-
-

Saturday, July 05, 2014

Kontinuitas Beramal

Diriwayatkan dari Siti Aisyah, Nabi SAW masuk ke tempatnya dan di sisinya ada seorang perempuan dari Bani Asad. Lalu,  Nabi SAW bertanya, “Siapakah ini?“ Aisyah menjawab, “Si Fulanah (ia tidak pernah tidur malam), ia menceritakan shalatnya.

Nabi SAW bersabda, “Lakukanlah (amalan) menurut kemampuanmu. Demi Allah, Dia tidak merasa bosan sehingga kamu sendiri yang bosan. Amalan agama yang paling disukai Allah SWT adalah yang dilakukan oleh pelakunya secara kontinu.’’ (HR Bukhari).

Dalam hadis di atas, Rasulullah SAW mengingatkan amalan paling baik dan disukai Allah SWT adalah amalan yang dilakukan secara kontinu. Bukan amalan yang besar atau yang kecil. Amalan kecil bila kontinu lebih baik daripada amalan besar namun dilakukan hanya sekali.

Amalan kecil dilakukan secara terus-menerus maka dalam pandangan Allah SWT amalan itu menjadi besar. Sebaliknya, kesalahan (maksiat) yang kecil dilakukan secara terus-menerus, lambat laun menjadi besar sehingga menumpuklah dosa kita.

Rasulullah SAW bersabda, ’’Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan secara terus-menerus.'' Artinya dosa kecil yang kontinu akan menjadi dosa besar. Karena itu, melakukan shalat Dhuha dua rakaat setiap pagi lebih baik daripada 12 rakaat cuma sekali.

Menunaikan Tahajud dua rakaat setiap malam lebih baik daripada 13 rakaat beserta witirnya namun cuma sekali.
Begitu pun membaca Alquran satu ayat setiap hari lebih baik daripada membaca beberapa ayat tapi cuma sekali (hal ini biasanya dilakukan hanya di bulan Ramadhan).

Bersedekah Rp 1.000 setiap hari lebih baik dibandingkan bersedekah Rp 100 ribu tetapi hanya sekali. Rasulullah SAW tidak menekankan jumlah rakaat, berapa ayat, dan berapa rupiah melainkan kontinuitas beramal yang baginda inginkan.

Dalam beribadah, Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya agar melakukannya sekuat tenaga dan semampu kita.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.’’ (QS Al-Baqarah:286).

Dan Nabi SAW bersabda, ’’Kerjakan amal perbuatan sekuat tenagamu, Allah tidak jemu menerima dan memberi sehingga kamu jemu beramal, dan shalat yang disukai adalah yang dikerjakan terus-menerus meskipun sedikit.’’ (HR Bukhari-Muslim).

Untuk menjalankan suatu amalan, harus didasari kesabaran dan keyakinan. Tanpa hal tersebut, sulit untuk membiasakan amalan (ibadah). Sebab kesabaran dan keyakinan melahirkan semangat sehingga dalam keadaan apapun kita terus beribadah.
, Oleh: Pudji Dwi Setiawati

sumber : www.republika.co.id

Friday, July 04, 2014

Kasih Sayang Allah

Pada saat Rasulullah Muhammad SAW duduk beristirahat di tengah para sahabatnya, datanglah seorang lelaki membawa pakaian. Dia menyimpan sesuatu yang disembunyikan dalam pakaiannya itu.

Dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, ketika aku berjalan ke arahmu, aku melewati sebuah pohon yang sangat rindang. Aku mendengar suara anak-anak burung, lalu aku ambil dan meletakkannya di kainku. Namun, tiba-tiba induknya datang dan terbang mengitari kepalaku, maka kubuka kainku agar ia melihat anak-anaknya. Karena melihat anak-anaknya dalam kainku sang induk ikut bersama mereka sehingga aku selimuti mereka semua dengan kainku ini. Inilah mereka semua, aku bawa kemari.

Rasulullah SAW berkata, “Letakkan mereka.” Dia pun meletakkan burung-burung tersebut di atas tanah di hadapan Rasul. Dia membuka penutupnya namun induknya enggan meninggalkan anaknya. Rasul bertanya, “Apakah kalian heran dengan kasih sayang induk burung ini terhadap anak-anaknya?

Rasulullah SAW bersabda, “Demi Tuhan yang telah mengutusku dengan membawa kebenaran, sesungguhnya kasih sayang Allah lebih besar terhadap hamba-hamba-Nya dibandingkan induk burung kepada anak-anaknya ini. Bangunlah dan bawalah mereka kembali hingga kau letakkan mereka di tempat semula bersama induknya.

Lelaki itu pun membawa mereka kembali seperti diperintahkan Rasulullah. Sabda Rasulullah di atas adalah gambaran indah betapa kasih sayang Allah tak terbatas oleh ruang dan waktu terhadap hamba-hamba-Nya.

Seperti yang dikemukakan Allah SWT, “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, menunaikan zakat, dan mereka yang terus-menerus beriman terhadap ayat-ayat Kami. Orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi ummi yang mereka mendapati-nya tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.”(QS al-A'râf [7]: 156-157)

Tatkala kita ditimpa suatu musibah, bukan berarti Allah sudah tidak sayang dan peduli lagi. Allah hanya menginginkan agar kita lebih kuat dan cerdas dalam memaknai romantika kehidupan.

Ketika kita meminta sesuatu kepada Allah tetapi tidak langsung mengabulkannya, Allah mengetahui, hal itu akan menjauhkan kita dari sisi-Nya. Seperti Qarun, setelah diberi kelapangan rezeki, dia malah menjadi hamba yang kufur dan tamak.

Orang bijak mengatakan, Allah menjawab permohonan kita dengan tiga cara. Allah berkata Ya, Dia memberi yang kita inginkan. Allah berkata Tidak, Dia memberi kita sesuatu yang lebih baik. Allah berkata Tunggu, Dia memberi kita yang terbaik.

Kasih sayang Allah kepada kita tak pernah terhenti sedetikpun. Sejak kita masih berupa setetes air kehidupan, lalu tumbuh menjadi manusia dewasa sempurna. Selama kita di dunia, akan selalu diwarnai berbagai problematika kehidupan.

Seperti yang dikemukakan Allah SWT, apabila kita berhasil memetik pelajaran dari setiap penderitaan tersebut, maka kita akan hidup bahagia menuju keabadian. Sebaliknya, apabila kita gagal memahaminya maka kita tergolong orang yang bangkrut.

Dan itu adalah kerugian yang sebenarnya. Pertolongan Allah pasti akan datang membebaskan kita dari kemalangan, penderitaan, dan kegagalan.

Setelah kita terlebih dahulu mempelajari faktor-faktor penyebab kemalangan, penderitaan, dan kegagalan itu. Kemudian kita bangkit melakukan perubahan untuk membebaskan diri dari semua belenggu itu.
Oleh: Musliminsumber : www.republika.co.id

Wednesday, July 02, 2014

Wajah Bersih Bercahaya

Sejenak kita rehat membincangkan politik yang suhunya memanas. Mari kita sejukkan ruang hidup kita dengan sesuatu yang lebih bisa menyita perhatian Pemilik Kehidupan, Allah ‘Azza wa Jalla.
Satu di antaranya adalah menjadikan wajah kita bersih bercahaya sehingga semakin dikenali oleh Allah dan Rasul-Nya.

Jika banyak perempuan modern sering ditemukan mengabiskan waktu dan menghamburkan banyak rupiah di salon-salon kecantikan terutama untuk memoles wajahnya supaya semakin cantik, segar, dan  menarik, maka bagi  Muslimah upaya itu cukup dengan air wudhu.

Di samping murah dan praktis juga tentu saja berbobot pahala di sisi-Nya. Wudhu, ternyata bisa menjadikan pengamalnya berwajah bersih dan bercahaya.

Dalam sebuah sabdanya, Rasulullah SAW berpesan, “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan, dan kaki mereka bercahaya karena bekas wudhu.” (HR Bukhari nomor 136 dan Muslim nomor 246).

Karena itu bisa dipastikan tak ada satu produk kecantikan pun yang mampu menandingi cahaya yang terpancar dari wajah orang-orang yang terjaga wudhunya. Karena cahaya dari air wudhu tak hanya dirasakan di dunia tapi juga di akhirat.

Bahkan mereka akan mudah dikenali Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Bagaimana engkau mengenali umatmu setelah sepeninggalmu, ya Rasulullah?”

Tahukah kalian, bila seseorang memiliki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya di antara kuda-kuda yang berwarna hitam yang tidak ada warna selainnya, bukankah dia akan mengenali kudanya?” jawab Rasul dengan nada bertanya. Para sahabat pun mengangguk.

Mereka (umatku) nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi dan kedua tangan serta kaki karena bekas wudhu mereka,” pungkas Nabi. (HR Muslim nomor 249)

Tak hanya partikel-partikel debu maupun noda polusi yang dapat dikikis dari wajah, wudhu pun dapat melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukan produk kecantikan manapun yaitu mengikis noda salah, khilaf dan dosa. Hal-hal tersebut adalah penyebab kotor dan tidak bercahayanya wajah seorang Muslim. 

Apabila seorang Muslim atau Mukmin berwudhu kemudian mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya tersebut setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama air wudhu atau bersama akhir tetesan air wudhu. Apabila ia mencuci kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya tersebut bersama air wudhu atau bersama akhir tetesan air wudhu. Apabila ia mencuci kedua kaki, maka akan keluar setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudhu atau bersama tetesan akhir air wudhu, hingga ia selesai dari wudhunya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa -dosa.” (HR Muslim nomor 244).

Subhanallah, segera bersih dan cahayakan wajah kalian, wahai perempuan-perempuan salehah. Supaya tampil cantik baik lahir atau pun batin serta sangat mudah dikenali Allah SWT dan Rasul-Nya kelak.
, Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, July 01, 2014

Khatam dan Tartil

Dalam kitab at-Tibyan fi Adab Hamalat al-Quran, Imam an-Nawawi menjelaskan banyak hal etika membaca Alquran. Di antaranya, ada dua keutamaan yang menarik, yaitu khatam dan tartil.

Khatam artinya menamatkan atau menyelesaikan membaca Alquran, dari surah al-Fatihah hingga an-Nas. Tartil adalah membaca Alquran dengan perlahan atau tidak tergesa-gesa.

Khatam dan tartil tergolong utama dilakukan. Namun, karena satu dan lain hal, terutama bagi kebanyakan orang, dua hal tersebut dirasa berat. Mari simak pengalaman ulama salaf terkait khatam dan tartil.

Tentu saja dengan harapan dapat mengambil pelajaran berharga dari mereka. Selanjutnya, mudah-mudahan dapat mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ulama salaf memiliki kebiasaan berbeda menamatkan Alquran.

Ada yang lama, cepat, dan benar-benar cepat. Mereka mempunyai target menamatkannya. Mereka melakukan atas kemauan sendiri.
Ibnu Abu Dawud berkata, sebagian ulama salaf menamatkan Alquran sekali dalam dua sampai satu bulan, 10 malam, delapan, tujuh, dan enam malam.

Sebagian ulama salaf yang lain menamatkan Alquran dalam lima, empat, tiga , dan dua malam. Sebagiannya, ada yang menamatkan dalam satu hari satu malam.

Sebagian ulama salaf ada yang menamatkan Alquran dua dan tiga kali dalam satu hari satu malam. Hebatnya lagi, ada yang delapan kali dalam sehari semalam.

Yakni, empat kali pada waktu malam dan siang. Subhanallah. Di antara yang menamatkan Alquran satu kali dalam satu hari, yaitu Utsman bin Affan, Tamim ad-Dariy, Said bin Zubair, Mujahid, dan asy-Syafii.

Mereka menamatkannya tiga kali dalam sehari, Sali bin Umar, seorang qadhi di Mesir pada masa pemerintahan Dinasti Muawiyah. Abu Bakar bin Abu Dawud menamatkan Alquran tiga kali dalam satu malam.

Selain itu, Abu Utsman al-Maghribi berkata, Ibnu Khatib menamatkan Alquran empat kali pada siang dan malam. Katanya, “Inilah jumlah terbanyak menamatkan Alquran dalam sehari semalam yang saya ketahui.

Di lain pihak, ada sebagian ulama salaf yang mementingkan tartil daripada khatam. Kelompok ini memandang tidak apa-apa kalau tidak khatam dalam waktu singkat. Hal yang penting tartilnya terjaga baik.

Ada sebagian ulama salaf yang mengulang membaca satu ayat agar meresapinya. Cara demikian dilakukan Rasulullah SAW. Di belakang Rasulullah SAW, ada juga sejumlah ulama salaf yang melakukan cara sama.

Ambil contoh, Tamim ad-Dariy. Ia membaca berulang-ulang ayat berikut, “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu,” (QS al-Jatsiyah [45] : 21). Demikian pula Ibnu Masud, Said bin Zubair, dan yang lainnya.
Oleh: Mahmud Yunus


sumber : www.republika.co.id

Sunday, June 29, 2014

Berjuang dengan Ikhlas

Seperti diketahui, Khalid bin Walid adalah jenderal yang memimpin pasukan Islam melawan tentara Romawi di Yarmuk, Suriah. Dalam sejarah, perang ini dikenal dengan nama Perang Yarmuk.

Perang masih berkecamuk saat datang surat perintah dari Khalifah Umar bin Khattab untuk memberhentikan Khalid bin Walid sebagai pemimpin perang dan menunjuk Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai penggantinya.

Setelah perang usai, dengan kemenangan di pihak Islam, Abu Ubaidah menyerahkan surat pemberhentian itu kepada Khalid.
“Kenapa baru sekarang diserahkan,” tanya Khalid. Abu Ubaidah menjawab, “Bukan kerajaan dunia yang kami mau, dan bukan untuk dunia kami berbuat.” (Rijal haula al-Rasul, 262).

Khalid bin Walid dikenal sebagai jenderal perang yang sangat masyhur dan tak terkalahkan. Ia selalu memperoleh kemenangan dalam 100 kali pertempuran yang diikuti baik sebelum maupun setelah ia memeluk Islam.

Ia pantas menerima gelar Pedang Allah (Sayfullah). Dalam Perang Yarmuk, ia membabat begitu banyak musuh, hingga pedangnya sembilan kali patah. Dikatakan, pedang Khalid boleh patah, tetapi pedang Allah (Khalid) tidak boleh patah.      

Meskipun dipecat saat di puncak kariennya sebagai militer, Khalid tidak sakit hati, tidak pula galau. Ia tidak berhenti, dan tetap berjuang. Kepada teman-temannya, ia menyatakan bekerja dan berjuang bukan untuk Umar, tetapi untuk Allah.

Ia berjuang secara tulus dan ikhlas. Kini bendera kepemimpinan berada di tangan Abu Ubaidah, sahabatnya. Seperti Khalid, sahabat Nabi yang satu ini, Abu Ubaidah adalah pejuang sejati.

Saat itu, ia tak buru-buru menyerahkan surat penunjukan dirinya sebagai panglima perang kepada Khalid. Alasannya satu dan sama, ia berperang bukan untuk mencari kemuliaan sendiri, melainkan untuk Islam dan kaum Muslimin.

Melebihi kedua orang jenderal di atas, Umar dikenal sebagai khalifah yang arif dan bijaksana. Seperti diketahui, ia sangat jujur, pemberani, bersikap tegas dan  adil, sehingga gelar al-Faruq yakni pemisah yang hak dan batil dilekatkan kepadanya.

Banyak orang bertanya, mengapa Khalifah Umar memberhentikan Jenderal Khalid? Padahal Khalid  brilian dan berprestasi. Khalifah Umar, tentu memiliki alasan-alasannya sendiri. Paling tidak, tiga pelajaran yang ingin beliau tunjukkan.

Pertama, mengingatkan kepada Khalid dan juga kepada setiap Muslim, pangkat dan jabatan bukanlah tujuan. Ia hanyalah amanat perjuangan dan pengabdian. Kedua, meski selalu meraih kemenangan,  jangan sampai Khalid dipuji berlebihan.

Jangan sampai pula kekuatan dan kemenangan Islam bergantung hanya pada Khalid seorang. Ketiga, menunjukkan kepada dunia, Islam memiliki SDM yang kaya dan kuat, dan kaderisasi kepemimpinan yang dilakukan Umar berjalan baik.

Dalam pandangan Umar, perjuangan Islam adalah sarana untuk mencetak para pemimpin. Dalam kondisi demikian, tidak ada masalah, bendera kepemimpinan dipindahkan dari Khalid ke Abu Ubaidah atau kepada sahabat yang lain.
Sebagai tentara Allah, para sahabat tidak pernah ragu berjuang, sebagai panglima atau prajurit biasa. Wallahu a`lam!
, Oleh: A Ilyas Ismail


sumber : www.republika.co.id

Friday, June 27, 2014

Melatih Kedermawanan

Sumu tasihhu, berpuasalah maka kamu akan sehat. Demikian pesan yang pernah disampaikan Rasulullah SAW untuk umatnya.

Pesan agar ‘sehat’ ini tentu bersifat makro, tak terbatas hanya pada kesehatan badan (jasmani) saja, tapi juga kesehatan secara ruhani. Sehat secara ruhani berarti sehat secara mental dan spiritual baik saat menuju Ramadhan, pada bulan Ramadhan, terlebih setelah selesai Ramadhan.

Pada momen menuju bulan Ramadhan seperti sekarang ini, selain kita dianjurkan untuk menjaga jasmani agar fit saat berpuasa, ruhani menuntun kita untuk berbahagia atas kehadiran bulan Ramadhan.

Selain itu, di saat bulan Ramadhan pula ruhani kita dilatih untuk terbiasa melakukan aktivitas ramadhan seperti tadarus Alquran, qiyamullail, shalat Tarawih, hingga latihan kedermawanan.

Kita semua tentu tahu bahwa hamba yang paling dermawan ialah Rasulullah SAW. Betapa beliau senantiasa membiasakan berbagi tak hanya saat bulan Ramadhan, namun juga di luar bulan Ramadhan.

Pada saat bulan Ramadhan, kedermawanan beliau bertambah karena beliau menyadari betul arti berbagi. Berbagi sejati yang dicontohkan beliau ialah ringan memberi dalam kondisi apa pun, lapang maupun sempit. Berbagi yang menurut pandangan beliau adalah memberi solusi terhadap kesulitan orang lain.

Ada satu hadits yang diriwayat oleh Abu Hurairah RA, ia berkata, “Seorang lelaki datang menemui Nabi SAW dan berkata, ‘Celaka saya, wahai Rasulullah.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang membuat engkau celaka?’ Lelaki itu menjawab, ‘Saya telah bersetubuh dengan istri saya di siang hari bulan Ramadan.’

Beliau bertanya, ‘Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memerdekakan seorang budak?’ Ia menjawab, ‘Tidak punya.’ Beliau bertanya, ‘Mampukah engkau berpuasa selama dua bulan berturut-turut?’ Ia menjawab, ‘Tidak mampu.’

Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memberi makan enam puluh orang miskin?’ Ia menjawab, ‘Tidak punya.’ Kemudian ia duduk menunggu sebentar. Lalu Rasulullah SAW memberikan sekeranjang kurma kepadanya sambil bersabda, ‘Sedekahkanlah ini.’

Lelaki tadi bertanya, ‘Tentunya aku harus menyedekahkannya kepada orang yang paling miskin di antara kita, sedangkan di daerah ini, tidak ada keluarga yang paling memerlukannya selain dari kami.’ Maka Rasulullah SAW pun tertawa sampai kelihatan salah satu bagian giginya. Kemudian beliau bersabda, ‘Pulanglah dan berikan makan keluargamu.” (HR Muslim).

Sebenarnya, Rasulullah bisa saja bertindak tegas agar si lelaki tersebut mau berusaha mencari pekerjaan agar bisa melunasi hutangnya pada Allah karena khilaf melakukan hal yang dilarang pada siang hari di bulan Ramadhan. Tapi, sikap Rasul justru sebaliknya, beliau mau mendengarkan, memberi jalan keluar, hingga beliau memberikan juga mengikhlaskan kurma—sesuatu yang amat beliau suka dan gemar dikonsumsi selama hidupnya.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah: 261).

Ayat di atas ialah satu dari sekian banyak ayat Alquran yang berbicara perihal ganjaran sedekah dan benar-benar dipraktikkan langsung oleh Rasulullah. Namun, sebagai manusia biasa, memberi sesuatu yang teramat kita sukai memang gampang-gampang susah. Tentu saja, dengan terus menerus melatih diri untuk mudah berbagi, kendati sedikit, tentu hal itu sangat mudah.

Sepatutnya, bulan Ramadhan ialah bulan perubahan. Perubahan diri harus bersifat dinamis dan dimulai sejak dini. Melatih mental dermawan berarti menyiapkan hati untuk menjadi hamba Allah yang senantiasa diliputi keikhlasan, sehingga, puasa Ramadhan kita yang hanya tinggal beberapa hari ini tidak hanya menyehatkan badan, tapi juga menuai banyak keberkahan. Amin. Wallahu a’lam.
Oleh: Ina Salma F
sumber : www.republika.co.id

Thursday, June 26, 2014

Nikmat Shalat

Setiap anggota badan memiliki momentum untuk merasakan kenikmatan. Nikmatnya lidah adalah saat makanan lezat dimasukkan ke mulut. Nikmatnya mata ketika dapat sempurna membedakan warna dan memandang indahnya alam.

Nikmatnya hati adalah saat ia berhasil melihat Tuhan. Kata Nabi itulah ihsan yaitu seakan-akan kita melihat Allah SWT bila tidak mampu kita merasakan dilihat Allah. Ini merupakan kenikmatan tertinggi bagi manusia.

Kondisi  seperti ini dapat diraih seorang mukmin tatkala shalat. Hadirnya hati dalam setiap kalimat yang diucapkan seorang yang shalat merupakan kunci utamanya. Ia betul-betul merasakan sedang dialog dengan sang Pencipta.

Itulah jenis shalat yang berkualitas sehingga Allah SWT menjanjikan pemenuhan segala yang diminta orang yang shalat itu.
Seperti sabda Nabi SAW yang diriwayatkan Abu Hurairah,’’ Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda, “Allah berfirman. Aku bagi shalat itu menjadi dua bagian satu untuk-Ku dan satu bagian untuk hamba-Ku. Bila hamba-Ku mengucapkan Alhamdu lillahi rabbil Alamin. Allah berfirman “Hambaku telah memujiku”.Jika hamba-Ku membaca Arrahmanirrahim. Allah berfirman “Hambaku telah mengagungkan Aku”.Jika hambaku membaca Maliki Yaumi Al Din. Allah menimpali “Hambaku telah memuliakan Aku”. Dan sekali lagi Allah berfirman “Hambaku memberi kuasa penuh kepadaku”.

Merasakan dialog dengan Allah. Itulah perasaan yang dapat dinikmati orang yang khusyuk shalatnya. Saking asyiknya bercengkerama dengan sang Khaliq ia tidak merasakan sakit tatkala sebuah anak panah yang menancap di kakinya dicabut.

Begitulah yang dirasakan Ali bin Abi Thalib. Alkisah dalam sebuah peperangan menantu Rasulullah itu terkena panah. Lalu ia meminta tolong kepada kawannya agar panah tersebut dicabut saat dirinya sedang shalat.

Walaupun darah mengucur Ali tidak mengerang kesakitan sebab hatinya sedang melihat Tuhan. Yang dialami Urwan bin Zubeir lebih dahsyat lagi. Kakinya harus diamputasi dengan gergaji tanpa obat bius.

Sahabat ini menyiasatinya dengan mengambil air wudhu dan bermunajat kepada Allah. Di tengah-tengah shalatnya itulah tim kesehatan menggergaji kakinya. Atas karunia Allah ia pingsan beberapa jam dan setelah operasi selesai baru siuman.

Orang-orang saleh menikmati shalat dengan menangis. Ketika hati dapat meresapi doa yang dipanjatkan dalam shalat maka itulah asyiknya bermunajat kepada Allah. Begitupun saat bacaan Alquran yang dilantunkan menyayat hati.

Dari Ibnu Abas berkata aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua mata yang tidak akan dijilat api neraka  yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah.’’ (HR Tirmizi)

Menangis karena sedih itu biasa tetapi menangis karena takut siksaan Allah, luar biasa. Efeknyapun sangat berbeda. Orang yang kebanyakan menangis karena sedih membuatnya tidak selera makan sakit maag kambuh dada sesak dan kepala pusing.

Menangis karena bermunajat kepada Allah justru membawa kesegaran luar biasa. Sebab orang yang dapat mengucurkan air mata ketika shalat telah menyerahkan semua urusan hidupnya kepada sang pengurai masalah yaitu Allah.

Maka hatinyapun menjadi riang karena tawakal. Hati yang seperti itu membawa energi yang sangat kuat. Karena itu bila ia seorang pedagang tidak akan menyerah walaupun bangkrut. Bila ia aktivis tidak akan gentar, dan bila ia pejuang tidak takut kematian.

Oleh: Muhammad Nursalim
sumber : www.republika.co.id

Tuesday, June 24, 2014

Yusuf Mansyur Ingatkan untuk Menomorsatukan Allah SWT

Persoalan menjadi mudah, ketika manusia hanya mengandalkan Allah semata. Kebingungan menjadi sirna, sebab hanya Allahlah yang menjadi tempat bergantung. Persoalannya, banyak di antara umat Islam menjadikan Allah sebagai prioritas, hanya sebatas di lisan saja dan belum diyakini dalam jiwa.

Padahal, kenyataan bahwa Allah sebagai satu-satunya solusi perlu diyakini sejak dini. Begitulah sedikit pesan dari rangkaian karya ustaz Yusuf Mansur yang dikemas dalam satu judul buku "Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus".

"Ya intinya, pesan buku ini adalah ajakan untuk menomorsatukan Allah di atas segalanya, dalam keadaan bagaimana pun dan sampai kapan pun," kata Ustad Yusuf Mansur dalam acara peluncuran bukunya pada Ahad (22/6).
Bagian keempat buku, meliputi gaya hidup Muslim yang seharusnya diwarnai dengan kesederhanaan, saling mendoakan, menjaga dan mengintrospeksi, serta senantiasa berdzikir dan melakukan muhasabah. Ia pun mengungkapkan keprihatinannya terhadap situasi jelang Pilpres, di mana semua orang kebanyakan saling menjatuhkan dan saling dengki.
"Padahal, jelang ramadhan seharusnya diisi dengan perilaku-perilaku bijak, saling membaguskan dan saling mendoakan sesama umat Islam.

Di bagian akhir, yakni terdiri dari lima sub judul, Yusuf Mansur menulis soal indahnya berjamaah. Maksudnya, segala arah kesuksesan sejati ditempuh lewat jalan kebersamaan. Entah itu sukses menjadi pemimpin agama, bisnis maupun politik. Berjamaah juga mesti ditunjukkan dalam rangka memperlihatkan kemuliaan Islam. "Mari tunjukkan bahwa Islam itu hebat, tidak suka hal-hal kotor, korupsi dan justru suka kejujuran dan keadilan," lanjutnya. Caranya, tentu dengan menjadi pribadi Muslim yang setia kepada nilai-nilai yang dijarkan dalam Alquran. Serta tentu saja, umat Islam harus berjamaah dalam menomorsatukan Allah.

Sejatinya, buku ini memuat kumpulan dakwah penulis yang dituangkan dalam tulisan. Buku dikemas dan disandingkan dengan tulisan ustaz inspiratif lainnya yakni ustaz Arifin Ilham yang menulis buku berjudul "Bersiap untul Akhirat". Jika Yusuf Mansur mengajak untuk menomorsatukan Allah SWT, maka Arifin Ilham dalam bukunya mengajak mayarakat Islam menomorsatukan akhirat di atas segalanya, dalam keadaan bagaimana pun dan sampai kapan pun.
Namun pada intinya, lanjut Yusuf Mansur, dua judul buku dalam satu kesatuan yang diterbitkan oleh penerbit Republika ini diharapkan menjadi pengingat umat dalam menyambut Ramadhan.


sumber : www.republika.co.id

Nikmatnya Bersyukur

Bagi warga Muhammadiyah, nama KH Abdul Rozak Fachruddin (alm) cukup dikenal. Beliau sering disebut Pak Fachruddin atau Pak AR saja. Beliau adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah paling lama, yaitu 22 tahun (1968-1990).

Meski memegang kendali kepemimpinan ormas Islam modernis terkaya di Indonesia namun ia tetap berpenampilan sederhana dan bersahaja. Beliau sangat merakyat dan akrab dengan warga Muhammadiyah yang ada di tingkat desa atau ranting.

Sukriyanto AR, putra Pak AR yang sekarang menjadi Ketua PP Muhammadiyah, pernah bercerita. Pada tahun 1963-an, Pak AR pernah diundang Pimpinan Ranting Muhammadiyah Krendetan, Purwodadi, Jawa Tengah.

Perjalanan yang cukup jauh dari Yogyakarta itu ditempuh dengan naik kendaraan umum, sehingga tiba di Krendetan pada sore hari. Di rumah salah seorang warga Muhammadiyah, beliau disuguhi teh yang kurang manis. Kata tuan rumah, “Maaf Pak AR, tehnya kurang manis”.

Kata Pak AR, “Ndak apa-apa, malah kebetulan. Kata dokter, kalau kebanyakan gula bisa kena kencing manis.” Selesai shalat maghrib di masjid, Pak AR diajak makan malam. Rupanya, makanan yang disuguhkan tuan rumah kurang garam.

Sang tuan rumah pun meminta maaf sembari memanggil istrinya. Tapi, apa kata Pak AR, “Tidak apa-apa. Tidak usah repot-repot. Kebetulan, kata dokter, kalau kebanyakan garam bisa kena darah tinggi.” Sehabis makan malam, Pak AR mengisi pengajian hingga larut malam.

Pak AR pun dipersilahkan untuk beristirahat di dalam sebuah kamar yang telah disiapkan. Tenyata, di dalamnya tidak ada dipan dan kasur yang nyaman. “Mohon maaf Pak AR, tidak ada dipannya. Yang ada hanya kasur tipis,” begitu pemakluman dari tuan rumah.

Lagi-lagi Pak AR berkilah, “Terima kasih, ndak apa-apa. Malah tidak akan jatuh. Kalau pakai dipan kadang-kadang jatuh.” Begitu sang tuan rumah melihat lampu redup yang watt-nya kecil, lagi-lagi ia meminta maaf kepada Pak AR.

Namun, bagi Pak AR, “Tidak apa-apa. Kebetulan, kalau lampunya redup saya malah cepat tidur.” Sang tuan rumah pun menimpali, “Wah, kalau dengan Pak AR ini kok serba kebetulan semua ya”, sambil tersenyum.

Apa yang dilakukan Pak AR di atas adalah salah satu cara mensyukuri nikmat Allah, yaitu dengan mengambil hikmah dan sisi positif dari setiap kejadian kehidupan yang kita alami. Seseorang yang bersyukur akan senantiasa berpikir positif atas segala kejadian yang menimpanya.

Cara ini juga akan mengantarkan kepada prasangka baik terhadap ketentuan Allah.  Ia tidak mudah menyalahkan realitas yang mengelilinginya dan tidak pula berprasangka buruk apalagi menyalahkan Tuhan. Hidup akan terasa lapang dan tidak sempit.

Cara kedua adalah mengingat kenikmatan dan kebaikan yang diberikan Allah. Jika seseorang hanya mengingat kekurangan dan ketidaknyamanan, ia akan merasakan hidup ini dengan penuh kekecewaan. Hatinya nelangsa, gelisah, dan selalu diliputi kegalauan.

Ketika seseorang ditimpa ujian di salah satu organ tubuhnya, misalnya luka atau sakit gigi, ia merasa seakan sudah tidak ada kenikmatan lagi hidup di dunia ini. Padahal, masih banyak kenikmatan lain yang bisa ia rasakan.

Sebaliknya, jika yang diingat lebih banyak atau hanya kenikmatan dan kebaikan hidup, ia akan merasakan hidup ini penuh bahagia dan lebih optimistis. Cara ketiga adalah mengukur diri dengan orang lain yang lebih rendah secara duniawi.

Rasulullah SAW bersabda, “Pandanglah orang yang lebih rendah daripadamu (secara duniawi) dan janganlah memandang kepada orang yang lebih tinggi daripadamu, karena yang demikian itu lebih baik agar kamu tidak memperkecil nikmat karunia Tuhan yang telah diberikan kepadamu.” (HR Bukhari Muslim).

Jika seseorang memiliki mobil meski tidak baru, ia bersyukur karena tidak kehujanan dan kepanasan seperti pengendara sepeda motor. Saat ia mempunyai sepeda motor, ia bersyukur karena bisa bekerja dan lebih cepat sampai rumah daripada  mereka yang bersepeda onthel.

Begitu juga ketika ia menaiki sepeda biasa, ia bersyukur dibandingkan mereka yang bisanya hanya berjalan kaki, dan seterusnya. Dan cara keempat adalah dengan berdoa agar kita senantiasa diberi inspirasi untuk bersyukur.

Meski sudah ditetapkan sebagai seorang nabi dan rasul, Sulaiman masih tetap berdoa agar ia senantiasa diberi ilham dan insiprasi untuk tetap bersyukur kepada Allah. Dalam perjalanan menuju Kerajaan Ratu Bilqis, ia bersama tentaranya sampai pada suatu lembah.

Di sana terdapat sarang-sarang semut. Tanpa diketahui tentaranya, Nabi Sulaiman memperhatikan gerak-gerik dan pembicaraan para semut yang keluar dari sarangnya. Rupanya seorang komandan semut sedang memerintahkan teman-temannya tidak keluar dari sarangnya.

Sebab, bala tentara Sulaiman ada di atas sarang mereka. Tentara itu akan menginjak begitu saja, karena mereka tidak merasa apapun. Nabi Sulaiman yang mendengar dan mengerti bahasa semut lantas tersenyum tertawa.

Nabi Sulaiman berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku isnpirasi untuk selalu bersyukur atas nikmat-nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kedua orang tuaku dan berbuat baik dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan orang  saleh.” (QS An-Naml:  19).
                                                                                            
Semoga empat kiat ini semakin mengukuhkan kita sebagai orang yang merasakan nikmatnya bersyukur. Amien. Wallahu a’lam., Oleh: Bahrus Surur-Iyunk

sumber : www.republika.co.id

Sunday, June 22, 2014

Sambut Ramadhan

Beberapa hari ke depan, bulan Ramadhan akan kembali menyapa kita. Selayaknya kaum Muslimin menyambutnya dengan penuh suka cita. Menyambut Ramadhan itu termasuk salah satu bentuk pengagungan syiar-syiar Allah SWT.

Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS Al-Haj [22]: 32). Ada banyak alasan kaum Muslimin mesti bersuka-cita menyambut Ramadhan.

Pertama, Ramadhan adalah bulan dilipatgandakannya pahala. Rasulullah bersabda, ”Semua amalan anak Adam akan dilipatgandakan (balasannya), satu kebaikan dibalas dengan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat.

Allah SWT berfirman, ”Kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku, dan Aku yang akan langsung membalasnya. Hamba-Ku telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” (HR Muslim).

Kedua, disiapkan Surga Arrayyan bagi yang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut Arrayyan, yang pada hari kiamat nanti hanya akan dimasuki oleh orang-orang yang terbiasa berpuasa. Tidak satupun selain mereka yang memasukinya. Jika mereka (orang-orang yang terbiasa berpuasa) telah masukinya, pintu itu akan ditutup. Sedangkan siapa saja yang telah masuk melaluinya, ia pasti minum. Barangsiapa yang minum ia pasti tidak akan merasakan haus  selamanya.” (HR Bukhari, Muslim, Nasa’i, dan Tirmidzi).

Ketiga, selama Ramadhan pintu surga dibuka lebar-lebar. Pintu neraka ditutup rapat-rapat dan setan dibelenggu sehingga orang yang berpuasa dapat leluasa berburu kebajikan di dalamnya.

Rasulullah SAW bersabda, ”Telah tiba kepada kalian bulan penuh berkah. Allah SWT mewajibkan kalian berpuasa di bulan ini. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendapatkan kebaikannya, sungguh ia telah dihalangi (benar-benar tidak akan mendapatkannya).” (HR Nasa’i).

Keempat, doa orang berpuasa mudah dikabulkan. Rasulullah SAW bersabda, ”Tiga macam doa yang pasti dikabulkan yakni doa orang yang berpuasa, doa orang yang dizalimi, dan doa orang yang musafir.

Kelima, diampuninya dosa orang yang berpuasa. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya Dia mengampuni dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari Muslim).

Keenam, pada bulan Ramadhan terdapat malam lailatul qadar, yaitu suatu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. (QS Al-Qadr [97]: 1-3). Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kesempatan bertemu Ramadhan dan dapat menyambutkannya dengan penuh suka cita. Amin.
Oleh: Imam Nur Suharno


sumber : www.republika.co.id

Tuesday, June 17, 2014

Zikir Sambut Ramadhan

Insya Allah, Sabtu besok, 14 Juni 2014, Majelis Az-Zikra akan menyelenggarakan kegiatan zikir akbar di Masjid Istiqlal. Sebuah kegiatan dalam rangka menyambut kehadiran bulan Ramadhan 1435 Hijriyah. Marhaban ya Ramadhan.

Selamat datang, wahai bulan Ramadhan. Inilah tema yang akan diusung dalam menghelat zikir yang akan diisi taushiyah dari KH Tengku Zulkarnain dan Habib Dr Ahmad al-Kaff. Subhanallah, tidak terasa, waktu bergerak begitu cepat.

Dalam hitungan hari, kita akan tinggalkan lembayung Sya’ban. Dan kita akan jejakkan kaki di bulan Ramadhan. Bulan yang mengajak kaum Muslimin di berbagai belahan dunia berpuasa selama satu bulan lamanya.

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa." (QS al-Baqarah, 2:183)

Kita akan memasuki bulan istimewa yang menyebar banyak kebaikan. Bulan yang ditaburi keberkahan. Bulan yang siang dan malamnya terliputi kemuliaan. Bulan yang di antara salah satu malamnya bernilai lebih baik dari seribu bulan.

Bulan yang pada akhirnya tidak ada alasan buat tangan kita kecuali membentang, seraya lisan berujar, Marhaban ya Ramadhan Allahu Akbar. Kenikmatan menyambut Ramadhan ini adalah bagian dari kecintaan tak berperi atas kehadiran bulan rahmat dan ampunan.

OIeh karena itu, Nabi Muhammad SAW biasa memberikan kabar gembira kepada para sahabat karena datangnya bulan ini. Beliau menjelaskan keutamaan Ramadhan dan janji-janji indah berupa pahala melimpah bagi orang yang berpuasa dan menghidupkannya.

Kenapa kita kembali berzikir? Karena zikir bisa menjadi washilah syiar untuk mengembalikan kesucian bulan yang berlimpah kebaikan dan keberkahan tersebut. Umat di negeri harus bersiap dengan kehadirannya.

Istilah zikir berasal dari bahasa Arab, dzakara-yadzkuru-dzikr. Artinya, mensucikan dan memuji (Allah); ingat, mengingat, peringatan, menutur, menyebut, dan melafalkan.

Di dalam Alquran, yang juga disebut Adz-Dzikra, kita dapat menjumpai kata itu, di dalam berbagai bentuknya (masdar, fi'il madhi, amar, mudhari', dan sebagainya) lebih dari 280 kali dengan berbagai maknanya termasuk makna istilah seperti berikut ini.

Zikir secara istilah berarti mengingat dan menyebut Allah. Dia mengingat Allah maka lisannya terus menyebut Allah. Karena terus menyebut Allah maka hatinya terus mengingat Allah. Mengingat gerak hati sedangkan menyebut gerak lisan.

Karena itu, zikir bisa dilakukan dengan hati (mengingat), bisa pula dengan lisan (menyebut-nyebut). Menjadikan lisannya berzikir berarti menundukan lisannya untuk terus membaca dan menyebut asma-asma-Nya.

Pada titik inilah keadaan lisan harus terus dibasahi dengan untaian kalimat tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Tidaklah lisan kita basah kecuali dengan zikrullah.

Di dalam hadis sahih riwayat at-Turmudzi dari shahabat Abdullah bin Busr katanya, ’’Ya Rasulullah ajaran-ajaran Islam telah banyak padaku, maka beritahukanlah aku sesuatu yang dapat aku jadikan pegangan. Rasulullah menjawab, “Biarkanlah lisanmu terus basah dengan menyebut Allah."

Sampai di ranah ini, rasanya menghadiri majelis-majelis zikir, merupakan amalan elok dan tepat, sebagai isian amaliah diri menyambut Ramadhan. Selamat berzikir, selamat menyambut bulan ampunan.

Insya Allah, negeri ini yang juga sedang berhajat mencari pemimpin segera menuai pula kebaikan. Bersama zikir yang dihidupkan oleh para penikmat majelis-majelis, pengingat, dan penyebut Allah. Semoga.
, Oleh: Ustaz HM Arifin Ilham

sumber : www.republika.co.id

Thursday, June 12, 2014

Belajar Malu dari Rasulullah

“... aku terlalu banyak bolak-balik kepada Tuhanku, sehingga menyebabkan aku malu kepada-Nya.” (HR Bukhari-Muslim)

Untaian di atas ialah petikan percakapan antara Rasulullah SAW dengan Nabi Musa AS selepas Rasulullah mendapatkan perintah shalat saat mi’raj. Sebelum mi’raj, Rasulullah dihantarkan Jibril sejenak mengunjungi Masjidil Aqsha sebagai penghormatan suci bahwa sebelumnya tempat itu (Baitul Maqdis) pernah menjadi kiblat umat Islam sebelum Ka’bah.

Sedangkan mi’raj, diartikan sebagai naiknya Rasulullah hingga banyak memperoleh pelajaran dari para nabi yang dikunjungi pada langit pertama hingga langit ketujuh. Ya, Isra dan Mi’raj. Pada akhirnya, perjalanan spiritual ini menjadi saksi bahwa perintah shalat yang disampaikan melalui Rasulullah SAW tidak serta-merta berjumlah lima waktu shalat.

Ada proses panjang sehingga Rasulullah memperoleh hasil akhir menjadi lima waktu yang dalam hadis Shahih Bukhari-Muslim, sebelumnya adalah 50 waktu. Sungguh bilangan yang jika saja hingga detik ini berlaku demikian, kelak seperti apa yang diprediksikan Nabi Musa as, “Umatmu takkan sanggup Ya Rasul”.

Tentu bukan tanpa alasan Nabi Musa AS berkata demikian kepada Rasulullah SAW. Sesuai pengalaman beliau memimpin Bani Israil bertahun-tahun lamanya, hanya sedikit dari umatnya yang bersedia menjalankan perintah ibadah yang dianjurkan Allah SWT.

Dalam hadis tersebut juga dilukiskan bahwa dialog panjang antara Rasulullah dan Musa terjadi hingga Rasulullah hampir bolak balik menghadap Allah—memohon keringanan atau pengurangan waktu hingga hampir empat kali. Bayangkan, empat kali, hingga Beliau merasa malu terus menerus menuntut keringanan yang diusulkan Nabi Musa AS.

Proses panjang inilah yang kemudian sebaiknya menjadi renungan bahwa Rasulullah SAW memperjuangkan bilangan waktu shalat sesuai dengan apa yang kita mampu. Pada kenyataannya, apa yang disampaikan Nabi Musa adalah benar, umat Rasulullah (tidak) semua mampu.

Sebab, banyak yang mengaku Muslim, mengerjakan shalat, tapi lalai dalam waktunya, hingga Allah SWT sebut dalam surah al-Ma’un dengan sahun, yakni orang-orang yang lalai terhadap waktu shalat. Ayat empat dalam surah tersebut menyebutkan betapa “celakanya” orang-orang yang shalat, “yakni” orang yang tidak menghiraukan waktunya alias menundanya.

Shalat akan menjadi sebuah rutinitas yang membosankan jika kita belum mengetahui tujuan dari shalat, yakni amr ma’ruf nahi munkar, yang berarti suatu usaha untuk mempertahankan perbuatan baik dan mencegah keburukan.

Oleh karenanya, shalat memerlukan kehadiran batin, hati, pikiran, hingga seluruh anggota tubuh untuk merendah di hadapan-Nya. Shalat juga harus melahirkan ihsan, atau perasaan takut kepada Tuhan.

Sehingga, diharapkan bahwa shalat betul-betul menjadi sarana yang ampuh untuk mengusir segala bentuk dorongan atau hasrat keji, entah itu menzalimi diri sendiri, melukai orang lain, atau memakan harta hasil korupsi. Wallahu a’lam.
Oleh: Ina Salma Febriany

sumber : www.republika.co.id

Thursday, June 05, 2014

Kerja yang Bersemangat

Pada pagi hari yang cerah, Rasulullah SAW berjalan bersama para sahabat. Waktu itu, mereka menyaksikan seorang pemuda membelah kayu penuh semangat. Kemudian seorang sahabat berkata, "Seandainya semangat itu digunakan untuk berjihad di jalan Allah..."

Rasulullah SAW yang mendengar perkataan sahabat, lantas bersabda, "Apabila keluarnya dia dalam rangka mencari nafkah untuk anaknya yang masih kecil, itu juga termasuk jihad fi sabilillah. Jika keluarnya dalam rangka mencari nafkah untuk orangtuanya yang tua, maka itu juga jihad fi sabilillah. Kalau pun keluarnya dia dalam rangka mencari nafkah untuk diri sendiri demi menjaga harga diri, maka itu juga termasuk jihad fi sabilillah. Tetapi, bila keluarnya dia disertai riya dan hura-hura, maka itu merupakan usaha di jalan setan."  (HR Thabrani).

Hadis di atas memberi pesan kepada kita, bekerja merupakan aktivitas mulia yang patut dilakukan seluruh Muslim di mana pun berada. Sebab, di dalam Islam, bekerja berarti melakukan aktivitas bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Dengan bekerja, seorang Muslim akan memperoleh dan menghasilkan nilai tambah materi sehingga kebutuhan mereka terpenuhi. Tak heran, bila Nabi Muhammad SAW memasukkan pekerja atau pengusaha pada golongan orang yang melakukan jihad fi sabilillah.

Para pekerja, pedagang, pengusaha, dan profesi lain bila dari kedalaman hati berniat memberikan manfaat dari kerja yang dilakukan, posisinya sama dengan jihad. Apa pun profesi asalkan diperoleh dengan halal, pekerjaan itu merupakan bentuk ibadah yang besar pahalanya.

Bekerja ialah tradisi kenabian yang paling panjang melintasi zaman. Para Nabi dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tidak bergantung pada pemberian orang lain sebab mereka memiliki profesi masing-masing.

Nabi Daud misalnya, menjalani profesi sebagai pengrajin. Nabi Yusuf juga menjalani profesi sebagai bendahara negara. Bahkan, Nabi Muhammad SAW, sebelum diangkat menjadi nabi oleh Allah, bekerja sebagai penggembala dan pedagang.

Allah SWT berfirman, "Katakanlah: Wahai kaumku, bekerjalah sekuat kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat demikian. Kelak kamu akan mengetahui, siapakah  memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan." (QS Al- An'am [34]: 135).

Ayat di atas, mengajarkan kepada kita tentang pentingnya bekerja bersama Allah. Ketika hendak melaksanakan tugas dalam pekerjaan, niat yang ditanamkan hendaknya ditujukan untuk beribadah kepada-Nya.

Maka ketika di dunia ada orang miskin, kaya, dan orang berkecukupan, ini bukan berarti derajat di sisi Allah menjadi berbeda. Profesi apapun yang kita jalani dengan penghasilan materi yang kecil, misalnya, belum tentu bernilai kecil di hadapan Allah.

Hasil yang baik, dalam ayat di atas, artinya sekecil apa pun yang diperoleh dari pekerjaan kita, harus memiliki manfaat bagi lingkungan sekitar. Kerja keras yang dilakukan siapa pun akan mendapatkan berkah tak terkira bagi kehidupannya.

Bagi seorang pekerja keras, Allah SWT akan mengganti setiap tetesan keringatnya tak hanya dengan materi di dunia tetapi juga dengan pahala di akhirat kelak. Islam tidak menganjurkan umatnya untuk menengadahkan tangan mengharap belas kasih orang lain.

Dengan bekerja, kita seolah sedang berupaya menciptakan kekuatan umat Islam di kancah global. Karena itulah, tak heran apabila bekerja diposisikan sebagai salah satu bentuk jihad fi sabilillah.
Islam menghormati pekerja yang keringatnya membasahi tubuh, daripada peminta-minta yang mengharapkan belas kasih orang lain.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka lebih baik daripada ia meminta-minta kepada seseorang, baik itu memberinya atau tidak." (HR Al-Bukhari dan Muslim). Wallahua'lam
, Oleh: Prof H Dadang Kahmad


sumber : www.republika.co.id

Monday, June 02, 2014

Kuat dan Amanah

Sesungguhnya orang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) atau menjadi pemimpin adalah orang yang kuat lagi amanah, dapat dipercaya  (QS al-Qashash/28: 26)

Ayat tersebut mengisyarakat dua syarat utama orang yang layak menjadi pemimpin, yaitu kuat dan amanah. Tentu yang dimaksud dengan kuat bukan semata-mata fisik dan ekonomi, melainkan juga kuat mental spiritual, kuat iman, ilmu, dan amalnya.

Jika multikekuatan ini disinergikan dengan amanah (dapat dipercaya, memiliki integritas tinggi) maka akan melahirkan sosok pemimpin yang mampu membawa perubahan masyarakat ke arah lebih baik, maju, sejahtera, adil, dan bermartabat.

Dalam konteks ini, Rasulullah SAW merupakan figur pemimpin yang mampu menyinergikan kekuatan dan amanah itu. Di antara rahasia kesuksesan beliau dalam memimpin umat adalah lima modal kekuatan berikut.

Pertama, kekuatan Keteladanan akhlak. Sejak kecil Nabi SAW tidak pernah terlibat pelanggaran moral, tidak pernah minum minuman keras, tidak pernah bohong, tidak pernah korupsi, tidak pernah main perempuan, dan aneka akhlak tercela lainnya.

Akhlaknya yang luhur dan terpuji yang dicontohkan kepada keluarga, para sahabat, dan umatnya menjadi kekuatan maha dahsyat, sehingga beliau berhasil menjadi super leader, super manager, dan the greatest teacher.

Apa yang beliau ucapkan beliau laksanakan. Janjinya selalu ditepati. Rakyat beliau cintai, bukan dimanipulasi dan dibodohi. Beliau peduli dan suka berbagi kepada semua. Beliau tidak pernah menyakiti, membohongi dan menyengsarakan umatnya.

Di saat akan menghembuskan nafas terakhir, beliau masih menyatakan, “Ummati… ummati… ummati… ummati… ash-shalah… ash-shalah..” (Wahai umatku, [jangan lupakan] shalat, shalat, dan shalat).

Kedua, kekuatan komunikasi. Nabi SAW memiliki kemampuan berkomunikasi yang luar biasa efektif sehingga bisa memengaruhi kawan maupun lawan. Beliau ahli negosiasi, berorasi, memberi motivasi, dan menginspirasi umat.

Ketiga, kekuatan ilmu.  Rasulullah SAW tentu memiliki ilmu luar biasa, karena guru dan sumber ilmu beliau langsung dari Allah SWT. Dengan ilmu dan petunjuk langsung dari Allah SWT, Nabi SAW menjadi pemimpin yang berhati-hati dalam menerima ide dan kritik.

Orang yang berilmu juga cenderung lebih terbuka dan toleran, mau bekerja sama dengan orang lain. Baginya, segala informasi yang ia dapatkan merupakan data yang dijadikan rujukan pertimbangan.

Rasulullah SAW memimpin umat dengan ilmu dan petunjuk dari Allah sehingga umatnya pun diharuskan berlajar dan mengembangkan ilmu.
Keempat, kekuatan mental spiritual. Rasulullah SAW sangat menganjurkan setiap Muslim mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kekuatan mental-spiritual yang tangguh membuat pribadi beliau juga sangat tangguh, tidak mudah mengeluh, tidak gampang curhat masalah pribadinya di hadapan rakyatnya, teguh pendirian, tegas dalam mengambil tindakan, dan tangkas selesaian masalah.

Di malam hari beliau beribadah, di siang hari beliau sering berpuasa. Kekuatan inilah yang menjadikan beliau dan para sahabatnya selalu merasa ada jalan dan solusi dalam berbagai situasi, sesulit apapun.

Kelima, kekuatan fisik. Rasulullah SAW termasuk orang paling sehat. Nyaris tidak pernah sakit, dan memiliki kekuatan fisik yang prima sepanjang hidupnya.

Kelima kekuatan itu idealnya menjadi pemacu semangat kebangkitan moral bangsa ini menuju khaira ummah (umat terbaik) yang berperadaban.
, Oleh: Muhbib Abdul Wahab

Sumber : www.republika.co.id