-
-

Tuesday, July 28, 2015

Maribaya Dibuka dengan Wajah Baru

Sudah hampir dua tahun objek wisata Maribaya mati suri. Sejak 13 September 2013 lalu, wisata yang terkenal dengan air terjunnya (curug) dan mata air panasnya itu ditutup lantaran tengah direnovasi oleh pihak swasta.

Namun, wisata yang sempat jadi ikon Kabupaten Bandung Barat tersebut kembali lahir dengan wajah baru. Meski masih dalam tahap pembangunan, Maribaya sudah kembali dibuka sejak 11 Juli lalu. Namanya pun berubah menjadi Maribaya Natural Hot Spring Resort.

Wisata Maribaya menyimpan legenda yang masih dipercayai warga lokal. Legenda ini sangat unik karena konon, nama Maribaya sendiri merupakan nama seorang putri anak petani miskin. Maribaya diambil dari dua suku kata bahasa sunda yakni, "Mari" artinya sehat dan "Baya" artinya bahagia.

Kisah legenda Maribaya berawal saat Eyang Raksa Dinata yang merupakan seorang petani miskin mempunyai gadis jelita bernama Maribaya. Melihat kecantikan anak gadisnya, sang bapak khawatir jika anaknya jadi rebutan pemuda di daerahnya dan menjadi petaka bagi keluarganya.

"Eyang Raksa pun mendapat ilham dan pamit pergi ke puncak gunung Tangkuban Parahu. Saat sedang bertapa, ia didatangi seorang kakek yang memeberikan dua bokor (gentong) berisi air. Salah satu bokor tersebut harus dibawa ke arah barat dan satu lagi ke arah timur," kata Elcha Nirmala, pramuwisata Maribaya mengisahkan, Selasa (28/7/2015).

Air yang ditumpahkan oleh bapaknya kemudian menyebar dan menjadi danau yang kita kenal dengan nama Situ Lembang. Sementara itu, sang bapak meminta Maribaya untuk menumpahkan air dalam bokor tersebut tak jauh dari rumahnya. Beberapa hari kemudian, kejaiban datang dimana air yang ditumpahkan Maribaya menjadi mata air panas.

Sekitar tahun 1835, Eyang Raksa Dinata menyematkan nama Maribaya di lokasi mata air tersebut. Konon, air tersebut dipercaya berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit. Para pengunjung yang ingin berobat kerap melemparkan uang logam ke dalam kolam sebagai imbalannya.

"Air panas ini mengandung senyawa bikarbonat yang sifatnya basa lemah dengan konsentrasi ion hidrogen sebesar pH 6,6-7,3 dengan suhu air 45,1 derajat celcius. Kandungan beberapa mineral penting di pemdandian ini dikatakan baik untuk radang sendi, otot, kulit, rematik, gangguan saraf, dan penyakit kulit lainnya. Bisa juga melembutkan kulit," lanjut Elcha.

Dulu, wisata Maribaya mempunyai tiga curug, yakni Curug Cigulung dan Curug Cikawari, dan Curug Omas. Namun, Curug Omas yang merupakan curug tertinggi kini dikelola mandiri oleh Provinsi Jawa Barat.

Wisata Maribaya yang terletak di Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat itu kini dilengkapi sejumlah fasilitas  seperti Food Court,  kolam pemandian ari panas, area barbeque, cafe, amphitheater, kolam tangkap ikan dan Yoga Hill melengkapi dua curug andalan, yakni Curug Cigulung dan Curug Cikawari.
Sumber: www.galamedianews.com/wisata/

Apa yang Perlu Ditingkatkan Setelah Ramadhan?

Dan Ramadhan pun berlalu. Tidak ada perjumpaan terindah kecuali berjumpa dengan Ramadhan. Sekaligus tidak ada perpisahan yang mengharukan terselip kesedihan kecuali berpisah dengan Ramadhan.

Disebut perjumpaan terindah karena di bulan ini banyak di antara kaum Muslimin mendadak saleh dan berwajah taat. Ramadhan sebagai syahrut tarbiyah berhasil mendidik mereka menjadi pribadi elok, gampang beringsut untuk berbuat baik.

Dan disebut perpisahan yang mengharukan karena Ramadhan yang setahun sekali datangnya ini belum tentu kita adalah yang akan menemuinya lagi. Syawal sebagai bulan setelahnya, apakah bisa melesatkan minimal mengamankan dan melestarikan semua amal kebaikan Ramadhan yang indah itu.

Nah, kita bersedih karena khawatir diri kita tidak bisa meneruskannya apalagi meningkatkannya, sebagaimana yang diminta dengan kehadiran Syawal sebagai syahrut tarqiyah (bulan peningkatan).

Apa yang perlu kita tingkatkan? Pertanya an ini menarik, sebab banyak kita tidak menyadari Ramadhan itu sebenarnya prosesi awal dari 11 bulan berikutnya. Bagaimana Allah menguji kita, apakah kebiasaan tilawah minimal sehari satu juz dapat bertahan. Bahkan seharusnya dilebihkan.

Perlunya melebihkan karena pahalanya tidak digandakan lagi sebagaimana di bulan Ramadhan sementara sebagai bekal untuk menghalau godaan maksiat dan berdosa sedikit. Bukankah setelah Ramadhan pintu maksiat dan dosa semakin terbuka, disebabkan setan telah terlepas dari belenggunya?

Untuk itulah kita perlu melebihkan bacaan tilawah Alquran. Ketika Ramadhan kita sibuk tadarus Alquran, tiada hari tanpa membaca firman Allah. Itu mengapa hati kita selalu tenang selama menjalani sakralitas ibadah shaum. Sebab, kalimat Alquran mengendap kuat di hati kita.

Berikutnya tentu tarqiyatul ‘ibadah, peningkatan ibadah khususnya amal sunah.  Kalau amal wajib sudah pasti, tidak boleh sedikit pun terpikir untuk mening galkannya. Yang sunah harus menjadi kecintaan sebagaimana cintaya kit a dengan Tarawih, shalat berjamaah selalu di masjid dan tepat waktu, sedekah atau berbagi takjil, iktikaf, dan lain sebagainya.

Dari kecintaan itu tumbuh semangat untuk menghidupkannya, di mana pun, kapan pun dan dalam kondisi bagaimana pun. Harusnya semua amal sunah itu kita teruskan dan tingkatkan.

Tarqiyatul akhlaq, peningkatan akhlak dan kepribadiaan adalah hal yang juga harus kita teruskan di bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya. Selama Ramadhan kita melatih lidah kita untuk berpuasa dari amarah, ucapan kotor, dusta, fitnah, gibah, sifat dengki, dan berkata kasar. Proses itu berujung terciptanya manusia saleh yang berakhlak mulia seperti yang dicontohan Rasulullah SAW.

Sebagai pihak yang kedatangan tamu Syawal harusnya kita meneruskan dan berikhtiar kuat untuk meningkatkan kualitas kepribadian itu, demi terbukanya tabir kebaikan yang Allah janjikan kepada siapa pun yang berakhlak mulia. Sebuah maqalah Arab menyebutkan, maa syarafal mak hluq illa bihusnil khuluq, tidak ada kemuliaan seorang makhluk kecuali pada kemuliaan akhlak.

Walhasil, setelah Ramadhan benar-benar berlalu renungi firman-Nya dalam surah al-Insyirah [94], ayat 7, fa idza faraghta fanshab, jika engkau sudah selesai dengan satu urusan, kembalilah tegak (untuk meneruskan dan beramal lain). Dari tarbiyah kita menuju tarqiyah. Wallahu a’lam.

Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham

sumber : www.republika.co.id

Friday, July 24, 2015

Jadikan Perjalanan Mudik Safari Dakwah

Sahabatku mari kita kenali adab sunnah dalam safar pulang kampung :
Luruskan niat untuk mencari RIDHO ALLAH, sehingga perjalanan pun tidak sia-sia penuh berkah Allah, Berdoa agar selalu dilindungi Allah selama dalam perjalanan dan keluarga yang ditinggalkan,

Rasulullah mengajarkan untuk pamit dan mohon doa pada keluarga dan para sahabat. Buat wasiat untuk keluarga, shalat sunnah safar dua rakaat, berwudhu selalu, dan tebarkan salam,

Jaga kemuliaan akhlak terutama kelembutan tutur kata, kedermawanan, dan kerendahan hati,
Selama perjalanan perbanyak zikir, sholawat, murojaah hafalan ayat-ayat Alquran,

Jauhi keluh kesah dan buruk sangka,

Melihat segala kejadian dengan baik sangka,

Jaga mata dari apa yang Allah haramkan,

Sunnahnya tidak sendirian,

Memilih imam safar kalau berombongan,

Jadikan perjalanan sebagai safari dakwah, silaturahim, dan muhasabah diri.  Perhatikan semua ciptaan Allah dengan segala kejadiannya, tidak pernah terjadi tanpa iradah dan qudrahnya.

"Dan di bumi terdapat ayat-ayat Allah bagi mereka yang yaqin, demikian pula pada diri kalian sendiri, apakah kalian tidak memperhatikan?" (QS Adz Dzariyat 20-21).

Semoga Allah berkahi perjalanan pulang kita dengan keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat... Aaamiin. Maafkan kesalahan abang, duhai sahabatku.
Sumber: Akun Facebook Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham
sumber : www.republika.co.id

Friday, July 10, 2015

Libur Lebaran, Tiket Kebun Binatang Bandung Alami Penyesuaian

Pengelola Taman Margasatwa Kebun Binatang Bandung memberlakukan penyesuaian tarif masuk ke lokasi wisata itu dari Rp 20.000/orang menjadi Rp 26.000/orang mulai 17 Juli 2015 atau hari pertama libur Lebaran 2015.

"Penyesuaian harga tiket itu sudah termasuk sumbangan PMI sebesar Rp1.000 yang mana sebelumnya Rp500. Penyesuaian itu akan berlaku mulai tanggal 17 Juli 2015," kata Seksi Humas Kebun Binatang Kota Bandung Sudaryo di Bandung, Selasa (7/7/2015).

Menurutnya, penyesuian harga tiket masuk itu tidak didasarkan atas komersialisasi, melainkan untuk menutupi kebutuhan operasional karena tahun kemarin telah mengalami defisit.

"Kami Lembaga Konservasi dan milik individu, otomatis biaya operasional menjadi tanggung jawab kami," katanya.

Menurut dia sebesar 60 persen dari penghasilan per tahun digunakan untuk kebutuhan operasional. Selain itu, kata Sudaryo, rencananya akan menambah beberapa wahana, seperti taman anak-anak, gajah tunggang dan unta tunggang.

Selain itu pihaknya menambah jumlah loket, di pintu satu menjadi sepuluh loket, pintu dua dan tiga menjadi enam loket.

Lebih lanjut ia menambahkan jumlah permintaan tiket setiap tahunnya fluktuatif dan tidak pernah kekurangan tiket. Pada libur Lebaran tahun ini 200 ribu tiket akan disediakan. Ia mengatakan liburan lebaran tahun 2014 tiket terjual mencapai 179 ribu, dengan hitungan 60 persen warga Bandung dan 40 persen luar Bandung.

"Liburan nanti kami targetkan lebih dari jumlah sebelumnya, sebab rencananya penghasilan tahun ini selain untuk kebutuhan operasional juga bertujuan menutupi defisit tahun lalu," katanya.

Sudaryo menyadari, Kebun Binatan Bandung menjadi salah satu tujuan wisata pada saat libur lebaran. Persiapan lainnya, yakni penambahan petugas kebersihan. Jumlah yang dibutuhkan kata dia sebanyak 20 orang untuk kebun binatang yang luasnya 14 hektare.

"Hari-hari biasa, untuk membersihkan seluruh kebun binatang ini cukup oleh empat orang. Untuk hari libur kami tambah 16 orang," katanya.

Sudaryo menyadari kebun binatang itu adalah satu-satunya yang ada di Bandung. Bukan hanya sebagai tempat wisata, melainkan sebagai lembaga konservasi, tempat penelitian dan wisata pendidikan bagi anak TK sampai SMA.

Untuk mewujudkannya, kata Sudaryo, akan semaksimal mungkin ingin memberikan kesenangan dan kenyamanan, seperi soal kebersihan.

"Saya harap kebun binatang Bandung tetap menjadi tujuan wisata masyarakat, tertib membeli tiket dan kami tidak ingin mengecewakan pengunjung," katanya menambahkan.

Wednesday, July 08, 2015

Dua Kegembiran Mereka yang Berpuasa

Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan, yaitu saat berbuka puasa dia bergembira dengan makanannya, dan jika bersua Rabbnya dia bergembira dengan puasanya.” (HR Bukhari Muslim)

Kegembiraan orang yang berpuasa saat berbuka merupakan kegembiraan yang alami karena dia mendapatkan kebebasannya kembali dari apa yang tadinya dilarang. Kegembiraan berbuka puasa juga merupakan kegembiraan yang religius karena dia berhasil menyelesaikan ibadah puasanya.

Berbuka puasa adalah momentum yang sangat efektif untuk meningkatkan kebersamaan antara sesama anggota keluarga dalam sebuah rumah tangga.

Kalau pada hari-hari biasa sangat sulit untuk mencari waktu makan bersama antara suami istri karena kesibukan masing-masing, apalagi makan bersama lengkap dengan anak-anak, dalam bulan Ramadhan ini kesempatan itu datang lebih banyak—kalau bukan setiap hari—tatkala buka puasa.

Kesemp atan kebersamaan itu lebih banyak lagi, bahkan mungkin bisa setiap hari tatkala makan sahur. Kebersamaan antara seluruh anggota keluarga pada waktu berbuka dan sahur akan meningkatkan soliditas keluarga tersebut.

Begitu juga acara buka bersama yang diadakan dalam komunitas tertentu, seperti di masjid untuk lingkungan RT, di kantor untuk lingkungan kerja, di kampus untuk civitas akademika, di organisasi massa atau lingkungan para pejabat negara, tentu juga akan meningkatkan kebersamaan.

Kegembiraan waktu berbuka, gelak tawa, dan canda serta obrolan-obrolan ringan menjelang berbuka puasa tentu sangat bermanfaat untuk meningkatkan kebersamaan. Sekat, sumbat, dan hambatan komunikasi yang hari-hari biasa sukar dihilangkan, dalam suasana berbuka bersama akan mudah terpecahkan.

Di samping acara buka puasa bersama yang diadakan dalam komunitas tertentu, juga tidak sedikit para muhsinin yang menjamu orang-orang miskin dan anak-anak yatim untuk berbuka puasa bersama.

Ada yang menjamu langsung ke rumah yang be rsangkutan, dan ada juga yang mengadakannya di panti-panti asuhan atau cukup mengirim paket buka puasa dalam jumlah tertentu.

Tidak sedikit juga yang di samping jamuan buka puasa, mereka membagikan tanda mata atau rupa-rupa hadiah berupa barang-barang keperluan harian, perlengkapan shalat, dan perlengkapan sekolah.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menjamu dan membagi-bagikan bantuan untuk kaum yang tidak berpunya itu adalah cara menyampaikannya.

Harus diberikan dengan cara-cara yang mulia, artinya tetap memuliakan mereka yang tidak beruntung secara finansial tersebut. Jangan lagi terjadi kecerobohan dalam membagi-bagikan bantuan sehingga tidak hanya terkesan merendahkan martabat fuqara dan masakin, tapi juga dapat membahayakan nyawa mereka seperti sudah pernah terjadi beberapa kali.

Penulis terkesan pernah mendampingi wali kota dan wakil wali kota suatu kota, bersama pejabat sipil dan militer mengantarkan paket bantuan ke rumah-rum ah orang-orang miskin.

Data orang-orang miskin beserta alamat mereka dikumpulkan oleh para reporter media yang biasa meliput di kantor-kantor pemerintahan setempat. Ini merupakan kerja sama yang indah dan bermanfaaat. Demikianlah sekelumit gambaran kebersamaan dalam bulan Ramadhan yang dapat meningkatkan solidaritas umat.

Oleh: Yunahar Ilyas
sumber : www.republika.co.id

Tuesday, July 07, 2015

Keistimewaan Malam Nuzulul Quran

Nanti malam, kita akan memasuki hari ke-17 bulan Ramadhan. Hari yang bersejarah dalam perjalanan kitab suci umat Islam, yaitu Alquran. Di hari inilah sebuah hal luar biasa 14 abad lebih yang lalu terjadi.

Alquran diturunkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada nabi tercinta kita, Muhammad SAW. Dan, peristiwa ini ghalib disebut dengan Nuzulul Quran.

Nuzulul Quran yang secara harfiah berarti turunnya Alquran adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting mengenai penurunan wahyu Allah pertama kepada nabi dan rasul terakhir, yakni Nabi Muhammad.

Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah surah al-Alaq ayat 1-5. Saat wahyu ini diturunkan, Nabi Muhammad sedang ber-tahannus (menyendiri) di Gua Hira. Ketika itu, tiba-tiba Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu tersebut.

Tidak ada malam yang sangat istimewa dalam perjalanan Islam kecuali malam ini. Di malam inilah berkumpul kejadian-kejadian istimewa; sesuatu yang istimewa yang sangat diperlukan sebagai penuntun umat manusia turun, yaitu Alquran.

Terjadi pelantikan dan pengukuhan manusia paling istimewa sebagai pembawa risalah dan penjelas Alquran dan semua yang dikehendaki Allah Zat Penguasa kehidupan, yaitu Nabi Muhammad SAW, serta dibentangkan malam penentu keadaan yang ditaburi banyak kemuliaan yang satu malamnya bernilai lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar.

Turunnya Alquran tidak hanya sebuah penegasan atas kemuliaannya dan sekaligus yang menerimanya, yaitu Nabi Muhammad ,tetapi juga harus diiringi semangat untuk kembali kepada Alquran dan sunah, mempelajarai, menghayati, dan berazam mengamalkannya.

Antara Alquran dengan Nabi Muhammad adalah sesuatu yang tidak bisa dipisah. Bahkan, jika ingin mengetahui bagaimana Alquran dalam penerapan terbaik, jawabannya ada pada diri Nabi Muhammad.

Karena itu, Nuzulul Quran harusnya dimaknai sebagai upaya untuk kembali mem pelajari Alquran dan semua sirah Nabi. Kehadiran Nabi adalah penjelas dan penerjemah paling benar terkait informasi-informasi Alquran.

Bahkan, ada yang menyebut kalimat sederhana terkait Alquran, Nabi Muhammad adalah Alquran yang berjalan. Memperingati Nuzulul Quran berarti sesungguhnya bersiap kembali menghidupkan Alquran dan sunah Nabi. Tiada hari dalam Ramadhan dan selepas Ramadhan kecuali bersama Alquran dan sunah Nabi SAW.

Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham

sumber : www.republika.co.id

Tuesday, June 30, 2015

Puasa Ibadah Abadi

Berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain, ibadah puasa diwajibkan oleh Allah SWT tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi umat-umat terdahulu, seperti diterangkan secara eksplisit dalam ayat al-shaum, al-Baqarah ayat 183.
Menurut sejumlah pakar tafsir, terutama yang menyandarkan pendapatnya pada Ibn Abbas, frasa “al-ladzina min qablikum” pada ayat di atas menunjuk pada Ahl al-Kitab, yaitu orang-orang Yahudi, umat Nabi Musa AS dan orang-orang Nasrani, umat Nabi Isa AS.

Seperti diketahui, Nabi Musa berpuasa selama 40 hari. Orang-orang Yahudi berpuasa Asyura, puasa tanggal 10 bulan ketujuh dalam kalender mereka. Di luar itu, ada beberapa hari lain  mereka harus puasa. Orang-orang Nasrani juga puasa.

Puasa mereka tidak berbeda dengan orang-orang Yahudi, di antaranya, puasa besar, satu hari sebelum Hari Raya Paskah. Imam al-Alusi dan juga Fakhruddin al-Razi memahami lebih luas 'umat terdahulu,' tak hanya Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani, tetapi semua umat manusia, sejak dari Nabi Adam AS hingga sekarang.

Syekh Muhammad Abduh malah lebih luas lagi, dengan menunjuk puasa yang dilakukan kaum paganis, baik di Mesir kuno, Yunani, Romawi, maupun India. < br />
Bagi Abduh, fakta ini menunjukkan adanya benang merah, kesatuan (sumber) agama (wahdat al-din) ditilik dari prinsip-prinsip agama dan cita-cita atau tujuan mulia yang dibawanya. Umat Islam dapat memetik pelajaran atau hikmah dari kenyataan bahwa puasa merupakan ibadah abadi yang diwajibkan oleh Allah kepada semua umat manusia. Tak ada umat dari seorang nabi, kecuali diwajibkan atas mereka puasa.

Setidaknya, ada tiga pelajaran penting yang dapat dipetik. Pertama, al-ihtimam bi hadzih-I al-`ibadah, kita mesti memberi perhatian khusus pada ibadah ini, memahami berbagai keutaman yang ada di dalamnya, serta memanfaatkan sebaik mungkin untuk mempertinggi ibadah dan amal kebajikan agar kita menjadi orang takwa.

Kedua, an-la yatstatsqilu bi hadzih-I al-ibadah, kita tidak sepatutnya merasa berat dengan ibadah puasa. Kalaulah ada perasaan semacam itu, sadarilah bahwa ibadah ini juga dibebankan kepada umat-umat terdahulu.

Dikatakan, kalau kit a menyadari bahwa rasa berat atau kesulitan itu menimpa semua orang m aka kesulitan itu akan terasa ringan.

Ketiga, itsarat al-qiyam bi hadzih-I al-faridhah, agar kita terdorong dan termotivasi melaksanakan kewajiban (puasa) ini sebaik mungkin, melebihi umat terdahulu. Di sini ada logika keunggulan (al-afdhaliyah wa al-khairiyah) yang mesti dibangun umat Islam, sebagaimana diutarakan Sayyid Thanthawi.

Umat Islam telah dinobatkan oleh Allah SWT sebagai umat terbaik, (khaira ummah) atas umat terdahulu (QS Ali Imran [3]: 110). Kalau puasa diwajibkan kepada umat terdahulu, semua umat, tanpa kecuali, dan mereka mampu melaksanakan maka sesuai dengan logika keunggulan tadi, umat Islam sebagai umat terbaik harus mampu dan sanggup melaksanakan ibadah ini secara lebih baik lagi.

Sebagai ibadah abadi dan universal, puasa bila dilaksanakan dengan benar dan tulus karena Allah (imanan wa ihtisaban) maka ia akan mengantar kita sebagai pribadi maupun bangsa menuju kemuliaan dan keadaban. Wallahu a`lam! 
Oleh: A Ilyas Ismail
sumber : www.republika.co.id

Friday, June 26, 2015

Inilah Kampung Maroko di Tepi Sungai Citarum

Nama Maroko dengan jelas terpampang pada papan penunjuk arah di Jalan Cihampelas menuju Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Setidaknya ada tiga papan penunjuk arah yang menunjukkan lokasi daerah di tepian Sungai Citarum itu.
Banyak yang mengira, Kampung Maroko di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat itu berkaitan dengan nama negara di wilayah Afrika Utara. Padahal, sama sekali tidak ada hubungannya.
"Memang ada negara Maroko di Afrika, tetapi tidak ada ceritanya yang menghubungkan dengan nama kampung ini," kata Ipin Surjana, Kades Mekarjaya, Selasa (23/6/2015).
Meski merupakan warga asli setempat, Ipin mengaku tak tahu menahu cerita soal penamaan kampung Maroko. Nama itu, menurut dia, sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.
Selain Kampung Maroko, warga sekitar juga mengenal daerah itu dengan nama Pasar Aci. Julukan itu mengacu pada sebuah pasar yang berada di ujung kampung di tepi Sungai Citarum.
Pasar tersebut hingga kini masih menjadi pusat perekonomian warga. Di pasar ini, dijual berbagai kebutuhan rumah tangga mulai dari sembako, sayuran, buah-buahan hingga pakaian.
"Pasar itu hanya beroperasi dua kali dalam seminggu, yaitu Selasa dan Jumat mulai dari Subuh sampai sebelum Zuhur," ujar Ipin.
Di sekitar pasar, banyak keretek atau delman yang menjadi salah satu alat transportasi warga sejak dulu. Namun, saat ini jumlahnya berkurang seiring dengan meningkatnya kepemilikan sepeda motor.
Tepat di belakang pasar, berdiri sebuah dermaga tempat sejumlah perahu kayu berlabuh. Dermaga tersebut baru diresmikan Dinas Perhubungan Pemprov Jabar pada akhir 2014 lalu.
Keberadaan Dermaga Maroko, menurut Ipin, sangat penting untuk akses perekonomian warga di desanya. Dengan keberadaan dermaga, bongkar muat sejumlah perahu yang menghubungkan akses masyarakat di Kecamatan Cihampelas dan Kecamatan Saguling itu menjadi lebih mudah.
"Bahkan, masyarakat di Kecamatan Saguling kerap berbelanja ke Pasar Maroko untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi, keberadaan dermaga memang penting untuk perekonomian warga," tutur Ipin.
Meski demikian, pengelolaan Dermaga Maroko dilakukan sepenuhnya oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pemerintah desa setempat sama sekali tidak dilibatkan untuk mengelolanya. Tentu saja, pendapatan asli daerah dari keberadaan dermaga tersebut pun tidak masuk ke kas desa.
Meski menjadi akses vital masyarakat di dua kecamatan, Dermaga Maroko tidak ditunjang dengan infrastruktur jalan yang memadai. Jalan menuju dermaga itu sudah lama rusak dan tak kunjung diperbaiki.
Padahal, pemandangan di sekitar dermaga cukup menjual untuk menarik wisatawan. Selain genangan air Waduk Saguling yang tenang, juga banyak kolam terapung yang menjaring banyak ikan.

Ditemani udara sejuk khas pegunungan, lokasi tersebut juga cocok untuk tempat berkumpul keluarga sambil menikmati ikan bakar di saung. Jika dikembangkan, lokasi dermaga cukup berpotensi menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Bandung Barat.
sumber: pikiran-rakyat.com

Tuesday, June 23, 2015

Delapan Keutamaan Puasa

Diriwayatkan dari Abu Umamah, dia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku suatu amalan yang akan memasukkanku ke dalam surga. Rasulullah SAW menjawab, ‘Kamu harus puasa karena puasa itu tidak ada bandingannya.’’’ (Musnad Ibni Hambal, juz 5, hlm 264, hadis nomor 22.330).

Setelah peristiwa itu, di rumah Abu Umamah tidak terlihat asap mengepul saat siang hari kecuali bila kedatangan tamu. Jika orang-orang melihat asap di rumahnya, mereka langsung paham bahwa Abu Umamah sedang kedatangan tamu. (lihat kitab Attabwib al Maudhui lil ahadits, juz I, hlm 18.316).

Amalan untuk masuk surga cukup banyak seperti dijelaskan berbagai hadis sahih, tetapi mengapa Rasulullah memerintahkan puasa dan menyatakan bahwa puasa tiada bandingannya dengan ibadah lain? Ini menunjukkan, puasa memiliki keutamaan sebagai penyebab orang masuk surga. Bahkan, dalam hadis tersebut Rasulullah menyebutkan alasan keut amaan puasa dibandingkan ibadah lainnya, dengan ungkapan, “Puasa itu tidak ada bandingannya”. Hal ini menunjukkan beberapa keutamaan puasa.

Pertama, puasa tiada bandingannya dalam hal pahala. Rasulullah meriwayatkan hadis qudsi, “Setiap amalan anak cucu Adam adalah miliknya kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan Aku yang langsung membalasnya.’’ Di sisi lain, puasa merupakan latihan kesabaran dan orang-orang sabar akan diberi balasan tanpa batas. (QS az-Zumar:10).

Kedua, berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya yang bisa terlihat oleh orang lain, puasa yang tahu hanyalah Allah dan orang yang melakukannya. Allah menegaskan dalam hadis qudsi, “Orang berpuasa itu meninggalkan makanan dan minumannya untuk diri-Ku (Allah). Maka, puasa itu milik-Ku dan Aku (Allah) sendiri yang akan memberikan pahala karenanya.’’ (HR Bukhari ).

Ketiga, puasa memiliki keutamaan karena dinisbatkan kepada Allah. Berdasarkan hadis qudsi di atas yang menyatakan bahwa “puasa adalah milik-K u”, berarti Allah memang selalu puasa tidak pernah makan dan minum.

Keempat, orang puasa dimuliakan Allah sehingga disiapkan pintu khusus di surga. Dari Sahal bin Sa’ad, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya surga itu mempunyai satu pintu yang disebut ar-Rayyan. Pada hari kiamat nanti pintu tersebut akan bertanya, di mana orang-orang yang berpuasa? Apabila yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itu akan tertutup.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Kelima, puasa adalah perisai dari semua perbuatan buruk dan akhlak tercela. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, ‘’Puasa itu perisai, apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, hendaklah ia tidak berkata keji dan membodohi diri. Jika seseorang memerangi atau menghinanya, maka hendaklah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’’’ (HR Bukhari).

Keenam, puasa tiada tandingannya dalam merealisasika n ketakwaan sehingga Allah langsung menyebutkan sasaran utama puasa, yaitu merealisasikan ketakwaan. (QS al-Baqarah: 183).

Ketujuh, puasa adalah ibadah yang efektif untuk mematahkan nafsu. Karena, berlebihan dalam makan ataupun minum serta menggauli istri, bisa mendorong nafsu untuk berbuat kejahatan, enggan mensyukuri nikmat, serta mengakibatkan kelengahan.

Kedelapan, puasa mempersempit jalan setan masuk kepada anak Adam melalui jalan aliran darah. Dengan berpuasa, dia aman dari gangguan setan, kekuatan nafsu syahwat, dan kemarahan. Karena itu, Nabi menjadikan puasa sebagai benteng untuk menghalangi nafsu syahwat. Walhasil, bila seorang Muslim berpuasa sesuai tuntunan Rasulullah, pasti menjadi orang bertakwa dan ahli surga. Wallahu a’lam.
Oleh: Ahmad Satori Ismail
sumber : www.republika.co.id

Sunday, June 21, 2015

Tiga Keutamaan Bersikap Sabar

Tak terasa, kini kita berada di penghujung Syaban dan tidak lama lagi akan kedatangan Ramadhan 1436 H. Bulan yang dirindu kedatangannya oleh setiap orang beriman. Salah satu upaya yang harus kita lakukan dalam menyosong Ramadhan adalah melatih diri untuk sabar.
Itu karena Ramadhan adalah bulan kesabaran. Rasulullah SAW bersabda, "Inilah (Ramadhan) bulan kesabaran dan ganjaran bagi kesabaran yang sejati adalah surga." (HR Ibnu Khuzaimah). Hal ini kita lakukan agar mampu bersabar saat berada di bulan Ramadhan.
Sabar itu bisa dalam melaksanakan ketaatan, sabar dari kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi musibah. Sebab, tidak jarang saat berada di bulan Ramadhan diri kita tidak dapat bersikap sabar, seperti mudah emosi, malas beribadah, dan mengisi waktu dengan hal tak bermanfaat.
Akibatnya, kita tidak mendapat apa pun dari Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda, "Ketika aku menaiki tangga pertama, Jibril muncul di hadapanku dan berkata, `Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan yang penuh berkah tetapi tidak memperoleh ampunan.' Maka aku berkata, `Amin."
(HR Hakim).
Sabar adalah menahan kecenderungan jiwa terhadap tuntutan akal dan syarak. Orang yang bersabar adalah orang yang selalu menepati jalan Allah dan konsisten berada di jalan-Nya. Dalam ajaran Islam, sabar memiliki kedudukan yang tinggi lagi mulia.
Sabar merupakan kunci memperoleh akhlak mulia dan penghilang seluruh kegelapan, kesulitan, dan penderitaan, sebab sabar merupakan sinar yang menerangi kehidupan.  Di dalam Alquran, Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk bersabar, sebagaimana firman-Nya, "Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar." (QS al- Ahqaaf [46]: 35).
Ketika seseorang telah sampai pada tingkat shaabirin(orang-orang yang sabar) maka Allah SWT akan memberikan berbagai kebaikan. Di antaranya, pertama, senantiasa ada dalam pertolongan Allah SWT.
Kedua, balasan yang lebih baik dan pahala tanpa batas.
"Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (an-Nahl [16] :96).
Ketiga, akan mendapatkan kepemimpinan dalam agama. Upaya yang harus dilakukan agar kita memiliki sikap sabar, selain dengan bermujahadah dan membiasakan diri mematuhi ajaran-ajaran Allah SWT, adalah dengan memohon kepada Allah SWT untuk menganugerahkan kesabaran kepada kita.
Menurut Rasulullah, "Barang siapa me minta sabar maka Allah menyabarkannya. Seseorang tidak diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada pemberian berupa sabar.'' (HR Muslim).
"Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." (QS al- Baqarah [2]: 250) Amin. Wallahu'alam.

Oleh: Moch Hisyam

sumber : www.republika.co.id

Friday, June 19, 2015

Tolong jangan bilang anakku “pintar”…. (Fixed Mindset Vs Growth Mindset)

Emangnya kenapa? Kata pujian “anak pintar” itu bukannya sebuah tanda penghargaan ya buat si anak? Plus dobel fungsi jadi topik obrolan basa-basi di ruang tunggu dokter, bangku di toko mainan, dan sambil mengawasi anak-anak main di taman? Triple plus di acara arisan keluarga, saat semua ponakan/cucu/kakak-adik lagi berkumpul bersama.

Lalu, ada apa dengan label “pintar” itu?

Beberapa bulan yang lalu, saya diberikan kesempatan untuk bantu menterjemahkan artikel pendidikan untuk sebuah program sekolah. Di antara sekian banyak artikel, satu yang benar-benar membuat saya berhenti, membaca berulang-ulang, dan berpikir kembali adalah artikel mengenai fixed vs. growth mindset. Kedua kubu tersebut merupakan bahasan penelitian berjangka yang dilakukan oleh Carol Dweck, yg dipublish dalam bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success (2006).

Dweck meneliti efek jenis pujian yang diberikan ke anak-anak:

satu kelompok dipuji “kepintarannya” (“You must be smart at this.”)

dan kelompok yang lain dipuji atas usaha (effort) mereka (“You must have worked really hard.”) setelah setiap anak menyelesaikan serangkaian puzzle non-verbal secara individual.

Puzzle di ronde pertama memang dibuat sedemikian mudah sehingga setiap anak pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Setelah dipuji, anak-anak tersebut diberikan pilihan jenis puzzle buat ronde kedua: satu puzzle yang lebih sulit daripada puzzle di ronde pertama, namun mereka akan belajar banyak dari mencoba menyelesaikan puzzle tsb; dan pilihan puzzle lainnya adalah puzzle yang mudah, serupa dengan yang di ronde pertama.

Dari kelompok anak-anak yang dipuji atas usaha mereka, 90% anak-anak memilih rangkaian puzzle yang lebih sulit. Mereka yang dipuji atas kepintarannya sebagian besar memilih rangkaian puzzle yang mudah.

Lho, kenapa anak-anak yang dipuji “pintar” malah memilih puzzle yang mudah??

Menurut Dweck, sewaktu kita memuji anak karena kepintarannya, kita menyiratkan bahwa mereka harus selalu mempertahankan label “anak pintar” tsb, sehingga nggak perlu ambil risiko yang menyebabkan mereka akan berbuat salah alias terlihat “tidak pintar” (“look smart, don’t risk making mistakes.”)

Dalam ronde tes berikutnya, anak-anak itu tidak mempunyai pilihan: mereka semua harus menyelesaikan rangkaian puzzle yang diberikan memang dibuat sulit, 2 tahun di atas usia anak-anak itu. Seperti yang sudah diperkirakan, semua anak gagal menyelesaikannya. Namun, kelompok anak-anak yang dari awal dipuji atas usaha mereka menganggap mereka kurang fokus dan kurang keras upayanya untuk menyelesaikannya. Mereka menjadi sangat terlibat dan berusaha mencoba semua solusi yang dapat mereka pikirkan. Tak banyak dari mereka yang berkomentar bahwa “tes ini adalah yang paling saya sukai”.. kok gitu? Sedangkan kelompok yang dipuji atas kepintarannya menganggap kegagalan mereka sebagai bukti bahwa mereka sebenarnya memang tidak pintar. Tim peneliti mengamati bahwa anak-anak ini berkeringat dan tampak sangat terbebani selama mengerjakan tes.

Nah, setelah semua mengalami kegagalan, pada ronde tes terakhir, mereka diberikan tes yang dibuat semudah tes pada ronde pertama. Kelompok yang dipuji atas usaha mereka mengalami peningkatan skor hingga 30%. Sedangkan anak-anak yang diberitahu bahwa mereka “anak pintar” malah menurun skornya hingga 20%.

sudah curiga bahwa jenis pujian akan memberikan dampak, namun dia tidak menyangka sejauh ini efeknya. Menurutnya, “penekanan pada usaha memberikan anak-anak variabel yang bisa mereka kendalikan, mereka akan menilai bahwa mereka sendirilah yang pegang kendali atas kesuksesan mereka. Sedangkan penekanan pada kecerdasan alami justru mengambil kendali dari tangan anak dan menyebabkan cara berespons yang jelek terhadap sebuah kegagalan.”

Pada wawancara yang dilakukan setelahnya, Dweck menemukan bahwa mereka yang menganggap bahwa kecerdasan alami adalah kunci dari kesuksesan mulai mengecilkan pentingnya upaya yang diberikan. Penalaran mereka adalah “aku kan anak pintar, aku tidak perlu susah-susah berusaha”. Ketika mereka diminta untuk berusaha lebih keras, mereka malah menganggap hal tersebut sebagai bukti bahwa mereka nggak sepintar anggapan mereka. Efek jenis pujian ini terlihat pada penelitian yang dilakukan pada anak-anak pada kelas sosioekonomi yang berbeda-beda, baik pada laki-laki maupun perempuan, bahkan pada anak prasekolah juga menunjukkan adanya pengaruh.

Okay. Nafas dulu. Setidaknya, saya setelah baca hasil penelitiannya harus ambil nafas dan bercermin. Anak sulungku sudah sering dipuji “pintar”, alhamdulillah. Tapi memang pada beberapa kesempatan, dia enggan mencoba hal-hal baru (yang menurutnya susah) dan sempat mudah menyerah ketika mengalami hambatan, misalnya dalam upayanya membuat kreasi Lego sendiri (tanpa instruksi) atau saat dia latihan lagu piano yang lebih susah buat lomba. Kalau menggambar bebas, masih suka frustrasi saat “salah” dan minta ganti kertas atau malah ganti kegiatan yang lain. Oh my little boy, I’m so sorry. I didn’t know. Apalagi dia termasuk anak yang introvert dan lebih mudah cemas. Nah, jelas kan kenapa penelitian ini sangat menohok buat saya.

Meskipun saya dulu pernah baca artikel yang menyebutkan kenapa lebih baik memuji upaya daripada hasil, namun saya baru kali ini membaca penelitian yang terkait. Dan jadi sadar betul betapa besar efeknya jenis pujian yang kita berikan. Namun demikian, old habits die hard. Especially with the older generation. Gimana caranya saya ngasih tau ke mertua kalau mau muji cucunya tersayang, jangan bilang kalau dia “pinter” melainkan harus memuji upaya kerasnya? Padahal budaya kita sangat sarat dengan “label” pada anak-anak, dengan label “anak pintar” menjadi primadona segala label. Belum lagi kebiasaan membandingkan anak satu dengan anak lainnya, cucu satu dengan cucu lainnya. Oh boy, pe-er nya banyak banget ini.

Okay , balik lagi ke konsep growth vs. fixed mindset , jadi intinya anak-anak yang dipuji atas upaya mereka akan memiliki growth mindset, bahwa otak itu adalah sebuah otot, yang makin “dilatih” maka akan semakin kuat dan terampil. Dilatihnya ya dengan tantangan, masalah, dan kesalahan yang harus diperbaiki dan diambil hikmahnya. Sedangkan anak-anak dengan fixed mindset menanggap pintar/tidak pintar itu sudah dari sananya dan nggak bisa diubah. Jadi mereka cenderung menghindari hal-hal yang membuat mereka tidak terlihat pintar dan tidak menyukai tantangan, mementingkan hasil akhirnya.

Dweck memberikan beberapa perbedaan fixed vs. growth mindset dalam bukunya:

a. Fixed mindset (FM)mengkomunikasikan ke anak-anak kalau sifat dan kepribadian mereka adalah permanen, dan kita sedang menilainya. Growth mindset (GM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau mereka adalah seseorang yang sedang tumbuh dan berkembang, dan kita tertarik untuk melihat perkembangan mereka.

b. Nilai yg bagus akan diatribusikan pada “kamu emang anak yang pintar” pada FM. Sedangkan GM akan mengatakan “Nilai yg bagus! Kamu telah berusaha keras/menerapkan strategi yang tepat/berlatih dan belajar/tidak menyerah.”

c. Nilai yang jelek akan diartikan sebagai “kamu memang lemah pada bidang ini” dengan FM. GM akan mengatakan “saya suka upaya yang telah kamu lakukan, tapi yuk kita kerjasama lebih banyak lagi untuk mencari tahu bagian mana yang kamu belum pahami”. “Kita semua punya kecepatan belajar yang berbeda, mungkin kamu butuh waktu yang lebih lama untuk mengerti ini tapi kalau kamu terus berusaha seperti ini, aku yakin kamu akan bisa mengerti.” “Semua orang belajar dengan cara yang berbeda, ayo kita terus berusaha mencari cara yang lebih cocok untuk kamu.”

d. FM: “wah, kamu cepet banget menyelesaikannya, tanpa salah lagi!” GM: “Ooops, ternyata itu terlalu mudah buat kamu ya. Saya minta maaf sudah membuang waktumu, ayo cari sesuatu yang bisa memberikan pelajaran baru buat kamu.”

e. FM mementingkan kecerdasan atau bakat dari lahir. GM mementingkan proses belajar dan kegigihan berusaha (perseverance).

f. FM percaya kalau tes mengukur kemampuan. GM percaya kalau tes mengukur penguasaan materi dan mengindikasikan area untuk pertumbuhan.

g. Guru dengan FM menjadi defensif mengenai kesalahan yang dia lakukan. Guru dengan GM merenungkan kesalahannya secara terbuka dan mengajak bantuan dari anak-anak lagi supaya bisa menyelesaikan masalahnya.

h. Guru dengan FM memiliki semua jawaban. Guru dengan GM menunjukkan ke anak-anak bagaimana dia mencari jawaban-jawaban tersebut.

i. Guru dengan FM menurunkan standar supaya anak-anak bisa merasa pintar. Guru dengan GM mempertahankan standar yang tinggi dan membantu setiap siswa untuk mencapainya.

Hosh-hosh, mulai kelihatan kan bedanya? Kami sudah mulai berusaha mengubah cara kami memuji anak-anak, tapi menang butuh waktu dan upaya ekstra untuk mengubah kebiasaan yang sudah lama, apalagi dengan lingkungan teman-teman dan saudara dan orang-orang yang tidak dikenal yang SKSD. Plus, kosa kata “you worked hard… ” itu kalau diterjemahakan ke dalam Bahasa Indonesia itu masih terdengar tidak umum plus panjang, “kamu udah bekerja/berupaya keras ya untuk….”--- masih lebih praktis bilang “anak pinter”, hehehe. Yah, namanya juga sudah membudaya. Belum lagi ada ucapan bahwa kata-kata adalah doa. Akupun sepakat dengan itu. Jadi jangan salah sangka, bukannya nggak boleh memuji, tapi pujilah upaya mereka. Dan penelitian ini khusus berkenaan dengan persepsi terhadap kecerdasan ya, bukan label-label lain seperti sholeh/sholehah, rajin, empatik, penyayang, dsb. Jadi pentingnya perubahan mindset dari fixed menjadi growth supaya anak-anak (dan kita sebagai orang tua juga) nggak terpaku hanya pada hasil. Kalau menurut saya, terlalu terpakunya masyarakat kita pada hasil malah melahirkan upaya-upaya negatif untuk mencapai hasil yang “baik” di mata orang, terlepas caranya. Makanya ada bocoran soal UN, contekan ulangan, lalu stress berlebihan atas sebuah kegagalan. Kalau pada anak sulung saya, ya kelihatan pas dia ngambek nggak mau lanjut latihan sebuah lagu di piano karena “susah”, nggak mau nyoba gambar karena takut “jelek”, dan nggak mau nyoba bikin freestyle build dari Lego karena “susah”.


Buat saya, kalau ada yang mengatakan anak-anak “pintar”, maka saya akali dengan langsung menimpali secara halus plus senyum manis dengan komentar atas usahanya anak-anak. Misalnya, tante A, “Wah Little Bug udah pinter main pianonya…”, lalu saya menimpali dengan “Alhamdulillah, Little Bug selama ini rajin latihan dan nggak nyerah kalau belum bisa.” Atau “Little Bug dah pinter ya bacanya” “lalu saya bilang “alhamdulillah, Little Bug tiap hari berusaha baca buku-buku baru dan kalau ada kata-kata yang susah, dia akan berusaha membacanya”. Intinya, nggak pernah lupa untuk memuji usaha/prosesnya. Dan nggak lupa mendoktrin secara berulang tentang otak sebagai otot yang semakin kuat kalau dilatih dengan tantangan. Intinya, menekankan bahwa they are special just the way they are. Bahwa kami bangga karena dia berusaha mencoba meskipun menantang, dan gak menyerah meskipun gagal. Hal-hal seperti itu yang suka tertutup oleh pujian “anak pintar”. Terlebih karena kami homeschool, jadi kelihatan banget gregetnya kalau anak belum bisa maupun kelihatan ketika dia sengaja menghindari sesuatu yang tampak “susah” atau “baru” buat dia, belum lagi kalau ngambek ketika gagal atau hasilnya “nggak perfect”. Jadi ngeh juga, mungkin salah satu alasan kenapa anak-anak Jepang itu begitu rajin adalah karena sejak kecil, pujian setelah melakukan sesuatu umumnya adalah “yoku ganbatta ne” atau “kamu sudah banyak berusaha” dan “otsukaresamadeshita” (terima kasih atas kerja kerasnya), mau apapun hasilnya.

Kita bisa berusaha dan perlahan, insyaaAllah akan lebih positif kepribadian anak-anak kita. Daripada mengeluhkan, mendingan berusaha dan berdoa, semoga Allah bisa membentuk jiwa anak-anak dengan kelembutan-Nya sehingga kelak menjadi anak-anak sholeh/sholehah yang berani menghadapi tantangan demi menghasilkan kebaikan. Semoga artikel ini bisa memberikan sudut pandang yang berbeda buat kita semua.



Referensi:

1. Dweck, Carol. (2006). Mindset: The New Psychology of Success.

2. Bronson, Po. (2007). How Not To Talk to Your Kids: The I nnverse Power of Praise. nymag.com/news/features/27840/#

Atraksi Air Mancur di Taman Air Cikapundung Dinikmati Warga

Atraksi air mancur menari dan berganti warna mengikuti lagu di Taman Air tepian Sungai Cikapundung, Kota Bandung terlihat menarik saat malam, Selasa (12/5/2015).
Warga yang sedang asyik berfoto-foto di sekitar Jln. Cikapundung Timur, dekat Gedung Merdeka, langsung berkumpul ketika lagu "Halo-halo Bandung" berkumandang, dan lampu warna-warni mulai menyoroti air yang terpancar dari lantai.
Sejumlah orang mengambil foto air mancur tersebut, ataupun menjadikannya latar belakang foto. Sebagian lagi memfilmkannya.
Beberapa anak-anak tertawa riang melihat air menyembur dan beruasaha menjamahnya. Ada teriakan-teriakan kecil ketika butiran air mengenai tubuh mereka. 

Sumber: pikiran-rakyat.com

Tuesday, June 16, 2015

Seni tradisi adalah simbol identitas suatu daerah

Seni pertunjukan tradisi meskipun sudah dipertunjukkan secara komersial, tetapi belum optimal dipadukan dengan program paket pariwisata budaya. Padahal, keunikan pertunjukan seni tersebut, merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

"Seni pertunjukkan tradisi selain menjadi aset budaya, juga menjadi simbol serta identitas suatu daerah. Sayangnya jenis seni yang potensial ini keberadaannya semakin terjepit oleh kehadiran seni populer, karenanya berangsur-angsur ditinggalkan penggemarnya," ungkap Kepala
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar Drs. Nunung Sobari MM pada penutupan pelatihan Peningkatan Kompetensi Tata Pentas Seni Pertunjukkan di Purwakarta, Jumat (5/6/2015).

Nunung berharap, pengembangan SDM kesenian yang merupakan aset terpenting dari sebuah produk seni, harus mendapat perhatian serius. Karenanya secara terus menerus dilakukan berbagai jenis pelatihan baik untuk pelaku seni terutama pengelola Sanggar Seni.

“Pengembangan kompetensi Tata Pentas Seni Pertunjukan, merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi para pengelola sanggar seni sehingga dapat menampilkan karya seninya sebagai atraksi budaya yang selalu dibanggakan masyarakatnya sekaligus sebagai sentral pewarisan budaya,” ujarnya.

Nunung menambahkan, kegiatan peningkatan kompetensi yang diselenggarakan kali ini dapat membawa manfaat dalam meningkatkan kreativitas dan inovasi seni yang bermutu serta mencerminkan identitas budaya lokal.

”Seni tradisi yang pada hakikatnya merupakan representasi dari kebudayaan luhur, sejak dulu telah menjadi media pendidikan yang ampuh dalam membentuk karakter masyarakatnya. Di Jawa Barat hampir dalam semua seni pertunjukan tradisi, memiliki kontribusi penting dalam mencerahkan karakter masyarakatnya. Seni tradisi menjadi salah satu alternatif sebagai pondasi karakter bangsa serta menjadi filter terhadap dampak negatif dalam menghadapi arus globalisasi saat ini.Mengapa demikian ? karena dalam seni mengandung berbagai makna-makna atau nilai-nilai kehidupan sosio-kultural-religius masyarakat,” ungkapnya.

Tradisi merupakan akar perkembangan kebudayaan yang memberi ciri khas identitas atau kepribadian suatu bangsa, seni tradisi menyediakan bahan baku yang melimpah. Di Jawa Barat pada umumnya para seniman tidak membiarkan kesenian tradisi menjadi beku, dan untuk itu setiap generasi terus berusaha untuk melakukan inovasi terhadap kesenian tradisi yang mereka miliki.
Kiki Kurnia
Sumber : galamedianews.com

Ini cara Lama Membedakan Madu Asli dengan Madu Palsu

Tertangkapnya dua orang pembuat madu palsu di Jakarta, Jumat (12/6/2015) membuat warga resah. Terlebih, praktik pemalsuan madu tersebut sudah berlangsung sejak puluhan tahun, tepatnya sejak tahun 1970.
Selama puluhan tahun itu pula, masyarakat mengonsumi madu palsu yang bermerek Lebah Liar tersebut.
Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan tentang madu asli dan palsu tersebut, berikut cara lama membedakan madu asli dan palsu:

1. Dengan meneteskan madu pada selembar kertas tipis/kertas koran. Madu palsu akan dengan mudah terserap oleh kertas koran karena kandungan airnya tinggi. Sedangkan madu asli tidak akan membuat kertas robek/basah

2. Apabila dikocok, madu asli akan membetuk gas atau uap air.

3. Madu palsu biasanya memiliki pH 2,4-3,3 atas di atas 5. Sedangkan madu asli mempunyai pH 3,4-4,5

4. Apabila dibakar di atas sendok, madu asli maka madu akan mendidih busanya tumpah dari sendok. Sedang yang palsu meskipun mendidih, namun busanya tidak keluar dari sendok.

5. Apabila dimasukan ke dalam segelas air, madu asli akan jatuh langsung ke dasar gelas dan tetap terlihat berkumpul atau tidak bercampur dengan air

6. Dengan menggunakan korek api. Masukkan batang korek ke dalam madu selama beberapa saat, lalu nyalakan. Apabila yang asli korek api akan menyala, namun jika yang palsu korek api tidak akan menyala.
Bagi penderita diabetes, jika madu asli diminum, sesudahnya badan terasa segar. Berbeda dengan madu palsu malah sebaliknya
Sumber: galamedianews.com