-
-

Sunday, April 20, 2014

Bekal nan Kekal

Lika liku hidup duniawi selalu diwarnai dengan segala hasrat, tak terkecuali keinginan besar dalam mengumpulkan materi. Sebagian dari kita mungkin menilai bahwa ukuran nilai kebahagiaan hanya timbul dari melimpah-ruahnya materi yang kita miliki.

Sebagian lain menilai bahwa kebahagiaan hakiki sejatinya ada di dalam hati, yakni ‘ketenangan’ dalam berbagi. Rasa saling berbagi inilah yang ditanamkan oleh Rasulullah pada para sahabatnya sehingga mereka diberi kelapangan hati untuk ikhlas berbagi.

Allah SWT berfirman, “Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan apa saja yang kalian nafkahkan, sungguh, Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imran: 92)

Dalam firman-Nya yang lain, “Apa saja harta yang baik yang kalian infakkan, niscaya kalian akan diberi pahalanya dengan cukup dan kalian sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS al-Baqarah: 272)

Dua surah di atas mengisyaratkan sebuah anjuran untuk berbagi apa saja yang kita miliki, bahkan sesuatu yang kita cintai sekalipun. Memberikan sesuatu yang teramat kita sukai memang bukanlah perkara yang mudah. Namun, ada pahala yang besar dari-Nya sebagai bukti keimanan seorang hamba pada-Nya.

Adalah kisah Umar bin Khattab RA, seperti hadis yang diriwayatkan oleh putranya, Ibnu Umar. “Sesungguhnya Umar RA pernah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Lalu beliau mendatangi Nabi SAW dan meminta nasihat mengenai tanah itu, seraya berkata, “Ya Rasulullah, saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, yang saya tidak pernah mendapatkan harta lebih baik daripada tanah itu.”

Nabi SAW pun bersabda, “Jika Engkau berkenan, tahanlah batang pohonnya, dan bersedekahlah dengan buahnya.”

Ibnu Umar berkata, ‘Maka bersedekahlah Umar dengan buahnya dan batang pohon itu tidak dijual, dihadiahkan, diwariskan, dan Umar bersedekah dengannya kepada orang-orang fakir, para kerabat, para budak, orang-orang yang berjuang di jalan Allah, Ibnu Sabil, dan para tamu. Pengurusnya boleh memakan dari hasilnya dengan cara yang makruf dan memberikannya kepada temannya tanpa meminta harganya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis di atas, seperti uraian yang ditulis oleh Ibnu Hajar Atsqalani, bahwa Umar bin Khattablah sahabat pertama kali yang mempraktikkan shadaqah jariyah, atau lebih kita kenal dengan wakaf.

Ketika menjelaskan hadis di atas, Imam Ibnu Hajar menuturkan sebuah riwayat dari Imam Ahmad bahwasannya Ibnu Umar berkata, “Wakaf pertama kali di dalam Islam adalah sedekahnya (wakafnya) Umar.”

Secara tersirat, Umar terasa berat mengikhlaskan sesuatu yang ia katakan bahwa ‘tidak pernah aku dapatkan harta yang lebih baik kecuali tanah itu’, menyadarkan kita betapa pengorbanan seorang hamba dalam meraih keimanan dan kebajikan yang sempurna, menepis rasa ego dalam hati untuk ikhlas berbagi.
Inilah esensi dari roda perekonomian Islam; tidak membiarkan harta si kaya hanya beredar di orang kaya saja, tapi anjuran penuh untuk bersedia peduli dan mau berbagi.

Melalui zakat (yang sifatnya wajib dikeluarkan), kemudian wakaf yang sifatnya sunnah tapi pahala yang terus mengalir selama harta tersebut digunakan untuk kebaikan, menyadarkan bahwa ajaran Islam sungguh menentramkan. Keduanya, zakat maupun wakaf adalah warisan dan unsur-unsur pembangun peradaban yang siapapun mempraktikkannya akan mendapat ganjaran.

Islam tidak memperkenankan adanya seorang hamba yang hidup serba mewah berkecukupan, namun tidak peduli dengan saudara-saudara yang kekurangan. Dalam prinsip bekal nan kekal inilah, Islam menghendaki adanya tingkat kesejaheraan sosial baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, dan negara. Semoga! Wallahu a’lam.
Oleh: Ina S Febriany
sumber : www.republika.co.id

Friday, April 18, 2014

Pelukan Rasulullah

Pada saat thawaf (mengelilingi Kabah),  Rasulullah SAW bertemu  seorang pemuda yang pundaknya terlihat lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasul menghampiri pemuda itu dan bertanya, ‘’Kenapa pundakmu seperti itu?’

Pemuda itu menjawab, ‘’Ya Rasulullah, saya berasal dari Yaman. Saya mempunyai seorang ibu yang sudah uzur (tua renta). Saya sangat mencintainya. Saya selalu menggendongnya, dan tidak pernah melepaskannya. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, sedang shalat atau saat istirahat. Di luar itu saya selalu menggendongnya.’’

Pemuda itu lalu bertanya, ‘’Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk orang berbakti kepada orang tua?’’ Sambil memeluk pemuda itu, Rasulullah SAW menyatakan, ‘’Sungguh Allah ridha kepadamu. Engkau anak saleh, anak berbakti. Tetapi, wahai anakku, ketahuilah, kasih sayang orang tuamu kepadamu tidak akan terbalaskan olehmu.’’

Seklumit kisah tersebut menginspirasi kita semua, berbakti kepada kedua orang tua dengan ikhlas, merupakan sebuah ibadah yang dapat menyebabkan seorang anak mendapat ridha Allah SWT.

Bahkan Rasulullah SAW memberikan apresiasi tinggi terhadap anak yang berbakti kepada orang tua itu dengan memeluknya. Dengan kata lain, berbakti kepada orang tua adalah salah satu kunci meraih kebahagiaan dunia dan memperoleh pelukan Rasulullah SAW.

Alangkah indah dan bahagianya jika kita dipeluk Rasulullah! Pelukan Rasulullah SAW dan jaminan keridhaan Allah bagi sang pemuda itu tentu merupakan dambaan kebahagiaan bagi setiap mukmin.

Dari Abdullah ibn ‘Amr, Rasulullah SAW bersabda: “Ridha Allah itu tergantung pada ridha kedua orang tua dan kemurkaan Allah itu juga tergantung pada kemurkaan keduanya.” (HR at-Turmudzi dan al-Baihaqi).

Anak wajib berbakti dan bersikap baik kepada keduanya dengan sepenuh hati karena Islam memang sangat memuliakan orang tua. Sebaliknya, Islam melarang anak menjadi durhaka kepada keduanya.

Karena durhaka kepada salah satu atau keduanya merupakan dosa besar, seperti halnya syirik. Mendurhakai orang tua, luar biasa fatal. Boleh jadi Allah SWT menyegerakan balasannya kepada pelakunya selagi masih hidup di dunia.

Allah SWT bisa saja membuat perjalanan hidup sang perdurhaka orang tua  menjadi tidak berkah dan penuh kesulitan.
Oleh karena itu, pelukan Rasulullah SAW itu mesti dimaknai sebagai panggilan spiritual bagi orang tua agar berusaha menyiapkan anaknya menjadi saleh.

Bagi anak, pelukan Rasulullah SAW itu harus dipahami sebagai isyarat kuat untuk selalu berbuat baik, tidak menyakiti, apalagi mendurhkai keduanya. Jangankan mendurhakai, membuat orang tua sedih saja sudah termasuk durhaka.

Dari ‘Ali bin Abi Thalib, Rasulullah SAW bersabda, ‘’Siapa yang membuat orang tuanya sedih berarti ia telah mendurhakai keduanya.” (HR al-Khathib al-Baghdadi). Disadari atau tidak, banyak hal membuat kedua orang tua itu sedih.

Di antara hal  yang membuat orang tua sedih secara langsung adalah tidak menghormati, menyakiti, membentak, dan memarahi keduanya.
Hal yang membuat keduanya sedih secara tidak langsung misalnya seorang anak melakukan pelanggaran ajaran agama.
Seperti tidak shalat, korupsi, selingkuh, atau berzina. Pada dasarnya jika seorang anak melakukan kemaksiatan, orang tua yang mengetahuinya pasti merasa sangat kecewa dan sedih, sehingga secara psikologis jiwanya tertekan.

Berbakti kepada kedua orang tua dalam Islam, tidak hanya berlaku saat mereka masih hidup tetapi juga setelah tiada. Dengan berbakti kepada mereka, kita berinvestasi pelukan Rasulullah bagi masa depan kita.
Oleh: Muhbib Abdul Wahab
sumber : www.republika.co.id

Wednesday, April 16, 2014

Berjanji untuk Jujur

Perhelatan hajat nasional bernama Pemilu Legislatif baru saja usai. Kita masih menantikan siapa saja yang akan menjadi wakil-wakil kita di gedung DPR/MPR nanti. Harapannya semoga mereka benar-benar memperjuangkan aspirasi keumatan di negeri ini.

Bukan sosok wakil rakyat yang berjuang untuk memperkaya diri dan keluarga atau partainya. Sekadar catatan untuk memberi ruang optimisme, penulis menilai persoalan terpenting untuk melepas dahaga harapan yang berlebihan adalah berjanji untuk jujur.

Menjadikan nyata kata dengan perbuatan. Kalau dibilang para wakil rakyat kita tidak jujur, haruslah jujur pula kita jawab ya.
Banyak bohong wakil rakyat kita ini. Seringnya terdengar para wakil rakyat kita berurusan dengan KPK adalah salah satu buktinya.

Padahal hal yang pasti terjadi, jika seseorang tidak jujur dan sering berbohong, akan kembali menabur kebohongan yang lain.
Terus ia berestafet sampai seseorang itu mau menyudahi kebohongannya dengan mangaku dan menutup dengan tobat atau minta maaf.

Karena itu hati-hatilah sahabatku dengan lisan yang telanjur sering diajak bohong dan dusta. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda,’’Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan ke dalam surga. Tidaklah seseorang berbuat jujur hingga Allah mencatatnya sebagai orang yang selalu jujur. Dan berbohong itu membawa kepada kejelekan, dan kejelekan itu mengantarkan ke dalam neraka. Sungguh seseorang terbiasa bohong hingga Allah mencatatnya sebagai seorang pembohong.” (HR Bukhari no. 6094, Muslim no. 2607).

Berjanji untuk jujur adalah mulia. Dan kemuliaan itu akan tecermin dengan selalu saja ditemukan jalan kebaikan dari Allah.
Ada saja caranya Allah SWT memberi kemudahan atas setiap masalahnya. Nabi tercinta kita, Muhammad SAW, digelari al-Amiin karena sifat jujurnya yang menjadikan diri beliau sangat bisa dipercaya.

Bukankah karena jujurnya beliau, Khadijah menaikkan kelasnya sebagai seorang pedagang menjadi suami tercinta.
Beliau hanya bertugas mengantarkan dagangan dan menjualkannya, tapi karena pesona kejujurannya itu, cerita hidupnya menjadi beda. Cerita kenabian pun bermula.

Maka, wahai para calon wakil rakyat, berjanjilah untuk jujur. Sudahi kebohongan-kebohongan kalian dari tidak amanah kepada rakyat. Percayalah Allah SWT akan mengantar asbab kejujuran kalian dalam tugas, menuju kemulian hidup.

Bukan hanya Allah SWT dan para penghuni langit yang menaruh hormat kepada kalian, tapi pada akhirnya pena sejarah kemanusiaan juga akan menulis sirah hidup kalian dengan tinta emas. Insya Allah.
Oleh: Ustaz HM Arifin Ilham
sumber : www.republika.co.id

Tuesday, April 08, 2014

Hasrat Memimpin

Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta menjadi pemimpin sebab jika engkau dijadikan pemimpin karena permintaanmu, maka engkau akan terbebani. Tapi jika engkau menjadi pemimpin bukan karena permintaanmu, maka engkau akan dibantu untuk mengatasinya.”(HR. Bukhari Muslim)

Demikian suatu kali Rasulullah SAW menasihati seorang sahabat bernama Abdurrahman bin Samurah. Ketika itu, ia meminta untuk diangkat menjadi seorang pemimpin. Melalui hadis ini, Rasul tak bermaksud melarang mukmin terjun ke politik.

Terutama bila niatnya didasari tujuan dakwah dan amar makruf nahi mungkar. Namun niat baik saja tentu tak cukup. Sebab, seorang pemimpin hendaknya memiliki kompetensi mumpuni terkait amanah yang diembannya.

Untuk menjadi pemimpin yang baik, idealnya seseorang tak mengandalkan kharisma, popularitas, atau faktor kedekatan dengan penguasa. Hal lebih penting adalah kemampuan dan integritas moral.

Rasul bersabda saat Abu Dzar meminta jabatan. ‘’Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah, dan jabatan itu amanah yang pada hari akhir hanya akan menjadi penyesalan dan kehinaan. Kecuali orang yang mampu menunaikan hak kewajibannya dan memenuhi tanggung jawabnya.’’ (HR Muslim).

Hadis ini menyiratkan implikasi kepemimpinan tanpa kemampuan, yang akan berbuah ketidakamanahan. Rasulullah SAW mengajarkan kepada para sahabatnya untuk tidak menonjolkan diri agar terpilih menjadi pemimpin.

Apalagi pada zaman itu, begitu banyak pribadi pilihan dengan jiwa kepemimpinan kuat dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan karena para sahabat dikader langsung Rasul, maka beliau memahami potensi mereka.

Sebagai utusan Allah SWT, Rasulullah SAW tak pernah lepas dari arahan wahyu dalam setiap pengambilan keputusan penting terkait pergantian kepemimpinan, juga bermusyawarah dengan para sahabat.

Namun sekali lagi, bukan berarti Islam mengharamkan seorang mukmin mengajukan diri menjadi pemimpin. Seperti  digambarkan Alquran, Nabi Yusuf mengajukan diri untuk menerima kepemimpinan.

Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (integritas), lagi berpengetahuan (kompetensi).” (QS Yusuf : 55).

Tampak jelas, bolehnya seseorang mengajukan diri menjadi pemimpin setidaknya harus memenuhi sejumlah kriteria. Yakni integritas moral yang tinggi, kompetensi,  dan kapabilitas yang mumpuni serta rekam jejak yang bersih dan telah teruji.

Dalam Alquran dikisahkan, Nabi Yusuf mengajukan diri menjadi pemimpin setelah terbukti tidak bersalah dan dibebaskan dari penjara negara. Krisis ekonomi  yang menimpa bangsa Mesir membutuhkan pemimpin baru yang solutif.

Mereka menemukan jawabnya pada sosok pribadi menawan dan potensi kepemimpinan Nabi Yusuf. Memegang tampuk kepemimpinan menjadi amal yang sangat terpuji manakala dilaksanakan dalam koridor ketaatan pada Allah dan RasulNya.

Buah sistem kaderisasi yang Rasulullah rintis adalah pemimpin dengan tipikal Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin thalib, dan Umar bin Abdul Aziz. Mereka membuktikan, kepemimpinannya tak didasarkan syahwat berkuasa.

Sementara, pemimpin bangsa di dunia yang hanya bermodalkan ambisi dan dorongan syahwat berkuasa tanpa menaati rambu-rambu Allah dan RasulNya, ternyata membawa rakyatnya kepada kehancuran.

Kekuasaan mereka berakhir dengan cara paling nista dan  kehinaan serta penyesalan di hari kiamat kelak.  “Sesungguhnya kalian meminta menjadi pemimpin. Nanti kalian akan mendapatkan penyesalan pada hari Kiamat…” (HR Bukhari).
Oleh: N Imam Akbari
sumber : www.republika.co.id

Monday, April 07, 2014

Merindukan Pemimpin Teladan

Pada suatu malam yang gelap gulita, Umar bin al-Khaththab mengadakan ronda sendirian tanpa didampingi seorang pengawal pun dengan menyusuri jalan-jalan kota Madinah.

Di suatu sudut kota dijumpai ada sebuah rumah yang lampunya terlihat menyala terang. Umar mendekati pintu rumah itu dan mendengarkan suara gaduh di dalamnya.

Dia lalu mengintip dari celah-celah bilik rumah itu untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi. Dilihatnya ada tuan rumah itu bersama kawan-kawan yang sedang duduk di meja dan di depan masing-masing ada minuman. Dia menduga kuat, mereka sedang berpesta minuman keras.
  
Umar berusaha masuk rumah itu melalui atap, namun ketahuan. Salah seorang dari mereka kemudian membuka pintu dan mempersilahkan Umar masuk.

Umar masuk sambil membawa pedang terhunus. Mengetahui hal itu, mereka ketakutan. Namun, tuan rumah kemudian berkata kepada Umar: "Wahai Amirul Mukminin, sungguh aku telah berbuat salah; dan sekarang aku bertobat kepada Allah di hadapanmu, terimalah permohonan maafku"! Umar menjawab: "Saya datang kemari justeru untuk memukulmu (menghukummu)."
   
"Wahai Amirul Mukminin, bagaimana mungkin engkau akan menghukumku?Aku hanya melakukan satu kesalahan, sedangkan engkau sendiri melakukan tiga kesalahan sekaligus?" Pemilik rumah itu lalu menunjukkan tiga kesalahan Umar.

"Wahai Umar, Allah SWT telah berfirman: "Janganlah kamu mencari-cari (memata-matai) kesalahan orang lain..." (QS al-Hujurat /49: 12). Engkau salah karena telah melakukan tajassus (mencari-cari kesalahan) saya dengan mengendus-endus rumah saya!
   
"Wahai Umar, Allah berfirman: "Dan  masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya ..." (QS al-Baqarah/2: 189). Engkau salah karena tidak masuk melalui pintu, tetapi melalui atap. Wahai Umar, Allah juga berfirman: "Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya... (QS an-Nur/24: 27). Engkau salah karena masuk rumahku tanpa izin dan tanpa salam."
 
Karena itu, lanjut tuan rumah, “Amirul Mukminin tidak sepantasnya menghukumku karena aku melakukan satu kesalahan, sementara pada saat yang sama aku sendiri sudah bertobat kepada Allah di hadapanmu. Sedangkan engkau sendiri telah melakukan tiga kesalahan tersebut."

Umar pun dengan tulus dan terbuka mengakui kesalahannya. Kepada tuan rumah itu Umar akhirnya menyatakan: "Anda benar, apa yang Anda sampaikan kepadaku tidak salah. Karena itu, aku mohon kepadamu agar engkau juga bertobat kepada Allah SWT dan sekaligus memohonkan ampunan dari Allah untukku."

Seperti itulah antara lain profil figur pemimpin teladan yang jujur, adil, terbuka dan bijaksana. Umar tidak main hakim sendiri ketika warganya melakukan kesalahan.

Umar justeru  jujur dan terbuka mengakui tiga kesalahannya di hadapan rakyatnya sendiri, dan dalam waktu yang sama mau bertobat atas tiga kesalahannya karena telah mengganggu kenyamanan warganya.

Jika para pemimpin sudah mampu bersikap jujur, terbuka, adil, dan bijaksana dalam menegakkan hukum, niscaya kewibawaan penegakan hukum di negeri ini dapat diwujudkan.
    
Kita merindukan pemimpin teladan yang merakyat, mau menyapa, mendengar, dan mencarikan solusi terhadap masalah yang dihadapi rakyatnya.

Pemimpin dipilih bukan untuk menikmati kekuasaan dan aji mumpung dengan mencari keuntungan pribadi dan kelompoknya, melainkan untuk melayani, bukan minta dilayani, karena pemimpin itu mengemban amanah untuk menegakkan kebenaran dan keadilan hukum, memberikan perlindungan dan keamanan, sekaligus menyejahterakan, mendamaikan, dan menentramkan kehidupan rakyatnya. 

Rakyat  tidak merasa nyaman jika pemimpinya lebih sibuk mementingkan urusan pribadi dan pencitraan dirinya daripada mengurusi dan melayani rakyat.
Pemimpin teladan rela berjuang dan berkorban demi kemaslahatan semua, bukan kepentingan politik keluarga dan partainya.

Pemimpin teladan seperti Umar itu sejatinya selalu hadir memberi solusi terhadap permasalahan yang dihadapi rakyat, bukan mudah terprovokasi karena urusan pribadinya terusik atau khawatir terkuak keburukannya.

Pemimpin teladan tidak pernah mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan kepadanya, karena setiap pemimpin itu kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.   Wallahu a’lam bish-shawab! 
Oleh: Muhbib Abdul Wahab
sumber : www.republika.co.id

Sunday, April 06, 2014

Ringan di Lidah, Berat di Timbangan

Dalam banyak ayat Alquran, Allah SWT memerintahkan kepada umat Islam untuk senantiasa mengingat Allah (zikir) dalam setiap kesempatan. Di mana pun, kapan pun, dan dalam keadaan apa pun.

Tujuannya agar dalam setiap gerak dan aktivitas keseharian, kita  selalu ingat kepada Allah SWT. Di antara ayat Alquran itu terdapat dalam surah Ali Imran [3] ayat 190-191, QS al-Ahzab [33]: 41, al-Jumu’ah [62]: 10, dan lainnya.

Perintah Allah dalam QS [3]:190-191 menunjukkan, hanya orang-orang berzikir yang senantiasa memikirkan penciptaan langit dan bumi, serta terus berupaya memahami silih bergantinya siang dan malam. Mereka itulah yang disebut ulul albab, yakni orang-orang yang berakal.

Berkenaan dengan hal ini, Abdullah bin Amr meriwayatkan. “Telah bersabda Rasulullah SAW, "Dua hal yang tidak dijaga seorang Muslim melainkan ia masuk surga. Ketahuilah, keduanya mudah namun yang mengamalkannya sedikit; yaitu bertasbih kepada Allah di akhir tiap shalat sebanyak 10 kali, bertahmid kepada-Nya 10 kali, dan bertakbir kepada-Nya 10 kali.

Abdullah bin Amr berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW menghitungnya dengan tangannya. Beliau bersabda, "Demikian itu 150 di lisan namun 1.500 di timbangan. Dan jika engkau di tempat tidurmu, engkau bertasbih, bertakbir, dan bertahmid kepada-Nya 100 kali. Demikian itu 100 di lisan tetapi 1.000 di timbangan. Siapakah di antara kalian yang berbuat 2.500 keburukan dalam sehari-semalam?"
Para sahabat bertanya, "Bagaimana orang tidak menjaganya?" Beliau bersabda, "Setan mendatangi salah seorang dari kalian dalam shalatnya. Setan berkata, 'Ingatlah ini, ingatlah itu' hingga ia bergegas agar ia tidak melakukannya. Dan setan mendatanginya di tempat tidurnya, menidurkannya hingga akhirnya ia tertidur." (HR Tirmidzi (3332), Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Banyak sekali ayat Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan umat Islam untuk berzikir. Dalam hadis di atas disebutkan, ada zikir yang begitu ringan dan mudah untuk diucapkan sehingga bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga.

Namun demikin, karena begitu ringan dan mudah, banyak orang yang benar-benar meringankan dan memudahkannya. Dalam artian, banyak orang malas dan enggan menjalankannya. Mereka lebih suka berbicara hal-hal lain dan bersenda gurau daripada memperbanyak zikir.

Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda, “Dua kalimat yang ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan, dan disukai Allah Yang Maha Pengasih, yaitu kalimat ‘Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’(Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung).” (HR Bukhari 7/168 dan Muslim 4/2072).

Begitu pula dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik ucapan kepada Allah SWT adalah kalimat subhanallah wa bihamdihi.” (HR Muslim dan Tirmidzi).

“Barangsiapa mengucapkan subhanallah wabihamdihi 100 kali dalam sehari, ia akan diampuni segala dosanya sekalipun dosanya itu sebanyak buih di laut.” (HR Muslim dan Tirmidzi).

Berkenaan dengan hal ini, mari kita selalu memperbanyak amal ibadah kepada Allah SWT dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Tak lupa pula, memperbanyak zikir di setiap waktu dan kesempatan. Wallahu a’lam.

sumber : www.republika.co.id

Saturday, April 05, 2014

Tafakur

‘’Ambillah pertolongan untuk kata-katamu dengan diam dan untuk ilmu dengan bertafakur.’’ Demikian Imam Syafii menuturkan nasihat kepada kita.
Menurut beliau, obat dari ucapan dan kata-kata adalah diam, dengan diam kita mampu menghindar dari segala penyakit lisan.

Di samping itu pula, beliau memaparkan cara ampuh bagi kita untuk mendapatkan ilmu yakni dengan bertafakur.
Tafakur yaitu suatu pekerjaan dalam bentuk memikirkan kekuasaan Allah SWT atas kehidupan manusia dan alam semesta dengan akal dan hati.

Allah SWT sangat menganjurkan kepada kita selaku hamba-Nya untuk senantiasa mengerjakan pekerjaan ini.
Dia menyebut mereka yang dapat bertafakur dan mengambil tanda-tanda kebesaran-Nya atas penciptaan langit dan bumi, serta pergantian siang dan malam sebagai ulul ‘azmi (orang-orang yang berakal). (QS Ali Imran [3]: 190-191).

Tafakur dapat kita kerjakan setiap waktu. Tak ada waktu khusus dalam melaksanakannya. Bisa setelah selesai shalat, sebelum tidur maupun saat bekerja.
Tetapi dari sekian waktu, ada saat yang sangat istimewa untuk bertafakur yakni sepertiga malam, selepas shalat malam.

Lantas, dalam hal apa saja kita dianjurkan untuk bertafakur? Pertama, kemaksiatan. Dalam melaksanakan rutinitas sehari-hari banyak kata, pekerjaan, maupun perasaan yang tidak kita sadari telah melenceng ke arah keburukan atau kemaksiatan.

Begitu pula dari sisi makanan dan pakaian yang kita pakai. Saat kita tahu langkah telah melenceng menuju kemaksiatan, kita perlu memohon ampun kepada Allah dan segera meninggalkannya.Kedua, ketaatan kepada Allah.

Dalam hal ini,  yang kita renungkan adalah ketaatan dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban kepada Allah SWT. Apakah kita melaksanakannya dengan sempurna atau malah sebaliknya penuh kekurangan.

Saat tahu kita sarat kekurangan dalam melaksanakan kewajiban kepada Allah, kita dapat menutupinya dengan ibadah-ibadah sunah yang lain. Ketiga, sifat-sifat merusak dalam hati. Segala ucapan dan tindakan berawal dari hati.

Ketika hati kita bersih, ucapan dan tindakan akan baik, tetapi manakala kotor maka akan berakibat sebaliknya.
Dengan begitu kita perlu berpikir untuk mengetahui sifat-sifat yang merusak dalam hati seperti marah, sombong, iri, dan berprasangka buruk.

Dengan mengetahui sifat-sifat tersebut, kita akan berusaha untuk mengobati dan membersihkannya dari dalam hati. Poin yang terakhir adalah bertafakur mengenai sifat-sifat yang dapat menjadi penyelamat bagi diri kita.

Setelah rampung menjalani proses tafakur dari awal hingga akhir,  kita perlu berpikir tentang sifat-sifat baik yang dapat menyelamatkan diri dari segala macam keburukan. Misalnya, tobat, sabar, syukur, ikhlas, dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dengan demikian tentu kita akan terus condong kepada kebaikan dan senantiasa taat kepada Allah. Di samping itu, dengan tafakur kita mampu mengambil hikmah, menambah keimanan kepada Allah, dan menanamkan rasa takut dalam diri untuk mengerjakan kebatilan.

Ibnu Hatim berucap dalam syairnya, ‘’Dengan pengalaman seseorang bisa menambah ilmu, dengan berzikir ia mampu menambah cinta, dan dengan tafakur ia dapat menambah rasa takut.’’
, Oleh: M Sinwani
sumber : www.republika.co.id

Wednesday, April 02, 2014

Kunci Bahagia

Semua manusia pasti menginginkan hidupnya bahagia. Hanya saja tidak semua orang memahami hakekat hidup bahagia. Ada yang memaknainya sekedar hidup senang: sandang, pangan, dan papan berkecukupan.

Ada pula yang mengartikannya hidup damai: bersosial, bekerja sama, tidak menyakiti dan membuat konflik dalam masyarakat. Islam memberikan resep bahagia bukan hanya fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah, tapi juga terbebas dari siksa neraka.
  
Makna bahagia yang terangkum dalam doa sapu jagat itu menunjukkan bahagia itu berdimensi fisik-material dan mental-spiritual-sosial, serta berjangka pendek dan jangka panjang.

Hakekat hidup bahagia, menurut Syaikh Habib Al-Kazhimi, adalah memperoleh ridha Allah SWT dengan memahami dan mewujudkan tujuan penciptaan dan eksistensi manusia di dunia ini, yaitu beribadah kepada-Nya dalam arti luas.
    
Indikator sekaligus kiat-kiat meraih hidup bahagia dapat diukur dan ditempuh dengan lima hal. Pertama, berusaha untuk selalu hidup sesuai tuntunan syariat Islam, tidak menyalahinya baik dalam hidup sebagai individu, bermasyarakat, maupun bernegara. 

Sistem ajaran Islam harus diyakini sebagai way of life yang dapat membahagiakan hidupnya. Tidak ada celah dan ruang dalam diri Muslim untuk meragukan syariat Islam.

"Siapa mencari agama (syariat) selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu), dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi." (QS Ali Imran [3]: 85).
   
Kedua,  ta'allum (belajar), tadabbur (bermenung), dan tafakkur (berpikir). Manusia dikaruniai akal, antara lain untuk belajar agar hidupnya bermakna, bermenung agar dapat selalu berintrospeksi diri, dan berpikir agar dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.

Hidup bahagia adalah hidup yang dijalani dengan senantiasa belajar, mengembangkan ilmu, memahami ayat-ayat Allah di dalam Alquran maupun dalam semesta raya.

Dengan semua itu, Muslim tidak hanya meneladani sifat Allah, Al-'Alim (Mahaberilmu), tapi juga memacu dirinya untuk meraih prestasi dan kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.
    
Ketiga, cita-cita yang luhur dan mulia. Hidup bahagia harus dilandasi cita-cita yang tinggi, luhur dan mulia, sehingga terpacu untuk meraihnya dengan mengerahkan segala tenaga dan pemikiran.

Muslim yang baik hidupnya senantiasa dijalani dengan penuh perjuangan meraih cita-cita mulia dan visi yang jelas, tidak akan menjalani hidup ini dengan kemalasan dan menggantungkan diri kepada orang lain.

"Janganlah engkau menjadi beban bagi orang lain." (HR At-Thabarani). Sebuah syair Arab menyatakan, "Siapa yang tidak suka mendaki gunung, maka selamanya ia akan berada dalam kubang galian."
   
Keempat, pengendalian syahwat dan penyucian diri dari sifat-sifat tercela. Dalam diri manusia terdapat potensi negatif seperti syahwat menjadi kaya, syahwat menjabat, syahwat menguasai, dan sebagainya.

Dalam diri manusia juga terdapat potensi untuk iri hati, dengki, riya', ujub, rakus, dan sebagainya. Orang yang bahagia adalah orang terbebas dari syahwat dan sifat-sifat tercela, sebab jika terjajah oleh sifat-sifat buruk ini, hidupnya selalu menderita, tidak pernah memperoleh kedamaian hati.
   
Kelima, berada dalam lingkungan yang baik. "Ada empat yang menyebabkan manusia hidup bahagia: istri/suami yang shalih, anak-anak yang berbakti, lingkungan pergaulan yang baik, dan rezki yang diperoleh di negeri sendiri." (HR Ad-Dailami).

Pangkal kebahagiaan seseorang adalah lingkungan rumah tangga yang baik: suami-istri taat kepada Allah, rezki yang dimakan halal dan bergizi, anak-anak yang shalih, dan lingkungan sosial yang bermoral baik.
   
Oleh karena itu, kunci meraih hidup bahagia harus dimulai dari kesucian hati masing-masing individu dalam kehidupan keluarga. Keluarga bahagia pangkal terwujudnya masyarakat dan bangsa yang bahagia. Kekayaan materi tidak menjadi jaminan hidup bahagia.
Kunci yang sangat menentukan kebahagiaan hidup adalah kekayaan dan kemurahan hati. Ikhlas, taat, cinta kepada Allah dan Rasul, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Selain itu selalu berdzikir kepada-Nya di waktu senang maupun di saat dukacita, menurut Ali bin Abi Thalib, merupakan kekayaan hati yang tidak bisa digantikan oleh kekayaan materi. Kekayaan hati inilah yang membuat hidup ini bahagia.
   
Jadi, hati ini harus senantiasa dididik untuk "merdeka" dari penyakit hati, dirawat dengan nutrisi hati yang sehat, dan dibiasakan mengingat Allah (dzikrullah) dan merenungi kebesaran-Nya di alam raya ini, agar dapat memakanai hidup bahagia di dunia dan akhirat. Semoga!, Oleh: Muhbib Abdul Wahab   

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, April 01, 2014

Kejujuran

‘’Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukkan jalan menuju surga.’’ (HR Bukhari). Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana. Demikian sebuah ungkapan bijak menuturkan.

Ya, kejujuran adalah sebuah sikap yang menunjukkan jati diri seseorang yang sebenarnya. Seseorang yang senantiasa bersikap jujur baik dalam ucapan maupun tindakan, meskipun pahit dan berisiko, bisa dipastikan dia memiliki integritas moral yang baik.

Islam sangat menjunjung tinggi kejujuran. Dalam Islam, jujur  menjadi salah satu sifat mutlak seorang Nabi atau Rasul.
Orang-orang yang berlaku jujur, dalam Alquran disandingkan dengan para Nabi, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh.

Sebaliknya, kebohongan adalah awal kehancuran. Seseorang yang sudah biasa berbohong, baik dalam ucapan maupun tindakan, pada hakikatnya sedang menjerumuskan dirinya dalam kehinaan. Dia sedang menggali kuburnya sendiri.

Karena kebohongan yang dia lakukan lambat laun pasti akan terbongkar. Ibarat kata, sepandai apa pun seseorang  menyembunyikan bangkai, akhirnya akan tericium juga. Kalau kita lihat dan amati kondisi saat ini, tampaknya kejujuran sudah menjadi barang langka.

Demi menjaga citra diri di hadapan publik dan dengan dalih gengsi, seringkali banyak orang tak jujur kepada dirinya sendiri apalagi kepada orang lain. Mereka lebih senang memakai topeng, daripada menunjukkan wajah aslinya.

Padahal, semakin lama topeng-topeng tersebut mereka kenakan, semakin jauh mereka dari jati diri mereka. Hakikatnya, semakin menyiksa diri mereka sendiri karena harus hidup dalam kepura-puraan.

Orang-orang yang ingin dianggap sebagai orang kaya, misalnya, akan bersikap dan bertindak seolah-olah orang kaya. Semakin dia memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang kaya, semakin tersiksa pikiran dan jiwanya.

Karena dia harus berpikir keras untuk dapat memenuhi tuntutan seolah-olah menjadi orang kaya. Para pedagang, yang hanya menjalankan usaha atau bisnisnya dengan tujuan komersial, akan sangat mudah berlaku tidak jujur alias berbohong.

Tidak jarang kita jumpai, mereka berlaku tidak jujur dalam menjalankan roda bisnisnya. Dalam perkataan, mereka bahkan berani bersumpah atas nama Allah untuk meyakinkan pembeli agar tertarik untuk membali barang dagangannya.

Dalam tindakan, ada pedagang yang mengurangi timbangannya dengan beragam cara, dengan tujuan mendapat keuntungan lebih banyak dari kondisi timbangan normal. Para pejabat publik berlaku bohong untuk memenuhi pundi-pundi kekeyaannya.

Para intelektual, demi memenuhi persyaratan angka kredit untuk kenaikan pangkatnya, tidak jarang melakukan perilaku tak terpuji. Mereka melakukan plagiarisme, membuat data fiktif, serta tindak kecurangan lainnya.

Karena itu, berlaku jujurlah baik dalam ucapan dan tindakan. Betapapun pahitnya, yakinlah kejujuran akan lebih dihargai dan mendapat tempat di hati orang lain daripada kebohongan.
, Oleh: Didi Junaedi
sumber : www.republika.co.id

Sunday, March 30, 2014

Sahabat Alquran

Keberadaan mushaf Alquran sangat vital bagi seorang Muslim. Mushaf itu bisa menjadi perisai dan wirid hariannya. Apalagi hari ini mushaf dengan berbagai bentuk cetakannya sangat mudah ditemui. Dari ukuran besar sampai ukuran saku.

Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tidak memilikinya. Sehingga ke mana pun seorang Muslim pergi, mushaf Alquran seharusnya selalu ada  dalam koper, tas, bahkan dalam sakunya. Secara terus-menerus berdekatan dengan Alquran membuat Muslim selalu ingat Allah SWT.

Selain itu, mushaf Alquran itu bisa membantunya mengisi waktu-waktu senggangnya untuk membaca, menghafal, dan mentadabburinya. Sangatlah indah melihat seseorang yang asyik membuka mushaf Alquran ketika tangannya yang satu bergelantungan di dalam bis.

Sangatlah menenteramkan mendapati seseorang menunggu kendaraan sambil mulutnya komat-kamit membaca Alquran. Lebih manis lagi, bila seorang sopir taksi atau angkot memutar murotal Alquran untuk diperdengarkan kepada penumpangnya.

Berinteraksi dengan Alquran dalam perjalanan merupakan sunah Nabi Muhammad SAW yang agung. Imam Al-Bukhari meriwayatkan, Abdullah bin Mugaffal menyatakan pada Fathu Makkah, dia melihat Rasulullah membaca surat Al-Fath di atas kendaraannya.

Dalam riwayat lain dikatakan, “Sementara kendaraannya berjalan. Siapa yang ingin sukses di dunia dan mendapatkan keberuntungan di akhirat, sebisa mungkin dia harus membaca firman Tuhannya.''
Ibnu Hibban dan lain-lain meriwayatkan, Rasul bersabda,’’Dikatakan kepada sahabat Alquran, pada hari kiamat (dalam riwayat Ibnu Majah: ketika dia masuk surga) ‘Bacalah dan naiklah. Bacalah sebagaimana kamu membacanya di dunia karena tempatmu ada pada ayat terakhir yang dahulu kamu baca.”

Dalam riwayat Hakim disebutkan, Rasulullah bersabda, “Sahabat Alquran datang pada hari kiamat, lalu Alquran berkata ’Ya Tuhanku, berilah dia perhiasan. Lalu dia diberi mahkota kemuliaan. Kemudian Alquran berkata, ‘Ya Tuhanku, ridhailah dia. Lalu dia pun diridhai. Dan dikatakan kepadanya, ‘Bacalah dan naiklah.’ Dan dia akan bertambah satu kebaikan untuk tiap-tiap ayat.’’

Sahabat Alquran adalah orang yang senantiasa membaca dan mengamalkan isi kitab suci itu. Dalam sebuah atsar dikatakan, jumlah tingkatan di dalam surga sesuai jumlah ayat Alquran yaitu sekitar 6.000 lebih.

Jarak antara satu tingkat dengan tingkat lainnya setara dengan jarak antara langit dan bumi atau setara dengan jarak tempuh selama 70 tahun atau 500 tahun.

Perbedaan antara 70 tahun dan 500 tahun itu bisa dikompromikan yaitu bila yang pertama dilakukan dengan perjalanan cepat, sedang yang kedua dilakukan dengan perjalanan lambat.

Siapa saja yang bisa mengamalkan Alquran itu secara keseluruhan dan mengamalkannnya, dia akan menempati tingkatan tertinggi di surga. Sedangkan orang yang membaca satu juz  Alquran maka kenaikan tingkatannya sesuai dengan kadar itu.

Mengingat mushaf Alquran itu sangat mudah didapatkan, alasan untuk tidak berinteraksi dengannnya tertolak. Dengan mushaf itu, siapapun bisa mencapai derajat tertinggi di surga. Asalkan,  dia mau mengisi waktu luangnya dengan taqarrub kepada Allah.
, Oleh: Muhammad Shobri Azhari

sumber : www.republika.co.id

Saturday, March 29, 2014

Indahnya Kelembutan

Fitrah manusia cenderung kepada kebaikan dan mencintai kelembutan. Akan tetapi, karena ego, hawa nafsu atau kepentingan sesaat, banyak manusia yang kemudian berubah menjadi orang yang kasar, beringas, dan kejam.

Padahal, ego, hawa nafsu, dan mengutamakan kepentingan sesaat sama sekali tidak memberikan maslahat.
Jadi wajar jika manusia yang kasar, beringas, dan kejam tidak akan mendapat ridha dari Allah SWT sebab Allah tidak mencintai kecuali kelembutan.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam segala urusan.” (HR. Bukhari Muslim).

Dalam Syarah Riyadhus Sholihin, Imam Nawawi mengatakan, hadis itu menjelaskan tentang perintah agar umat Islam bersikap lemah lembut. Baik dalam ucapan maupun perbuatan serta memilih hal paling mudah.

Hal demikian melahirkan hubungan harmonis dan akrab. Sangat penting bagi Muslim untuk melatih lidahnya dengan adab sopan santun dan tidak membiasakan diri mencela orang lain, entah itu terhadap orang kafir, lebih-lebih terhadap saudara seiman.

Karena itu, Rasulullah SAW mengingkari jawaban berlebihan Aisyah kepada Yahudi, meskipun mereka memang berhak mendapat celaan.
Hal itu tidak lain karena Allah SWT telah melaknat dan memurkai Yahudi melalui beberapa ayat Alquran secara gamblang dan terbuka.

Bahkan terhadap seorang penguasa zalim sekelas Fir’aun pun Allah memerintahkan Nabi Musa berkata lemah lembut. “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.’’ (QS 20 : 44).

Dengan demikian sungguh tidak ada satu pun alasan yang membolehkan kita mencela orang lain, seburuk apa pun orang tersebut.
Sebab, jika dia memang buruk, kafir, dan menentang Islam, Allah pasti memasukkannya pada kelompok terkutuk dan terlaknat.

Akan jauh lebih indah jika kita berusaha fokus membina diri menjadi pribadi yang santun dan lemah lembut. “Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Dia memberikan kepada kelembutan apa yang tidak Dia berikan kepada kekerasan dan tidak pula Dia berikan kepada yang lainnya.’’ (HR Muslim).

Memaknai hadis tersebut,  Imam Nawawi menjelaskan, kelembutan adalah seutama-utamanya akhlak dari seluruh akhlak mulia lainnya. Dengan kelemahlembutan itulah Rasulullah SAW bisa sukses besar dalam menjalankan misi dakwahnya.

Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.'' (QS. 3: 159).

Subhanallah, ternyata lemah lembut adalah rahmat dari Allah. Jika demikian, tidakkah kita tertarik menjadi Muslim yang berperangai lemah lembut?
, Oleh Imam Nawawi
sumber : www.republika.co.id

Thursday, March 27, 2014

Menuju Surga

Gambaran tentang surga tersebar dalam sejumlah ayat dan hadis. Teks ayat dan hadisnya jelas. Jadi, tak ada satu keteranganpun yang meragukan keberadaannya. Semuanya menjelaskan kondisi yang tidak ada bandingannya dengan sesuatupun yang ada di dunia ini.

Menurut Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ’’Allah SWT berfirman, ‘Sesungguhnya Aku telah menyediakan untuk hamba-Ku yang saleh segala apa yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan tidak pernah terbetik oleh hati siapapun.’’ (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan begitu, saat Allah dan Rasul-Nya menyampaikan perumpamaan tentang kondisi surga, semua itu sekadar untuk memudahkan kita memahaminya. Memang, Allah dan Rasul-Nya menyebutkan banyak hal yang bernuansa dunia.

Namun demikian, semuanya itu sejatinya tidaklah sama. Misalnya, Allah memaparkan keadaan surga yang dijanjikan itu di dalamnya terdapat sungai-sungai. Akan tetapi, bukan sungai-sungai sebagaimana yang kita pernah saksikan di dunia.

Dikatakan, ada sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan seterusnya (QS Muhammad [47] : 15).

Misalnya, Allah memaparkan keadaan surga yang dijanjikan itu di dalamnya terdapat naungan dari pohon-pohon rindang. Akan tetapi, bukan pohon-pohon yang kita pernah saksikan di dunia. Dikatakan, pohon itu tidak terlalu tinggi dan berbuah sepanjang tahun.

Hal itu memudahkan bagi siapa pun yang hendak memetiknya. Dikatakan pula, fasilitas penghuni surga yang sangat memadai dibandingkan dengan yang kita pernah saksikan di dunia seperti pakaian, makanan, minuman, kamar tidur, dan seterusnya.

Abu Hurairah menuturkan, saat Rasulullah SAW ditanya tentang surga, Rasulullah SAW menjelaskan, surga itu terbuat dari emas, perak, permata lu’lu, yakut, minyak kesturi, dan ja’faran. Kualitasnya sama sekali tidak berubah. (HR Ahmad dan Tirimidzi).

Menurut Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya surga itu terdiri atas 100 tingkatan yang Allah sediakan bagi mereka yang berjihad. Jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya seperti jarak antara langit dan bumi.’’ (HR Bukhari).

Abu Sai’d al-Khudri berkata,  Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya surga itu terdiri atas 100 tingkatan. Seandainya seluruh makhluk di muka bumi berkumpul di salah satu tingkatan, itu sudah cukup menampung mereka semuanya karena luasnya.’’  (HR Ahmad).

Hingga sekarang, entah berapa banyak penulis yang mengungkapkan keistimewaan surga dalam berbagai bahasa. Kendati demikian, saya kira cerita mengenai surga itu tidak akan ada habis-habisnya. Sampai kita benar-benar menyaksikannya dengan mata kepala kita sendiri.

Bagi kita, semua informasi yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya sudah lebih dari cukup. Sekarang mari kita jawab pertanyaan berikut ini dengan sejujurnya. Sudahkah kita termasuk di antara orang-orang yang berada dalam antrean calon penghuni surga?

Sejumlah ayat dan hadis menjelaskan kriteria calon penghuni surga. Yakni, orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang menafkahkan sebagian harta yang dimilikinya pada waktu lapang mau pun sempit, dan orang-orang yang memaafkan kesalahan manusia.

Selanjutnya, orang-orang yang melakukan perbuatan keji dan menganiaya dirinya sendiri namun segera mengingat Allah dan meminta pengampunan kepada-Nya, tidak terus-menerus melakukan perbuatan dosa setelah dia menyadarinya.

Beriman kepada Allah, shalat dengan khusyuk, menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan tak ada gunanya, mengeluarkan zakat, menjaga kemaluan kecuali kepada istri dan hamba sahaya yang menjadi miliknya, menunaikan amanat, memelihara shalat dan masih banyak yang lainnya. Semoga kita diberi kemudahan untuk dapat menapaki jalan lurus menuju surga. Amin.
, Oleh: Mahmud Yunus
sumber : www.republika.co.id

Wednesday, March 26, 2014

Menggapai Ridha Allah

Ketika belajar di TK dan madrasah dahulu, kita pernah diajari oleh guru kita sebuah bacaan “Radhiitu billahi rabba, wabil Islami dina, wabi Muhammadin nabiyya wa rasula.” Artinya:   “Aku rela (senang) Allah sebagai Rabb (Tuhanku), Islam agamaku dan Muhammad SAW sebagai Nabi dan Utusan-Nya.”

Selain itu, kita juga sering berdoa: “Allhumma inni as’aluka ridhaka wal jannah, wa a’udzu bika min sakhathika wan nar.” Artinya: Ya Allah aku (kami) memohon kepada-Mu akan ridha-Mu dan surga; dan aku (kami) berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan siksa neraka.

Dalam konteks ini kita patut bertanya kepada diri sendiri: “ Apakah selama ini kita sudah ridha terhadap Allah, Islam dan Nabi Muhammad SAW? Dan mengapa kita perlu memohon ridha Allah?”

Ridha merupakan bentuk mashdar (infinitive), dari radhiya-yardha yang berarti: rela, menerima dengan senang hati, cinta, merasa cukup (qana’ah), berhati lapang.

Bentuk lain dari ridha adalah mardhat dan ridhwan (yang super ridha). Antonim kata ridha adalah shukht atau sakhat, yang berarti murka, benci, marah, tidak senang, dan tidak menerima. 

Ridha adalah engkau berbuat sesuatu yang membuat Allah senang atau ridha, dan Allah meridhai apa yang engkau perbuat. Ridha hamba kepada Allah berarti ia menerima dan tidak membenci apa yang menjadi ketetapan Allah.

Sedangkan ridha Allah kepada hamba berarti Dia melihat dan menyukai hamba-Nya yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ada dua dimensi ridha, yaitu ridha billah dan ridha ‘anillah. Ridha billah atau rela dan cinta kepada Allah berarti bersedia mengimani dan menjadikan-Nya sebagai Dzat yang wajib diibadahi, tidak menyekutukan-Nya, dimintai pertolongan, dan ditaati syariat-Nya.

Sedangkan ridha ‘anillah berarti hamba menerima ketentuan, takdir, rizki, dan segala sesuatu yang ditetapkan oleh-Nya.
Ridha dalam konteks ini tidak berarti hamba menyerah-pasrah tanpa usaha, berdoa dan bertawakkal. Sebaliknya, hamba diharuskan memahami hukum sebab-akibat, berusaha maksimal dan berdoa.

Ridha kepada Allah mengharuskan hamba untuk selalu beriman kepada-Nya, termasuk percaya kepada qadha dan qadar-Nya; mencintai dan menaati syariat-Nya; mencintai Rasul-Nya dan mengikuti keteladananya; menjadikan Islam sebagai agama pilihan hidupnya; dan mengorientasikan hidupnya dengan penuh keikhlasan untuk meraih cinta dan ridha-Nya.

Oleh karena itu, ada tiga kategori ridha yang harus ditapaki hamba. Pertama, ridha bi syar’illah (syariat Allah) berarti menerima dan menjalankan syariat-Nya dengan ikhlas dan penuh dedikasi.

Kedua, ridha bi qadha’illah (ketentuan Allah) berati tidak menolak dan membenci apa yang telah ditetapkan Allah, termasuk segala sesuatu yang tidak menyenangkan (musibah), karena ujian dari Allah merupakan tangga peningkatan derajat iman.

Ketiga, ridha bi rizqillah (rezeki Allah)  berarti menerima dan merasa cukup (qana’ah) terhadap rezeki yang dianugerahkan kepadanya, tidak rakus dan tidak serakah,  meskipun sedikit dan belum mencukupi kebutuhannya.

Dengan demikian, menggapai ridha Allah itu merupakan keharusan bagi setiap Muslim, karena Allah menjadikan ridha itu sebagai syiar kehidupan akhirat. 

Pada hari itu banyak (pula) wajah yang berseri-seri, merasa senang (ridha) karena usahanya (sendiri), (mereka) dalam surga yang tinggi.. (QS. al-Ghasyiyah/88: 8-10). Allah selalu memanggil hamba-Nya yang berhati ridha. “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.” (QS. al-Fajr/89: 27-28)

Selain itu, Allah menjadikan ridha itu sebagai salah satu syarat terwujudnya rukun iman. Seseorang tidak disebut beriman manakala tidak ridha terhadap segala ketentuan Allah.
Ridha juga dapat mengantarkan Mukmin menjadi mukhlis, tulus ikhlas karena Allah sehingga amalan-amalannya dapat diterima oleh-Nya.

Ridha juga dapat menjadi obat hati yang dapat menangkal segala penyakit hati, sekaligus dapat membuat hati lapang dan merasa qana’ah terhadap segala pemberian Allah.

Ridha merupakan salah satu faktor yang menyebabkan hidup Muslim menjadi tenang, damai, tenteram, tidak diliputi keresahan dan kegalauan. Ridha merupakan salah satu jalan yang mengantarkan kepada pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah.

Dengan ridha, hamba dapat menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, menjauhkan diri dari perbuatan tercela dan sia-sia, karena standar ridha kepada Allah itu menuntut hamba untuk selalu taat dan bertaqwa kepada-Nya.

Menggapai ridha Allah senantiasa dilakukan dengan memperoleh ridha kedua orang tua dalam segala hal. Rasulullah Saw bersabda: “Ridha Allah itu tergantung pada ridha kedua orang tua; dan kemurkaan Allah itu juga tergantung pada kemurkaan keduanya.” (HR. Muslim)

Untuk lebih memantapkan usaha kita dalam menggapai ridha-Nya, ada baiknya kita selalu berdoa: "Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.“ (QS. an-Naml/27: 19)
, Oleh: Muhbib Abdul Wahab
sumber : www.republika.co.id

Monday, March 24, 2014

Kontes Ayam Ketawa Tingkat Nasional


BARAKATAK Baraya Ayam Ketawa Tatar Sunda yang didukung Harian Umum Galamedia, akan menyelenggarakan kontes Ayam Ketawa Tingkat Nasional bertempat di Balai Kotamadya Bandung, Minggu (23/3). Pada perhelatan bertajuk "Bandung Lautan Ketawa" tersebut, akan mem­perebutkan hadiah uang tabanas dan trofi cantik dari Gubernur Jabar dan Wali Kota Bandung.
"Misi dalam lomba ini untuk melestarikan ayam ketawa sebagai plasma nutfah asli Indonesia, yang mana di Bandung komunitasnya cukup banyak," kata ketua pelaksana gelaran, Harry Aprijati ketika beraudensi dengan Direktur PT Galamedia Bandung Perkasa (GBP), H. Hilaman Djayadirdja, beberapa hari lalu.

Harry menuturkan, lomba ini dalam rangka menyukseskan HUT Bandung Lautan Api. Menurutnya, komunitas Pecinta dan Pelestari Ayam Ketawa Bandung (PPAKB) bermaksud untuk ikut serta memeriahkan acara tersebut dengan mengadakan kontes ayam ketawa. "Diharapkan, acara ini juga bisa turut membantu dalam meningkat­kan potensi pariwisata Bandung dan Jawa Barat," harapnya.

Menurutnya, dalam lomba yang bakal dikemasnya itu akan diikuti oleh penghobi ayam ketawa dari seluruh Indonesia. "Dengan banyaknya penghobi dari luar kota, otomatis akan meningkatankan kunjungan wisatawan dari luar Bandung," ujarnya.

Berangkat dari kecintaan dan keinginan melestaraikan ayam ketawa di Tatar Sunda, Harry Apjati merasa optimistis perehelatan yang akan diselenggarakannya itu akan banyak mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan.

Pada kesempatan itu, Harry juga sempat sedikit menceritakan tentang ayam ketawa. Menurutnya, ayam ini termasuk jenis ayam hias karena selain sosok tubuhnya yang gagah dengan bulu berwarna indah, bunyi kokoknya juga memiliki ciri khas tersendiri seperti orang sedang tertawa. "Karena itulah, unggas jenis ini dinamakan ayam ketawa," katanya.

Diceritakan pula, awalnya ayam ketawa hanya berkembang di lingkungan Keraton Bugis dan hanya boleh dipelihara oleh para raja. Sebagian orang meyakini, ayam ketawa memiliki kekutan mistis sesuai jenis warna dan coraknya. Tapi seiring perkambangan waktu, ayam ketawa kini sudah tersebar di seluruh Indonesia dan komunitasnya cukup banyak.

"Saat ini jumlah penggemarnya terus berkembang pesat. Karena itulah, kami berharap dalam kontes perdana setingkat nasional ini akan berlangsung semarak," tuturnya.
sumber klik-galamedia.com