. Beliau bersabda: “Hai Anas, berangkatlah seperti yang aku perintahkan.”  “Ya, saya pergi sekarang ya Rasulullah.” Jawab Anas.
Beliau memberi kesan: “Demi Allah, aku telah melayani Nabi saw sallam selama 7 atau 9 tahun. Saya belum pernah sekalipun beliau berkomentar terhadap apa yang aku lakukan: “Mengapa kamu lakukan ini?”, tidak juga beliau mengkritik: “Mengapa kamu tidak lakukan ini?” (HR. Muslim 2310 dan Abu Daud 4773).
Dalam cuplikan sejarah beliau yang lain, Rasulullah saw sangat perhatian terhadap kebutuhan pembantunya. Bahkan sampai pada menyemangati untuk menikah.
Dari Rabi’ah bin Ka’b al-Aslami, diceritakan, “Saya pernah menjadi pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Beliau menawarkan, “Wahai Rabi’ah, kamu tidak menikah?”
Aku  jawab: “Tidak ya Rasulullah, saya belum ingin menikah. Saya tidak punya dana yang cukup untuk menanggung seorang istri, dan saya tidak ingin disibukkan dengan sesuatu yang menghalangiku untuk melayani Anda.”
Rasulullah saw kemudian berpaling dariku. Setelah itu beliau bertanya lagi: “Wahai Rabi’ah, kamu tidak menikah?” Aku pun menjawab dengan jawaban yang sama: “Tidak ya Rasulullah, saya belum ingin menikah. Saya tidak punya ….dst.” Rasulullah saw kemudian berpaling dariku.
Kemudian aku ralat ucapanku, aku sampaikan: “Ya Rasulullah, Anda lebih tahu tentang hal terbaik untukku di dunia dan akhirat.” Aku bergumam dalam hatiku: “Jika beliau bertanya lagi, aku akan jawab: Ya.”
Ternyata Nabi saw tanya lagi untuk yang ketiga kalinya: “Wahai Rabi’ah, kamu tidak menikah?”
Aku langsung menjawab: “Ya, perintahkan aku sesuai yang Anda inginkan.”
Selanjutnya, Nabi saw memerintahkanku untuk mendatangi keluarga fulan, salah seorang dari suku Anshar. (HR. Ahmad 16627, Hakim 2718 dan at-Thayalisi 1173).
Tidak hanya bersikap baik dalam urusan dunia, Nabi saw juga memperhatikan urusan akhirat pembantunya. Beliau pernah memiliki seorang pembantu yang masih remaja beragama Yahudi.
Suatu ketika si Yahudi ini sakit keras. Nabi pun menjenguknya dan memperhatikannya. Ketika merasa telah mendekati kematian, Nabi saw menjenguknya dan duduk di samping kepalanya.
Beliau ajak anak ini untuk masuk Islam. Si anak spontan melihat bapaknya, seolah ingin meminta pendapatnya.
Si bapak mengatakan: ‘Taati Abul Qosim (nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).’ Dia pun masuk Islam. Setelah itu ruhnya keluar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan rumahnya dengan mengucapkan, “Segala puji bagi Dzat Yang telah menyelamatkannya dari neraka.” (HR. Bukhari 1290).
Demikianlah, betapa indahnya adab yang diajarkan dalam Islam ketika bermuamalah dengan pekerjanya. Sayangnya, banyak diantara kita yang kurang memahami ajaran ini, sehingga mereka justru menutupi keindahan ajaran agamanya sendiri.
, Oleh Dr HM Harry M Zein 

sumber : www.republika.co.id

Saturday, May 18, 2013

Meraih Surga dengan 'Awwabin Hafidz'

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”(Qs Qaaf: 16-18)   Sebagai sumber pedoman hidup manusia, Al-Quran tidak hanya mengajarkan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah untuk bekal manusia kelak di yaumil Qiyamah. Lebih dari itu, Al-Quran ‘ juga berperan sebagai basyiiran wa nadziiran—pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Sebagai pembawa kabar gembira, Allah akan membalas semua perbuatan manusia dengan sebaik-baiknya balasan. Dan bagi yang gemar melakukan dosa, Allah pun akan memberikan balasan yang setimpal dengan perbuatannya. Surah di atas cukuplah menjadikan ‘warning’ atau nadziiran untuk kita semua dalam berperilaku. Allah melekatkan Zat dan para malaikatNya lebih dekat dari urat leher kita. Artinya bahwa Dia mengetahui yang nampak dan tersembunyi baik ucapan, tindakan, ataupun yang hanya kita niatkan dalam hati. Bukan tanpa alasan Allah mengutus dua malaikat di sisi kanan dan kiri kita melainkan sebagai ‘pelapor’ terpercaya di depan pengadilan Allah Swt kelak, agar tidak ada yang ‘berdebat’ di hadapanNya. Perdebatan yang dimaksud ialah antara setan dan manusia, saat Allah sudah memberikan keputusan untuk melempar semua manusia pendosa ke dalam neraka, “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala.  Yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu. Yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sanga,t” (Qs Qaaf: 24-26)   Keputusan Allah tersebut tidak menjadikan iblis penggoda manusia selama di dunia diam. Ia pun kelak berkata pada Allah, “Yang menyertai dia (setan) berkata, ‘Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh’. Allah berfirman, ‘Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu,”. (Qaaf: 27-28) Pada akhirnya, surga memang hanya diperuntukkan orang-orang yang awwab dan hafidz. Awwab berarti pandai bertobat dan hafidz secara etimologi berarti menjaga. “Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). Terminology Allah Swt perihal Awwab dan Hafidz ini dijawab pada ayat selanjutnya, (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat,” (Qs Qaaf: 33) Begitu sistematisnya Allah memaparkan ayat ini, untuk menyentuh hati-hati yang haus akan tuntunanNya. Awwab dan Hafidz menjadi sebuah ‘peringatan’, bahwa Allah hanya menganugerahkan surga bagi hambaNya yang takut, bahkan saat tidak dilihat satu manusiapun. Setidaknya, ada sebuah pelajaran bahwa saat kita hanya takut pada Allah dalam kondisi apapun, maka ketakutan itulah yang menyetir segala perbuatan kita. Maka, akan seperti apa perbuatan kita kalau ketakutan pada Allah telah hilang? 
, Oleh Ina Salma Febriana 
sumber : www.republika.co.id

Friday, May 17, 2013

Belajar Arif

Pada suatu malam khalifah Umar bin Abdul Aziz melakukan sidak. Ia ditemani seorang petugas keamanan. Keduanya masuk sebuah masjid yang lampunya padam.

Tanpa disengaja, kaki sang khalifah menginjak seseorang yang sedang tidur. Orang itu terbangun dan berkata kepada Umar: "Apakah engkau gila?" "Tidak, saya tidak gila," jawab sang khalifah.

Petugas keamanan sempat tersinggung atas upacan tidak sopan itu. Ia bermaksud memukulnya, tetapi dicegah khalifah. "Jangan kau pukul. Dia cuma bertanya: "Apakah engkau gila? dan sudah aku jawab: “Aku tidak gila".
Sebagai Amirul Mukminin, aku sama sekali tidak merasa dihina atau dilecehkan. "Engkau jangan mudah marah, dia bertanya begitu karena belum sepenuhnya sadar, terbangun secara tiba-tiba. Kedatangan kita ke masjid ini boleh jadi mengganggu tidurnya," nasehat khalifah kepada petugas keamanan.

Kisah unik tersebut memberi pesan moral kepada kita, kearifan dan kematangan emosi mutlak dimiliki seorang pemimpin, di samping kesantunan, keramahtamahan, dan mampu membawakan diri dalam berbagai situasi.

Karena kearifian  merupakan kunci harmoni sosial. Sementara itu, emosi tak terkendali, reaksioner jika dikritik, dan mudah mengeluh atau mencurhatkan persoalan pribadi, hanya akan membuat masalah tidak terselesaikan dengan baik.

Kearifan mengantarkan kepada persahabatan sejati. Kearifan tidak hanya dapat meredam permusuhan, dan mengalahkan nafsu amarah yang diprovokasi oleh setan, juga dapat mencerdaskan emosi dan tidak mudah menyakiti pihak lain sehingga mudah bergaul, beradaptasi, dan bermasyarakat secara empati dan baik hati.

Pemimpin yang arif, tidak mudah marah dan meluapkan emosi tanpa pengendalian diri. Nabi Muhammad saw adalah figur paling arif nan santun yang patut diteladani. 

Beliau pernah dilempari kotoran setiap kali melewati rumah seorang Yahudi, tapi beliau tidak membalas dendam dan sakit hati.

Pada kali yang keempat lewat di depan rumahnya, beliau justru merasa heran, kenapa orang yang biasa melemparinya dengan kotoran busuk itu tidak mengulangi lagi perbuatannya.

Setelah diselidiki, ternyata orang Yahudi itu sakit. Beliau malah merespon positif dengan mendatangi rumahnya untuk menjenguk dan mendoakan kesembuhannya.

Melihat perlakuan Nabi saw yang luar biasa arif, Yahudi itu malu dan sempat menduga kedatangan rasul untuk membalas dendam. Sesampai di rumahnya, beliau ternyata memberi senyum ramah kepadanya sembari menanyakan sakitnya.

Ia meminta maaf kepada Rasulullah saw. "Sungguh engkau adalah orang yang sangat berhati mulia, arif, dan pemaaf. Tidak menaruh dendam sedikit pun, padahal aku telah menyakiti hatimu. Agama yang membuatmu berhati santun, arif, dan pemaaf, pastilah agama yang benar sesuai dengan fitrah manusia," kata Yahudi itu seraya masuk Islam.

Sungguh indah kearifan itu, karena dapat melejitkan segala kebaikan, mentransfer keburukan menjadi kebaikan, permusuhan menjadi saling memaafkan.

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah  telah menjadi teman yang sangat setia." (QS. Fushshilat [41]: 34)

Begitulah dahulu Nabi saw berdakwah dengan kearifan dan kesantunan hati, sehingga orang Yahudi yang sangat keras permusuhannya terhadap orang-orang  beriman (QS. al-Maidah [5]: 82) itu pun mengakui kemuliaan dan keluhuran moralitas Islam yang diteladankan Nabi SAW.

Dari kearifan pemimpin seperti itulah, Islam sebagai rahmat bagi semua patut diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang semakin jauh dari keluhuran moral.

Belajar menjadi arif merupakan terhormat bagi siapapun, lebih-lebih bagi pemimpin. Karena menjadi arif jauh lebih mulia daripada bersikap emosional dan mudah mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang.

Kearifan memang menjadi kunci kecintaan sang pemimpin terhadap rakyat. Hanya pemimpin ariflah yang  akan selalu melayani dan mencitai rakyat sendiri. Wallahu a'lam bish Shawab.
, Oleh Muhbib Abdul Wahab


sumber : www.republika.co.id

Thursday, May 16, 2013

Kematian

Di alam ini, tak ada yang pasti kecuali kematian. Kematian, kata Ghazali, pasti, sedangkan yang lain tak ada yang pasti. Meskipun begitu, manusia cenderung abai dan tak hirau dengan kematian.

Biasanya, manusia mengingat kematian jika kebetulan ada kereta jenazah lewat di depannya. Ia pun buru-buru ber-istirja`, inna lillah wa inna ilaihi raji`un.

Kematian (al-maut) menyerang siapa saja dan sering kali tiba-tiba (ja’at fuj’atan). Maut merenggut nyawa orang  tua, anak-anak, orang biasa, orang hebat, dan siapa saja.

Bahkan, menyerang pengantin baru pada malam pertama dan orang yang sedang pesta dan bergembira ria bersama keluarga dan orang-orang yang dicinta.

Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.’” (QS Al-Jum`ah [62]: 8).

Karena wataknya yang seperti tak mengenal belas kasihan, kematian itu disebut oleh Nabi dengan istilah hadzim al-ladzdzaat, yakni penghancur kenikmatan dan kelezatan duniawi (HR Tirmidzi, Nasa’i, dan Ahmad dari Abu Hurairah).

Sebagian ulama menyebutnya dengan istilah, mufarriq al-ahbab (yang menceraikan manusia dari orang-orang yang dicinta) dan musyattit al-jam`iyyah (yang memutuskan manusia dari kelompok sosialnya).

Meskipun merupakan fenomena sehari-hari, manusia belum sepenuhnya mengetahui hakikat kematian itu. Menurut al-Ghazali, kematian itu bukan tak adanya hidup, melainkan berubahnya keadaan.

Ini berarti, dengan mati (kematian), bukanlah kehidupan itu tak ada. Kehidupan tetap ada, tetapi berubah dalam wujud (kehidupan) yang lain.

Dalam al-‘Adl al-Ilahi, Murtadza Muthahhari menerangkan perbedaan kehidupan itu, yakni kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.

Dikatakan, kehidupan dunia tak sejati karena masih bisa bercampur antara hak dan batil, kejujuran dan kepalsuan, serta antara pejuang dan pengkhianat.

Ini berbeda dengan kehidupan akhirat yang disebutnya murni dan sejati. Firman Allah menyebutkan, “Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui.” (QS al-Ankabut [29]: 64).

Dalam Alquran, kematian disebut dengan beberapa terma, antara lain, al-maut, al-wafah, al-ajal, dan al-ruju` yang secara harfiah berarti kembali.

Bila menunjuk kata yang terakhir, al-ruju`, kematian bisa dipahami sebagai proses perjalanan pulang menuju negeri akhirat, kampung halaman kita yang sebenarnya.

Secara kejiwaan, pulang atau perjalanan pulang merupakan kegiatan paling menyenangkan karena setiap orang, menurut fitrahnya, ingin cepat-cepat pulang (kembali).

Tradisi pulang kampung (mudik) sangat menyenangkan meski berdesak-desak dan macet sepanjang jalan. Jadi, kematian itu seperti mudik ke tanah leluhur; mestinya menyenangkan, dengan satu syarat, tentu saja memiliki dan membawa bekal yang cukup, yaitu kebaikan (amal saleh).

Sebagai Muslim, kita mesti mampu memetik pelajaran dari setiap peristiwa kematian. Pertama, karena kematian pasti, kita mesti selalu mengingatnya dan menjadikannya sebagai nasihat.

Kedua, karena kematian sejatinya merupakan perjalanan pulang, kita mesti meperbanyak bekal, ibadah, dan amal shaleh.

Ketiga, tidak boleh lupa, kita berdoa kepada Allah agar tidak kembali kehadirat-Nya kecuali dalam keadaan Islam. “Dan, janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran [3]: 102). Wallahu a`lam!
, Oleh: A Ilyas Ismail

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, May 14, 2013

Tipe-Tipe Dai

Bagi seorang Muslim, dakwah merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar. Kewajiban dakwah merupakan suatu yang tidak bisa dihindarkan dari kehidupan.

Dakwah melekat erat bersamaan dengan pengakuan dirinya sebagai seorang Muslim. Orang yang mengaku sebagai Muslim, dia menjadi seorang juru dakwah.

Sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad saw dalam sabdanya, "Sampaikan apa yang kamu terima dariku walaupun hanya satu ayat".  Atas dasar ini, dakwah merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang muslim.

Ada empat tipe dakwah. Pertama, seperti Air hujan, berdakwah ke tempat manapun, tidak memilih-milih lokasi; kaya miskin, pejabat rakyat, tua muda, muslim kafir dan sebagainya. 

Allah SWT berfiman :"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepa Allah..."(QS.Ali Imron: 110).
Lihat juga surat Annahl 82 dan 125, Al Ghasiyah 21-22, Ali Imron 104, Annisa 95-96, Yusuf 108, Fusshilat 33, as-shaf 10-13).

Dalam hadis Rasulullah saw bersabda : "Apabila umatku sudah meninggalkan amar ma'ruf nahi munkar maka tercabutlah bagi mereka keberkahan wahyu (HR.Hakim dan Tirmidzi ).

Kedua, seperti air sumur, orang-orang mendatangi ulama untuk mendapatkan ilmu, hikmah, faedah. Firman Allah dalam Surat Fathir ayat 28: "Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepadaNya, hanyalah para ulama..."
  
Lihat juga Surat Attaubah : 122, Al Ahzab 39, Al Haj 54. Rasulullah saw bersabda :"Ulama itu para penerima amanah Rasul selama tidak bergelimang dengan kekuasaan, dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan. Apabila mereka dikendalikan oleh kekuasaan dan menjadikan dunia sebagai tujuannya, sungguh mereka telah berkhianat pada para Rasul. Hati-hatilah menghadapi mereka. "(HR.Uqaily dari Anas).

Ketiga, seperti air pam, berdakwah jika dibayar, jika tidak dibayar dia tidak mau berdakwah, seperti air pam yang mampet. Allah SWT berfirman :"Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab ? Tidakkah kamu mengerti. "(Al-Baqarah :44 ).

Lihat juga Al Baqarah :174-175 dan Ali Imron : 187.  Rasulullah saw bersabda : "barangsiapa yang mencari ilmu (yang dengan ilmunya tersebut ) hanya untuk pandai mendebat (beragumentasi) dengan para ulama atau untuk membodohi/mengelabui orang-orang bodoh, atau hanya ingin mendapatkan kemuliaan manusia (dengan menjadi terkenal) maka Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka."(HR.Tirmidzi).

Keempat, seperti air kotor, dakwah bercampur dengan maksiat,  dia berdakwah tapi juga melakukan perbuatan dosa, maksiat dan kezholiman.
Firman Allah dalam Al Quran Surat As Shaf :2-3  menjelaskan, :"Wahai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ? (Itu ) sangatlah dibenci disisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan".

Rasulullah saw bersabda : "Jika seorang alim tidak mengamalkan apa yang diketahui orang alim tersebut akan masuk neraka" (HR.Dailamy).

Dari Ibnu Umar, Rasulullah saw bersabda :"Sesungguhnya Allah swt tidak mencabut ilmu secara langsung dari hati hamba-hambaNya, akan tetapi Allah mencabut ilmu itu dengan cara mewafatkan para ulamanya, sehingga tidak ada seorangpun yang tertinggal di kalangan mereka. Dan pada waktu itu umat manusia menjadikan pemimpin mereka dari orang yang bodoh; yang apabila mereka ditanya, maka mereka memberikan fatwa tanpa didasari ilmu, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan."(HR.Bukhari dan Muslim).

Jika kita merujuk apa yang diucapkan Ali bin Abi thalib karramallahu wajhah, saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda :"Pada akhir zaman akan datang suatu kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka mengutip ucapan manusia terbaik (Nabi SAW ), tetapi tidak melewati tenggorokan mereka (tidak di amalkan). Mereka  tercabut dari agama sebagaimana anak panah tercabut dari busurnya. Ketika Rasulullah isra mi'raj melihat orang-orang yang dipotong lidah mereka dengan pemotong dari api.
''Lalu aku bertanya, siapa mereka itu ya, Jibril? ''Mereka adalah para da'i dari umat Anda yang menyuruh berbuat kebajikan tetapi lupa diri mereka sendiri'', jawab jibril. Semoga kita dijauhkan dari tipe da'i air pam dan air kotor.
, Oleh : Ustaz A Saefullah MA


sumber : www.republika.co.id

Monday, May 13, 2013

Memperebutkan Jabatan dan Kedudukan

Dalam sebuah berita di media massa, saat ini banyak anak pejabat dan kepala daerah yang berlomba-lomba menjadi calon anggota legislatif.

Jabatan publik seperti anggota legislatif sepertinya menjadi jabatan turun temurun di negeri ini yang diperebutkan. Dari sisi peraturan perundang-undangan sebenarnya sah-sah saja. Namun secara etika, sungguh tidak pantas jabatan publik dilakukan secara turun temurun.


Dalam koridor Islam, jabatan merupakan sebuah amanah yang harus dijaga dan diminta pertanggungjawabannya kelak.

Jabatan merupakan amanah  dan pengabdian bukan untuk mencari ketenaran serta menumpuk kekayaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati Abdurrahman bin Samurah:

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).”

Dalam sebuah hadis Rasulullah yang diriwayatkan Abu Dzar Al-Ghifari. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?”

Mendengar permintaanku tersebut beliau menepuk pundakku seraya bersabda: “Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut. ” (Shahih, HR. Muslim)

Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Abu Dzar, aku memandangmu seorang yang lemah, dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim. ” (Shahih, HR. Muslim).

Memang, pada dasarnya, setiap manusia menginginkan menjadi pemimpin yang memiliki sebuah jabatan penting. Terlebih saat ini jabatan publik seperti anggota legislatif dijadikan lambaian rupiah (uang dan harta) dan kesenangan dunia lainnya.

Sungguh benar sabda Rasulullah ketika beliau menyampaikan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari).

Bagaimana tidak, dengan menjadi seorang pemimpin, memudahkannya untuk memenuhi tuntutan hawa nafsunya berupa kepopuleran, penghormatan dari orang lain, kedudukan atau status sosial yang tinggi di mata manusia, menyombongkan diri di hadapan mereka, memerintah dan menguasai kekayaan, kemewahan serta kemegahan.

Wajar bila kemudian untuk mewujudkan ambisinya ini, banyak elit politik atau ‘calon pemimpin’ dibidang lainnya, tidak segan-segan melakukan politik uang dengan membeli suara masyarakat pemilih atau mayoritas anggota dewan. Atau ‘sekedar’ uang tutup mulut untuk meminimalisir komentar miring saat berlangsungnya kampanye, dan sebagainya.

Berkata Al-Muhallab sebagaimana dinukilkan dalam Fathul Bari (13/135): “Ambisi untuk memperoleh jabatan kepemimpinan merupakan faktor yang mendorong manusia untuk saling membunuh. Hingga tertumpahlah darah, dirampasnya harta, dihalalkannya kemaluan-kemaluan wanita (yang mana itu semuanya sebenarnya diharamkan oleh Allah) dan karenanya terjadi kerusakan yang besar di permukaan bumi.”

Semoga saja itu tidak terjadi di Indonesia, negeri tercinta.
, Oleh Dr HM Harry  Mulya Zein

sumber : www.republika.co.id

Sunday, May 12, 2013

Uje, Kembalilah dengan Senyummu

Jelang ajal menjemput, engkau pun masih tak segan meminta maaf, lewat pesan berantai di perangkat ponsel pintarmu. Engkau sadar betul, jika permintaan maaf, ada atau tidak ada salah itu teramat sakral. Kutipan itu tersurat tegas dalam  risalah ringkasmu: "Sekali lagi maaf lahir batin. Pasti banyak salahnya." Sekalipun, kalimat itu, kini, terbukti bagi kebanyakan orang menjadi firasat kepergianmu. Tanpa harus engkau menyadarinya. " Mulai hari ini saya nggak lagi pake nomor HP dan bbm ini,"tulismu di pesan pendekmu.

Uje, iktikad maaf yang engkau gulirkan tak sekadar basa-basi. Di hadapan Ka'bah, beberapa tahun yang lalu, engkau bersimpuh dan memohon ampun, atas segala kesalahanmu. Saat narkoba dan dunia keartisan lewat profesi penari bahkan artis di sinetron monumentalmu "Sayap Patah", membuat khawatir kedua orangtuamu, Ustaz H Ismail Modal dan Ustazah Tatu Mulyana, air mata pertobatanmu di Tanah Haram Makkah, mengantarkanmu kembali ke jalan Allah SWT.
Detik itu, ketika sendi-sendimu bergetar dan hatimu terketuk, penyesalanmu telah menjasad dan berbekas. Engkau tahu betul, bahwa Tuhanmu Mahapengampun, ghafur. Sentuhaorin-Nya, membawa kembali ke jati dirimu yang dulu. Pribadi yang dikenal taat dan aktif di pengajian atau di rahis, dan tentunya menghadirkan lagi sosok Uje yang gemar melantunkan Alquran dengan tilawah merdumu, lewat pita suara yang sama, kala engkau menjuarai MTQ tingkat provinsi sewaktu engkau duduk di bangku sekolah dasar.

Uje, sebagian orang memang mengritik bacaan Alquranmu yang terkadang salah, tapi begitulah dakwah. Tak selalu mudah. Jika engkau menyerah di depan kritik positif tersebut, denyut dakwah bisa melemah.  Dengan gaya ceramahmu yang khas, engkau digandrungi semua lapisan. Keramahnmu itu pula yang masih membekas di ingatanku pada sebuah acara amal yang digelar Dompet Dhuafa, dua tahun lalu.
Engkau membalas sapaanku dengan senyummu, lagi-lagi tak ada basa-basi. Senyum ketulusan darimu yang sarat dengan pundi-pundi pahala. Uje, ajal memang tak bersinyal. Tetapi, amalmu akan tetap kekal.
Wahai, jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan senyummu, damai di sisi-Nya penuh dengan keridhaan.
Oleh Nashih Nashrullah


sumber : www.republika.co.id

Saturday, May 11, 2013

Dakwah bil Uswah

Setiap Muslim wajib berdakwah, mengajak beriman dan berislam dengan baik dan istiqamah, minimal kepada diri sendiri. Sabda Nabi SAW, "Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat." (HR Muslim)

Berdakwah adalah pekerjaan mulia yang dapat menjadi motivasi bagi diri sendiri untuk berbuat sesuai dengan yang didakwahkan.

Karena itu, dakwah Islam akan berhasil dan efektif jika sang da’i sudah  mengamalkan dan menampilkan keteladanan terlebih dahulu apa yang disampaikan kepada orang lain, seperti yang dilakukan Nabi saw.

Dakwah bil Lisan atau bil Hal tidak akan berhasil dengan baik jika tidak dibarengi dengan uswah hasanah
(keteladanan yang baik) dari sang da’i. Dengan kata lain, setiap Muslim sejatinya harus mampu memberikan teladan yang terbaik bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain.
 
Allah sangat murka kepada da’i yang hanya menceramahi orang lain, tapi tidak mengamalkan isi dakwahnya. Inilah dakwah lilin: menerangi orang lain tetapi dirinya sendiri terbakar dan habis.

"Hai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Sungguh amat besar kemurkaan Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang kamu tidak kerjakan." (QS Ash-Shaff [61]: 2-3).

Dakwah Rasulullah saw merupakan dakwah sinergi antara kata-kata dan perbuatan nyata. Rasul selalu menyatukan kata dengan perbuatan sehingga menjadi teladan bagi umatnya.

Selain itu, dalam berdakwah Rasul juga mengedepankan etika seperti: kelemahlembutan, kesantunan, empati, kasih sayang, dan kesabaran. Rasul tidak pernah mencaci maki, melaknat, memarah-marahi, apalagi membodohi umatnya.
  
Rasulullah tidak memendam rasa dendam dan meluapkan emosi amarahnya ketika dicaci maki dan dilukai Abu Jahal dengan dilempari batu dan dipukul dengan kampak, saat mengajak kaumnya berislam di bukit Safa.

Bahkan ketika Sayyidina Hamzah, paman beliau, menemuinya selepas membalaskan dendamnya kepada Abu Jahal, beliau tidak merasa senang terhadap tindak kekerasan yang dilakukan pamannya itu. Kata beliau, "Aku tidak suka engkau berbuat seperti itu. Aku lebih suka engkau berbuat damai dengan bersyahadat, memeluk Islam".
    
Respon Rasul tersebut membuat Hamzah tertegun, menyadari pelampiasan dendam tidak menyelesaikan masalah. Akhirnya, Hamzah bertobat dan masuk Islam.

Kisah singkat ini memberi pelajaran kepada kita dakwah bil uswah (dengan keteladanan) jauh lebih efektif daripada dakwah dengan kata-kata yang tidak disertai dengan amal nyata.
 
Di era globalisasi, dakwah memerlukan sentuhan teknologi. Ilmu dan etika dakwah tidak cukup dikuasai dai, tapi juga teknologi komunikasi, teknologi dakwah, dan teknologi media dakwah.

Jika dakwah menjadi tugas bersama, maka masing-masing pihak berkewajiban bersinergi dalam berdakwah. Sebab, selama ini dakwah bil lisan (dengan kata-kata) sudah mengalami titik jenuh.

Terbukti, pelanggaran moral dan norma hukum masih terus terjadi. Korupsi masih merajalela, padahal pelakunya juga mengaku Muslim. Yang diperlukan adalah keteladanan dalam beramar ma'ruf nahi munkar.
  
Jadi, sinergi dakwah bil uswah itu harus dengan ibda' bi nafsik (mulailah dari diri sendiri). Dakwah antikorupsi misalnya akan efektif jika sang da’i bersih dari korupsi, dan benar-benar tidak pernah korupsi. 

Kesadaran untuk mau mendakwahi diri sendiri perlu menjadi komitmen bersama, jika kita semua menghendaki masa depan umat Islam Indonesia dan dunia menjadi lebih maju.

Para pemimpin bangsa ini sudah saatnya berintrospeksi diri untuk bisa menjadi teladan dalam mendakwahi diri sendiri agar kata-kata dan kebijakannya didengar dan dilaksanakan oleh bawahan dan warga bangsa ini. Rakyat sudah lelah hanya mendengar kata-kata dan wacana tanpa bukti nyata!
, Oleh Muhbib Abdul Wahab
    

sumber : www.republika.co.id

Thursday, May 09, 2013

Bakti untuk Ibu

Ustaz Abdullah Bani'mah seorang dai yang mengalami lumpuh total bercerita tentang seorang pemuda pengguna narkoba. Ia pertama kali kenal dengannya saat di rumah sakit di Jeddah. Pemuda tersebut menengok temannya yang dirawat sekamar dengan Abdullah.

Ia sangat taat kepada ibunya. Pernah waktu berkumpul dengan teman-temannya di kamar rumah sakit, berderinglah telepon dari ibunya. Segera ia menjawab dengan hormat dan setelah itu ia pamit untuk pulang.

Teman-temannya menahan dia. Pemuda tersebut mengatakan; Ibu saya menelepon dan minta saya membelikan sesuatu di warung.” Dia pun meninggalkan teman-temannya itu dan bersegara melaksanakan permintaan ibunya.

Setelah selesai memenuhi kebutuhan ibunya, dia balik lagi ke rumah sakit. Adapun waktu yang dibutuhkan untuk pulang pergi itu sekitar dua jam.

Sepuluh tahun kemudian, seseorang membawanya ke rumah Ustaz Abdullah Bani'mah untuk dinasehati. Ia datang bersama seorang teman lainnya. Dua tahun setelah itu, Abdullah Bani'mah melaksanakan umrah. Di Masjidil Haram, seseorang pemuda berjenggot menghampirinya dan memberi salam untuknya.

“Ustadz Abdullah, saya teman Fulan yang kenal Anda 12 tahun lalu di rumah sakit. Kami berdua pernah berkunjung ke rumah Anda sekitar dua tahun lalu. Fulan dan saya sejak pulang dari rumah Anda kami bertaubat dan memperbaiki diri.”

“Kami rajin menuntut ilmu Islam dan berusaha untuk mengamalkan dan mendakwahkannya. Kami safar ke Yordania untuk kegiatan dakwah. Bulan lalu kami pulang, dan baru tiba di Makkah.”

“Teman saya, meminta saya tidak pulang ke rumah sebelum ke Masjidil Haram, untuk shalat malam, berdoa dan shalat subuh berjamaah. Selesai shalat subuh, kami berzikir sampai syuruq,” ujarnya.

Setelah itu, saya tawarkan untuk sarapan berdua di rumah makan. Ia menolak, ia akan mampir ke rumah ibunya dulu dan sarapan bersamanya. Setelah itu kami berpisah.

Menjelang zhuhur, saya mendapatkan kabar melalui telepon bahwa Fulan wafat. Saya kaget. Penelepon memberitahukan bahwa Fulan datang ke rumah ibunya di pagi hari, sambil membawa sarapan. Setelah sarapan, ia sempat berbincang-bincang dengan ibunya.

Ia juga sempat memijit kaki ibunya, dan ia mencium kaki ibunya. Tak lama setelah itu, ia wafat, di kaki ibunya. Ia kemudian dishalatkan di Masjidil Haram dan dikebumikan di Makkah.

Bakti seorang anak kepada orang tua dan doa orang tua yang tulus untuk anaknya, sangat membantu mereka untuk kembali ke jalan Allah dan wafat dengan husnul khatimah.

Al-Hafizh Abdul Haq Al-Isybili (wafat 581 H), merupakan seorang ulama dari Sevilla, Spanyol. Ia berkata: “Ketahuilah bahwa di antara sebab utama seseorang wafat dalam keadaan  suul khatimah  adalah cinta dunia, berpaling dari akhirat dan berani bermaksiat kepada Allah. Mungkin asalnya ia melakukan dosa kecil, mencoba satu jenis maksiat, ia mulai berpaling dari akhirat, timbul meremehkan maksiat.”
Kemudian maksiat itu menguasai hatinya, jadilah akalnya sebagai tawanan, cahaya hatinya redup, menutup pintu hidayah. Peringatan tidak bermanfaat lagi baginya dan nasehat tidak melunakkan dirinya. Sebelum kematian tiba, ia mendengar samar-samar ada suara yang memanggilnya ke jalan istiqamah, ia tidak dapat memahaminya meskipun penyeru mengulangi seruannya.”
“Ketahuilah bahwa suul khatimah tidak akan menimpa orang yang istiqamah secara lahir dan hati yang bersih. Suul khatimah hanya akan menimpa orang yang rusak akidahnya dan berani melakukan dosa-dosa besar.

“Barangkali ia kecanduan dosa, sehingga maut menjemputnya ketika ia belum sempat bertaubat. Maut merenggut jiwanya sebelum ia memperbaiki dirinya dan kembali kepada Allah. Akhirnya setan bersorak gembira atas kemenangannya.”

, Oleh Fariq Gasim Anuz
sumber : www.republika.co.id