-
-

Wednesday, August 26, 2015

Kesenian Tradisional Surak Ibra Khas Garut

Kesenian tradisional Surak Ibra atau Boboyongan Eson berdisi sejak tahun 1910 di Kampung Sindangsari Desa Cinunuk Kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Pencipta seni tradisional ini adalah Raden Papak (Raden Djajadiwangsa). Sumber lain ada yang mengatakan pencipta Surak Ibra adalah Bapak Ibra, seorang tokoh Silat Garut yang kharismatik.
Surak Ibra merupakan seni tradisional asli dari Kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut yang dimainkan oleh minimal 40 orang, maksimal bisa mencapai 100 orang pemain bahkan bisa lebih. Kesenian Surak Ibra merupakan sebuah semboyan atau sindiran masyarakat terhadap Kolonial Belanda yang bertindak sewenang-wenang menindas rakyat Indonesia.
Surak Ibra mengandung makna kegotong royongan, Seni tradisional ini memberikan pelajaran tentang pentingnya gotong royong dan kebersamaan dalam mencapai tujuan dan cita-cita bersama antara pemerintah dan masyarakat. Surak Ibra juga mengandung nilai-nilai semangat kebersamaan, persatuan dan kesatuan. Kesesian tradisional Garut ini mengisyaratkan bahwa masyarakat saat itu menginginkan pemerintahan yang mandiri, berdaulat dan berkeadilan yang lahir dari kebersamaan dan persatuan.
Pemain Surak Ibra
(-) Minimal          = 40 orang pemain
(-) Sedang           = 60 – 80 orang pemain
(-) Maksimal       = 100 orang atau lebih
 Alat-alat seni tradisional Surak Ibra
(-) Obor dari bambu
(-) Gendang pencak
(-) Dogdog
(-) Angklung
(-) Keprak
(-) Kentungan bambu
Para pemain membentuk sebuah lingkaran, di tengah lingkaran seorang pemain dengan kostum yang berbeda menari-nari mengelilingi lingkaran. Sedangkan para penabuh alat musik lalu lalang di luar lingkaran dengan mengenakan baju warna-warni.
Pemain yang berada di tengah lingkaran dengan mengenakan kostum yang berbeda tadi akan dilempar ke atas berulang-ulang. hal ini menujukkan wujud rasa syukur, kegembiraan dan penghormatan.
Pada awal berdirinya kesenian tradisional tersebut merupakan kesenian yang digelar pada acara-acara pesta raja, namun seiring dengan perkembangan zaman, kesenian tradisional Surak Ibra ditampilkan pada acara Peringatan Hari-Hari Besar Nasional (PHBN) seperti perayaan HUT Kemerdekaan.
Kiki Kurnia
Sumber : www.galamedianews.com/budaya

Tuesday, August 25, 2015

Dua Bekal Sebelum Pergi Haji

Haji secara bahasa adalah berkunjung. Adapun secara istilah adalah berkunjung ke rumah Allah (Baitullah) dengan amalan tertentu dan dalam waktu tertentu pula. Inilah yang membedakan kunjungan ke Baitullah dalam rangka haji dan umrah.

Di antara amalan yang membedakan haji dan umrah adalah melaksanakan wukuf di Arafah dan melontar tiga jumrah di Mina. Di antara waktu yang membedakan haji dan umrah adalah bahwa pelaksanaan haji hanya berlangsung pada bulan-bulan tertentu. yaitu Syawal, Dzulqaidah, dan Dzulhijah.

Allah berfirman, "(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan tertentu, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji maka tidak boleh rafats (mengeluarkan kata-kata yang mengundang syahwat atau kata-kata yang tidak senonoh atau melakukan hubungan seksual), berbuat fusuk, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.
Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya." (QS al-Baqarah [2]: 197). Dengan kata lain, pergi haji semata-mata hanya untuk mengerjakan kebaikan demi kebaikan di rumah-Nya dan sekitarnya sesuai dengan tuntunan Rasul-Nya.

Maka, kunjungan ke Baitullah dalam rangka haji itu berbeda dengan kunjungan dalam rangka umrah. Apalagi dengan kunjungan ke tempat-tempat lainnya di manapun di muka bumi. Dengan begitu, bekal yang harus dipersiapkan pun tentu berbeda.

Sudah menjadi rahasia umum, kebanyakan KBIH (kelompok bimbingan ibadah haji) di Tanah Air memberikan pembekalan tertentu kepada jamaahnya yang akan pergi haji. Namun, umumnya lebih banyak ditekankan pada pembekalan secara fisik. Misalnya, dianjurkan berolahraga secukupnya, membawa obat-obatan pribadi, dan memperbanyak minum air putih ketika sedang berada di Arab Saudi.

Persiapan fisik itu memang penting. Tetapi, jauh lebih penting persiapan nonfisik. Sebab, akan me nentukan sahnya ibadah. Maka, jamaah yang tidak mengindahkan persiapan nonfisik itu dapat saja menyebabkan hajinya tertolak (mardud). Padahal, orang yang pergi haji semestinya memiliki target hajinya terkabul (makbul) bahkan mabrur/mabrurah.

Inilah target tertinggi. Lantaran Rasulullah SAW menyatakan mereka yang hajinya mabrur/ mabrurah itu dipastikan akan diganjar dengan surga. Sangat luar biasa. Pertanyaannya, apa bekal yang harus dipersiapkan sejak jauh hari sebelum pergi haji?

Pertama, niat pergi haji karena Allah semata. Maka, singkirkan segala macam niat yang justru akan menyebabkan hilangnya pahala ibadah ini. Allah berfirman, "Dan, mengerjakan haji itu (adalah) kewajiban manusia karena Allah. Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah." (QS Ali Imran [3] : 97).

Kedua, bertekad menanggalkan kesyirikan. Maka, tanamkanlah kalimat talbiyah itu dalam dada. Bukan hanya diucapkan dalam kata-kata. Apalagi, bila sama se kali tidak tahu artinya. Ketiga, mempraktikkan ketakwaan/ketaatan kep ada Allah dengan sebaik-baiknya (QS al-Baqarah [2]: 197).

Oleh: Mahmud Yunus
sumber : www.republika.co.id

Friday, August 21, 2015

Berdoalah Selalu Agar Iman Terjaga

Bukan harta, apalagi jabatan yang menjadi bekal terbaik dalam hidup ini. Akidah yang kuat dengan iman yang kokoh menjadi energi terbaik dan membuat seseorang menjadi lebih kuat.

Diriwayatkan dari Jabir ra, ia berkata, "Pada Perang Uhud ada seorang yang bertanya kepada Nabi SAW, 'Apakah engkau tahu di manakah tempatku seandainya aku terbunuh?' Beliau menjawab, 'Di dalam surga.' Kemudian orang itu melemparkan biji-biji kurma yang ada di tangannya, lalu maju ke medan perang sampai mati terbunuh." (HR Bukhari dan Muslim).

Iman dalam setiap diri kadang naik dan turun. Karena itu, peliharalah dan pertahankan sebaik mungkin. Rasulullah SAW mengibaratkan iman sebagai perhiasan terindah, tergambar dalam doa, "Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan keimanan. Dan, jadikanlah kami sebagai orang yang mendapatkan petunjuk dan memberi petunjuk kepada orang lain."

Hidup manusia selalu berada pada bukit, lembah, bahkan dasar jurang, semuanya serbaberliku dan menantang, butuh proses panjang dalam menjalaninya. Seperti roda yang terus berputar, kadang di bawah, kadang juga di atas. Ketika berada di atas, rasanya nyaman dan penuh rasa syukur menjalaninya.
Namun, saat terpuruk di bawah, penuh kesedihan, penyesalan, dan rasa kehilangan. Tak jarang, sebagian dari kita marah, protes atas takdir-Nya, berputus asa dan lari dari kenyataan dan mengakhiri hidup dengan konyol (bunuh diri).

Harta, takhta, jabatan, atau keluarga sekali pun belumlah cukup menjadikan diri manusia kuat menghadapi segala cobaan. Hanya keimanan yang menjadi obat sekaligus penguat dalam menyikapi segala persoalan kehidupan.

Iman yang kuat membuat manusia bijak dalam bersikap, berbuat, dan bertindak. Iman berfungsi sebagai perisai yang melindungi dari perbuatan jahat dan mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Dengan iman, sekeras apa pun cobaan yang menimpa, tidak akan menjadikan diri kita berburuk sangka kepada Allah SWT. Dengan iman, hidup menjadi lebih optimistis, selalu bersemangat, dan penuh makna.

Berdoalah selalu agar iman kita terjaga. Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, nisca ya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. (QS Yunus: 9).

Jauhkan diri kita dari kebodohan, kelalaian dalam beribadah, nafsu yang membawa kepada keburukan, dan berbuat maksiat karena akan mengurangi iman. Berlindunglah selalu kepada Allah SWT agar dilindungi dari godaan setan, godaan gemerlap duniawi yang melalaikan, dan teman bergaul yang berakhlak buruk. Kecenderungan manusia untuk menumpuk harta dan lalai kepada peran sejatinya sebagai hamba dan khalifah di muka bumi ini telah digambarkan Allah SWT dalam surah at-Takatsur.

Padahal, harta dan takhta hanyalah amanah dan alat untuk beribadah. Tetaplah pelihara hati agar jangan pernah sedetik pun berpaling dari Allah Yang Maha Rahman dan Rahim. Dengan keimanan, kebahagiaan dunia dan akhirat menjadi niscaya. Dengan keimanan pula, akan digapai ketenangan dan kemantapan jiwa.

Dalam Alquran surah an-Nahl ayat 97, Allah berfirman, "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maup un perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berika n kepadanya kehidupan yang baik...."

Iman membimbing kepada ketaatan, keihklasan dalam beribadah, sabar menghadapi cobaan, dan tawakal kepada Allah. Hatinya selalu diliputi kepasrahan, ketenangan, penuh harap, dan ridha atas segala keputusan-Nya. Wallahu'alam.
Oleh: Iu Rusliana

,sumber : www.republika.co.id

Tuesday, August 18, 2015

Kasih Sayang Allah

Suatu hari, Rasulullah SAW dan para sahabat berjalan di tengah padang pasir. Saat itu, panas sinar matahari terasa menyengat, seolah membakar tubuh, bahkan menelusup menembus ke lapisan kulit.

Tiba-tiba, seorang ibu tampak sedang menggendong bayinya. Sang ibu dengan penuh perhatian mendekap buah hatinya. Ia berusaha melindungi bayinya agar tak terkena panas matahari.

Melihat pemandangan ini, Rasulullah menghentikan langkah para sahabatnya. Seolah mendapat tamsil kasus yang tepat, beliau bertanya, "Wahai para sahabatku, akankah ibu itu melemparkan bayinya ke dalam api yang membara?" Para sahabat menjawab serentak, "Tidak mungkin, wahai Rasulullah."

Kemudian, Rasulullah bersabda, "Ketahuilah, kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kasih sayang ibu itu terhadap bayinya. Dia-lah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim!" (HR Bukhari-Muslim).

Kisah di atas mengajarkan bahwa sifat Allah yang khusus diberikan kepada orang-orang beriman pada hari akhir adalah ar-Rahman dan ar-Rahim. Kedua asma Allah ini (ar-Rahman dan ar-Rahim) berasal dari kata arrahmah. Menurut Ibnu Faris, seorang ahli bahasa bahwa semua kata yang terdiri dari hurufra, ha, dan mim mengandung makna “lemah lembut, kasih sayang, dan kehalusan.”

Kata ar-Rahman berasal dari kata sifat dalam bahasa Arab yang berakar dari kata kerja ra-ha-ma/, artinya ialah penyayang, pengasih, pencinta, pelindung, pengayom, dan para mufasir memberi penjelasan bahwa ar-Rahman dapat diartikan sebagai sifat kasih Allah pada seluruh makhluk-Nya di dunia, baik manusia beriman atau kafir, binatang, dan tumbuh-tumbuhan serta makhluk lainnya.

Dengan kasih-Nya ini, Sang Khalik mencukupkan semua kebutuhan hidup makhluk di alam semesta. Hanya saja, limpahan kasih ini hanya diberikan Allah pada semua mahluk selama hidup di dunia, di akhirat kelak kasih sayang ini hanya diberikan kepada orang beriman yang menjadi penghuni su rga.

Sementara itu, ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) di dalam Alquran, Allah mengulangi kata ini sebanyak 228 kali, jauh lebih banyak dari asma Allah, ar-Rahman yang hanya disebutkan sebanyak 171 kali. Jika kata ar-Rahman sifatnya berlaku untuk seluruh manusia maka kata yang kedua ar-Rahim, sifat-Nya yang hanya berlaku pada situasi khusus dan untuk kaum tertentu semata.

Rahim juga disebut sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya janin. Di alam rahim inilah bermulanya kehidupan. Di alam rahim kehidupan ideal kita dijaga dan dipelihara. Bahkan, di alam rahim pula, setiap manusia dipersaksikan “apa dan ke mana” tujuan hidupnya.

Maka, tak heran apabila bayi dilahirkan, ia akan menangis, karena meninggalkan rahim yang melimpahkan sayang dan rasa aman. Di dalam sifat rahim Allah, kita akan hidup dengan aman, nyaman, penuh kemuliaan, sentosa, dan penuh keberkahan.

Maka, sebutlah nama-nama Tuhan yang indah, dalam setiap awal doa dan permintaan. Mereka yang selalu membasahi bibirnya dengan kata, ar-Rahman dan ar-Rahim, maka Allah akan melimpahkan  kasih sayang-Nya yang tak terbatas. Siapa saja dikasihi dan disayangi Allah. Maka, tak satu pun makhluk di dunia memiliki alasan untuk membenci kecuali mereka yang telah dikuasai nafsu angkara murka.
Oleh: Dadang Kahmad
sumber : www.republika.co.id

Friday, August 14, 2015

Empat Amaliah Istigfar

Dosa ibarat debu. Jika menempel dan tidak segera dibersihkan, akan berkarat dan kotorannya melekat kuat di hati. Sedangkan, usaha untuk membersihkannya tidak lain adalah dengan bertobat dan membaca istigfar.

Sebagai hamba Allah SWT yang tidak pernah luput dari salah dan dosa, sepantasnya kita memperbanyak istigfar, mohon ampun kepada Allah SWT. "Demi Allah, sesungguhnya aku beristigfar dan bertobat kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari." (HR Bukhari). Dalam riwayat lain sampai 100 kali dalam sehari (HR Muslim).

Hadis di atas memberikan gambaran tobat dan istighfarnya Nabi Muhammad SAW. Meski telah mendapat jaminan ampunan dan surga dari Allah SWT, tapi beliau tetap bersungguh-sungguh dalam beristigfar dan bertobat kepada-Nya. Sebagai hamba-Nya yang tidak mendapatkan jaminan dari Allah, hendaknya kita mencontoh perilaku Baginda Nabi dan merasa malu kepadanya apabila kita lalai dalam memohon ampunan-Nya.

Paling tidak terdapa t empat keutamaan amaliah istigfar. Pertama, istigfar merupakan cermin akan kesadaran diri orang-orang yang bertakwa. “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?” (QS Ali Imran: 135).

Kedua, istigfar merupakan sumber kekuatan umat. Kaum Nabi Hud yang dikenal dengan kekuatan mereka yang luar biasa, masih diperintahkan oleh nabi mereka agar senantiasa beristigfar untuk menambah kekuatan mereka.
“Dan (dia berkata), 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa'." (QS Hud: 52).

Bahkan, Rasulullah dalam salah satu hadisnya menegaskan bahwa eksistensi sebuah umat ditentukan di antaranya dengan kesadaran mereka untuk selalu beristigfar. Karenanya, bukan merupakan aib dan tidak merugi orang-orang yang bersalah lantas ia menyadari kesalahannya dengan beristighfar memohon ampun kepada Allah SWT.

Ketiga, istigfar dapat menolak bencana dan menjadi salah satu sarana turunnya keberkahan dan rahmat Allah SWT. Ketika menafsirkan surah al-Anfal: 33, “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.”

Ibnu Katsir menukil riwayat dari Ima m Tirmidzi bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah telah menurunkan kepadaku dua pengaman atau penyelemat bagi umat dari azab dan bencana, yaitu keberadaanku dan istighfar. Maka ketika aku telah tiada, masih tersisa satu pengaman hingga hari kiamat, yaitu istigfar." Bahkan, Ibnu Abbas menuturkan bahwa ungkapan istighfar meskipun keluar dari pelaku maksiat dapat mencegah dari beberapa kejahatan dan bahaya.

Keempat, istigfar akan memudahkan urusan seseorang, memudahkan jalan mencari rezeki, dan memelihara seseorang. Dalam konteks ini, Ibnu Katsir menafsirkan surah Hud: 52 dengan menukil hadis Rasulullah SAW yang bersabda, “Barang siapa yang mampu mulazamah atau kontinu dalam beristighfar, maka Allah akan menganugerahkan kebahagiaan dari setiap duka dan kesedihan yang menimpanya, memberi jalan keluar dari setiap kesempitan, dan memberi rezeki dengan cara yang tidak disangka-sangka." (Ibnu Majah).
Oleh: Ustaz Arifin Ilham

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, July 28, 2015

Maribaya Dibuka dengan Wajah Baru

Sudah hampir dua tahun objek wisata Maribaya mati suri. Sejak 13 September 2013 lalu, wisata yang terkenal dengan air terjunnya (curug) dan mata air panasnya itu ditutup lantaran tengah direnovasi oleh pihak swasta.

Namun, wisata yang sempat jadi ikon Kabupaten Bandung Barat tersebut kembali lahir dengan wajah baru. Meski masih dalam tahap pembangunan, Maribaya sudah kembali dibuka sejak 11 Juli lalu. Namanya pun berubah menjadi Maribaya Natural Hot Spring Resort.

Wisata Maribaya menyimpan legenda yang masih dipercayai warga lokal. Legenda ini sangat unik karena konon, nama Maribaya sendiri merupakan nama seorang putri anak petani miskin. Maribaya diambil dari dua suku kata bahasa sunda yakni, "Mari" artinya sehat dan "Baya" artinya bahagia.

Kisah legenda Maribaya berawal saat Eyang Raksa Dinata yang merupakan seorang petani miskin mempunyai gadis jelita bernama Maribaya. Melihat kecantikan anak gadisnya, sang bapak khawatir jika anaknya jadi rebutan pemuda di daerahnya dan menjadi petaka bagi keluarganya.

"Eyang Raksa pun mendapat ilham dan pamit pergi ke puncak gunung Tangkuban Parahu. Saat sedang bertapa, ia didatangi seorang kakek yang memeberikan dua bokor (gentong) berisi air. Salah satu bokor tersebut harus dibawa ke arah barat dan satu lagi ke arah timur," kata Elcha Nirmala, pramuwisata Maribaya mengisahkan, Selasa (28/7/2015).

Air yang ditumpahkan oleh bapaknya kemudian menyebar dan menjadi danau yang kita kenal dengan nama Situ Lembang. Sementara itu, sang bapak meminta Maribaya untuk menumpahkan air dalam bokor tersebut tak jauh dari rumahnya. Beberapa hari kemudian, kejaiban datang dimana air yang ditumpahkan Maribaya menjadi mata air panas.

Sekitar tahun 1835, Eyang Raksa Dinata menyematkan nama Maribaya di lokasi mata air tersebut. Konon, air tersebut dipercaya berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit. Para pengunjung yang ingin berobat kerap melemparkan uang logam ke dalam kolam sebagai imbalannya.

"Air panas ini mengandung senyawa bikarbonat yang sifatnya basa lemah dengan konsentrasi ion hidrogen sebesar pH 6,6-7,3 dengan suhu air 45,1 derajat celcius. Kandungan beberapa mineral penting di pemdandian ini dikatakan baik untuk radang sendi, otot, kulit, rematik, gangguan saraf, dan penyakit kulit lainnya. Bisa juga melembutkan kulit," lanjut Elcha.

Dulu, wisata Maribaya mempunyai tiga curug, yakni Curug Cigulung dan Curug Cikawari, dan Curug Omas. Namun, Curug Omas yang merupakan curug tertinggi kini dikelola mandiri oleh Provinsi Jawa Barat.

Wisata Maribaya yang terletak di Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat itu kini dilengkapi sejumlah fasilitas  seperti Food Court,  kolam pemandian ari panas, area barbeque, cafe, amphitheater, kolam tangkap ikan dan Yoga Hill melengkapi dua curug andalan, yakni Curug Cigulung dan Curug Cikawari.
Sumber: www.galamedianews.com/wisata/

Apa yang Perlu Ditingkatkan Setelah Ramadhan?

Dan Ramadhan pun berlalu. Tidak ada perjumpaan terindah kecuali berjumpa dengan Ramadhan. Sekaligus tidak ada perpisahan yang mengharukan terselip kesedihan kecuali berpisah dengan Ramadhan.

Disebut perjumpaan terindah karena di bulan ini banyak di antara kaum Muslimin mendadak saleh dan berwajah taat. Ramadhan sebagai syahrut tarbiyah berhasil mendidik mereka menjadi pribadi elok, gampang beringsut untuk berbuat baik.

Dan disebut perpisahan yang mengharukan karena Ramadhan yang setahun sekali datangnya ini belum tentu kita adalah yang akan menemuinya lagi. Syawal sebagai bulan setelahnya, apakah bisa melesatkan minimal mengamankan dan melestarikan semua amal kebaikan Ramadhan yang indah itu.

Nah, kita bersedih karena khawatir diri kita tidak bisa meneruskannya apalagi meningkatkannya, sebagaimana yang diminta dengan kehadiran Syawal sebagai syahrut tarqiyah (bulan peningkatan).

Apa yang perlu kita tingkatkan? Pertanya an ini menarik, sebab banyak kita tidak menyadari Ramadhan itu sebenarnya prosesi awal dari 11 bulan berikutnya. Bagaimana Allah menguji kita, apakah kebiasaan tilawah minimal sehari satu juz dapat bertahan. Bahkan seharusnya dilebihkan.

Perlunya melebihkan karena pahalanya tidak digandakan lagi sebagaimana di bulan Ramadhan sementara sebagai bekal untuk menghalau godaan maksiat dan berdosa sedikit. Bukankah setelah Ramadhan pintu maksiat dan dosa semakin terbuka, disebabkan setan telah terlepas dari belenggunya?

Untuk itulah kita perlu melebihkan bacaan tilawah Alquran. Ketika Ramadhan kita sibuk tadarus Alquran, tiada hari tanpa membaca firman Allah. Itu mengapa hati kita selalu tenang selama menjalani sakralitas ibadah shaum. Sebab, kalimat Alquran mengendap kuat di hati kita.

Berikutnya tentu tarqiyatul ‘ibadah, peningkatan ibadah khususnya amal sunah.  Kalau amal wajib sudah pasti, tidak boleh sedikit pun terpikir untuk mening galkannya. Yang sunah harus menjadi kecintaan sebagaimana cintaya kit a dengan Tarawih, shalat berjamaah selalu di masjid dan tepat waktu, sedekah atau berbagi takjil, iktikaf, dan lain sebagainya.

Dari kecintaan itu tumbuh semangat untuk menghidupkannya, di mana pun, kapan pun dan dalam kondisi bagaimana pun. Harusnya semua amal sunah itu kita teruskan dan tingkatkan.

Tarqiyatul akhlaq, peningkatan akhlak dan kepribadiaan adalah hal yang juga harus kita teruskan di bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya. Selama Ramadhan kita melatih lidah kita untuk berpuasa dari amarah, ucapan kotor, dusta, fitnah, gibah, sifat dengki, dan berkata kasar. Proses itu berujung terciptanya manusia saleh yang berakhlak mulia seperti yang dicontohan Rasulullah SAW.

Sebagai pihak yang kedatangan tamu Syawal harusnya kita meneruskan dan berikhtiar kuat untuk meningkatkan kualitas kepribadian itu, demi terbukanya tabir kebaikan yang Allah janjikan kepada siapa pun yang berakhlak mulia. Sebuah maqalah Arab menyebutkan, maa syarafal mak hluq illa bihusnil khuluq, tidak ada kemuliaan seorang makhluk kecuali pada kemuliaan akhlak.

Walhasil, setelah Ramadhan benar-benar berlalu renungi firman-Nya dalam surah al-Insyirah [94], ayat 7, fa idza faraghta fanshab, jika engkau sudah selesai dengan satu urusan, kembalilah tegak (untuk meneruskan dan beramal lain). Dari tarbiyah kita menuju tarqiyah. Wallahu a’lam.

Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham

sumber : www.republika.co.id

Friday, July 24, 2015

Jadikan Perjalanan Mudik Safari Dakwah

Sahabatku mari kita kenali adab sunnah dalam safar pulang kampung :
Luruskan niat untuk mencari RIDHO ALLAH, sehingga perjalanan pun tidak sia-sia penuh berkah Allah, Berdoa agar selalu dilindungi Allah selama dalam perjalanan dan keluarga yang ditinggalkan,

Rasulullah mengajarkan untuk pamit dan mohon doa pada keluarga dan para sahabat. Buat wasiat untuk keluarga, shalat sunnah safar dua rakaat, berwudhu selalu, dan tebarkan salam,

Jaga kemuliaan akhlak terutama kelembutan tutur kata, kedermawanan, dan kerendahan hati,
Selama perjalanan perbanyak zikir, sholawat, murojaah hafalan ayat-ayat Alquran,

Jauhi keluh kesah dan buruk sangka,

Melihat segala kejadian dengan baik sangka,

Jaga mata dari apa yang Allah haramkan,

Sunnahnya tidak sendirian,

Memilih imam safar kalau berombongan,

Jadikan perjalanan sebagai safari dakwah, silaturahim, dan muhasabah diri.  Perhatikan semua ciptaan Allah dengan segala kejadiannya, tidak pernah terjadi tanpa iradah dan qudrahnya.

"Dan di bumi terdapat ayat-ayat Allah bagi mereka yang yaqin, demikian pula pada diri kalian sendiri, apakah kalian tidak memperhatikan?" (QS Adz Dzariyat 20-21).

Semoga Allah berkahi perjalanan pulang kita dengan keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat... Aaamiin. Maafkan kesalahan abang, duhai sahabatku.
Sumber: Akun Facebook Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham
sumber : www.republika.co.id

Friday, July 10, 2015

Libur Lebaran, Tiket Kebun Binatang Bandung Alami Penyesuaian

Pengelola Taman Margasatwa Kebun Binatang Bandung memberlakukan penyesuaian tarif masuk ke lokasi wisata itu dari Rp 20.000/orang menjadi Rp 26.000/orang mulai 17 Juli 2015 atau hari pertama libur Lebaran 2015.

"Penyesuaian harga tiket itu sudah termasuk sumbangan PMI sebesar Rp1.000 yang mana sebelumnya Rp500. Penyesuaian itu akan berlaku mulai tanggal 17 Juli 2015," kata Seksi Humas Kebun Binatang Kota Bandung Sudaryo di Bandung, Selasa (7/7/2015).

Menurutnya, penyesuian harga tiket masuk itu tidak didasarkan atas komersialisasi, melainkan untuk menutupi kebutuhan operasional karena tahun kemarin telah mengalami defisit.

"Kami Lembaga Konservasi dan milik individu, otomatis biaya operasional menjadi tanggung jawab kami," katanya.

Menurut dia sebesar 60 persen dari penghasilan per tahun digunakan untuk kebutuhan operasional. Selain itu, kata Sudaryo, rencananya akan menambah beberapa wahana, seperti taman anak-anak, gajah tunggang dan unta tunggang.

Selain itu pihaknya menambah jumlah loket, di pintu satu menjadi sepuluh loket, pintu dua dan tiga menjadi enam loket.

Lebih lanjut ia menambahkan jumlah permintaan tiket setiap tahunnya fluktuatif dan tidak pernah kekurangan tiket. Pada libur Lebaran tahun ini 200 ribu tiket akan disediakan. Ia mengatakan liburan lebaran tahun 2014 tiket terjual mencapai 179 ribu, dengan hitungan 60 persen warga Bandung dan 40 persen luar Bandung.

"Liburan nanti kami targetkan lebih dari jumlah sebelumnya, sebab rencananya penghasilan tahun ini selain untuk kebutuhan operasional juga bertujuan menutupi defisit tahun lalu," katanya.

Sudaryo menyadari, Kebun Binatan Bandung menjadi salah satu tujuan wisata pada saat libur lebaran. Persiapan lainnya, yakni penambahan petugas kebersihan. Jumlah yang dibutuhkan kata dia sebanyak 20 orang untuk kebun binatang yang luasnya 14 hektare.

"Hari-hari biasa, untuk membersihkan seluruh kebun binatang ini cukup oleh empat orang. Untuk hari libur kami tambah 16 orang," katanya.

Sudaryo menyadari kebun binatang itu adalah satu-satunya yang ada di Bandung. Bukan hanya sebagai tempat wisata, melainkan sebagai lembaga konservasi, tempat penelitian dan wisata pendidikan bagi anak TK sampai SMA.

Untuk mewujudkannya, kata Sudaryo, akan semaksimal mungkin ingin memberikan kesenangan dan kenyamanan, seperi soal kebersihan.

"Saya harap kebun binatang Bandung tetap menjadi tujuan wisata masyarakat, tertib membeli tiket dan kami tidak ingin mengecewakan pengunjung," katanya menambahkan.

Wednesday, July 08, 2015

Dua Kegembiran Mereka yang Berpuasa

Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan, yaitu saat berbuka puasa dia bergembira dengan makanannya, dan jika bersua Rabbnya dia bergembira dengan puasanya.” (HR Bukhari Muslim)

Kegembiraan orang yang berpuasa saat berbuka merupakan kegembiraan yang alami karena dia mendapatkan kebebasannya kembali dari apa yang tadinya dilarang. Kegembiraan berbuka puasa juga merupakan kegembiraan yang religius karena dia berhasil menyelesaikan ibadah puasanya.

Berbuka puasa adalah momentum yang sangat efektif untuk meningkatkan kebersamaan antara sesama anggota keluarga dalam sebuah rumah tangga.

Kalau pada hari-hari biasa sangat sulit untuk mencari waktu makan bersama antara suami istri karena kesibukan masing-masing, apalagi makan bersama lengkap dengan anak-anak, dalam bulan Ramadhan ini kesempatan itu datang lebih banyak—kalau bukan setiap hari—tatkala buka puasa.

Kesemp atan kebersamaan itu lebih banyak lagi, bahkan mungkin bisa setiap hari tatkala makan sahur. Kebersamaan antara seluruh anggota keluarga pada waktu berbuka dan sahur akan meningkatkan soliditas keluarga tersebut.

Begitu juga acara buka bersama yang diadakan dalam komunitas tertentu, seperti di masjid untuk lingkungan RT, di kantor untuk lingkungan kerja, di kampus untuk civitas akademika, di organisasi massa atau lingkungan para pejabat negara, tentu juga akan meningkatkan kebersamaan.

Kegembiraan waktu berbuka, gelak tawa, dan canda serta obrolan-obrolan ringan menjelang berbuka puasa tentu sangat bermanfaat untuk meningkatkan kebersamaan. Sekat, sumbat, dan hambatan komunikasi yang hari-hari biasa sukar dihilangkan, dalam suasana berbuka bersama akan mudah terpecahkan.

Di samping acara buka puasa bersama yang diadakan dalam komunitas tertentu, juga tidak sedikit para muhsinin yang menjamu orang-orang miskin dan anak-anak yatim untuk berbuka puasa bersama.

Ada yang menjamu langsung ke rumah yang be rsangkutan, dan ada juga yang mengadakannya di panti-panti asuhan atau cukup mengirim paket buka puasa dalam jumlah tertentu.

Tidak sedikit juga yang di samping jamuan buka puasa, mereka membagikan tanda mata atau rupa-rupa hadiah berupa barang-barang keperluan harian, perlengkapan shalat, dan perlengkapan sekolah.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menjamu dan membagi-bagikan bantuan untuk kaum yang tidak berpunya itu adalah cara menyampaikannya.

Harus diberikan dengan cara-cara yang mulia, artinya tetap memuliakan mereka yang tidak beruntung secara finansial tersebut. Jangan lagi terjadi kecerobohan dalam membagi-bagikan bantuan sehingga tidak hanya terkesan merendahkan martabat fuqara dan masakin, tapi juga dapat membahayakan nyawa mereka seperti sudah pernah terjadi beberapa kali.

Penulis terkesan pernah mendampingi wali kota dan wakil wali kota suatu kota, bersama pejabat sipil dan militer mengantarkan paket bantuan ke rumah-rum ah orang-orang miskin.

Data orang-orang miskin beserta alamat mereka dikumpulkan oleh para reporter media yang biasa meliput di kantor-kantor pemerintahan setempat. Ini merupakan kerja sama yang indah dan bermanfaaat. Demikianlah sekelumit gambaran kebersamaan dalam bulan Ramadhan yang dapat meningkatkan solidaritas umat.

Oleh: Yunahar Ilyas
sumber : www.republika.co.id

Tuesday, July 07, 2015

Keistimewaan Malam Nuzulul Quran

Nanti malam, kita akan memasuki hari ke-17 bulan Ramadhan. Hari yang bersejarah dalam perjalanan kitab suci umat Islam, yaitu Alquran. Di hari inilah sebuah hal luar biasa 14 abad lebih yang lalu terjadi.

Alquran diturunkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada nabi tercinta kita, Muhammad SAW. Dan, peristiwa ini ghalib disebut dengan Nuzulul Quran.

Nuzulul Quran yang secara harfiah berarti turunnya Alquran adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting mengenai penurunan wahyu Allah pertama kepada nabi dan rasul terakhir, yakni Nabi Muhammad.

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah surah al-Alaq ayat 1-5. Saat wahyu ini diturunkan, Nabi Muhammad sedang ber-tahannus (menyendiri) di Gua Hira. Ketika itu, tiba-tiba Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu tersebut.

Tidak ada malam yang sangat istimewa dalam perjalanan Islam kecuali malam ini. Di malam inilah berkumpul kejadian-kejadian istimewa; sesuatu yang istimewa yang sangat diperlukan sebagai penuntun umat manusia turun, yaitu Alquran.

Terjadi pelantikan dan pengukuhan manusia paling istimewa sebagai pembawa risalah dan penjelas Alquran dan semua yang dikehendaki Allah Zat Penguasa kehidupan, yaitu Nabi Muhammad SAW, serta dibentangkan malam penentu keadaan yang ditaburi banyak kemuliaan yang satu malamnya bernilai lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar.

Turunnya Alquran tidak hanya sebuah penegasan atas kemuliaannya dan sekaligus yang menerimanya, yaitu Nabi Muhammad ,tetapi juga harus diiringi semangat untuk kembali kepada Alquran dan sunah, mempelajarai, menghayati, dan berazam mengamalkannya.

Antara Alquran dengan Nabi Muhammad adalah sesuatu yang tidak bisa dipisah. Bahkan, jika ingin mengetahui bagaimana Alquran dalam penerapan terbaik, jawabannya ada pada diri Nabi Muhammad.

Karena itu, Nuzulul Quran harusnya dimaknai sebagai upaya untuk kembali mem pelajari Alquran dan semua sirah Nabi. Kehadiran Nabi adalah penjelas dan penerjemah paling benar terkait informasi-informasi Alquran.

Bahkan, ada yang menyebut kalimat sederhana terkait Alquran, Nabi Muhammad adalah Alquran yang berjalan. Memperingati Nuzulul Quran berarti sesungguhnya bersiap kembali menghidupkan Alquran dan sunah Nabi. Tiada hari dalam Ramadhan dan selepas Ramadhan kecuali bersama Alquran dan sunah Nabi SAW.

Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, June 30, 2015

Puasa Ibadah Abadi

Berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain, ibadah puasa diwajibkan oleh Allah SWT tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi umat-umat terdahulu, seperti diterangkan secara eksplisit dalam ayat al-shaum, al-Baqarah ayat 183.
Menurut sejumlah pakar tafsir, terutama yang menyandarkan pendapatnya pada Ibn Abbas, frasa “al-ladzina min qablikum” pada ayat di atas menunjuk pada Ahl al-Kitab, yaitu orang-orang Yahudi, umat Nabi Musa AS dan orang-orang Nasrani, umat Nabi Isa AS.

Seperti diketahui, Nabi Musa berpuasa selama 40 hari. Orang-orang Yahudi berpuasa Asyura, puasa tanggal 10 bulan ketujuh dalam kalender mereka. Di luar itu, ada beberapa hari lain  mereka harus puasa. Orang-orang Nasrani juga puasa.

Puasa mereka tidak berbeda dengan orang-orang Yahudi, di antaranya, puasa besar, satu hari sebelum Hari Raya Paskah. Imam al-Alusi dan juga Fakhruddin al-Razi memahami lebih luas 'umat terdahulu,' tak hanya Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani, tetapi semua umat manusia, sejak dari Nabi Adam AS hingga sekarang.

Syekh Muhammad Abduh malah lebih luas lagi, dengan menunjuk puasa yang dilakukan kaum paganis, baik di Mesir kuno, Yunani, Romawi, maupun India. < br />
Bagi Abduh, fakta ini menunjukkan adanya benang merah, kesatuan (sumber) agama (wahdat al-din) ditilik dari prinsip-prinsip agama dan cita-cita atau tujuan mulia yang dibawanya. Umat Islam dapat memetik pelajaran atau hikmah dari kenyataan bahwa puasa merupakan ibadah abadi yang diwajibkan oleh Allah kepada semua umat manusia. Tak ada umat dari seorang nabi, kecuali diwajibkan atas mereka puasa.

Setidaknya, ada tiga pelajaran penting yang dapat dipetik. Pertama, al-ihtimam bi hadzih-I al-`ibadah, kita mesti memberi perhatian khusus pada ibadah ini, memahami berbagai keutaman yang ada di dalamnya, serta memanfaatkan sebaik mungkin untuk mempertinggi ibadah dan amal kebajikan agar kita menjadi orang takwa.

Kedua, an-la yatstatsqilu bi hadzih-I al-ibadah, kita tidak sepatutnya merasa berat dengan ibadah puasa. Kalaulah ada perasaan semacam itu, sadarilah bahwa ibadah ini juga dibebankan kepada umat-umat terdahulu.

Dikatakan, kalau kit a menyadari bahwa rasa berat atau kesulitan itu menimpa semua orang m aka kesulitan itu akan terasa ringan.

Ketiga, itsarat al-qiyam bi hadzih-I al-faridhah, agar kita terdorong dan termotivasi melaksanakan kewajiban (puasa) ini sebaik mungkin, melebihi umat terdahulu. Di sini ada logika keunggulan (al-afdhaliyah wa al-khairiyah) yang mesti dibangun umat Islam, sebagaimana diutarakan Sayyid Thanthawi.

Umat Islam telah dinobatkan oleh Allah SWT sebagai umat terbaik, (khaira ummah) atas umat terdahulu (QS Ali Imran [3]: 110). Kalau puasa diwajibkan kepada umat terdahulu, semua umat, tanpa kecuali, dan mereka mampu melaksanakan maka sesuai dengan logika keunggulan tadi, umat Islam sebagai umat terbaik harus mampu dan sanggup melaksanakan ibadah ini secara lebih baik lagi.

Sebagai ibadah abadi dan universal, puasa bila dilaksanakan dengan benar dan tulus karena Allah (imanan wa ihtisaban) maka ia akan mengantar kita sebagai pribadi maupun bangsa menuju kemuliaan dan keadaban. Wallahu a`lam! 
Oleh: A Ilyas Ismail
sumber : www.republika.co.id

Friday, June 26, 2015

Inilah Kampung Maroko di Tepi Sungai Citarum

Nama Maroko dengan jelas terpampang pada papan penunjuk arah di Jalan Cihampelas menuju Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Setidaknya ada tiga papan penunjuk arah yang menunjukkan lokasi daerah di tepian Sungai Citarum itu.
Banyak yang mengira, Kampung Maroko di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat itu berkaitan dengan nama negara di wilayah Afrika Utara. Padahal, sama sekali tidak ada hubungannya.
"Memang ada negara Maroko di Afrika, tetapi tidak ada ceritanya yang menghubungkan dengan nama kampung ini," kata Ipin Surjana, Kades Mekarjaya, Selasa (23/6/2015).
Meski merupakan warga asli setempat, Ipin mengaku tak tahu menahu cerita soal penamaan kampung Maroko. Nama itu, menurut dia, sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.
Selain Kampung Maroko, warga sekitar juga mengenal daerah itu dengan nama Pasar Aci. Julukan itu mengacu pada sebuah pasar yang berada di ujung kampung di tepi Sungai Citarum.
Pasar tersebut hingga kini masih menjadi pusat perekonomian warga. Di pasar ini, dijual berbagai kebutuhan rumah tangga mulai dari sembako, sayuran, buah-buahan hingga pakaian.
"Pasar itu hanya beroperasi dua kali dalam seminggu, yaitu Selasa dan Jumat mulai dari Subuh sampai sebelum Zuhur," ujar Ipin.
Di sekitar pasar, banyak keretek atau delman yang menjadi salah satu alat transportasi warga sejak dulu. Namun, saat ini jumlahnya berkurang seiring dengan meningkatnya kepemilikan sepeda motor.
Tepat di belakang pasar, berdiri sebuah dermaga tempat sejumlah perahu kayu berlabuh. Dermaga tersebut baru diresmikan Dinas Perhubungan Pemprov Jabar pada akhir 2014 lalu.
Keberadaan Dermaga Maroko, menurut Ipin, sangat penting untuk akses perekonomian warga di desanya. Dengan keberadaan dermaga, bongkar muat sejumlah perahu yang menghubungkan akses masyarakat di Kecamatan Cihampelas dan Kecamatan Saguling itu menjadi lebih mudah.
"Bahkan, masyarakat di Kecamatan Saguling kerap berbelanja ke Pasar Maroko untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi, keberadaan dermaga memang penting untuk perekonomian warga," tutur Ipin.
Meski demikian, pengelolaan Dermaga Maroko dilakukan sepenuhnya oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pemerintah desa setempat sama sekali tidak dilibatkan untuk mengelolanya. Tentu saja, pendapatan asli daerah dari keberadaan dermaga tersebut pun tidak masuk ke kas desa.
Meski menjadi akses vital masyarakat di dua kecamatan, Dermaga Maroko tidak ditunjang dengan infrastruktur jalan yang memadai. Jalan menuju dermaga itu sudah lama rusak dan tak kunjung diperbaiki.
Padahal, pemandangan di sekitar dermaga cukup menjual untuk menarik wisatawan. Selain genangan air Waduk Saguling yang tenang, juga banyak kolam terapung yang menjaring banyak ikan.

Ditemani udara sejuk khas pegunungan, lokasi tersebut juga cocok untuk tempat berkumpul keluarga sambil menikmati ikan bakar di saung. Jika dikembangkan, lokasi dermaga cukup berpotensi menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Bandung Barat.
sumber: pikiran-rakyat.com

Tuesday, June 23, 2015

Delapan Keutamaan Puasa

Diriwayatkan dari Abu Umamah, dia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku suatu amalan yang akan memasukkanku ke dalam surga. Rasulullah SAW menjawab, ‘Kamu harus puasa karena puasa itu tidak ada bandingannya.’’’ (Musnad Ibni Hambal, juz 5, hlm 264, hadis nomor 22.330).

Setelah peristiwa itu, di rumah Abu Umamah tidak terlihat asap mengepul saat siang hari kecuali bila kedatangan tamu. Jika orang-orang melihat asap di rumahnya, mereka langsung paham bahwa Abu Umamah sedang kedatangan tamu. (lihat kitab Attabwib al Maudhui lil ahadits, juz I, hlm 18.316).

Amalan untuk masuk surga cukup banyak seperti dijelaskan berbagai hadis sahih, tetapi mengapa Rasulullah memerintahkan puasa dan menyatakan bahwa puasa tiada bandingannya dengan ibadah lain? Ini menunjukkan, puasa memiliki keutamaan sebagai penyebab orang masuk surga. Bahkan, dalam hadis tersebut Rasulullah menyebutkan alasan keut amaan puasa dibandingkan ibadah lainnya, dengan ungkapan, “Puasa itu tidak ada bandingannya”. Hal ini menunjukkan beberapa keutamaan puasa.

Pertama, puasa tiada bandingannya dalam hal pahala. Rasulullah meriwayatkan hadis qudsi, “Setiap amalan anak cucu Adam adalah miliknya kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan Aku yang langsung membalasnya.’’ Di sisi lain, puasa merupakan latihan kesabaran dan orang-orang sabar akan diberi balasan tanpa batas. (QS az-Zumar:10).

Kedua, berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya yang bisa terlihat oleh orang lain, puasa yang tahu hanyalah Allah dan orang yang melakukannya. Allah menegaskan dalam hadis qudsi, “Orang berpuasa itu meninggalkan makanan dan minumannya untuk diri-Ku (Allah). Maka, puasa itu milik-Ku dan Aku (Allah) sendiri yang akan memberikan pahala karenanya.’’ (HR Bukhari ).

Ketiga, puasa memiliki keutamaan karena dinisbatkan kepada Allah. Berdasarkan hadis qudsi di atas yang menyatakan bahwa “puasa adalah milik-K u”, berarti Allah memang selalu puasa tidak pernah makan dan minum.

Keempat, orang puasa dimuliakan Allah sehingga disiapkan pintu khusus di surga. Dari Sahal bin Sa’ad, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya surga itu mempunyai satu pintu yang disebut ar-Rayyan. Pada hari kiamat nanti pintu tersebut akan bertanya, di mana orang-orang yang berpuasa? Apabila yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itu akan tertutup.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Kelima, puasa adalah perisai dari semua perbuatan buruk dan akhlak tercela. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, ‘’Puasa itu perisai, apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, hendaklah ia tidak berkata keji dan membodohi diri. Jika seseorang memerangi atau menghinanya, maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’’’ (HR Bukhari).

Keenam, puasa tiada tandingannya dalam merealisasika n ketakwaan sehingga Allah langsung menyebutkan sasaran utama puasa, yaitu merealisasikan ketakwaan. (QS al-Baqarah: 183).

Ketujuh, puasa adalah ibadah yang efektif untuk mematahkan nafsu. Karena, berlebihan dalam makan ataupun minum serta menggauli istri, bisa mendorong nafsu untuk berbuat kejahatan, enggan mensyukuri nikmat, serta mengakibatkan kelengahan.

Kedelapan, puasa mempersempit jalan setan masuk kepada anak Adam melalui jalan aliran darah. Dengan berpuasa, dia aman dari gangguan setan, kekuatan nafsu syahwat, dan kemarahan. Karena itu, Nabi menjadikan puasa sebagai benteng untuk menghalangi nafsu syahwat. Walhasil, bila seorang Muslim berpuasa sesuai tuntunan Rasulullah, pasti menjadi orang bertakwa dan ahli surga. Wallahu a’lam.
Oleh: Ahmad Satori Ismail
sumber : www.republika.co.id