-
-

Saturday, December 20, 2014

Kapan Adil Berbuah Ketenangan?

Pada suatu ketika, Kaisar Romawi mengirim utusan kepada Khalifah Umar bin Khaththab ra. Dia berniat melihat dari dekat kondisinya dan aktivitas amirul mukminin. Ketika utusan Romawi tersebut telah tiba di Madinah, ia bertanya tentang Umar bin Khaththab RA kepada penduduk Madinah. “Mana raja kalian?”

Penduduk Madinah menjawab, “Kami tidak mempunyai raja. Kami hanya mempunyai pemimpin yang telah pergi keluar Madinah.” Utusan Kaisar Romawi tersebut segera keluar dari Madinah untuk mencari Umar bin Khaththab ra dan menemukannya tidur di atas tanah dengan berbantalkan tongkat kecilnya yang ia biasa bawa untuk mengubah kemungkaran.

Ketika utusan Kaisar Romawi melihat Umar dalam keadaan seperti itu, ia merasakan ke tenangan di hatinya dan berkata, “Orang yang ditakuti oleh semua raja karena kewibawaannya kok keadaannya seperti ini? Na mun, hai Umar, engkau berbuat adil, dan engkau pun bisa tidur. Sedangkan, raja kami zalim, maka tidak heran kalau ia tidak bisa tidur dan selalu diliputi ketakutan.”

Kisah yang terdapat di dalam kitab Minhajul Muslim karya Abu Bakr Jabir Al-Jazairi ini memberikan pelajaran berharga mengenai buah dari ha sil memutuskan hukum dengan adil. Salah satunya adalah tersebarnya ketenangan di dalam hati.

Ketenangan di dalam hati seseorang yang memutuskan hukum dengan adil karena dia tidak memutuskan suatu hukum dengan hawa nafsunya dan tidak menzalimi hak-hak pemiliknya. Dia memberikan keputusan hukum kepada manusia dengan memberikan hak kepada pemiliknya.

Sikap inilah yang menjadikan sang pemimpin mendapatkan cinta Allah, keridhaan-Nya, kemulian-Nya, dan nikmat-Nya. Salah satu bentuk ke cin taan Allah, keridhaan, kemuliaan, dan nikmat- Nya itu adalah dengan memberikan ketenangan di dalam diri orang yang berbuat adil dalam memutuskan hukum.

Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk bersikap adil dalam hukum. Perintah Allah SWT ini termaktub di dalam Alquran surah an-Nisa (4) ayat 58, “Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya, Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya, Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Wallahu a’lam.

Oleh: Moch Hisyam  



sumber : www.republika.co.id

Thursday, December 18, 2014

Green Canyon di Majalengka tak Kalah Indah

GRAND Canyon di Desa Sukadana, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka. Tebing setinggi kurang lebih 20 meteran tersebut mengapit Sungai Cilongkrang yang airnya dikenal sangat jernih dan dingin bagai air es, bagian kanan dan kiri tebing yang berasal dari batu tersebut nampak seperti diukir.*
Mungkin tidak banyak orang yang tahu kalau Kabupaten Majalengka memiliki sebuah objek wisata green canyon yang keindahannya sangat berbeda dengan grand canyon di Pangandaran atau di wilayah lain di Jawa Barat.
Green canyon Majalengka letaknya di Desa Sukadana, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, sekitar 2 km dari ibu kota kecamatan atau 16 km dari ibu kota kabupaten.
Yang unik dari green canyon Majalengka ini adalah suhunya sangat dingin, dua tebing yang mengapit sungai Cilongkrang yang ketinggiannya mencapai lebih dari 20 meteran serasa berada di gua besar, di bawah air sungai mengalir jernih dari wilayah hulu.
Tebing batu yang berada di kanan kiri tersebut berwarna kehijauan dan bentuknya seolah diukir membentuk kotak-kotak kecil
Meski jam telah menunjukan pukul 11.30 WIB belum ada sinar matahari menembus sungai. Sinar matahari baru nampak setelah pengunjung berjalan beberapa puluh meter menyusuri arah hulu tepatnya menuju air terjun.
Air terjun tersebut dinamakan air terjun Pelangi, karena bila terkena sinar matahari tampak ada pelangi yang terbentuk dari kepulan air terjun.
"Dinamakan air terjun pelangi karena apabila tersorot cahaya matahari airnya berwarna-warni seperti pelangi," kata Yayat (25) warga setempat, Rabu (15/10/2014).
Menurut Yayat , di Desa Sukadana selain terdapat air terjun dan "Green Canyon" juga terdapat gua kelelawar atau lebih dikenal warga guha lalay, disebut guha lalay karena terdapat ribuan kelelawar yang setiap saat menempel di bebatuan.
"Warga baru mengetahui setelah ramai di twitter dan facebook, kebanyakan pengunjung anak muda dan mahasiswa," ungkap Yayat.
Een, warga lainnya menyebutkan, kunjungan ke green canyon belakangan cukup banyak, setidaknya setiap haru minimal 6 hingga 10 orang. Mereka datang dari berbagai wilayah baik asal Kabupaten Majalengka ataupun dari luar kota.
“Tahunya banyak pengunjung karena saya setiap hari ada di kebun sini,” kata Een ditemui di kebun bawang polongnya.
Untuk menuju ke lokasi tersebut green canyon, pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua, hanya kendaraan tak bisa sampai ke lokasi namun harus di simpan di depan rumah penduduk Desa Sukadana.
Dari jalan kabupaten ke lokasi green canyon harus menuruni jalan setapak dan melintasi perkebunan sayur milik penduduk, meski jaraknya hanya beberapa puluh meter saja ke lokasi, namun cukup lelah karena kondisi jalan menurun hingga kemiringan 80 derajat.
Tidak ada tangga karena lokasi objek wisata ini belum ada pengelolanya, namun warga setempat di beberapa titik jalan yang kemiringannya cukup tajam hingga 90 derajat disediakan tangga (taraje:sunda) serta ada pula kawat besi untuk pegangan pengunjung yang diikatkan ke pohon bambu.
Meski jalan menuju lokasi demikian curam, ketika sampai bisa terobati oleh keindahan suasana sungai, dengan udaranya yang cukup dingin hingga 18 derajat disaat kemarau, pengunjung juga bisa mandi atau sekedar merendam kaki untuk merasakan dinginnya air.(Tati Purnawati-"KC"/A-88)***
Sumber: www.pikiran-rakyat.com/node/300965

Wednesday, December 17, 2014

Ini Amal Ibadah yang Pas

Anas ra berkisah, ada tiga orang datang menemui istri-istri Rasulullah untuk menanyakan ibadah baginda nabi. Saat diberitahu mengenai ibadah Rasulullah, mereka merasa sangat  kecil. Rasulullah SAW yang sudah dijamin mendapat ampunan dan surga Allah SWT ternyata melaksanakan ibadah 'berat'. Sungguh terasa sangat jauh dibanding dengan mereka.

Orang pertama pun bertekad dan menyatakan akan shalat malam terus menerus. Orang Kedua akan puasa sepanjang tahun tanpa henti. Orang ketiga akan menjauhi perempuan dan tak akan menikah selamanya.

Ketika mendengar niat ketiga orang itu, Nabi bersabda, “Benarkah kalian yang mengatakan akan shalat malam terus menerus, akan berpuasa setiap hari, dan tidak akan menikah selama hidup? Bukankah, demi Allah, aku orang yang paling takut di antara kalian kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, namun demikian aku shalat malam dan juga tidur, aku berpuasa dan juga tidak berpuasa, dan aku menikahi wanita? Barangsiapa tidak menyukai sunahku maka ia bukan golonganku.” (HR Bukhori dan Muslim).

Sebagaimana sabda Nabi di atas, kita tidak dibenarkan untuk melaksanakan agama dengan cara yang berlebih-lebihan. Untuk mengukur kadar ibadah yang pas, tentu tidak mudah. Oleh karenanya, di samping memiliki tolok ukur ibadah Nabi, juga harus melihat para sahabat serta sikap toleransi Nabi terhadap apa yang diamalkan para pengikutnya.

Pada waktu berbeda, masih dikisahkan Anas bin Malik, Rasulullah SAW menerangkan tentang laki-laki calon penghuni surga. “Sebentar lagi akan muncul dihadapan kalian salah seorang ahli surga." Ketika diketahui orangnya, seorang sahabat Abdullah bin Amr meneliti dengan bertamu bermalam di rumahnya. Setelah diamati ternyata ibadah orang itu biasa-biasa saja, bahkan si peneliti sendiri merasa ibadah dia jauh lebih baik. Setelah berdialog dan didalami maka diketahuilah bahwa kelebihannya adalah “tidak pernah berlaku curang” dan “tidak iri” atas kelebihan yang diberikan Allah kepada orang lain. Jadi, kekuatannya ternyata ada pada mental and moral attitude.

Dalam Alquran disebutkan, orang yang berlebih-lebihan dalam beragama dikaitkan dengan doa dan pendekatan diri kepada Allah. Ketika menderita, dia intensif berdoa, tapi saat lapang dia menyimpang. “Dan, apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Tetapi, setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan.” (QS Yunus 12).

Inilah karakter kaum musyrifin (orang yang berlebih-lebihan), yaitu ketika ditimpa ujian hidup berupa kesulitan maka ia berdoa dengan khusyuk setiap waktu, mendekat dan menangis agar Allah menolong untuk segera melepaskan kesulitan yang dirasakannya itu. Pada saat Allah SWT melepaskan kesulitan itu, dia lupa diri. Seolah berubahnya keadaan itu sepenuhnya disebabkan oleh usaha dirinya. Bahkan, dengan kesenangan yang Allah berikan itu justru perilakunya berubah menjadi dekat dan akrab dengan kehidupan maksiat.

Amal ibadah yang pas adalah ia yang beribadah dengan baik dan berdoa dengan khusyuk serta situasi yang berubah tidak mengubah kedekatannya kepada Allah. Tidak iri atas kelebihan orang lain, selalu melihat diri cukup dan bersyukur. Sabda Nabi, “Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian dan janganlah memandang orang yang ada di atas kalian agar tidak meremehkan  nikmat karunia Allah yang diberikan kepada kalian.” (HR At Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah). 
Oleh: M Rizal Fadillah



sumber : www.republika.co.id

Monday, December 15, 2014

Mau Jadi Wortel, Telur, Atau Kopi?

Hidup manusia mengikuti sunatullah. Ada kalanya gembira dengan berbagai anugerah dan kenikmatan, ada kalanya susah dengan berbagai musibah dan kegagalan. Manusia tidak selamanya sukses dan lancar dalam hidupnya, ada kalanya gagal dan penuh dengan kesukaran. Semua itu, harus dihadapi dengan kesadaran.

Allah SWT mengingatkan dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 155-156, kesabaran akan melahirkan kegembiraan. “…. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Sementara, bagi manusia yang selalu berkeluh kesah, berburuk sangka pada dirinya, orang lain, bahkan Tuhan, serta menghabiskan waktunya dengan ratapan kesedihan akan merasakan waktu terasa lama, berputus asa, dan jauh dari bahagia.

Seperti kisah seorang anak yang mengeluhkan kesulitan dan kerasnya hidup kepada ayahnya. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Harapan untuk bangkit telah hilang, sementara catatan kesedihan memenuhi lembar kehidupannya. Ketika satu persoalan belum juga terselesaikan, masalah lainnya telah muncul, silih berganti tiada henti.

Mendengar keluhan anaknya tersebut, sang ayah hanya tersenyum. Lalu, diajaknya sang anak itu ke dapur bersamanya. Diambilnya tiga buah panci, diisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya di atas kompor yang menyala. Pada panci pertama, sang ayah memasukkan wortel, yang kedua telur, dan yang ketiga beberapa biji kopi tumbuk. Dibiarkannya air itu mendidih.

Dalam masa menunggu itu, keduanya terdiam seribu bahasa, meski sang anak sudah tak sabar masih tak paham dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api lalu mengambil wortel dan meletakkannya di sebuah piring. Begitu pula telur pada panci kedua, diambilnya dan diletakkannya di piring yang sama. Terakhir, ia menyaring kopi dan meletakkannya di piring itu juga.

Kemudian, sang ayah bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi,” jawab sang anak. Dimintanya sang anak mendekat dan memegang wortel. Anak itu mengatakan, wortel itu terasa lunak. Kemudian, sang ayah meminta anaknya mengupas telur, sang anak mengatakan telur rebus itu kini terasa keras. Saat mencicipi kopi, sang anak tersenyum dan bertanya, ”Ayah, apa maksud semua ini?”

Ayahnya lalu menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih. Setelah direbus, ketiganya berubah. Wortel yang semula keras, berubah menjadi lunak. Sebaliknya, telur yang tadinya lunak dan mudah pecah, setelah direbus menjadi keras dan kokoh. Sementara, biji kopi tumbuk berubah menjadi sangat unik, mengubah air yang direbusnya.

“Maka, seperti apakah dirimu?” tanya sang ayah kepada anaknya. “Saat kesulitan, kesusahan, dan kesedihan menimpamu, perubahan apa yang terjadi pada dirimu? Apakah kau menjadi sebatang wortel, telur, ataukah biji kopi?”

Kisah di atas memberikan pelajaran bahwa seberapa pun sulitnya kehidupan, sebagai orang beriman, kita harus dapat menghadapainya dengan penuh kesabaran. Permasalahan hakikatnya batu ujian. Seberat apa pun permasalahan yang menghadang, jangan menjadikan amal kebaikan berkurang. Setiap persoalan yang dihadapi merupakan alat ukur kualitas amal.

Bagi mereka yang bersabar, akan dibalas Allah dengan martabat yang tinggi. Sebagaimana yang dinyatakan-Nya adalah surah al-Furqan ayat 75, “Mereka itulah yang dibalas dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.” Wallahu’alam.

Oleh: Prof H Dadang Kahmad
sumber : www.republika.co.id

Saturday, December 13, 2014

Kebahagiaan Sejati

Betapa tidak mudahnya seseorang menjadi bahagia. Kala kata itu diartikan sebagai simbol materi, kemewahan, pangkat, golongan, status sosial.
Secara tidak sadar, pola pikirnya sudah terbebani untuk mengejar segala jenis simbol yang sudah melekat padanya.

Ketika suatu saat simbol-simbol itu gagal didapat, ia akan menjadi kecewa bahkan putus asa seolah-olah hanya dengan meninggikan simbol saja kebahagiaan itu bisa diraihnya.

Memang, ada benarnya kalau materi, kedudukan, dan simbol lainnya bisa membawa seseorang menjadi bahagia. Apalagi, ada pepatah mengatakan, apa pun masalahnya, dengan uang segala urusan bisa menjadi lancar.
Dengan kedudukan, masalah bisa cepat teratasi. Hanya, simbol-simbol tersebut tidak melulu menjadikan seseorang lantas berbahagia.

Materi dan kedudukan di dunia sejatinya tidak akan dibawa ke alam kubur. Apalah arti sebuah simbol kalau dirinya masih jauh dari Tuhan, berbeda halnya kalau simbol tersebut digunakan untuk kebaikan pada diri dan sesama.

Kebiasaan orang yang meninggikan simbol tanpa esensi biasanya akan menganggap rendah dan memandang sebelah mata kepada orang yang hidup tanpa simbol kebahagiaan.
Mereka hanya akan menghormati orang-orang yang berharta, berpangkat dan mempunyai kedudukan tinggi di masyarakat. Padahal, kemuliaan seseorang dilihat dari ketakwaan, bukan pada selainnya.

"Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS al-Hujuraat ayat 13).

Inilah fenomena yang berkembang di masyarakat masa lalu maupun modern, banyak orang mengejar kebahagiaan dengan cara yang sulit. Padahal, ada yang lebih penting untuk diperhatikan, yaitu esensi bahagia.

Dengan menyederhanakan pola pikir dan pola hidup niscaya seseorang tidak akan jatuh ke dalam kesalahan berpikir. Siapa pun, pada dasarnya bisa berbahagia dengan mudah.
Karena, bahagia bukan hanya milik orang-orang elite saja. Kalangan menengah dan kalangan bawah pun bisa merasakan hal sama. Orang-orang tanpa pangkat, jabatan, bahkan status sosial pun tetap bisa merasakan kebahagiaan.

Kita tentu pernah mendengar kisah seseorang yang bekerja dengan penghasilan besar setiap bulannya, akan tetapi waktu, tenaga dan pikirannya lebih menguasai dirinya. Sebagian besar waktu habis terpakai untuk mencari materi.

Sedikit sekali waktu berkumpul dengan anak dan istrinya, tiada kehangatan yang bisa dirasakan kecuali pada waktu-waktu tertentu, bahkan tak jarang sang anak seperti kehilangan kasih sayang dari orang tua yang super sibuk dengan urusan-urusan dunia.

Waktu emas sang anak habis dengan orang lain. Alhasil anak pun menjadi lebih dekat dengan pengasuh atau orang yang mengurusinya sejak kecil daripada dengan orang tuanya.
Fenomena lain adalah saat seseorang hidup dengan penghasilan besar setiap bulannya ternyata rumah tangganya tidak harmonis.

Tak jarang, mereka akhirnya harus hidup berpisah karena memilih bercerai dan menjalani hidup masing-masing. Apakah materi dan status sosial belum cukup untuk membahagiakannya!?

Lalu, bagaimana dengan para pedagang kaki lima, petani, nelayan, atau orang-orang pinggiran yang berpenghasilan tidak tetap, terkadang rizki yang didapat hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Adakah mereka mendapat kebahagiaan? Jawabannya, tentu ada.

Kondisi ekonomi bukanlah menjadi alasan bagi seseorang untuk terhalang merasakan manisnya kehidupan selama ia bersabar, tetap berikhtiar, menjaga dirinya dari kemaksiatan, dan selalu bersyukur atas pemberian dari Tuhannya kendati sedikit maka selama itu pula Allah Ta’ala akan membimbingnya kepada kebahagiaan yang hakiki.
Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra     


sumber : www.republika.co.id

Thursday, December 11, 2014

Mencari Rezeki yang Halal

Dalam kehidupan ini, Allah SWT memerintahkan manusia untuk mencari rezeki yang halal untuk menafkahi keluarga (istri dan anak).
Jangan sekali-kali memberikan barang yang haram kepada keluarga, karena tubuh yang di dalamnya ada barang haram tempat kembali yang cocok adalah neraka.

Mari kita tengok peristiwa yang terjadi pada Siti Hajar dan putranya Ismail as. Setelah Nabi Ibrahim as meninggalkan Siti Hajar dan anaknya di tempat yang sunyi dan gersang di suatu lembah di jazirah Arab, Siti Hajar mulai menyusui Ismail, sementara dia sendiri mulai merasa kehausan, panas matahari saat itu menyengat sehingga terasa begitu mengeringkan tenggorokan.

Setelah dua hari, air yang di bawah habis, air susunya pun kering. Siti Hajar dan Ismail mulai kehausan. Pada waktu yang bersamaan, makanan pun habis, kegelisahan dan kekhawatiran membayangi Siti Hajar. Ismail mulai menangis karena kehausan. Kemudian sang ibu meninggalkannya sendirian untuk mencari air.

Dengan berlari–lari kecil, dia sampai di kaki Bukit Shafa. Kemudian dia naik ke atas bukit itu. Ditaruhnya kedua telapak tangannya di kening untuk melindungi pandangan matanya dari sinar matahari, kemudian dia menengok ke sana kemari, mencari sumur, manusia, kafilah atau berita.

Namun tidak ada sesuatu pun yang tertangkap pandangan matanya. Maka dia bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari–lari kecil sampai di Bukit Marwa. Dia naik ke atas bukit itu, barangkali dari sana dia melihat seseorang, tetapi tidak ada seorang pun.

Siti Hajar turun dari Bukit Marwa untuk menengok bayinya. Dia mendapati Ismail terus menangis. Tampaknya sang bayi benar-benar kehausan. Melihat anaknya seperti itu, dengan bingung dia kembali ke Bukit Shafa dan naik ke atasnya.
Kemudian dia ke Bukit Marwa dan naik ke atasnya, Siti Hajar bolak–balik antara dua bukit, Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali.

Ada rahasia yang jarang dikupas dari kejadian ini, yaitu kesungguhan Siti Hajar dalam mencari air. Dikeluarkannya segala tenaganya bolak balik dari Shafa dan Marwa, walaupun bolak balik dari Shafa dan Marwa belum mendapatkan air dia terus berusaha.

Walaupun akhirnya air itu ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rezeki, dengan mengeluarkan segala kemampuan yang kita miliki, karena kita diperintahkan bukan cuma melihat hasil, tapi juga usaha dan tenaga yang kita keluarkan.

Rasulullah SAW sangat mencintai orang-orang yang bekerja keras. Diriwayatkan suatu ketika Rasulullah berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari.
Ketika itu Rasulullah SAW melihat tangan Sa’ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitaman seperti lama terpanggang matahari. Rasulullah SAW bertanya, ‘Kenapa tanganmu?’

Sa’ad menjawab, ‘Wahai Rasulullah, tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku.'
Seketika itu, Rasulullah SAW mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, ''Inilah tangan yang tidak pernah tersentuh api neraka.''
Hikmah dari kisah ini, terdapat tanggung jawab seorang Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari dalam menafkahi anak dan istrinya melalui rezeki yang halal.
Oleh : H Ahmad Dzaki, MA

sumber : www.republika.co.id

Sunday, December 07, 2014

Perlukah Malu Bila tak tahu?

Menjadi suatu aib bagi seorang intelektual ketika ia ditanya dalam suatu pembahasan kemudian ia mengatakan, "Saya tidak tahu." Gengsi bercampur malu jika ada suatu pertanyaan yang tidak bisa ia selesaikan dengan baik. Akhirnya, ia paksakan jua untuk menjawabnya kendati uraiannya tidak berkaitan dengan pertanyaan. Tak jarang, mubalig atau cendekiawan seperti ini justru menjadi pionir penyesat umat.

Salah seorang murid Imam Malik bin Anas, al-Haitsam bin Jumail, pernah menyaksikan kejujuran gurunya. Al- Haitsam mengisahkan, tatkala ia bersama gurunya Imam Malik. "Ia (Imam Malik) ditanya mengenai 48 masalah, lalu menjawab, "La Adri (Aku tidak tahu) pada 32 masalah," kisah sang murid.

Akibat keluguan Imam Malik, si penanya merasa kesal. "Apa yang harus aku katakan kepada kaumku setelah kembali," protesnya. Imam Malik hanya menjawab, "Katakan saja, Malik bin Anas berkata, ‘Aku tidak tahu.’"

Terbayangkah, seorang imam besar mengaku tidak tahu ketika ditanya suatu persoalan? Kurang apa Imam Malik yang lintang-pukang dengan berbagai disiplin ilmu. Semua kajian fi kih dan hadis dilahapnya. Tak ada ketika itu yang lebih alim dari seorang fi gur Imam Malik. Tapi, ia sadar, manusia punya keterbatasan. Hanya Allah SWT saja yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Imam Ibnu Shalah dalam kitab Adab al-Fatawa menjelaskan, orang yang bertanya dalam kisah tersebut merupakan thalib (penuntut ilmu) yang datang dari luar Kota Madinah. Orang tersebut mela kukan perjalanan selama dua bulan sehingga bisa bertemu dengan Imam Malik.

Tetapi, Imam Malik hanya memberikan jawaban terhadap 16 masalah. Hal ini sangat wajar karena Imam Kota Madinah itu tidak pernah melakukan perjalanan selain hanya ke Kota Makkah. Itu pun untuk keperluan haji dan umrah. Seseorang yang tidak banyak melakukan perjalanan ke wilayah lain tentu akan merasa sulit untuk menganalogikan suatu masalah yang terjadi di luar daerahnya dengan persoalan yang ada di negeri asalnya.

Terlepas dari latar belakang itu, al- Hafizh Jalal al-Din al-Suyuthi menulis risalah pendek yang menarik di dalam kitab al-Hawi al-Fatawa tentang kejujuran intelektual ulama salaf. Ia menemukan riwayat-riwayat yang sahih dari para saha bat dan tabiin yang merasa tidak gengsi untuk berkata, "Aku tidak tahu." Bahkan, ada sebuah riwayat yang bersumber dari perkataan Abdullah bin Mas‘ud RA, "Perkataan ‘aku tidak tahu’ adalah setengah dari ilmu".

Adapun maksud dari ungkapan ini ada lah ketika seseorang mengaku tidak tahu maka sikapnya mengindikasikan keju juran secara ilmiah dan usaha terus-mene rus untuk mencari jawabannya.

Sikap tersebut memang banyak di temu kan di kalangan Nabi SAW, sebagaimana diceritakan oleh Abdur Rahman bin Abu Laila seorang Tabi’in senior. Ia berkata, "Aku bertemu dengan 120 sahabat Anshar. Ketika salah seorang mereka ditanyai mengenai suatu persoalan, maka yang ditanya mengalihkan kepada sahabat yang lain. Begitu juga sahabat yang kedua mengalihkan kepada sahabat yang lain, sehingga kembali lagi kepada sahabat yang pertama."

Bahkan, amir al-mu’minin Umar bin al- Khattab setiap kali ditanyai menge nai suatu persoalan, maka ia selalu ber mu syawarah dan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan sahabat-sahabat Badr (Sahabat yang pernah mengikuti perang Badar).

Tak jarang seseorang menentang sesuatu yang sebenarnya belum dipahaminya dengan baik. Ini tidak hanya terjadi pada manusia biasa saja. Bahkan, orang sekaliber Nabi Musa AS ini pernah menentang prilaku Nabi Khidhr karena belum memahami hakikat dari kejadian yang dilihatnya. Inilah yang dimaksudkan Imam Abu al-Ghazali bahwa seseorang akan menentang sesuatu belum diketahuinya dengan baik.

Berdasarkan kenyataan tersebut, Imam Malik berpesan kepada orang yang menjadi mufti atau konsultan keagamaan agar berhati-hati. "Hendaklah seorang mufti berpikir ulang sebelum menjawab suatu persoalan. Apakah jawabannya menyebabkan dirinya terjebak ke dalam neraka atau mengantarkannya masuk surga," pesannya. Ini dikarenakan kesa lah an dalam berfatwa menjadi salah satu penyebab seorang mufti digiring masuk Neraka.

Dengan demikian, seorang ustaz atau dai sebenarnya tak perlu merasa malu mengakui ketidaktahuannya, hanya dikarena kan malu di hadapan jamaahnya. Tetapi hendaklah malu kepada Allah Yang Maha Mengetahui isi hati makhluk-Nya
Oleh: Hanan Putra
,

sumber : www.republika.co.id

Thursday, December 04, 2014

Ini Risiko Memilih Kantong Kresek untuk Wadah Makanan

Karena praktis, plastik pun menjadi primadona sebagai wadah makanan dan minuman. Balai Sentra Teknologi Polimer pun melihat adanya tren penggunaan plastik yang diprediksi meningkat, menggeser penggunaan kaca, metal, dan kertas. Hal ini terjadi karena plastik tergolong ringan, kuat, serta terjangkau harganya.

Zaman yang makin modern membuat manusia tidak bisa terhindar dari plastik. Meski tergolong tidak seramah kaca atau kertas bagi lingkungan, plastik adalah kebutuhan hidup manusia masa kini.

Berhubung tidak bisa dihindari, tingkat buangan plastik perlu dikurangi. Caranya melalui penggunaan ulang wadah plastik. Kalau khawatir soal keamanannya, Wawas Swathatafrijiah dari Balai Sentra Teknologi Polimer, mengatakan plastik berisiko lebih besar pada kondisi panas.
Migrasi (perpindahan zat kimia dari plastik ke makanan) akan lebih tinggi kadarnya jika dipakai untuk makanan panas ketimbang dingin. Salah pilih plastik, seperti kantong kresek, untuk menempatkan makanan bahaya kanker bisa mengintai.

Pilih plastik dengan logo aman bagi makanan. Perhatikan tanda gelas dan garpu atau logo food grade atau food safe di bagian bawah wadah plastik.

Yang terpenting adalah mewadahi makanan dalam kemasan plastik yang memang dirancang aman untuk makanan. Coba juga membungkus makanan dari restoran dengan wadah plastik milik sendiri. Selain mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, pemakaian styrofoam bisa dihindari. Memang Wawas menilai sudah banyak produsen styrofoam yang menggunakan bahan pengembang plastik menjadi foam yang aman.

Tetapi, proses produksi styrofoam yang belum baik berpotensi membahayakan kesehatan jika makanan panas diletakkan ke atasnya. Kandungan monomer stiren yang berbahaya bagi tubuh dalam styrofoam dapat turut terlepas lewat makanan berminyak, berlemak, atau mengandung alkohol, terlebih dalam keadaan panas. Migrasi pun bisa terjadi.

Menggunakan plastik sesuai peruntukan lagi-lagi menjadi kata kunci. Untuk wadah makanan, pilih plastik berlogo aman bagi makanan. Jangan gunakan wadah plastik dalam microwave kecuali memang dirancang aman untuk itu. Tandanya melalui gambar microwave di bagian bawah wadah.

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, December 02, 2014

Bersedekah Saat Sehat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata, ada seseorang yang datang kepada Nabi SAW seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Bersedekahlah selama kamu masih sehat, bakhil (suka harta), takut miskin, dan masih berkeinginan untuk kaya. Dan, janganlah kamu menunda-nunda sehingga apabila nyawa sudah sampai di tenggorokan maka kamu baru berkata, ‘Untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian,' padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli warisnya).” (Muttafaqun ‘alaih).

Hadis di atas memberikan pelajaran penting kepada kita mengenai saat sedekah yang akan diganjar dengan pahala yang besar oleh Allah SWT, salah satunya adalah bersedekah saat diri kita sedang sehat.
Besarnya pahala yang didapat orang yang bersedekah pada saat sehat dikarenakan pada umumnya manusia akan merasa pelit ketika berada dalam keadaan sehat.

Bila ia bersedekah dalam kondisi sehat hal itu menjadi bukti akan kesungguhan niatnya dan begitu besar kecintaannya kepada Allah SWT. Inilah yang menjadikan bersedekah pada waktu sehat adalah sedekah yang utama dan berpahala besar.

Berbeda halnya dengan mereka yang sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk sehat. Sementara, ia memandang hartanya akan menjadi milik orang lain maka ketika itu sedekahnya merupakan suatu kekurangan. Karena itu, bersedekah pada saat sehat merupakan bagian penting yang harus kita lakukan dalam hidup ini.

Jangan sampai nikmat sehat yang Allah SWT anugerahkan kepada kita kosong dari amal saleh, salah satunya kosong dari bersedekah. Selain berpahala besar, ketika kita bersedekah pada saat sehat akan menjadikan kita golongan orang yang menyegerakan amal kebaikan.

Hal ini dapat kita pahami dari hadis Rasulullah SAW, “Bersegeralah kamu sekalian untuk beramal sebelum datang tujuh hal; tidaklah kamu menantikan kecuali kemiskinan yang menimbulkan kelalaian, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang merusak, ketuarentaan yang melemahkan akal, kematian yang membunuh dengan cepat, atau menunggu datangnya dajal padahal ia adalah sejelek-jeleknya yang ditunggu, atau menunggu datangnya hari kiamat padahal kiamat itu lebih berat dan lebih pahit (pedih).” (HR Tirmidzi).

Selain itu, bersedekah pada saat diri kita sehat sama dengan mensyukuri nikmat kesehatan. Itu karena bukti mensyukuri nikmat sehat adalah mempergunakan nikmat sehat itu dengan melakukan ketaatan kepada-Nya yang salah satunya mengisi nikmat sehat dengan banyak bersedekah.

Lainnya, bersedekah pada saat sehat termasuk orang yang diutamakan karena kebanyakan manusia sering melupakan nikmat sehat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR Bukhari).

Untuk itu, selagi sehat, mari isi kesempatan yang Allah anugerahkan ini dengan memperbanyak amal kebaikan, di antaranya, dengan bersedekah agar mendapatkan pahala yang besar dan keutamaan dari Allah SWT. Wallahu’alam.
, Oleh: Moch Hisyam

sumber : www.republika.co.id

Saturday, November 29, 2014

Nikmat Hujan

Alhamdulillah, sekarang sudah memasuki musim penghujan. Di mana-mana hujan turun. Ada yang lebat, sedang, tapi ada pula yang ringan.

Ketika hujan turun, beragam cara kita menyikapinya. Ada yang senang, gembira, dan penuh suka cita karena sudah lama hujan tak turun. Tapi banyak pula yang kesal, marah, jengkel, dan kecewa, karena merasa dirugikan akibat hujan tersebut.

Bagi yang senang dengan turunnya hujan, di antaranya adalah petani. Sebab, hujan akan menyuburkan lahannya yang tandus atau gersang. Hujan membuat tanamannya menjadi subur, sehingga penghasilannya pun akan bertambah.

Tetapi hujan yang turun secara terus menerus, terkadang juga menjadi bencana bagi petani. Hujan yang terus-menerus itu bisa menyebabkan tanamannya rusak.

Apalagi kalau sampai terjadi banjir, petani kerap mengeluh karena tanamannya menjadi puso atau gagal panen.

Seperti halnya petani yang mengeluh karena hujan yang turun secara terus-menerus, mayoritas umat manusia pun menyikapinya dengan cara yang sama.
Kesal, jengkel, marah, dan mengeluh, karena hujan telah merugikannya. Tak jarang, umpatan dan cacian terlontar dari mulutnya.

Mereka kecewa karena hujan merugikan dirinya. Para ibu pun tak kalah mengeluhnya. Jemuran tak kering, mau pergi ke mana-mana nggak bisa, nggak bisa pergi ke pasar, dan lain sebagainya.

Tukang ojek mengeluh karena hujan menyebabkan pendapatannya mungkin akan menurun. Dia tak bisa pergi mengantar penumpang, sebab penumpang lebih memilih naik angkutan umum.

Tetapi, di balik orang-orang yang mengeluh itu, banyak pula yang mensyukurinya. Sopir angkutan umum bersyukur dengan hujan yang turun, karena calon penumpang tukang ojek akan berpindah ke angkutan umum.

Tukang jual payung bersyukur karena jualan payungnya akan laris. Tukang jual jas hujan beruntung karena penjualan jas hujan akan meningkat.

Karena itu, tak semua orang merugi dengan datangnya hujan. Tak semua orang sengsara dengan hujan. Sebab, ada pihak lain yang mendapatkan manfaat dari hujan itu.

Lalu, bagaimanakah sikap kita sebagai seorang Muslim tatkala hujan turun? Sudah selayaknya kita bersyukur atas nikmat dan karunia Allah berupa hujan itu. Sebab, pada hakikatnya, tak ada satu pun ciptaan Allah SWT yang sia-sia atau tak bermanfaat.

"Yaitu orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dengan berdiri, duduk atau sambil berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka." (QS Ali Imran [3]: 191).

Dan Rasulullah SAW mengajarkan kepada umat Islam, agar selalu berdoa di saat hujan turun. "Allahumma shabiyyan naafi'an. Ya Allah, jadikanlah hujan ini membawa manfaat."

"Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia-lah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (QS al-Baqarah [2]: 22).
, Oleh: Syahruddin El-Fikri


sumber : www.republika.co.id

Thursday, November 27, 2014

Yusuf Mansur Ingatkan Umat tak Makan Daging Manusia

Kita tuh suka geram, melihat, mendengar, membaca, berita, tentang daging oplosan. Daging sapi dioplos dengan daging babi. Daging sapi dioplos dengan daging tikus. Atau daging segar dioplos dengan daging bangkai lama.

Tapi tanpa disadari, bisa jadi tiap hari ada di antara kita, bahkan juga diri kita sendiri, jika tidak awas, tidak waspada, tidak banyak ingat, yang malah 'makan daging manusia'.

Ya. Jika kita senang mencari kesalahan orang lain, mengungkap aib orang lain, menjelekkan orang lain, memfitnah, orang lain, maka itu sama saja dengan memakan daging saudaranya sendiri.

Allah bilang di dalam Surah al Hujuraat, ayat 12, ... "Fakarihtumuuh, Kalian pasti tidak akan menyukainya." Secara lengkap, terjemahan surah al Hujarat ayat 12 adalah sebagai berikut;

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sesungguhnya prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah suka menggunjing satu sama lain. Adakah seseorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati? Tentulah kamu akan merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya, Allah maha menerima taubat lagi Maha Penyayang.

Tapi sebab karena nafsu kita, karena kekurangawasan kita, karena kekurang hati-hatian kita, kita jatuh pada ghibah dan fitnah. Akhirnya, ya walau tidak suka, tapi dianggap tetap seperti makan daging saudaranya sendiri.

Dari penjelasan ayat di atas, ada tiga hal yang bisa diambil kesimpulan. Pertama, larangan bagi sesama Muslim untuk berprasangka buruk. Kedua, Larangan bagus seorang Muslim mencari-cari kesalahan pihak lain. Dan ketiga, larangan bagi setiap Muslim untuk menggunjing satu sama lain.

Rasul betul ada pernah menyontohkan tentang bicara perihal keburukan si fulan dan si fulan, dan tidak jarang disebut nama atau identitasnya, ciri-cirinya. Tapi dimaksudkan oleh Rasul, sebagai peringatan beliau dan nasihat beliau. Agar umatnya berhati-hati, dan mencontoh serta mengambil hikmah dari perilaku dan kelakuan orang yang diceritakan Nabi.

Begitu Allah. Allah pun menyebut nama, sebut saja, Fir'aun. Bahkan Abu Lahab. Hingga Abu Lahab namanya diabadikan menjadi nama surah: Al Lahab. Dan istrinya pun, ikut disebut.

Bagaimana ini? Apa hikmahnya?

Insya Allah, tidak semua pencarian kebenaran disebut sebuah keburukan. Pemberitaan, disebut keburukan. Pengungkapan, disebut keburukan. Tapi manakala ada kejelekan hati kita yang ikut, ada kesengajaan untuk menjatuhkan, menjelekkan, apalagi jika itu adalah fitnah dan kebohongan, maka saat itulah kita disebut seperti memakan daging saudaranya sendiri.

Nampaknya, kembali kepada niat. Dan sebagai manusia biasa, sebaiknya, lebih banyak hati-hati. Jangan-jangan, saat mengungkap, nafsu turut serta. Akhirnya, kita pun jatuh kepada kebinasaan. N

Oleh Ustaz Yusuf Mansur 

sumber : www.republika.co.id

Monday, November 24, 2014

Qishasul Anbiya

Istilah qishashul anbiya adalah merujuk pada kisah para nabi dan rasul. Tatabu’ al-akhbar, kabar yang diikuti kabar. Insya Allah, hikmah edisi kali ini akan mengunjungi situs hidup dan sirah para nabi dan rasul.

Kata nabi berasal dari kata naba yang salah satu artinya adalah dari tempat yang tinggi. Karena itu orang yang di tempat tinggi semestinya punya penglihatan ke tempat yang jauh (memperhitungkan dan menebak masa depan) yang disebut nubuwwah.

Nabi adalah seorang laki-laki yang diberi wahyu oleh Allah SWT, tetapi tidak punya kewajiban untuk menyampaikannya kepada umat tertentu. Sementara, kata rasul berasal dari kata risala yang berarti penyampaian.
Karena itu, para rasul, setelah lebih dulu diangkat sebagai nabi, bertugas menyampaikan wahyu dengan kewajiban atas suatu umat atau wilayah tertentu.
Jadi, rasul adalah seorang laki-laki yang mendapat wahyu dari Allah SWT dengan suatu syari’at dan ia diperintahkan untuk menyampaikannya dan mengamalkannya.

Dalam hadits riwayat Imam at-Turmudzi disebutkan jumlah nabi ada 124.000 orang, sedangkan jumlah Rasul ada 312 orang. 

Dari Abi Zar ra, Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, “(Jumlah para nabi itu) adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.”  “Lalu berapa jumlah Rasul di antara mereka?” Beliau
menjawab, “Tiga ratus dua belas (312).” [Hadits Riwayat At-Turmuzy]

Al-Qur’an menyebut beberapa orang sebagai nabi. Nabi pertama adalah Adam as. Nabi sekaligus rasul terakhir ialah Muhammad SAW yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah Islam dan peraturan penting kepada manusia di zamannya hingga hari kiamat.

Isa as yang lahir dari gadis Maryam binti Imran juga merupakan seorang nabi dan rasul. Selain ke-25 nabi sekaligus rasul, ada juga nabi lainnya seperti dalam kisah Khidir bersama Musa yang tertulis dalam Surah Al-Kahf ayat 66-82.

Terdapat juga kisah Uzayr dan Syamuil. Juga nabi-nabi yang tertulis di Hadits dan Al-Qur’an, seperti Yusya’ bin Nun, Zulqarnain, Iys, dan Syits.

Sedangkan orang suci yang masih menjadi perdebatan sebagai seorang Nabi atau hanya wali adalah Luqman al-Hakim dalam Surah Luqman.

Para nabi dan rasul adalah manusia-manusia terbaik pilihan Allah SWT. Mereka Allah pilih sebagai penyambung antara Allah dan para hamba-Nya di muka bumi ini. Para nabi dan rasul ini juga memiliki keistimewaan tertentu.

Yang perlu kita ingat adalah, setiap Allah memuliakan para nabi dan rasul, berarti kewajiban bersyariat mereka lebih banyak atau lebih besar dari manusia biasa. Demikianlah adanya, ketika kemuliaan bertambah maka tugas dan kewajiban bersyariat semakin besar.

Sebagai contoh, seorang laki-laki secara umum tidak sama dengan wanita, maka kewajiban bersyariat untuk laki-laki lebih besar dibanding wanita (baca QS. An Nisa: 34). Wallahu A’lam., Oleh: Ustaz Abi Makki


sumber : www.republika.co.id

Friday, November 21, 2014

Menuju Kesuksesan

Setiap orang yang hidup di atas bumi menginginkan hidupnya selalu sukses. Hanya sedikit yang mampu mencapainya. Kebanyakan belum mencapai level tersebut. Jika demikian, ada satu pertanyaan besar, mengapa orang yang menginginkan kesuksesan belum kunjung juga mendapatkanya? Untuk pertanyaan ini, Nabi Muhammad SAW sudah memberikan jawabannya.

Rasulullah SAW mengatakan, “Man salaka thariqan yaltamisu fihi ilman sahhalallahu lahu thariqan ilal jannah (Barangsiapa berjalan (keluar) mencari ilmu, sesungguhnya Allah akan mempermudah baginya jalan menuju surga)." (Hadis riwayat Ibnu Majah dan Abu Dawud)

Hadis itu menguraikan, Rasulullah menyebut seseorang yang sedang berjalan untuk menuntut ilmu dengan kata “salaka”. Padahal, berjalan dalam bahasa Arab tidak hanya “salaka”, masih ada kata “masya”, “sara”, “safara”, atau “dzahaba”.

Pertanyaannya, mengapa kata “salaka” yang dipilih Nabi, bukan selainnya. Rupanya, kata-kata selain “salaka” hanya mempunyai arti utama berjalan. Perjalannya, terkadang, hanya untuk mencari kesenangan belaka. Mungkin, pembaca pernah mendengar, orang yang berjalan untuk mencari hiburan disebut dengan “tamasya”. Kata tersebut berasal dari kata “masya”.

Jika Nabi menggunakan kata ini, niscaya orang yang menuntut ilmu ini hanya akan mencari kesenangan belaka. Padahal, perjalanan mencari ilmu bukanlah untuk mencari kesenangan.

“Salaka” bermakna orang yang berjalan dengan tegap dan cepat serta dengan pandangan fokus ke tujuan yang diimpikan. Dalam hal menuntut ilmu, Nabi menginginkan agar “thalib al-ilm” benar-benar berjalan dengan tegap dan cepat, bukan berjalan dengan berleha-leha, apalagi merangkak.  Jika ia tidak fokus, ia akan berhenti di tengah perjalanan, bahkan akan kembali ke rumah-jika ada hambatan yang mengadang.

Dengan berjalan tegap dan cepat, dia sekarang berada di tengah-tengah perjalanan. Nabi mengingatkan orang ini agar perjalanannya diiringi dengan “yaltamisu”, berpegang (memegang). Dalam hal ini pula, Nabi menggunakan kata “yaltamisu”, bukan “yumsiku” atau “qabadha”.

Jika “Yumsiku” yang digunakan oleh Nabi maka orang ini hanya akan sekadar memegang. Sementara, “yaltamisu” memiliki makna memegang erat-erat atau kuat-kuat. Bak orang yang hendak hampir jatuh ke jurang, orang ini akan memegangi ranting dengan kuat. Jika tidak, pasti ia akan jatuh ke dalam jurang.

Begitu juga dengan orang yang menuntut ilmu. Ketika sudah berada di tengah-tengah perjalanan (salaka), ia juga berpegang kuat-kuat. Dalam konteks ini, dia harus memegang kuat niat yang ada di dalam jiwanya. Dia pun tidak akan berhenti di tengah jalan meski diadang seribu halangan.

Kata kunci selanjutnya dalam hadis Nabi di atas ialah “jannah” yang berarti surga. Surga merupakan gambaran dari suatu tempat yang di dalamnya penuh kenikmatan. Tiap orang yang menikmati fasilitasnya, tidak perlu lagi bekerja. Semua hal yang diinginkan sudah disediakan di dalamnya.

Surga dengan gambaran demikian baru bisa dinikmati oleh seseorang ketika sudah meninggal dunia. Lantas, apakah surga seperti itu jadi jaminan bagi penuntut ilmu? Nabi SAW sadar, penuntut ilmu hidup di atas bumi. Dia menginginkan kehidupannya mapan dan tercukupi segala kebutuhannya.

Oleh karenanya, surga (jannah) dalam hadis di atas hanya merupakan simbol. "Jannah” di atas bermakna kesuksesan. Orang yang sudah sukses, hidupnya penuh dengan kenikmatan. Segala kebutuhan hidupnya terpenuhi dengan baik.

Dengan demikian, makna dari hadis Nabi di atas ialah, “Barang siapa yang mengadakan perjalanan dengan sungguh-sungguh untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan untuk menuju kesuksesan.” Inilah jaminan kepada siapa saja yang sudah berilmu, hidupnya akan sukses. Tidaklah mungkin orang tersebut akan sengsara. Wallahu A’lam.


Oleh: Nurul Hakim

sumber : www.republika.co.id

Monday, November 17, 2014

Pintu Surga

Surga dengan segala keindahan dan keelokannya memiliki banyak pintu masuk. Masing-masing pintu mempunyai nama-nama sendiri sesuai karakter yang akan memasukinya.
Seperti Sabda Rasulullah SAW, "Siapa yang selalu mendirikan shalat akan dipanggil dari pintu shalat. Siapa yang ikut berjihad, ia akan di panggil dari pintu jihad. Dan, barang siapa yang selalu melaksanakan puasa akan dipanggil dari pintu yang memancarkan air yang segar (Ar-Rayyan). Dan, barang siapa yang selalu memberikan sedekah akan di panggil dari pintu sedekah." (HR Bukhari).

Mendengar hadis ini, seorang sahabat paling dekat dengan Rasulullah, Abu Bakar RA, bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah bisa seseorang dipanggil dari semua pintu surga tadi?" ujarnya.

Rasulullah SAW bersabda, "Ya (bisa). Aku sangat berharap bahwa engkaulah yang termasuk seorang di antara mereka yang dipanggil dari semua pintu surga itu." (HR Bukhari).

Jika seseorang ingin masuk surga, setidaknya ia harus mengetahui dari pintu mana ia masuk. Artinya, ada amal andalan yang bisa mengantarkannya ke surga. Amal tersebut ibarat tiket yang ia pergunakan untuk melewati pintu surga. Tentu saja, jika seseorang tidak mempunyai tiket, ia tak akan diperkenankan masuk.

Misalkan, dengan berpuasa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya di surga ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat masuk dari pintu itu. Tidak dibolehkan seorang pun memasukinya selain meraka. Pintu itu mengimbau, 'Di mana orang-orang yang berpuasa?' Orang yang berpuasa pun bangkit. Tidak ada seorang pun yang masuk (pintu itu) kecuali dari mereka. Ketika mereka telah masuk, (pintunya) ditutup dan tak ada seorang pun yang bisa masuk lagi." (HR Bukhari Muslim).

Hanya mereka yang merutinkan puasa saja yang mempunyai harapan masuk dari pintu Ar-Rayyan ini. Siapa yang ingin masuk dari pintu ini maka seyogianya harus merutinkan dirinya dengan puasa-puasa sunah, seperti puasa sunah Senin-Kamis, puasa Asyura, puasa ayyamul bidh (puasa tengah bulan Hijriyah), dan puasa sunah lainnya. Di samping itu, ia juga harus menjaga puasa-puasa wajib.

Lantas, bagaimana nasibnya dengan orang-orang yang tidak mempunyai amal andalan? Berpuasa sering malas, shalat sering lalai, berjihad tidak ikut, beribadah sering enggan, berdakwah tidak mau. Lalu, mereka berangan-angan pula hendak masuk surga? Tentulah angan-angan mereka hanya sia-sia belaka.

Surga itu mahal, mustahil untuk didapatkan dengan angan-angan. Hanya orang-orang yang berkerja keras dengan harta dan dirinya, bersusah-payah beribadah, serta bersabar dengan ujian-ujian, merekalah yang pantas mendapatkan surga. Surga tak didapatkan dengan bersenang-senang dan gelak tawa. Terkadang, untuk mendapatkan tempat yang sangat mahal di akhirat itu, seseorang harus menanggung kelaparan, ketakutan, keletihan, serta sering berurai air mata. Merekalah yang pada akhirnya sampai ke dalam surga.

Adapun orang yang hanya bersenang-senang dengan duniawinya, tak mau direpotkan dengan urusan akhirat, enggan beribadah, dan tak mau mengisi ruhiahnya dengan agama. Ketika di akhirat, mereka selalu ditolak ketika hendak memasuki surga. Penjaga pintu surga tak mengizinkannya masuk karena ia tak termasuk dalam daftar peserta yang masuk ke pintu tersebut. Akhirnya, ketika seluruhnya telah masuk ke dalam surga, pintu surga pun tertutup. Tinggallah ia di luar meratapi nasib. Akhirnya, ia pun dimasukkan ke ruang tunggu, yakni neraka.

Ia dibersihkan dulu dari dosa-dosa yang memberatkannya. Sampai kapan? tidak ada riwayat pasti yang mengatakan berapa lama seseorang harus menunggu di 'ruang tunggu' bernama neraka itu. Ia disiksa sesuai dengan perangai buruknya selama di dunia. Sekejap saja seseorang dicelupkan ke dalam neraka, ia sudah babak belur seakan disiksa ribuan tahun lamanya. Apalagi, harus menanggung penyiksaan yang entah sampai kapan akan berakhir.

Bersyukurlah mereka yang mempunyai banyak amal andalan. Ketika ia sampai di pintu surga, para penjaga pintu berebut agar ia masuk di pintu mereka. Penjaga pintu Ar-Rayyan mempersilakannya, penjaga pintu shalat mengimbaunya, dan penjaga pintu jihad pun mengundangnya. Seperti Abu Bakar RA yang didoakan Nabi SAW bisa memasuki pintu mana saja yang ia kehendaki. Alangkah mulianya orang ini.
Oleh: Hanan Putra


sumber : www.republika.co.id