-
-

Thursday, September 25, 2014

Wisatawan Keluhkan Mengeringnya Situ Bagendit

GARUT, (PRLM).- Sejumlah wisatawan pengunjung Situ Bagendit mengeluhkan permukaan air danau yang surut selama musim kemarau ini. Dampaknya, banyak dari wisatawan yang hanya menikmati pemandangan dari pinggir danau dan tidak menyewa perahu atau rakit untuk megelilingi objek wisata yang terletak di Desa Banyuresmi, Kecamatan Banyuresmi, Garut itu.
Berdasarkan pantauan “PRLM” pada Minggu (21/9/2014), permukaan air danau turun sekitar satu meter dibanding dua bulan lalu. Di beberapa titik, tanah dan bebatuan menyembul di antara air. Semak belukar, ranting kering, dan sampah plastik yang terbawa arus juga menumpuk di beberapa titik.
Namun demikian, luas area danau yang dapat dikelilingi dengan rakit dan perahu kayuh bertambah luas. Hal itu terjadi karena eceng gondok yang sebelumnya menutupi 2/3 luas danau kini sudah mulai berkurang. Saat ini eceng gondok hanya menutupi sebagian luas danau.
Salah seorang wisatawan, Andri Wijaya(25) menyatakan, keindahan Situ Bagendit berkurang karena riak air danau tidak banyak terlihat lagi. Ranting kering dan sampah plastik juga mencemari pemandangan.
“Tapi di sisi lain, ada perubahan mencolok yaitu berkurangnya eceng gondok. . Limbah eceng gontok yang menumpuk di tepi danau juga sduah diangkut dan tidak mengganggu aktivitas pengunjung,” katanya.
Mahasiswa asal Bandung tersebut tidak menyangka jika permukaan danau surut sebanyak itu. Pasalnya, di sepanjang jalan menuju danau, saluran irigasi masih penuh. Sawah sawah juga masih hijau dan terairi dengan baik.
Pengunjung lainnya, Citra Utami (31) menyatakan kecewa karena tidak puas berkeliling menggunakan perahu kayuh. Meski permukaan danau yang tidak tertutup eceng gondok meluas, perahu yang disewanya kerap terantuk dasar danau di beberpa titik yang dangkal.
“Kami pun hanya berkeliling di tengah danau saja dan tidak bisa jauh jauh. Kalau musim kemaraunya masih lama. Bisa jadi nanti sarana perahu tidak bisa dinikmati karena danau mengering,” ucapnya.
Kondisi tersebut dibenarkan petugas penjaga karcis perahu kayuh, Ajat (39). Menurutnya, ketinggian air sejak beberapa pekan lalu hanya sekitar setengah meter dan terus menurun. Hal itu menyulitkan para pengusaha perahu dan rakit dalam menggaet pengunjung.
Sekali putaran, pengunjung dipungut biaya Rp 20.000 untuk menyewa perahu kayuh berkapasitas maksimal 4 penumpang. Objek wisata Situ Bagendit hanya ramai dikunjungi pada hari Minggu baik oleh wisatawan lokal maupun dari luar Garut.
“Memang banyak pengunjung yang mengurungkan niatnya menyewa perahu. Kami juga harus menggali dasar danau di sekitar dermaga agar perahu dan rakit bisa bergerak,”
Ajat menyatakan, hanya terjadi sedikit penurunan jumlah penyewa perahu dibanding bulan lalu. Namun dia khawatir mengeringnya danau akan mem buat penyewa jauh berkurang pekan depan.
Beberapa pemancing juga mengeluhkan semakin sulitnya mendapat ikan. Mereka harus pergi jauh ke bagian barat danau untuk mendapat lokasi memancing yang cocok.
“Saya sudah sekitar 6 jam memancing tapi belum mendapat satu pun ikan. Padahal beberapa bulan lalu bsia bawa 4-5 ikan,” tutur seorang pemancing, Hilman (30). (Yusuf Wijanarko/A-89)***

Wednesday, September 24, 2014

Busa Terbang Bakal Hiasi Kota Bandung

Saat Hari Jadi Ke-204 Kota Kembang
PIJARAN kembang api dan flugos (busa terbang) yang membentuk huruf akan menghiasi Kota Bandung pada malam puncak peringatan HUT ke-204 Kota Kembang, Sabtu (27/9). Di sudut kota lainnya pesta rakyat dan parade artis siap menghibur warga.
"Puncak acara hari jadi ke-204 Kota Bandung akan dimeriahkan kembang api. Dananya sekitar Rp 1,2 miliar dari seorang pencinta Kota Bandung, bukan dari APBD," tegas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Herlan J.S. di Jln. Sumatra, Selasa (23/9).
Atraksi kembang api akan digelar Sabtu (27/9) pukul 22.00 WIB atau 23.00 WIB di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Dipastikan aksi kembang api ini akan berlangsung spektakuler dan lebih meriah dari perayaan hari jadi Jawa Barat.
"Sekitar 20 menit kembang api akan menyala di langit Kota Bandung. Dengan anggaran sebesar itu, tentu saja kembang apinya tidak main-main dan bukan kembang api biasa. Ini akan spketakuler, lebih waktu hari jadi Jawa Barat," jelas Herlan.
Ketinggian kembang api sendiri diperkirakan menyamai tinggi Monumen Nasional (Monas).
Busa terbang
Sebelum atraksi kembang api, digelar pesta rakyat di Jln. Dago mulai Jln. Hasanudin hingga Dago Cikapayang. Acara digelar pada Sabtu (27/9) mulai pukul 12.00 - 24.00 WIB.
"Pesta rakyat ini akan dimeriahkan busa terbang. Busa dengan berbagai huruf dan logo Bandung ini akan beterbangan selama tiga jam. Ini juga dananya dari sponsor," tandasnya.
Busa terbang bisa mengapung selama lima menit dengan ketinggian 1 km. Anggarannya sekitar Rp 25 juta dari sejumlah komunitas.
"Sudah lima menit habis dan menghilang. Ini pengganti lampion terbang," katanya.
Ada juga hiburan yang rencananya diisi artis-artis ternama Indonesia. Namun nama-nama artis ini belum ditentukan, meski sejumlah band seperti Gigi, Kahitna, Mocha, dan solois Tulus menjadi pilihan pengisi acara. Warga pun bisa menikmati Kuliner Night yang diisi 100 stan. Selain itu, Creative Awards yang akan diberikan pada dua orang dan dua organisasi kreatif.
"Creative Awards mah salah satu program Disbudpar. Anggarannya Rp 200 juta dari APBD. Tapi kalau acara band, kuliner, dan kembang api dari sponsor," terang Herlan.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol. Mashudi menegaskan, pihaknya akan mendukung penuh seluruh program dan kegiatan Pemkot Bandung berkaitan dengan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-204 yang puncaknya jatuh pada 25 September mendatang. Seluruh perizinan, kata Mashudi, sudah tidak ada masalah.
"Izin HJKB sudah tidak ada masalah. Semua sudah beres," ujarnya saat ditemui di lokasi penggerebekan pabrik mi berformalin di Jln. Kopo, Gg. H. Mukti Dalam 4, RT 09/RW 06, Kel. Situsaeur, Kec. Bojongloa Kidul, kemarin.
Sejauh ini, kata Mashudi, koordinasi antara Pemkot Bandung dan polrestabes sudah berjalan baik. Bahkan untuk mematangkan seluruh rangkaian acara HJKB, hari ini, Rabu (24/9) akan kembali digelar rapat bersama.
"Rapat akan digelar besok malam (hari ini, red) terkait rangkaian acara yang akan digelar. Hanya untuk mematangkan saja. Tapi intinya kami dukung 100 persen seluruh acara," paparnya.
Ditambahkan Mashudi, dalam rangkaian acara yang akan digelar pemkot tersebut, pihaknya menyiapkan sedikitnya 2.000 pasukan. Baik dari Polrestabes Bandung maupun seluruh jajaran polsekta yang ada. "Semua sudah kita siapkan. Kita siap amankan acara ulang tahun ini," ujarnya.
Cara mubazir
Seperti halnya pesta De'Syukron pada hari jadi Provinsi Jabar, rencana HUT Kota Bandung dengan pesta kembang api akbar, menuai pro dan kontra di masyarakat. Meskipun kegiatan tersebut digelar guna mengundang wisatawan sekaligus mengembalikan kejayaan Kota Bandung.
Pesta kembang api akbar dengan mendatangkan kreografer dari Singapura sah-sah saja. Tapi selaku umat beragama sebaiknya tidak semua dilakukan tanpa berlebihan.
Demikian disampaikan pemerhati kebijakan publik UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Sahya Anggara, M.Si. saat dikonfirmasi "GM" di kampus UIN SGD, Jln. A.H. Nasution Bandung.
Menurut Sahya, perbuatan mubazir tentunya dilarang agama. Sedangkan perbuatan yang berlebih-lebihan banyak mudaratnya ketimbang maslahatnya.
Selain itu, perbuatan yang berlebihan juga merupakan pemborosan. Meskipun tidak mempergunakan APBD, seharusnya lebih bermanfaat dengan cara-cara simpatik dan dapat dirasakan langsung oleh warga.
"Pesta kembang api itu cara mubazir, karena hanya dapat dilihat. Ada baiknya menggelar sesuatu yang dirasakan masyarakat Kota Bandung," kata Dekan FISIP UIN SGD Bandung ini.
Sahya juga menyatakan, pesta kembang api tidak serta merta mendatangkan simpati. Sebaliknya bisa merugikan karena merupakan pemborosan dan kurang bermanfaat.
HUT Kota Bandung bisa tetap digelar dengan lebih sederhana dan meriah tanpa kehilangan maknanya sebagai momentum untuk introspeksi bagi seluruh elemen warga Kota Bandung.
Sumber klik-galamedia.com

Tuesday, September 23, 2014

Musyawarah dan Tawakal

Dalam sejarah Islam dikenal Perang Uhud yaitu peperangan yang terjadi antara kaum Muslimin dan Musyrikin.
Sebelum berperang, Rasulullah SAW dengan para sahabatnya dan pasukan perangnya menggelar musyawarah untuk mengatur taktik dan strategi Perang. 

Kemudian peserta musyawarah pun menyepakati strategi perang untuk menghadapi kaum musyrik. Namun, dalam Perang Uhud, pasukan kaum Muslim mengalami kekalahan.

Hal itu disebabkan pasukan perang yang ditugaskan untuk tetap di pos, ia indisipliner meninggalkan pos yang ditugaskan Nabi Muhammad SAW.

Ia ingin mengejar keuntungan material yaitu gonimah perang yang akhirnya pada Perang Uhud pasukan kaum muslimin mengalami kekalahan, tidak seperti pada perang Badar yang meraih kemenangan yang gemilang.

Allah SWT berfirman ”Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah.” (Q.S Ali Imron 159).

Mukmin yang bertawakal akan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah SWT dan meyakini hanya Allah-lah yang mampu memberi atau tidak memberi sesuatu dan mendatangkan manfaat atau marabahaya.

Bangsa Indonesia telah menyelenggarakan Pemilu Pilpres 9 Juli 2014 dengan sukses, tidak ada gangguan yang berarti bahkan Obama memuji dan mengucapkan selamat kepada penyelenggaraan Pemilu Pilpres di Indonesia berjalan sukses. 

Tanggal 22 Juli 2014 hasil Pilpres diumumkan KPU dan ditetapkan pemenangnya, karena itu kita sebaiknya menyikapi hasil Pilpres dengan sikap: Pertama, bersyukur. Kita bersyukur kepada Allah SWT, Pilpres telah berjalan sukses.

Sebagai bangsa Indonesia, kita harus bangga sebagai Negara Demokrasi terbesar nomor tiga di dunia setelah Amerika dan India, sesuai dengan Firman Allah SWT  ”Kalau kita bersyukur maka Allah akan menambah, tetapi jika kufur maka Allah menyiksa dengan siksa yang pedih.”

Kedua: Legowo. Capres Cawapres dan pendukungnya legowo, siapapun yang menang harus kita dukung. Yang menang adalah rakyat Indonesia. Mari kita kembali ke asal hidup bangsa kita rukun dan damai, yang menang tidak arogan dan yang kalah tidak putus asa.

Silahkan bersaing kembali lima tahun yang akan datang. Kita harus membangun jiwa kesatria, siap kalah dan siap menang sehingga kita dapat mewariskan tradisi yang positif yang bisa diteladani generasi setelah kita dalam berdemokrasi secara santun, cerdas dan dewasa.

Ketiga: Ambil hikmah. Kedua Capres dan Cawapres sudah berusaha seoptimal mungkin agar menang namun kenyataan menunjukan menurut peraturan hanya ada satu pemenang sebagai Presiden dan Wakil Presiden, karena itu ambil hikmah dari yang terjadi.

Firman Allah SWT  ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S Al Baqarah:216).

Karena itu, kita bangsa Indonesia harus mengambil hikmahnya apa yang terjadi pada kita mungkin lebih baik bagi bangsa kita. Marilah kita bermusyawarah dan bertawakal kepada Allah SWT.
   
Mudah mudahan Presiden dan Wakil Presiden terpilih dapat meningkatkan kesejahteraan yang berkeadilan lebih baik lagi di masa mendatang.

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, August 20, 2014

Jasad dan Ruh Alquran

Alquran itu terdiri dari jasad dan ruh. Hal ini dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadisnya, “Lahu dzahrun wabathnun” (baginya (Alquran) mempunyai jasmani (zahir) dan ruhani (batin).” (Syarhussunnah)

Dalam kitab Fadhailul Amal, disebutkan sebagian ulama berpendapat yang dimaksud dengan jasad Alquran adalah merujuk pada kalimat-kalimat dalam Alquran yang dapat dibaca dengan baik oleh setiap orang.

Sedangkan, batin (ruh) Alquran merujuk pada maksud-maksudnya, baik yang tersurat maupun tersirat, yang pemahamannya berbeda sesuai dengan kemampuan pembacanya.

Di antara hikmah adanya jasad dan ruh Alquran ini untuk menunjukkan kepada kita bahwa Alquran bukan sekadar kitab bacaan semata, melainkan merupakan kitab pedoman hidup yang harus dijadikan rujukan dalam bersikap dan beramal yang bisa diawali dengan membaca dan memahaminya.

Oleh karena itu, Allah SWT menjadikan Alquran dengan menggunakan bahasa Arab, bukan hanya karena Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai orang Arab. Lebih daripada itu, bahasa Arab adalah bahasa yang mudah dipelajari dan dipahami setiap orang dari berbagai suku dan bangsa.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya.” (QS Yusuf [12]: 2).

Selain itu, Allah SWT menjadikan Alquran sebagai sesuatu yang mudah dibaca, mudah untuk dipahami, dan mudah untuk dipelajari sehingga dapat memberikan kemudahan kepada kita untuk mengamalkannya.

Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS al-Qomar (54): 17)

Ketika kita mampu menyatukan jasad dan ruh Alquran, akan menjadikan kita mendapatkan ilmu yang luas dan mendalam.
Ibnu Masud berkata, “Jika kamu ingin memperoleh ilmu, hendaklah kamu memikirkan dan merenungkan makna-makna Alquran karena di dalamnya mengandung ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang yang sesudahnya.''
Ketika kita mampu menyatukan jasad dan ruh Alquran, kitab suci itu akan hidup dalam diri kita yang tergambar dari akhlak-akhlak keseharian kita. Inilah yang dibuktikan Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW digambarkan sebagai sosok Alquran yang berjalan.

Hal ini ini dinyatakan oleh Aisyah RA ketika ia ditanya mengenai akhlak Rasulullah SAW. Beliau menjawab, “Budi pekerti Nabi SAW adalah Alquran.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad).

Sebagai seorang Muslim sudah selayaknya kita berupaya menghidupkan jasad dan ruh dari Alquran agar tidak hanya sebagai bacaan semata, lebih daripada itu dapat menjadi petunjuk bagi kita dalam mengarungi kehidupan dunia ini.

Kini, kita berada pada bulan Ramadhan. Pada bulan ini Rasulullah SAW selalu menghidupkannya dengan menyatukan jasad dan ruh Alquran.

Dalam hadis riwayat Bukhari dinyatakan Rasulullah SAW memperbanyak membaca Alquran al-Karim pada Ramadhan dan Malaikat Jibril datang kepada beliau untuk membacakan Alquran.

Untuk itu, mari kita upayakan untuk selalu membaca Alquran dengan sebaik-baiknya dan kita pahami maksudnya.
Lalu, berupaya untuk mengamalkannya sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW sehingga jasad dan ruh Alquran dapat kita amalkan dalam keseharian. Wallaahualam.
, Oleh: H Moch Hisyam
sumber : www.republika.co.id

Sunday, August 17, 2014

Menaklukkan Waktu

Waktu merupakan salah satu nikmat Allah yang paling berharga yang dianugerahkan kepada para hamba-Nya.

Dalam Alquran disebutkan bahwa manusia itu akan mengalami kehancuran jika tidak memanfaatkan waktunya untuk kebaikan, sebagaimana firman Allah, “Dan demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS al-'Ashr [103]: 1-3).

Imam Fakhrurrazi dalam tafsirnya tentang surah al-'Ashr tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan al-'Ashr itu adalah waktu atau masa. Masa adalah sesuatu yang sifatnya sangat unik dan mengagumkan. Beragam kisah anak manusia terjadi silih berganti pada lintas generasi.

Kualitas kehidupan seorang anak manusia sangat tergantung dari caranya memanfaatkan waktu. Hidupnya akan berarti dan bernilai jika ia dapat memaksimalkan peran waktu di kehidupannya. Sebaliknya, kerugian dan kegagalanlah yang akan diperoleh saat dia menyia-nyiakan waktu yang dilaluinya.

Rasulullah SAW dalam hadisnya menjelaskan tentang urgensi waktu sebagai berikut,  “Ada dua jenis nikmat yang sering kali dilalaikan kebanyakan orang, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” Kedua nikmat ini merupakan anugerah tak terhingga dari Allah SWT  yang harus dimanfaatkan secara maksimal.

Terkait interpretasi dari hadis ini, Ibnul Jauzi menjelaskan, terkadang seseorang berada dalam kondisi sehat tapi tidak mempunyai waktu luang akibat tersita oleh pekerjaan dan urusan duniawi lainnya.

Sebaliknya saat seseorang mempunyai waktu luang namun tetap tidak bisa memanfaatkannya karena kondisi kesehatannya yang buruk sehingga waktu luang pun akan berlalu dengan sia-sia.

Dengan demikian, usia pada dasarnya tidaklah bernilai apa-apa dalam kehidupan ini, karena sebenarnya yang berharga itu adalah value dari pemanfaatan waktu. Value inilah yang akan membuat usia seseorang memiliki makna dan kualitas.

Seorang yang menyia-nyiakan puluhan tahun dari usianya, namun di saat-saat terakhirnya ia bertobat dan berbuat kebaikan maka kualitas usianya itu hanya di penghujung usianya saja. Ini menguatkan pernyataan dari ayat yang disebutkan sebelumnya.

Menarik sekali pernyataan dari Imam Syafi'i yang mengatakan bahwa selama dia bergaul dengan para ahli sufi, hanya dua pernyataan yang selalu dia dengar dari mereka, yaitu “Waktu itu ibarat pedang, jika kau tidak membunuhnya (waktu) maka dialah yang akan membunuhmu.”

Pernyataan lainnya, “Dan waktumu... jika tidak kau pergunakan untuk kebaikan maka dia akan menyibukkanmu dengan kejahatan.” Wallahu a'lam bish shawwab.
Oleh: Rafiqah Ahmad Lc MA

sumber : www.republika.co.id

Friday, August 15, 2014

Pertemanan Abadi

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak pernah lepas dari teman atau pertemanan, baik teman pada masa kecil dulu, teman pada waktu sekolah, ataupun teman dalam bisnis dan dalam perjuangan di jalan Allah SWT. Pertemanan adalah kecenderungan dasar manusia. Maka, sejatinya tak ada hidup tanpa pertemanan.

Dampak baik dan buruk pertemanan tak diragukan lagi, baik dilihat dari perspektif agama maupun dari ilmu pengetahuan. Dalam adagium Arab malah  ada ungkapan “Al-Nas ala dini ash-habihim” (manusia mengikuti agama temannya). Jadi, yang penting bukan soal pertemanannya, tetapi dengan siapa seseorang berteman atau menjalin pertemanan.

Seperti dimaklumi, teman itu ada dua macam, yaitu teman baik dan teman buruk. Rasulullah SAW mengumpamakan teman baik seperti penjual minyak wangi. Ia suka mengoleskan minyak wangi ke baju kita atau kita membelinya, atau setidak-tidaknya, kita mengendus aroma wanginya.

Sedangkan, teman yang buruk diumpamakan seperti tukang pandai besi. Kalau dekat-dekat, baju kita bisa terbakar atau paling tidak kita mengendus baunya yang tak enak. (HR Muslim dari Abu Musa).

Tak heran bila orang tua, para guru, dan orang-orang saleh, selalu memberi nasihat agar kita jangan sampai keliru dalam memilih teman atau membangun koalisi pertemanan.  Sebab, akibatnya bisa sangat fatal, yaitu kerugian dan kegagalan, lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Penulis kitab Al-Hikam, Ibn Athaillah al-Sakandari, memberi nasihat soal pertemanan ini. Katanya, “Jangan pernah kamu berteman dengan orang yang sikap dan perkataannya tidak membimbingmu lebih dekat kepada Allah SWT.”

Ada dua kriteria yang ditekankan al-Sakandari, yaitu Hal (sikap mental) dan Maqal (kata-kata/perilaku). Term Hal menunjuk pada kondisi jiwa yang berisi keimanan, ibadah, dan kepatuhan kepada Allah SWT.

Dalam bahasa modern, Hal itu dinamai “kekuatan spiritual”. Ia diam, tidak berkata-kata (shamitah), tetapi pengaruhnya sangat dahsyat, menginspirasi, menggugah, dan mendorong orang lain pada kemuliaan dan kemenangan.

Sementara, term Maqal menunjuk pada perilaku dan keluhuran budi pekerti. Maqal adalah kecerdasan moral. Ia mengajak orang lain kepada yang baik (al-amr bi al-ma`ruf) dan mencegahnya dari kejahatan (al-nahyu an al-munkar) dengan cara-cara yang terhormat disertai sikap pantang kompromi dengan kebatilan.

Bagi al-Sakandari, hanya orang dengan dua kriteria di atas, layak dijadikan sebagai teman. Dialah teman abadi. Lain tidak! Lantas, siapa mereka? Mereka tak lain adalah orang-orang yang memperoleh petunjuk dan anugerah dari Allah. Mereka adalah orang-orang terbaik dan teladan dalam kemuliaan.

Seperti nasihat al-Sakandari, kita hanya boleh berteman dan membangun koalisi pertemanan hanya dengan kelompok ini. Pertemanan dengan mereka akan abadi sebagai koalisi permanen yang akan meraih kemuliaan dan kemenangan sampai kelak di surga.

Allah SWT berfirman, “Dan, barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS al-Nisa' [4]: 69). Wallahu a’lam!
Oleh: A Ilyas Ismail

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, August 13, 2014

Tiga Warisan Ramadhan

Tamu agung itu telah pergi. Kita tidak tahu apakah tahun depan masih dipertemukan kembali atau tidak. Ya, bulan suci Ramadhan telah berlalu. Kini Syawal telah tiba. Harapan apa yang hendak diraih di bulan Syawal hingga bulan-bulan selanjutnya setelah kita digodok sebulan penuh di bulan Ramadhan?

Kita tidak ingin nuansa Ramadhan menjadi pudar. Untuk itu, spirit Ramadhan mesti kita jaga dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita terlena kembali oleh hiruk-pikuk dunia sehingga melupakan apa yang sudah kita bangun pada bulan Ramadhan.

Kita masih ingat bagaimana menyambut Ramadhan dengan antusias. Pada siang hari menahan lapar dan haus  serta menjaga dari hal-hal buruk. Selama Ramadhan kita bersemangat ibadah Tarawih dan tadarus Alquran. Kita juga rela bangun pukul tiga dini hari untuk sahur. Apakah antusiasme dan keseriusan itu masih ada di bulan ini?
 
Bulan suci Ramadhan memberikan tiga warisan penting yang perlu kita pegang erat-erat dalam keseharian kita. Pertama, Alquran. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran. Rasulullah SAW dan para sahabat memberikan teladannya. Mereka begitu rajin membaca Alquran hingga beberapa kali khatam. Kita juga di bulan Ramadhan melakukan tadarus setiap hari yang lain dari biasanya.

Kebiasaan ini selayaknya dipertahankan di bulan-bulan selanjutnya. Sebagai petunjuk, Alquran tidak hanya dibaca tetap juga diamalkan segala perintah serta larangan yang tertera di dalamnya. Firman Allah: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) ...” (QS al-Baqarah: 185).
 
Kedua, shalat. Pada bulan Ramadhan juga intensitas shalat begitu meningkat. Hal ini disebabkan semua amalan akan dilipatgandakan, sehingga memacu kita untuk melaksanakan shalat-shalat sunah. Paling tidak kita melaksanakan shalat sunah Tarawih sebelas rakaat ataupun 23 rakaat. Selayaknya amalan shalat sunah itu tetap dilakukan di bulan-bulan selanjutnya sebagai tanda keberhasilan kita di bulan Ramadhan.

Ketiga, infak. Pada bulan Ramadhan, kita juga dengan mudah memberi, mulai dari yang sunah seperti berinfak, menyantuni fakir-miskin, memberi iftar, hingga yang wajib, yaitu zakat fitrah dan zakat mal. Kebiasaan memberi ini sepatutnya dipertahankan dan terus dilestarikan di bulan-bulan berikutnya.

Ketiga hal di atas merupakan warisan berharga dari bulan Ramadhan yang mesti kita jaga dan amalkan terus-menerus dari bulan ke bulan hingga Ramadhan datang kembali di tahun berikutnya. Maka, dengan demikian,  kita bisa mencapai predikat manusia fitri, yang berhasil mengimplementasikan spirit Ramadhan di setiap bulannya.

Bukan tidak mungkin apabila implementasi ini muncul dari kesadaran kolektif, kaum Muslim betul-betul mencapai umat terbaik (khairu ummah) dan umat terpilih (ummatan wasathan).
 
Hal ini senada dengan firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (QS Fathir: 29).
 
Mudah-mudahan di bulan Syawal ini dan bulan-bulan berikutnya kita terus mengamalkan tiga warisan Ramadhan di atas. Amin.
Oleh: M Iqbal Dawami

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, August 06, 2014

Silaturahim Hati

Bulan rahmah dan maghfirah telah berlalu. Kepergiannya diiringi dengan berbagai sambutan dari para pecintanya; ada yang teramat menyesal dan bersedih karena merasa belum memaksimalkan bulan Ramadhan, ada pula yang bersyukur karena telah mampu menjalani serangkaian target yang telah disusun selama bulan Ramadhan.

Apa pun perasaan yang kita miliki, tetaplah kita harus mensyukuri bahwa Idul Fitri adalah momentum penyucian hati setelah sebulan lamanya kita dilatih untuk menahan dan menyucikan diri dari segala hasrat duniawi; makan, minum, termasuk mengelola emosi.  Idul Fitri menjadi kesempatan terbaik untuk sama-sama membuka hati, memberi dan meminta maaf, serta menebarkan sifat belas kasih.

Meski memaafkan dan meminta maaf tak sebatas hanya pada saat perayaan Idul Fitri, momen perayaan ini kerap dispesialkan untuk berbagi dan memohon maaf. Tak ayal, ucapan yang sering kita dengar atau bahkan sering kita lontarkan ialah, ‘Mohon Maaf Lahir dan Bathin’.

Tak salah memang, memberi maaf terlebih meminta maaf adalah perilaku terpuji. Tak hanya bermaaf-maafan, Idul Fitri menjadi momen berharga untuk kembali merajut silaturahim bersama rekan dan sanak saudara.

Silaturahim (menyambung kasih sayang), atau yang justru sering disebut dengan silaturahmi adalah perbuatan baik yang dianjurkan Rasulullah SAW. Namun, hakikat silaturahim tak cukup dengan lahir (zahir/tampak), berupa berjabat tangan atau bertatap wajah. Hendaknya silaturahim bathin (hati) —yang sadar untuk meminta dan memberi maaf—benar-benar disadari, agar segala noda-noda di hati berupa iri, dengki, hasad, dendam, melebur hancur bersamaan dengan silaturahim tersebut.

Allah Swt berfirman, "Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Mahapenyantun." (QS al-Baqarah: 263)

Secara tersirat, Allah menyebutkan dua tingkatan kebajikan dalam ayat ini, Pertama, perkataan yang baik. Berkata yang baik adalah salah satu usaha hifdz al-lisan (menjaga lisan) adalah hal yang benar-benar dianjurkan dalam Islam, sehingga Rasulullah SAW pun bersabda, ‘Berkatalah yang baik, atau (jika tidak bisa) lebih baik diam,’.

Dalam hadis ini Rasulullah mengajak umatnya untuk mampu berkata baik dan membuahkan manfaat bagi sesama, bukan perkataan penuh dusta, caci-maki, dendam dan amarah. Kedua, kebajikan dengan memberi maaf dan ampunan kepada orang yang telah berlaku buruk kepada kita, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Nah, yang terakhir inilah yang disadari maupun tidak, sulit dilakukan.

Meminta maaf memang terkadang bukanlah perkara yang mudah, namun, bukan berarti kita tidak mampu melakukannya. Terkadang pula, perasaan tinggi hati kerap merusak niat diri sehingga kita malu mengutarakan ‘maaf’ terlebih dulu, padahal, jika kita cermati bersama, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan berilah salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala, dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.” (HR Abu Dawud)

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, “Pintu-pintu surga akan dibuka pada hari Senin dan Kamis, kemudian Allah akan memberi ampunan kepada setiap orang yang tidak menyekutukan Allah sedikit pun; kecuali seorang laki-laki yang ada perpisahan antara dia dengan saudaranya. Maka berkatalah Allah: ‘Tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai.” (HR Muslim)

Semoga kita tergolong menjadi hamba-Nya yang mampu menyambung tali kasih sayang ikhlas dari hati, sehingga mudah untuk memberi dan meminta maaf dengan tulus. Amin.
Oleh: Ina Salma Febriany


sumber : www.republika.co.id

Saturday, July 05, 2014

Kontinuitas Beramal

Diriwayatkan dari Siti Aisyah, Nabi SAW masuk ke tempatnya dan di sisinya ada seorang perempuan dari Bani Asad. Lalu,  Nabi SAW bertanya, “Siapakah ini?“ Aisyah menjawab, “Si Fulanah (ia tidak pernah tidur malam), ia menceritakan shalatnya.

Nabi SAW bersabda, “Lakukanlah (amalan) menurut kemampuanmu. Demi Allah, Dia tidak merasa bosan sehingga kamu sendiri yang bosan. Amalan agama yang paling disukai Allah SWT adalah yang dilakukan oleh pelakunya secara kontinu.’’ (HR Bukhari).

Dalam hadis di atas, Rasulullah SAW mengingatkan amalan paling baik dan disukai Allah SWT adalah amalan yang dilakukan secara kontinu. Bukan amalan yang besar atau yang kecil. Amalan kecil bila kontinu lebih baik daripada amalan besar namun dilakukan hanya sekali.

Amalan kecil dilakukan secara terus-menerus maka dalam pandangan Allah SWT amalan itu menjadi besar. Sebaliknya, kesalahan (maksiat) yang kecil dilakukan secara terus-menerus, lambat laun menjadi besar sehingga menumpuklah dosa kita.

Rasulullah SAW bersabda, ’’Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan secara terus-menerus.'' Artinya dosa kecil yang kontinu akan menjadi dosa besar. Karena itu, melakukan shalat Dhuha dua rakaat setiap pagi lebih baik daripada 12 rakaat cuma sekali.

Menunaikan Tahajud dua rakaat setiap malam lebih baik daripada 13 rakaat beserta witirnya namun cuma sekali.
Begitu pun membaca Alquran satu ayat setiap hari lebih baik daripada membaca beberapa ayat tapi cuma sekali (hal ini biasanya dilakukan hanya di bulan Ramadhan).

Bersedekah Rp 1.000 setiap hari lebih baik dibandingkan bersedekah Rp 100 ribu tetapi hanya sekali. Rasulullah SAW tidak menekankan jumlah rakaat, berapa ayat, dan berapa rupiah melainkan kontinuitas beramal yang baginda inginkan.

Dalam beribadah, Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya agar melakukannya sekuat tenaga dan semampu kita.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.’’ (QS Al-Baqarah:286).

Dan Nabi SAW bersabda, ’’Kerjakan amal perbuatan sekuat tenagamu, Allah tidak jemu menerima dan memberi sehingga kamu jemu beramal, dan shalat yang disukai adalah yang dikerjakan terus-menerus meskipun sedikit.’’ (HR Bukhari-Muslim).

Untuk menjalankan suatu amalan, harus didasari kesabaran dan keyakinan. Tanpa hal tersebut, sulit untuk membiasakan amalan (ibadah). Sebab kesabaran dan keyakinan melahirkan semangat sehingga dalam keadaan apapun kita terus beribadah.
, Oleh: Pudji Dwi Setiawati

sumber : www.republika.co.id

Friday, July 04, 2014

Kasih Sayang Allah

Pada saat Rasulullah Muhammad SAW duduk beristirahat di tengah para sahabatnya, datanglah seorang lelaki membawa pakaian. Dia menyimpan sesuatu yang disembunyikan dalam pakaiannya itu.

Dia mengatakan, “Wahai Rasulullah, ketika aku berjalan ke arahmu, aku melewati sebuah pohon yang sangat rindang. Aku mendengar suara anak-anak burung, lalu aku ambil dan meletakkannya di kainku. Namun, tiba-tiba induknya datang dan terbang mengitari kepalaku, maka kubuka kainku agar ia melihat anak-anaknya. Karena melihat anak-anaknya dalam kainku sang induk ikut bersama mereka sehingga aku selimuti mereka semua dengan kainku ini. Inilah mereka semua, aku bawa kemari.

Rasulullah SAW berkata, “Letakkan mereka.” Dia pun meletakkan burung-burung tersebut di atas tanah di hadapan Rasul. Dia membuka penutupnya namun induknya enggan meninggalkan anaknya. Rasul bertanya, “Apakah kalian heran dengan kasih sayang induk burung ini terhadap anak-anaknya?

Rasulullah SAW bersabda, “Demi Tuhan yang telah mengutusku dengan membawa kebenaran, sesungguhnya kasih sayang Allah lebih besar terhadap hamba-hamba-Nya dibandingkan induk burung kepada anak-anaknya ini. Bangunlah dan bawalah mereka kembali hingga kau letakkan mereka di tempat semula bersama induknya.

Lelaki itu pun membawa mereka kembali seperti diperintahkan Rasulullah. Sabda Rasulullah di atas adalah gambaran indah betapa kasih sayang Allah tak terbatas oleh ruang dan waktu terhadap hamba-hamba-Nya.

Seperti yang dikemukakan Allah SWT, “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, menunaikan zakat, dan mereka yang terus-menerus beriman terhadap ayat-ayat Kami. Orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi ummi yang mereka mendapati-nya tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.”(QS al-A'râf [7]: 156-157)

Tatkala kita ditimpa suatu musibah, bukan berarti Allah sudah tidak sayang dan peduli lagi. Allah hanya menginginkan agar kita lebih kuat dan cerdas dalam memaknai romantika kehidupan.

Ketika kita meminta sesuatu kepada Allah tetapi tidak langsung mengabulkannya, Allah mengetahui, hal itu akan menjauhkan kita dari sisi-Nya. Seperti Qarun, setelah diberi kelapangan rezeki, dia malah menjadi hamba yang kufur dan tamak.

Orang bijak mengatakan, Allah menjawab permohonan kita dengan tiga cara. Allah berkata Ya, Dia memberi yang kita inginkan. Allah berkata Tidak, Dia memberi kita sesuatu yang lebih baik. Allah berkata Tunggu, Dia memberi kita yang terbaik.

Kasih sayang Allah kepada kita tak pernah terhenti sedetikpun. Sejak kita masih berupa setetes air kehidupan, lalu tumbuh menjadi manusia dewasa sempurna. Selama kita di dunia, akan selalu diwarnai berbagai problematika kehidupan.

Seperti yang dikemukakan Allah SWT, apabila kita berhasil memetik pelajaran dari setiap penderitaan tersebut, maka kita akan hidup bahagia menuju keabadian. Sebaliknya, apabila kita gagal memahaminya maka kita tergolong orang yang bangkrut.

Dan itu adalah kerugian yang sebenarnya. Pertolongan Allah pasti akan datang membebaskan kita dari kemalangan, penderitaan, dan kegagalan.

Setelah kita terlebih dahulu mempelajari faktor-faktor penyebab kemalangan, penderitaan, dan kegagalan itu. Kemudian kita bangkit melakukan perubahan untuk membebaskan diri dari semua belenggu itu.
Oleh: Musliminsumber : www.republika.co.id

Wednesday, July 02, 2014

Wajah Bersih Bercahaya

Sejenak kita rehat membincangkan politik yang suhunya memanas. Mari kita sejukkan ruang hidup kita dengan sesuatu yang lebih bisa menyita perhatian Pemilik Kehidupan, Allah ‘Azza wa Jalla.
Satu di antaranya adalah menjadikan wajah kita bersih bercahaya sehingga semakin dikenali oleh Allah dan Rasul-Nya.

Jika banyak perempuan modern sering ditemukan mengabiskan waktu dan menghamburkan banyak rupiah di salon-salon kecantikan terutama untuk memoles wajahnya supaya semakin cantik, segar, dan  menarik, maka bagi  Muslimah upaya itu cukup dengan air wudhu.

Di samping murah dan praktis juga tentu saja berbobot pahala di sisi-Nya. Wudhu, ternyata bisa menjadikan pengamalnya berwajah bersih dan bercahaya.

Dalam sebuah sabdanya, Rasulullah SAW berpesan, “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan, dan kaki mereka bercahaya karena bekas wudhu.” (HR Bukhari nomor 136 dan Muslim nomor 246).

Karena itu bisa dipastikan tak ada satu produk kecantikan pun yang mampu menandingi cahaya yang terpancar dari wajah orang-orang yang terjaga wudhunya. Karena cahaya dari air wudhu tak hanya dirasakan di dunia tapi juga di akhirat.

Bahkan mereka akan mudah dikenali Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Bagaimana engkau mengenali umatmu setelah sepeninggalmu, ya Rasulullah?”

Tahukah kalian, bila seseorang memiliki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya di antara kuda-kuda yang berwarna hitam yang tidak ada warna selainnya, bukankah dia akan mengenali kudanya?” jawab Rasul dengan nada bertanya. Para sahabat pun mengangguk.

Mereka (umatku) nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi dan kedua tangan serta kaki karena bekas wudhu mereka,” pungkas Nabi. (HR Muslim nomor 249)

Tak hanya partikel-partikel debu maupun noda polusi yang dapat dikikis dari wajah, wudhu pun dapat melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukan produk kecantikan manapun yaitu mengikis noda salah, khilaf dan dosa. Hal-hal tersebut adalah penyebab kotor dan tidak bercahayanya wajah seorang Muslim. 

Apabila seorang Muslim atau Mukmin berwudhu kemudian mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya tersebut setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama air wudhu atau bersama akhir tetesan air wudhu. Apabila ia mencuci kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya tersebut bersama air wudhu atau bersama akhir tetesan air wudhu. Apabila ia mencuci kedua kaki, maka akan keluar setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudhu atau bersama tetesan akhir air wudhu, hingga ia selesai dari wudhunya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa -dosa.” (HR Muslim nomor 244).

Subhanallah, segera bersih dan cahayakan wajah kalian, wahai perempuan-perempuan salehah. Supaya tampil cantik baik lahir atau pun batin serta sangat mudah dikenali Allah SWT dan Rasul-Nya kelak.
, Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, July 01, 2014

Khatam dan Tartil

Dalam kitab at-Tibyan fi Adab Hamalat al-Quran, Imam an-Nawawi menjelaskan banyak hal etika membaca Alquran. Di antaranya, ada dua keutamaan yang menarik, yaitu khatam dan tartil.

Khatam artinya menamatkan atau menyelesaikan membaca Alquran, dari surah al-Fatihah hingga an-Nas. Tartil adalah membaca Alquran dengan perlahan atau tidak tergesa-gesa.

Khatam dan tartil tergolong utama dilakukan. Namun, karena satu dan lain hal, terutama bagi kebanyakan orang, dua hal tersebut dirasa berat. Mari simak pengalaman ulama salaf terkait khatam dan tartil.

Tentu saja dengan harapan dapat mengambil pelajaran berharga dari mereka. Selanjutnya, mudah-mudahan dapat mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ulama salaf memiliki kebiasaan berbeda menamatkan Alquran.

Ada yang lama, cepat, dan benar-benar cepat. Mereka mempunyai target menamatkannya. Mereka melakukan atas kemauan sendiri.
Ibnu Abu Dawud berkata, sebagian ulama salaf menamatkan Alquran sekali dalam dua sampai satu bulan, 10 malam, delapan, tujuh, dan enam malam.

Sebagian ulama salaf yang lain menamatkan Alquran dalam lima, empat, tiga , dan dua malam. Sebagiannya, ada yang menamatkan dalam satu hari satu malam.

Sebagian ulama salaf ada yang menamatkan Alquran dua dan tiga kali dalam satu hari satu malam. Hebatnya lagi, ada yang delapan kali dalam sehari semalam.

Yakni, empat kali pada waktu malam dan siang. Subhanallah. Di antara yang menamatkan Alquran satu kali dalam satu hari, yaitu Utsman bin Affan, Tamim ad-Dariy, Said bin Zubair, Mujahid, dan asy-Syafii.

Mereka menamatkannya tiga kali dalam sehari, Sali bin Umar, seorang qadhi di Mesir pada masa pemerintahan Dinasti Muawiyah. Abu Bakar bin Abu Dawud menamatkan Alquran tiga kali dalam satu malam.

Selain itu, Abu Utsman al-Maghribi berkata, Ibnu Khatib menamatkan Alquran empat kali pada siang dan malam. Katanya, “Inilah jumlah terbanyak menamatkan Alquran dalam sehari semalam yang saya ketahui.

Di lain pihak, ada sebagian ulama salaf yang mementingkan tartil daripada khatam. Kelompok ini memandang tidak apa-apa kalau tidak khatam dalam waktu singkat. Hal yang penting tartilnya terjaga baik.

Ada sebagian ulama salaf yang mengulang membaca satu ayat agar meresapinya. Cara demikian dilakukan Rasulullah SAW. Di belakang Rasulullah SAW, ada juga sejumlah ulama salaf yang melakukan cara sama.

Ambil contoh, Tamim ad-Dariy. Ia membaca berulang-ulang ayat berikut, “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu,” (QS al-Jatsiyah [45] : 21). Demikian pula Ibnu Masud, Said bin Zubair, dan yang lainnya.
Oleh: Mahmud Yunus


sumber : www.republika.co.id

Sunday, June 29, 2014

Berjuang dengan Ikhlas

Seperti diketahui, Khalid bin Walid adalah jenderal yang memimpin pasukan Islam melawan tentara Romawi di Yarmuk, Suriah. Dalam sejarah, perang ini dikenal dengan nama Perang Yarmuk.

Perang masih berkecamuk saat datang surat perintah dari Khalifah Umar bin Khattab untuk memberhentikan Khalid bin Walid sebagai pemimpin perang dan menunjuk Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai penggantinya.

Setelah perang usai, dengan kemenangan di pihak Islam, Abu Ubaidah menyerahkan surat pemberhentian itu kepada Khalid.
“Kenapa baru sekarang diserahkan,” tanya Khalid. Abu Ubaidah menjawab, “Bukan kerajaan dunia yang kami mau, dan bukan untuk dunia kami berbuat.” (Rijal haula al-Rasul, 262).

Khalid bin Walid dikenal sebagai jenderal perang yang sangat masyhur dan tak terkalahkan. Ia selalu memperoleh kemenangan dalam 100 kali pertempuran yang diikuti baik sebelum maupun setelah ia memeluk Islam.

Ia pantas menerima gelar Pedang Allah (Sayfullah). Dalam Perang Yarmuk, ia membabat begitu banyak musuh, hingga pedangnya sembilan kali patah. Dikatakan, pedang Khalid boleh patah, tetapi pedang Allah (Khalid) tidak boleh patah.      

Meskipun dipecat saat di puncak kariennya sebagai militer, Khalid tidak sakit hati, tidak pula galau. Ia tidak berhenti, dan tetap berjuang. Kepada teman-temannya, ia menyatakan bekerja dan berjuang bukan untuk Umar, tetapi untuk Allah.

Ia berjuang secara tulus dan ikhlas. Kini bendera kepemimpinan berada di tangan Abu Ubaidah, sahabatnya. Seperti Khalid, sahabat Nabi yang satu ini, Abu Ubaidah adalah pejuang sejati.

Saat itu, ia tak buru-buru menyerahkan surat penunjukan dirinya sebagai panglima perang kepada Khalid. Alasannya satu dan sama, ia berperang bukan untuk mencari kemuliaan sendiri, melainkan untuk Islam dan kaum Muslimin.

Melebihi kedua orang jenderal di atas, Umar dikenal sebagai khalifah yang arif dan bijaksana. Seperti diketahui, ia sangat jujur, pemberani, bersikap tegas dan  adil, sehingga gelar al-Faruq yakni pemisah yang hak dan batil dilekatkan kepadanya.

Banyak orang bertanya, mengapa Khalifah Umar memberhentikan Jenderal Khalid? Padahal Khalid  brilian dan berprestasi. Khalifah Umar, tentu memiliki alasan-alasannya sendiri. Paling tidak, tiga pelajaran yang ingin beliau tunjukkan.

Pertama, mengingatkan kepada Khalid dan juga kepada setiap Muslim, pangkat dan jabatan bukanlah tujuan. Ia hanyalah amanat perjuangan dan pengabdian. Kedua, meski selalu meraih kemenangan,  jangan sampai Khalid dipuji berlebihan.

Jangan sampai pula kekuatan dan kemenangan Islam bergantung hanya pada Khalid seorang. Ketiga, menunjukkan kepada dunia, Islam memiliki SDM yang kaya dan kuat, dan kaderisasi kepemimpinan yang dilakukan Umar berjalan baik.

Dalam pandangan Umar, perjuangan Islam adalah sarana untuk mencetak para pemimpin. Dalam kondisi demikian, tidak ada masalah, bendera kepemimpinan dipindahkan dari Khalid ke Abu Ubaidah atau kepada sahabat yang lain.
Sebagai tentara Allah, para sahabat tidak pernah ragu berjuang, sebagai panglima atau prajurit biasa. Wallahu a`lam!
, Oleh: A Ilyas Ismail


sumber : www.republika.co.id

Friday, June 27, 2014

Melatih Kedermawanan

Sumu tasihhu, berpuasalah maka kamu akan sehat. Demikian pesan yang pernah disampaikan Rasulullah SAW untuk umatnya.

Pesan agar ‘sehat’ ini tentu bersifat makro, tak terbatas hanya pada kesehatan badan (jasmani) saja, tapi juga kesehatan secara ruhani. Sehat secara ruhani berarti sehat secara mental dan spiritual baik saat menuju Ramadhan, pada bulan Ramadhan, terlebih setelah selesai Ramadhan.

Pada momen menuju bulan Ramadhan seperti sekarang ini, selain kita dianjurkan untuk menjaga jasmani agar fit saat berpuasa, ruhani menuntun kita untuk berbahagia atas kehadiran bulan Ramadhan.

Selain itu, di saat bulan Ramadhan pula ruhani kita dilatih untuk terbiasa melakukan aktivitas ramadhan seperti tadarus Alquran, qiyamullail, shalat Tarawih, hingga latihan kedermawanan.

Kita semua tentu tahu bahwa hamba yang paling dermawan ialah Rasulullah SAW. Betapa beliau senantiasa membiasakan berbagi tak hanya saat bulan Ramadhan, namun juga di luar bulan Ramadhan.

Pada saat bulan Ramadhan, kedermawanan beliau bertambah karena beliau menyadari betul arti berbagi. Berbagi sejati yang dicontohkan beliau ialah ringan memberi dalam kondisi apa pun, lapang maupun sempit. Berbagi yang menurut pandangan beliau adalah memberi solusi terhadap kesulitan orang lain.

Ada satu hadits yang diriwayat oleh Abu Hurairah RA, ia berkata, “Seorang lelaki datang menemui Nabi SAW dan berkata, ‘Celaka saya, wahai Rasulullah.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang membuat engkau celaka?’ Lelaki itu menjawab, ‘Saya telah bersetubuh dengan istri saya di siang hari bulan Ramadan.’

Beliau bertanya, ‘Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memerdekakan seorang budak?’ Ia menjawab, ‘Tidak punya.’ Beliau bertanya, ‘Mampukah engkau berpuasa selama dua bulan berturut-turut?’ Ia menjawab, ‘Tidak mampu.’

Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memberi makan enam puluh orang miskin?’ Ia menjawab, ‘Tidak punya.’ Kemudian ia duduk menunggu sebentar. Lalu Rasulullah SAW memberikan sekeranjang kurma kepadanya sambil bersabda, ‘Sedekahkanlah ini.’

Lelaki tadi bertanya, ‘Tentunya aku harus menyedekahkannya kepada orang yang paling miskin di antara kita, sedangkan di daerah ini, tidak ada keluarga yang paling memerlukannya selain dari kami.’ Maka Rasulullah SAW pun tertawa sampai kelihatan salah satu bagian giginya. Kemudian beliau bersabda, ‘Pulanglah dan berikan makan keluargamu.” (HR Muslim).

Sebenarnya, Rasulullah bisa saja bertindak tegas agar si lelaki tersebut mau berusaha mencari pekerjaan agar bisa melunasi hutangnya pada Allah karena khilaf melakukan hal yang dilarang pada siang hari di bulan Ramadhan. Tapi, sikap Rasul justru sebaliknya, beliau mau mendengarkan, memberi jalan keluar, hingga beliau memberikan juga mengikhlaskan kurma—sesuatu yang amat beliau suka dan gemar dikonsumsi selama hidupnya.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah: 261).

Ayat di atas ialah satu dari sekian banyak ayat Alquran yang berbicara perihal ganjaran sedekah dan benar-benar dipraktikkan langsung oleh Rasulullah. Namun, sebagai manusia biasa, memberi sesuatu yang teramat kita sukai memang gampang-gampang susah. Tentu saja, dengan terus menerus melatih diri untuk mudah berbagi, kendati sedikit, tentu hal itu sangat mudah.

Sepatutnya, bulan Ramadhan ialah bulan perubahan. Perubahan diri harus bersifat dinamis dan dimulai sejak dini. Melatih mental dermawan berarti menyiapkan hati untuk menjadi hamba Allah yang senantiasa diliputi keikhlasan, sehingga, puasa Ramadhan kita yang hanya tinggal beberapa hari ini tidak hanya menyehatkan badan, tapi juga menuai banyak keberkahan. Amin. Wallahu a’lam.
Oleh: Ina Salma F
sumber : www.republika.co.id