-
-

Friday, October 24, 2014

Takwa Sosial

Alkisah ketika mengajarkan surah al-Ma’uun dan meminta para santri mengulang-ulang surah tersebut, Kiai Ahmad Dahlan ditanya perihal mengapa surat itu saja yang dibaca dan diulang. Mendengar pertanyaan itu, Kiai Dahlan balik bertanya, “Apakah kalian sudah paham surat ini? Apakah kalian sudah mempraktikkannya?”

Dahlan lantas meminta murid-muridnya untuk mencari orang paling miskin yang bisa ditemui di masyarakat, kemudian memandikannya dan menyuapinya. Kisah ini mengajarkan bahwa Alquran tidak hanya dibaca untuk penghias kesalehan pribadi, tapi juga dipraktikan dalam amal sosial.

Menurut Yusuf al-Qaradhawi, surah al-Ma’un ini berbicara mengenai keharusan adanya kaitan antara amal ritual dan amal sosial dalam beragama. Jika ditelisik lebih jauh, Alquran lebih banyak menekankan amal sosial daripada amal ritual.

Pertama, kalau kita kembali kepada ciri-ciri orang mukmin atau orang bertakwa maka ditemukan di situ ibadah ritualnya satu, tetapi ibadah sosialnya banyak. Misalnya, berbahagialah orang-orang yang beriman yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya (dimensi ritual); yang mengeluarkan zakat (dimensi sosial); orang yang berpaling dari hal-hal yang tidak bermanfaat (dimensi sosial); dan mereka yang memelihara kehormatannya kecuali kepada istrinya (dimensi sosial).

Anehnya kita sering mengukur orang takwa dari ritualnya ketimbang sosialnya. Kedua, kalau ibadah itu ibadah ritual dan kebetulan pekerjaan itu bersamaan dengan pekerjaan yang lain yang mengandung dimensi sosial, kita diberi pelajaran mendahulukan yang sosial. Misalnya, Nabi SAW pernah melarang membaca surah yang panjang-panjang di dalam shalat berjamaah. Nabi pernah memperpanjang waktu sujudnya hanya karena di pundaknya ada cucunya di situ. Dalam sebuah riwayat, bahkan hal tersebut dilakukan ketika nabi sedang shalat sunah.

Ketiga, kalau ibadah ritual kita bercacat, kita dianjurkan untuk berbuat sesuatu yang bersifat sosial. Misalnya, ritual puasa.

Oleh: Abdul Aziz

sumber : www.republika.co.id

Thursday, October 23, 2014

Napas Waktu Subuh

Dalam Alquran Allah SWT sering bersumpah dengan waktu, dari waktu fajar (subuh), dhuha, siang hari, sore, dan senja (ashar), hingga malam hari. Menurut para pakar tafsir, setiap benda atau sesuatu yang dijadikan objek sumpah oleh Allah terkandung di dalamnya dua makna.

Pertama, menunjukkan sesuatu itu penting atau terkandung kebaikan di dalamnya. Kedua, ia menjadi tanda atau penunjuk jalan bagi kekuasaan dan kebesaran Allah SWT yang mesti dipahami.

Dalam surah at-Takwir, Allah bersumpah dengan waktu subuh. “Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (QS at-Takwir [81]: 18). Sumpah ini menarik. Dalam Alquran tidak ada benda tidak bernyawa dinyatakan “bernapas” (hidup), kecuali waktu subuh. Apa maknanya?

Mutawalli Sya’rawi memahami ayat ini sebagai tasybih, yakni analogi kedatangan agama Islam dengan waktu subuh. Subuh merupakan permulaan hari ketika cahaya [fajar] mulai bersinar. Subuh juga menyemburkan udara segar yang sangat berguna bagi kesehatan manusia.

Seperti waktu subuh, kedatangan agama Islam memulai kehidupan baru, menyibak kegelapan kelam jahiliyah. Dengan Islam, kehidupan bisa dimulai kembali dan manusia bisa bernapas lega dengan bimbingan dan petunjuk Alquran.

Karena bercahaya dan mengeluarkan udara segar, waktu subuh dipandang sebagai makhluk hidup, bernapas (bernyawa).
Kalau pada malam hari pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan mengeluarkan racun (karbon dioksida), saat subuh (pagi hari), pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan mengeluarkan oksigen alias udara pagi yang bersih dan sejuk.

Napas waktu subuh itu berkah bagi manusia. Nabi Muhammad SAW pernah berdoa, “Allahumma barik li-ummati fi bukuriha” (Ya, Allah berikan keberkahan bagi umatku pada permulaan harinya.) (HR Abu Daud dan Thirmidzi).

Keberkahan waktu subuh itu berdimensi fisik dan nonfisik (spiritual). Dari sisi spiritual, dua rakaat shalat (sunah) fajar disebut oleh Nabi SAW, “lebih baik dari dunia dan segala isinya.” (HR Muslim).

Orang-orang terbaik dari generasi sahabat dan tabi’in (al-salaf al-shalih) tidak pernah tidur lagi setelah melakukan shalat Subuh. Mereka berzikir dan membaca wirid-wirid hingga matahari terbit. Tak lama setelah itu, mereka melaksanakan shalat Dhuha, kemudian mereka memulai kerja dan aktivitas.

Dari sisi fisik (duniawi), keberkahan (napas) waktu subuh itu dikaitkan dengan kesehatan, kemajuan ekonomi, dan kesuksesan dalam hidup. Rasulullah SAW pernah mengingatkan Fatimah al-Zahra, putrinya, agar tidak tidur lagi setelah shalat Subuh. (HR Baihaqi).

Pada kesempatan lain, Rasul juga mengingatkannya agar bangun pagi dan giat mencari rezeki. Sebagaimana sabdanya, “Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya, pada pagi hari terdapat berkah dan keberuntungan.” (HR Thabrani dan Al-Bazzar).

Dalam banyak penelitian diketahui, orang yang rajin bangun pagi, beribadah, dan berolahraga, ia lebih sehat (bugar), lebih produktif, dan memiliki peluang lebih besar meraih kesuksesan.

Bagi orang-orang yang tinggal di perkotaan, keberkahan waktu subuh itu sangat nyata. Tidak bangun pagi, berarti petaka. Telat pergi ke kantor, stres di jalan karena macet, dan banyak energi terbuang percuma. Wallahu a’lam.

Oleh: A Ilyas Ismail

sumber : www.republika.co.id

Monday, October 20, 2014

Lembur Salawe Hanya Dihuni 25 Kepala Keluarga

CIAMIS, (PRLM).- Dari sekian banyak tempat di Tatar Galuh, ada satu wilayah yang sejak jaman dulu hingga saat ini masih kental dengan tradisinya yakni Lembur Salawe. Terletak di Dusun Tunggarahayu, Desa/Kecamatan Cimaragas, Kabupaten Ciamis. Sesuai namanya, di wilayah yang lokasinya tidak jauh dari aliran Sungai Citanduy itu hanya dihuni 25 tugu atau kepala keluarga.
Lokasi tersebut berada di sisi jalur alternatif Ciamis - Kota Banjar, lewat Kkecamatan Cimaragas. Berjarak sekitar 400 meter dari Situs Sang Hyang Maharaja Cipta Permana Prabudigaluh Slawe. Situs yang juga menyimpan sebanyak 25 petilasan itu cukup asri karena banyak terdapat pohon besar.
"Sejak jaman nenek moyang sampai sekarang di lembur Salawe hanya dihuni 25 tugu atau kepala rumah tangga. Jumlah rumah juga hanya 25, akan tetapi sekarang sudah bertambah," tutur Juru Pelihara Situs Sang Hyang Maharaja Cipta Permana Prabudigaluh Salawe, Iswanto Tirtawijaya (25).
Didampingi Jagabaya Tanto Herdianto (34), saat ditemui di Pos Kamling masuk Lembur Salawe, dia mengungkapkan, apabila ada keturunan tugu hendak membangun rumah baru, maka harus di luar lembur Salawe.
"Pada intinya jumlah tugu tidak pernah kurang atau bertambah, tetap 25," katanya.
Seiring dengan perkembangan jaman, lanjutnya rumah tradisional yang sebelumnya berupa rumah panggung, saat ini sudah banyak yang diganti dengan rumah semi permanen. Meskipun demikian, tutur Iswanto, banyak warga yang kembali menginginkan membangun rumah tradisional.
"Tidak hanya bentuk rumah panggung, beberapa bagian ruangan dalam rumah juga ada bagian-bagiannya. Misalnya kamar, dapur, tempat menimpan hasil panen dan lainnya," jelasnya.
Kedua pemuda yang mengenakan pakaian pangsi dengan iket di kepalanya, menambahkan perkembangan jaman tidak mengurangi atau melunturkan warga Salawe mempertahankan tradisi. Misalnya Masalain atau Ngikis yang digelar menjelang bulan puasa.
Sebelum panen, warga juga melakukan ritus berdoa agar hasil panen mendatang melimpah serta bebas dari serangan hama.
"Sampai sekarang tradisi Masalin dan ritus menjelang panen masih kami pertahankan. Banyak nilai yang terkandung dalam keguatan tersebut, tidak hanya yang tersurat atau yang tampak saja, akan tetapi juga makna yang tersirat," katanya.
Keduanya juga mengaku minimnya perhatian Pemerintah Kabupaten Ciamis terhadap keberadaan Lembur Salawe.Ppadahal, lembur Salawe berikut situs yang ada di tempat tersebut merupakan kekayaan budaya nasional. (nurhandoko wiyoso-"PR"/A-88)
Sumber http://www.pikiran-rakyat.com/node/300969

Wednesday, October 15, 2014

Wisata Alam Citumang Tawarkan Sensasi Berbeda

Kini, Objek Wisata Alam Citumang, di Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, telah menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi turis. Khususnya bagi mereka yang ingin mencari sensasi tempat wisata berbeda di Pangandaran.
Selama ini, pengujung yang datang ke Pangandaran mayoritas hanya menghabiskan waktu di Pantai Pangandaran, Pantai Batukaras, atau Green Canyon. Tetapi, dengan kehadiran Citumang itu menjadi daya tarik tersendiri.
Dikatakan Maman Sukirman, selaku Petugas Pengelola Objek Wisata Alam Citumang saat ini pengunjung yang datang ke tempat itu rata-rata dapat mencapai 100 orang pada hari biasa. Tetapi, memasuki hari libur atau libur panjang dapat mencapai lebih dari 300 orang.
"Citumang telah menjadi tujuan wajibnya wisatawan ke Pangandaran. Kebanyakan mereka datang ke sini, karena sudah jenuh atau ingin mencari suasana baru dari Pantai Pangandaran," ujarnya, Selasa (7/10/2014).
Maman menjelaskan, Citumang memang memiliki keunikan tersendiri. Sebab, aliran sungainya berwarna hijau kebiruan. Kemudian ada gua berukuran besar serta air terjun. Lalu ada gua di balik air terjunnya.
Pengunjung pun dapat melakukan aktifitas body rafting di sana. Dengan waktu hampir mencapai dua hingga tiga jam.
Selain body rafting, kini pengelola pun terus berbenah tempat tersebut. Yakni dengan membuat kolam buatan berukuran kecil.
"Body rafting hanya dapat dilakukan oleh remaja dan dewasa. Namun, banyak juga anak-anak kecil yang ingin merasakan sensasi di sini. Untuk itu kami membuatkan kolam kecil," jelasnya.
Lokasi kolam kecil untuk anak-anak kini sedang dibuat dekat dengan kali Citumang. Dan, airnya pun tetap dari aliran Citumang.
Sumber pikiran-rakyat.com

Monday, October 13, 2014

Kesenian Reak Selalu Tampil dengan Keunikan

Atraksi kesenian reak tidak selalu harus ditampilkan dalam bentuk helaran atau pawai lengkap dengan seperangkat alat kesenian berikut pengeras suara. Seperti kesenian pada umumnya reak dengan bengberokan dan kuda lumping juga dapat ditampilkan di atas panggung dengan dikemas serta sentuhan lebih menarik.
Hal ini dipertunjukan oleh 12 grup kesenian tradisional reak dari Kota
Bandung dan sebagian Kabupaten Bandung serta Sumedang, pada pergelaran
bertajuk “Gebyar Seni Tradisional Reak Sa-Bandung Timur”, Minggu
(12/10) di Lapangan Kampung Jati RT 03 RW 06 Kel. Pasir Biru,
keseniaKec. Cibiru Kota Bandung.
“Sebenarnya ada sekitar 40 grup reak di daerah Bandung timur Kota Bandung dan tidak kurang dari 20 grup sekitar perbatasan Kota Bandung seperti Cileunyi, Rancaekek dan Jatinangor, tapi karena keterbatasan waktu dan anggaran untuk saat ini kami hanya mampu mengundang 12 grup saja,” ujar tokoh kesenian reak Cibiru, Abah Enjum.
Kesenian reak yang ditampilkan menunjukan keunikan yang dimiliki
masing-masing kelompok atau grup reak. Seperti Reak Sadulur yang mampu
mengeluarkan kain dari dalam buah kelapa, kelompok saluyu yang mampu
menjadikan penonton bagian dari mereka turut kerasukan dan bermain,
serta lainnya. (Retno Heriyanto/A-147)***
pikiran-rakyat.com

Thursday, October 09, 2014

Taat Pada Suami

Seorang lelaki datang menghampiri Rasulullah SAW. Sekonyong-konyong, Muadz, nama lelaki itu, menghampiri kaki Baginda Nabi Muhammad dan bersujud di hadapannya. 

Maka, Rasulullah pun menegur Muadz. “Apa yang kau lakukan ini, wahai Muadz?” Dia lantas menjawab, “Aku mendatangi Syam, aku dapati mereka (penduduknya) sujud kepada uskup mereka. Maka aku berkeinginan dalam hatiku untuk melakukannya kepadamu, wahai Rasulullah.”

Rasulullah SAW pun melarang Muadz. “Jangan engkau lakukan hal itu karena sungguh andai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabb-nya sampai ia menunaikan hak suaminya. Seandainya suaminya meminta dirinya dalam keadaan ia berada di atas pelana (hewan tunggangan) maka ia tidak boleh menolaknya.”

Hadis yang diriwayatkan dari sahih Ibnu Majah dan sahih Ibnu Hibban dari Abdullah Ibnu Abi Auf RA tersebut menggambarkan betapa seorang istri harus taat kepada suami. Islam meninggikan kedudukan seorang suami sebagai imam sehingga istri harus patuh.

Ketaatan seorang istri kepada suami merupakan bagian penting yang harus diperhatikan oleh seorang istri. Ketaatan kepada suami menunujukkan kesalehan seorang istri. Hal ini dapat kita pahami dari firman Allah SWT yang termaktub dalam Alquran surah an-Nisa (4) ayat 34.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” 

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian, jika mereka menaatimu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”

Ketika seorang istri taat dan patuh kepada suaminya, akan menjadi sebab bagi sang istri mendapatkan surga. Sebaliknya, pembangkangan seorang istri terhadap suaminya akan berakibat mendapatkan laknat Allah dan di akhirat masuk neraka.

Dalam saahih Ibnu Abi Hatim dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.”

Dalam hadis lain, “Jika seorang suami mengajak istrinya berhubungan dan istri menolak, lalu suami marah kepadanya sepanjang malam, para malaikat melaknat istri itu sampai pagi.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, bisa dikatakan, bila surganya anak itu terletak pada telapak kaki (keridaan) ibu, surganya istri itu terletak pada telapak kaki (keridaan) suami. Dari Ummu Salamah ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Wanita (istri) mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridoa kepadanya niscaya ia akan masuk surga.”(HR Tirmidzi)

Untuk itu, seorang istri yang ingin dimasukkan ke surga, hendaknya ia selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mencari keridaan suami dengan cara taat dan patuh kepada suaminya. Ketaatan sepanjang suaminya itu tidak memerintahkan dan mengajak kepada kemaksiatan dan kemungkaran. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada khalik (Allah).” Wallahu’alam.
Oleh: Mochammad Hisyam

Thursday, September 25, 2014

Wisatawan Keluhkan Mengeringnya Situ Bagendit

GARUT, (PRLM).- Sejumlah wisatawan pengunjung Situ Bagendit mengeluhkan permukaan air danau yang surut selama musim kemarau ini. Dampaknya, banyak dari wisatawan yang hanya menikmati pemandangan dari pinggir danau dan tidak menyewa perahu atau rakit untuk megelilingi objek wisata yang terletak di Desa Banyuresmi, Kecamatan Banyuresmi, Garut itu.
Berdasarkan pantauan “PRLM” pada Minggu (21/9/2014), permukaan air danau turun sekitar satu meter dibanding dua bulan lalu. Di beberapa titik, tanah dan bebatuan menyembul di antara air. Semak belukar, ranting kering, dan sampah plastik yang terbawa arus juga menumpuk di beberapa titik.
Namun demikian, luas area danau yang dapat dikelilingi dengan rakit dan perahu kayuh bertambah luas. Hal itu terjadi karena eceng gondok yang sebelumnya menutupi 2/3 luas danau kini sudah mulai berkurang. Saat ini eceng gondok hanya menutupi sebagian luas danau.
Salah seorang wisatawan, Andri Wijaya(25) menyatakan, keindahan Situ Bagendit berkurang karena riak air danau tidak banyak terlihat lagi. Ranting kering dan sampah plastik juga mencemari pemandangan.
“Tapi di sisi lain, ada perubahan mencolok yaitu berkurangnya eceng gondok. . Limbah eceng gontok yang menumpuk di tepi danau juga sduah diangkut dan tidak mengganggu aktivitas pengunjung,” katanya.
Mahasiswa asal Bandung tersebut tidak menyangka jika permukaan danau surut sebanyak itu. Pasalnya, di sepanjang jalan menuju danau, saluran irigasi masih penuh. Sawah sawah juga masih hijau dan terairi dengan baik.
Pengunjung lainnya, Citra Utami (31) menyatakan kecewa karena tidak puas berkeliling menggunakan perahu kayuh. Meski permukaan danau yang tidak tertutup eceng gondok meluas, perahu yang disewanya kerap terantuk dasar danau di beberpa titik yang dangkal.
“Kami pun hanya berkeliling di tengah danau saja dan tidak bisa jauh jauh. Kalau musim kemaraunya masih lama. Bisa jadi nanti sarana perahu tidak bisa dinikmati karena danau mengering,” ucapnya.
Kondisi tersebut dibenarkan petugas penjaga karcis perahu kayuh, Ajat (39). Menurutnya, ketinggian air sejak beberapa pekan lalu hanya sekitar setengah meter dan terus menurun. Hal itu menyulitkan para pengusaha perahu dan rakit dalam menggaet pengunjung.
Sekali putaran, pengunjung dipungut biaya Rp 20.000 untuk menyewa perahu kayuh berkapasitas maksimal 4 penumpang. Objek wisata Situ Bagendit hanya ramai dikunjungi pada hari Minggu baik oleh wisatawan lokal maupun dari luar Garut.
“Memang banyak pengunjung yang mengurungkan niatnya menyewa perahu. Kami juga harus menggali dasar danau di sekitar dermaga agar perahu dan rakit bisa bergerak,”
Ajat menyatakan, hanya terjadi sedikit penurunan jumlah penyewa perahu dibanding bulan lalu. Namun dia khawatir mengeringnya danau akan mem buat penyewa jauh berkurang pekan depan.
Beberapa pemancing juga mengeluhkan semakin sulitnya mendapat ikan. Mereka harus pergi jauh ke bagian barat danau untuk mendapat lokasi memancing yang cocok.
“Saya sudah sekitar 6 jam memancing tapi belum mendapat satu pun ikan. Padahal beberapa bulan lalu bsia bawa 4-5 ikan,” tutur seorang pemancing, Hilman (30). (Yusuf Wijanarko/A-89)***

Wednesday, September 24, 2014

Busa Terbang Bakal Hiasi Kota Bandung

Saat Hari Jadi Ke-204 Kota Kembang
PIJARAN kembang api dan flugos (busa terbang) yang membentuk huruf akan menghiasi Kota Bandung pada malam puncak peringatan HUT ke-204 Kota Kembang, Sabtu (27/9). Di sudut kota lainnya pesta rakyat dan parade artis siap menghibur warga.
"Puncak acara hari jadi ke-204 Kota Bandung akan dimeriahkan kembang api. Dananya sekitar Rp 1,2 miliar dari seorang pencinta Kota Bandung, bukan dari APBD," tegas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Herlan J.S. di Jln. Sumatra, Selasa (23/9).
Atraksi kembang api akan digelar Sabtu (27/9) pukul 22.00 WIB atau 23.00 WIB di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Dipastikan aksi kembang api ini akan berlangsung spektakuler dan lebih meriah dari perayaan hari jadi Jawa Barat.
"Sekitar 20 menit kembang api akan menyala di langit Kota Bandung. Dengan anggaran sebesar itu, tentu saja kembang apinya tidak main-main dan bukan kembang api biasa. Ini akan spketakuler, lebih waktu hari jadi Jawa Barat," jelas Herlan.
Ketinggian kembang api sendiri diperkirakan menyamai tinggi Monumen Nasional (Monas).
Busa terbang
Sebelum atraksi kembang api, digelar pesta rakyat di Jln. Dago mulai Jln. Hasanudin hingga Dago Cikapayang. Acara digelar pada Sabtu (27/9) mulai pukul 12.00 - 24.00 WIB.
"Pesta rakyat ini akan dimeriahkan busa terbang. Busa dengan berbagai huruf dan logo Bandung ini akan beterbangan selama tiga jam. Ini juga dananya dari sponsor," tandasnya.
Busa terbang bisa mengapung selama lima menit dengan ketinggian 1 km. Anggarannya sekitar Rp 25 juta dari sejumlah komunitas.
"Sudah lima menit habis dan menghilang. Ini pengganti lampion terbang," katanya.
Ada juga hiburan yang rencananya diisi artis-artis ternama Indonesia. Namun nama-nama artis ini belum ditentukan, meski sejumlah band seperti Gigi, Kahitna, Mocha, dan solois Tulus menjadi pilihan pengisi acara. Warga pun bisa menikmati Kuliner Night yang diisi 100 stan. Selain itu, Creative Awards yang akan diberikan pada dua orang dan dua organisasi kreatif.
"Creative Awards mah salah satu program Disbudpar. Anggarannya Rp 200 juta dari APBD. Tapi kalau acara band, kuliner, dan kembang api dari sponsor," terang Herlan.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol. Mashudi menegaskan, pihaknya akan mendukung penuh seluruh program dan kegiatan Pemkot Bandung berkaitan dengan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-204 yang puncaknya jatuh pada 25 September mendatang. Seluruh perizinan, kata Mashudi, sudah tidak ada masalah.
"Izin HJKB sudah tidak ada masalah. Semua sudah beres," ujarnya saat ditemui di lokasi penggerebekan pabrik mi berformalin di Jln. Kopo, Gg. H. Mukti Dalam 4, RT 09/RW 06, Kel. Situsaeur, Kec. Bojongloa Kidul, kemarin.
Sejauh ini, kata Mashudi, koordinasi antara Pemkot Bandung dan polrestabes sudah berjalan baik. Bahkan untuk mematangkan seluruh rangkaian acara HJKB, hari ini, Rabu (24/9) akan kembali digelar rapat bersama.
"Rapat akan digelar besok malam (hari ini, red) terkait rangkaian acara yang akan digelar. Hanya untuk mematangkan saja. Tapi intinya kami dukung 100 persen seluruh acara," paparnya.
Ditambahkan Mashudi, dalam rangkaian acara yang akan digelar pemkot tersebut, pihaknya menyiapkan sedikitnya 2.000 pasukan. Baik dari Polrestabes Bandung maupun seluruh jajaran polsekta yang ada. "Semua sudah kita siapkan. Kita siap amankan acara ulang tahun ini," ujarnya.
Cara mubazir
Seperti halnya pesta De'Syukron pada hari jadi Provinsi Jabar, rencana HUT Kota Bandung dengan pesta kembang api akbar, menuai pro dan kontra di masyarakat. Meskipun kegiatan tersebut digelar guna mengundang wisatawan sekaligus mengembalikan kejayaan Kota Bandung.
Pesta kembang api akbar dengan mendatangkan kreografer dari Singapura sah-sah saja. Tapi selaku umat beragama sebaiknya tidak semua dilakukan tanpa berlebihan.
Demikian disampaikan pemerhati kebijakan publik UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Sahya Anggara, M.Si. saat dikonfirmasi "GM" di kampus UIN SGD, Jln. A.H. Nasution Bandung.
Menurut Sahya, perbuatan mubazir tentunya dilarang agama. Sedangkan perbuatan yang berlebih-lebihan banyak mudaratnya ketimbang maslahatnya.
Selain itu, perbuatan yang berlebihan juga merupakan pemborosan. Meskipun tidak mempergunakan APBD, seharusnya lebih bermanfaat dengan cara-cara simpatik dan dapat dirasakan langsung oleh warga.
"Pesta kembang api itu cara mubazir, karena hanya dapat dilihat. Ada baiknya menggelar sesuatu yang dirasakan masyarakat Kota Bandung," kata Dekan FISIP UIN SGD Bandung ini.
Sahya juga menyatakan, pesta kembang api tidak serta merta mendatangkan simpati. Sebaliknya bisa merugikan karena merupakan pemborosan dan kurang bermanfaat.
HUT Kota Bandung bisa tetap digelar dengan lebih sederhana dan meriah tanpa kehilangan maknanya sebagai momentum untuk introspeksi bagi seluruh elemen warga Kota Bandung.
Sumber klik-galamedia.com

Tuesday, September 23, 2014

Musyawarah dan Tawakal

Dalam sejarah Islam dikenal Perang Uhud yaitu peperangan yang terjadi antara kaum Muslimin dan Musyrikin.
Sebelum berperang, Rasulullah SAW dengan para sahabatnya dan pasukan perangnya menggelar musyawarah untuk mengatur taktik dan strategi Perang. 

Kemudian peserta musyawarah pun menyepakati strategi perang untuk menghadapi kaum musyrik. Namun, dalam Perang Uhud, pasukan kaum Muslim mengalami kekalahan.

Hal itu disebabkan pasukan perang yang ditugaskan untuk tetap di pos, ia indisipliner meninggalkan pos yang ditugaskan Nabi Muhammad SAW.

Ia ingin mengejar keuntungan material yaitu gonimah perang yang akhirnya pada Perang Uhud pasukan kaum muslimin mengalami kekalahan, tidak seperti pada perang Badar yang meraih kemenangan yang gemilang.

Allah SWT berfirman ”Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah.” (Q.S Ali Imron 159).

Mukmin yang bertawakal akan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah SWT dan meyakini hanya Allah-lah yang mampu memberi atau tidak memberi sesuatu dan mendatangkan manfaat atau marabahaya.

Bangsa Indonesia telah menyelenggarakan Pemilu Pilpres 9 Juli 2014 dengan sukses, tidak ada gangguan yang berarti bahkan Obama memuji dan mengucapkan selamat kepada penyelenggaraan Pemilu Pilpres di Indonesia berjalan sukses. 

Tanggal 22 Juli 2014 hasil Pilpres diumumkan KPU dan ditetapkan pemenangnya, karena itu kita sebaiknya menyikapi hasil Pilpres dengan sikap: Pertama, bersyukur. Kita bersyukur kepada Allah SWT, Pilpres telah berjalan sukses.

Sebagai bangsa Indonesia, kita harus bangga sebagai Negara Demokrasi terbesar nomor tiga di dunia setelah Amerika dan India, sesuai dengan Firman Allah SWT  ”Kalau kita bersyukur maka Allah akan menambah, tetapi jika kufur maka Allah menyiksa dengan siksa yang pedih.”

Kedua: Legowo. Capres Cawapres dan pendukungnya legowo, siapapun yang menang harus kita dukung. Yang menang adalah rakyat Indonesia. Mari kita kembali ke asal hidup bangsa kita rukun dan damai, yang menang tidak arogan dan yang kalah tidak putus asa.

Silahkan bersaing kembali lima tahun yang akan datang. Kita harus membangun jiwa kesatria, siap kalah dan siap menang sehingga kita dapat mewariskan tradisi yang positif yang bisa diteladani generasi setelah kita dalam berdemokrasi secara santun, cerdas dan dewasa.

Ketiga: Ambil hikmah. Kedua Capres dan Cawapres sudah berusaha seoptimal mungkin agar menang namun kenyataan menunjukan menurut peraturan hanya ada satu pemenang sebagai Presiden dan Wakil Presiden, karena itu ambil hikmah dari yang terjadi.

Firman Allah SWT  ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S Al Baqarah:216).

Karena itu, kita bangsa Indonesia harus mengambil hikmahnya apa yang terjadi pada kita mungkin lebih baik bagi bangsa kita. Marilah kita bermusyawarah dan bertawakal kepada Allah SWT.
   
Mudah mudahan Presiden dan Wakil Presiden terpilih dapat meningkatkan kesejahteraan yang berkeadilan lebih baik lagi di masa mendatang.

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, August 20, 2014

Jasad dan Ruh Alquran

Alquran itu terdiri dari jasad dan ruh. Hal ini dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadisnya, “Lahu dzahrun wabathnun” (baginya (Alquran) mempunyai jasmani (zahir) dan ruhani (batin).” (Syarhussunnah)

Dalam kitab Fadhailul Amal, disebutkan sebagian ulama berpendapat yang dimaksud dengan jasad Alquran adalah merujuk pada kalimat-kalimat dalam Alquran yang dapat dibaca dengan baik oleh setiap orang.

Sedangkan, batin (ruh) Alquran merujuk pada maksud-maksudnya, baik yang tersurat maupun tersirat, yang pemahamannya berbeda sesuai dengan kemampuan pembacanya.

Di antara hikmah adanya jasad dan ruh Alquran ini untuk menunjukkan kepada kita bahwa Alquran bukan sekadar kitab bacaan semata, melainkan merupakan kitab pedoman hidup yang harus dijadikan rujukan dalam bersikap dan beramal yang bisa diawali dengan membaca dan memahaminya.

Oleh karena itu, Allah SWT menjadikan Alquran dengan menggunakan bahasa Arab, bukan hanya karena Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai orang Arab. Lebih daripada itu, bahasa Arab adalah bahasa yang mudah dipelajari dan dipahami setiap orang dari berbagai suku dan bangsa.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya.” (QS Yusuf [12]: 2).

Selain itu, Allah SWT menjadikan Alquran sebagai sesuatu yang mudah dibaca, mudah untuk dipahami, dan mudah untuk dipelajari sehingga dapat memberikan kemudahan kepada kita untuk mengamalkannya.

Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS al-Qomar (54): 17)

Ketika kita mampu menyatukan jasad dan ruh Alquran, akan menjadikan kita mendapatkan ilmu yang luas dan mendalam.
Ibnu Masud berkata, “Jika kamu ingin memperoleh ilmu, hendaklah kamu memikirkan dan merenungkan makna-makna Alquran karena di dalamnya mengandung ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang yang sesudahnya.''
Ketika kita mampu menyatukan jasad dan ruh Alquran, kitab suci itu akan hidup dalam diri kita yang tergambar dari akhlak-akhlak keseharian kita. Inilah yang dibuktikan Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW digambarkan sebagai sosok Alquran yang berjalan.

Hal ini ini dinyatakan oleh Aisyah RA ketika ia ditanya mengenai akhlak Rasulullah SAW. Beliau menjawab, “Budi pekerti Nabi SAW adalah Alquran.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad).

Sebagai seorang Muslim sudah selayaknya kita berupaya menghidupkan jasad dan ruh dari Alquran agar tidak hanya sebagai bacaan semata, lebih daripada itu dapat menjadi petunjuk bagi kita dalam mengarungi kehidupan dunia ini.

Kini, kita berada pada bulan Ramadhan. Pada bulan ini Rasulullah SAW selalu menghidupkannya dengan menyatukan jasad dan ruh Alquran.

Dalam hadis riwayat Bukhari dinyatakan Rasulullah SAW memperbanyak membaca Alquran al-Karim pada Ramadhan dan Malaikat Jibril datang kepada beliau untuk membacakan Alquran.

Untuk itu, mari kita upayakan untuk selalu membaca Alquran dengan sebaik-baiknya dan kita pahami maksudnya.
Lalu, berupaya untuk mengamalkannya sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW sehingga jasad dan ruh Alquran dapat kita amalkan dalam keseharian. Wallaahualam.
, Oleh: H Moch Hisyam
sumber : www.republika.co.id

Sunday, August 17, 2014

Menaklukkan Waktu

Waktu merupakan salah satu nikmat Allah yang paling berharga yang dianugerahkan kepada para hamba-Nya.

Dalam Alquran disebutkan bahwa manusia itu akan mengalami kehancuran jika tidak memanfaatkan waktunya untuk kebaikan, sebagaimana firman Allah, “Dan demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS al-'Ashr [103]: 1-3).

Imam Fakhrurrazi dalam tafsirnya tentang surah al-'Ashr tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan al-'Ashr itu adalah waktu atau masa. Masa adalah sesuatu yang sifatnya sangat unik dan mengagumkan. Beragam kisah anak manusia terjadi silih berganti pada lintas generasi.

Kualitas kehidupan seorang anak manusia sangat tergantung dari caranya memanfaatkan waktu. Hidupnya akan berarti dan bernilai jika ia dapat memaksimalkan peran waktu di kehidupannya. Sebaliknya, kerugian dan kegagalanlah yang akan diperoleh saat dia menyia-nyiakan waktu yang dilaluinya.

Rasulullah SAW dalam hadisnya menjelaskan tentang urgensi waktu sebagai berikut,  “Ada dua jenis nikmat yang sering kali dilalaikan kebanyakan orang, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” Kedua nikmat ini merupakan anugerah tak terhingga dari Allah SWT  yang harus dimanfaatkan secara maksimal.

Terkait interpretasi dari hadis ini, Ibnul Jauzi menjelaskan, terkadang seseorang berada dalam kondisi sehat tapi tidak mempunyai waktu luang akibat tersita oleh pekerjaan dan urusan duniawi lainnya.

Sebaliknya saat seseorang mempunyai waktu luang namun tetap tidak bisa memanfaatkannya karena kondisi kesehatannya yang buruk sehingga waktu luang pun akan berlalu dengan sia-sia.

Dengan demikian, usia pada dasarnya tidaklah bernilai apa-apa dalam kehidupan ini, karena sebenarnya yang berharga itu adalah value dari pemanfaatan waktu. Value inilah yang akan membuat usia seseorang memiliki makna dan kualitas.

Seorang yang menyia-nyiakan puluhan tahun dari usianya, namun di saat-saat terakhirnya ia bertobat dan berbuat kebaikan maka kualitas usianya itu hanya di penghujung usianya saja. Ini menguatkan pernyataan dari ayat yang disebutkan sebelumnya.

Menarik sekali pernyataan dari Imam Syafi'i yang mengatakan bahwa selama dia bergaul dengan para ahli sufi, hanya dua pernyataan yang selalu dia dengar dari mereka, yaitu “Waktu itu ibarat pedang, jika kau tidak membunuhnya (waktu) maka dialah yang akan membunuhmu.”

Pernyataan lainnya, “Dan waktumu... jika tidak kau pergunakan untuk kebaikan maka dia akan menyibukkanmu dengan kejahatan.” Wallahu a'lam bish shawwab.
Oleh: Rafiqah Ahmad Lc MA

sumber : www.republika.co.id

Friday, August 15, 2014

Pertemanan Abadi

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak pernah lepas dari teman atau pertemanan, baik teman pada masa kecil dulu, teman pada waktu sekolah, ataupun teman dalam bisnis dan dalam perjuangan di jalan Allah SWT. Pertemanan adalah kecenderungan dasar manusia. Maka, sejatinya tak ada hidup tanpa pertemanan.

Dampak baik dan buruk pertemanan tak diragukan lagi, baik dilihat dari perspektif agama maupun dari ilmu pengetahuan. Dalam adagium Arab malah  ada ungkapan “Al-Nas ala dini ash-habihim” (manusia mengikuti agama temannya). Jadi, yang penting bukan soal pertemanannya, tetapi dengan siapa seseorang berteman atau menjalin pertemanan.

Seperti dimaklumi, teman itu ada dua macam, yaitu teman baik dan teman buruk. Rasulullah SAW mengumpamakan teman baik seperti penjual minyak wangi. Ia suka mengoleskan minyak wangi ke baju kita atau kita membelinya, atau setidak-tidaknya, kita mengendus aroma wanginya.

Sedangkan, teman yang buruk diumpamakan seperti tukang pandai besi. Kalau dekat-dekat, baju kita bisa terbakar atau paling tidak kita mengendus baunya yang tak enak. (HR Muslim dari Abu Musa).

Tak heran bila orang tua, para guru, dan orang-orang saleh, selalu memberi nasihat agar kita jangan sampai keliru dalam memilih teman atau membangun koalisi pertemanan.  Sebab, akibatnya bisa sangat fatal, yaitu kerugian dan kegagalan, lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Penulis kitab Al-Hikam, Ibn Athaillah al-Sakandari, memberi nasihat soal pertemanan ini. Katanya, “Jangan pernah kamu berteman dengan orang yang sikap dan perkataannya tidak membimbingmu lebih dekat kepada Allah SWT.”

Ada dua kriteria yang ditekankan al-Sakandari, yaitu Hal (sikap mental) dan Maqal (kata-kata/perilaku). Term Hal menunjuk pada kondisi jiwa yang berisi keimanan, ibadah, dan kepatuhan kepada Allah SWT.

Dalam bahasa modern, Hal itu dinamai “kekuatan spiritual”. Ia diam, tidak berkata-kata (shamitah), tetapi pengaruhnya sangat dahsyat, menginspirasi, menggugah, dan mendorong orang lain pada kemuliaan dan kemenangan.

Sementara, term Maqal menunjuk pada perilaku dan keluhuran budi pekerti. Maqal adalah kecerdasan moral. Ia mengajak orang lain kepada yang baik (al-amr bi al-ma`ruf) dan mencegahnya dari kejahatan (al-nahyu an al-munkar) dengan cara-cara yang terhormat disertai sikap pantang kompromi dengan kebatilan.

Bagi al-Sakandari, hanya orang dengan dua kriteria di atas, layak dijadikan sebagai teman. Dialah teman abadi. Lain tidak! Lantas, siapa mereka? Mereka tak lain adalah orang-orang yang memperoleh petunjuk dan anugerah dari Allah. Mereka adalah orang-orang terbaik dan teladan dalam kemuliaan.

Seperti nasihat al-Sakandari, kita hanya boleh berteman dan membangun koalisi pertemanan hanya dengan kelompok ini. Pertemanan dengan mereka akan abadi sebagai koalisi permanen yang akan meraih kemuliaan dan kemenangan sampai kelak di surga.

Allah SWT berfirman, “Dan, barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS al-Nisa' [4]: 69). Wallahu a’lam!
Oleh: A Ilyas Ismail

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, August 13, 2014

Tiga Warisan Ramadhan

Tamu agung itu telah pergi. Kita tidak tahu apakah tahun depan masih dipertemukan kembali atau tidak. Ya, bulan suci Ramadhan telah berlalu. Kini Syawal telah tiba. Harapan apa yang hendak diraih di bulan Syawal hingga bulan-bulan selanjutnya setelah kita digodok sebulan penuh di bulan Ramadhan?

Kita tidak ingin nuansa Ramadhan menjadi pudar. Untuk itu, spirit Ramadhan mesti kita jaga dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita terlena kembali oleh hiruk-pikuk dunia sehingga melupakan apa yang sudah kita bangun pada bulan Ramadhan.

Kita masih ingat bagaimana menyambut Ramadhan dengan antusias. Pada siang hari menahan lapar dan haus  serta menjaga dari hal-hal buruk. Selama Ramadhan kita bersemangat ibadah Tarawih dan tadarus Alquran. Kita juga rela bangun pukul tiga dini hari untuk sahur. Apakah antusiasme dan keseriusan itu masih ada di bulan ini?
 
Bulan suci Ramadhan memberikan tiga warisan penting yang perlu kita pegang erat-erat dalam keseharian kita. Pertama, Alquran. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran. Rasulullah SAW dan para sahabat memberikan teladannya. Mereka begitu rajin membaca Alquran hingga beberapa kali khatam. Kita juga di bulan Ramadhan melakukan tadarus setiap hari yang lain dari biasanya.

Kebiasaan ini selayaknya dipertahankan di bulan-bulan selanjutnya. Sebagai petunjuk, Alquran tidak hanya dibaca tetap juga diamalkan segala perintah serta larangan yang tertera di dalamnya. Firman Allah: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) ...” (QS al-Baqarah: 185).
 
Kedua, shalat. Pada bulan Ramadhan juga intensitas shalat begitu meningkat. Hal ini disebabkan semua amalan akan dilipatgandakan, sehingga memacu kita untuk melaksanakan shalat-shalat sunah. Paling tidak kita melaksanakan shalat sunah Tarawih sebelas rakaat ataupun 23 rakaat. Selayaknya amalan shalat sunah itu tetap dilakukan di bulan-bulan selanjutnya sebagai tanda keberhasilan kita di bulan Ramadhan.

Ketiga, infak. Pada bulan Ramadhan, kita juga dengan mudah memberi, mulai dari yang sunah seperti berinfak, menyantuni fakir-miskin, memberi iftar, hingga yang wajib, yaitu zakat fitrah dan zakat mal. Kebiasaan memberi ini sepatutnya dipertahankan dan terus dilestarikan di bulan-bulan berikutnya.

Ketiga hal di atas merupakan warisan berharga dari bulan Ramadhan yang mesti kita jaga dan amalkan terus-menerus dari bulan ke bulan hingga Ramadhan datang kembali di tahun berikutnya. Maka, dengan demikian,  kita bisa mencapai predikat manusia fitri, yang berhasil mengimplementasikan spirit Ramadhan di setiap bulannya.

Bukan tidak mungkin apabila implementasi ini muncul dari kesadaran kolektif, kaum Muslim betul-betul mencapai umat terbaik (khairu ummah) dan umat terpilih (ummatan wasathan).
 
Hal ini senada dengan firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (QS Fathir: 29).
 
Mudah-mudahan di bulan Syawal ini dan bulan-bulan berikutnya kita terus mengamalkan tiga warisan Ramadhan di atas. Amin.
Oleh: M Iqbal Dawami

sumber : www.republika.co.id

Wednesday, August 06, 2014

Silaturahim Hati

Bulan rahmah dan maghfirah telah berlalu. Kepergiannya diiringi dengan berbagai sambutan dari para pecintanya; ada yang teramat menyesal dan bersedih karena merasa belum memaksimalkan bulan Ramadhan, ada pula yang bersyukur karena telah mampu menjalani serangkaian target yang telah disusun selama bulan Ramadhan.

Apa pun perasaan yang kita miliki, tetaplah kita harus mensyukuri bahwa Idul Fitri adalah momentum penyucian hati setelah sebulan lamanya kita dilatih untuk menahan dan menyucikan diri dari segala hasrat duniawi; makan, minum, termasuk mengelola emosi.  Idul Fitri menjadi kesempatan terbaik untuk sama-sama membuka hati, memberi dan meminta maaf, serta menebarkan sifat belas kasih.

Meski memaafkan dan meminta maaf tak sebatas hanya pada saat perayaan Idul Fitri, momen perayaan ini kerap dispesialkan untuk berbagi dan memohon maaf. Tak ayal, ucapan yang sering kita dengar atau bahkan sering kita lontarkan ialah, ‘Mohon Maaf Lahir dan Bathin’.

Tak salah memang, memberi maaf terlebih meminta maaf adalah perilaku terpuji. Tak hanya bermaaf-maafan, Idul Fitri menjadi momen berharga untuk kembali merajut silaturahim bersama rekan dan sanak saudara.

Silaturahim (menyambung kasih sayang), atau yang justru sering disebut dengan silaturahmi adalah perbuatan baik yang dianjurkan Rasulullah SAW. Namun, hakikat silaturahim tak cukup dengan lahir (zahir/tampak), berupa berjabat tangan atau bertatap wajah. Hendaknya silaturahim bathin (hati) —yang sadar untuk meminta dan memberi maaf—benar-benar disadari, agar segala noda-noda di hati berupa iri, dengki, hasad, dendam, melebur hancur bersamaan dengan silaturahim tersebut.

Allah Swt berfirman, "Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Mahapenyantun." (QS al-Baqarah: 263)

Secara tersirat, Allah menyebutkan dua tingkatan kebajikan dalam ayat ini, Pertama, perkataan yang baik. Berkata yang baik adalah salah satu usaha hifdz al-lisan (menjaga lisan) adalah hal yang benar-benar dianjurkan dalam Islam, sehingga Rasulullah SAW pun bersabda, ‘Berkatalah yang baik, atau (jika tidak bisa) lebih baik diam,’.

Dalam hadis ini Rasulullah mengajak umatnya untuk mampu berkata baik dan membuahkan manfaat bagi sesama, bukan perkataan penuh dusta, caci-maki, dendam dan amarah. Kedua, kebajikan dengan memberi maaf dan ampunan kepada orang yang telah berlaku buruk kepada kita, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Nah, yang terakhir inilah yang disadari maupun tidak, sulit dilakukan.

Meminta maaf memang terkadang bukanlah perkara yang mudah, namun, bukan berarti kita tidak mampu melakukannya. Terkadang pula, perasaan tinggi hati kerap merusak niat diri sehingga kita malu mengutarakan ‘maaf’ terlebih dulu, padahal, jika kita cermati bersama, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan berilah salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala, dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.” (HR Abu Dawud)

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, “Pintu-pintu surga akan dibuka pada hari Senin dan Kamis, kemudian Allah akan memberi ampunan kepada setiap orang yang tidak menyekutukan Allah sedikit pun; kecuali seorang laki-laki yang ada perpisahan antara dia dengan saudaranya. Maka berkatalah Allah: ‘Tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai.” (HR Muslim)

Semoga kita tergolong menjadi hamba-Nya yang mampu menyambung tali kasih sayang ikhlas dari hati, sehingga mudah untuk memberi dan meminta maaf dengan tulus. Amin.
Oleh: Ina Salma Febriany


sumber : www.republika.co.id