-
-

Tuesday, November 15, 2011

Budi Daya Kayu Digenjot, Jabon Jadi Pilihan

SOREANG, (PRLM).- Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Bandung akan menggenjot budi daya tanaman kayu. Dengan begitu, lahan yang sebelumnya tidak produktif tersebut bisa bernilai ekonomi bagi masyarakat.

Kepala Distanbunhut Kabupaten Bandung A. Tisna Umaran mengatakan, saat ini ada sekitar 700 hektare lahan kritis yang sudah ditanami kayu oleh masyarakat di beberapa kecamatan seperti Arjasari, Cimaung, Nagreg, Cicalengka, Cikancung dan Ciparay.

â€Å“Trennya terus meningkat dan ternyata peluang ekonominya bagus. Kami sudah berbicara dengan pengusaha di Jawa Tengah yang siap menampung hasil kayu dari sini,” ujarnya saat ditemui Jumat (11/11).

Menurut Tisna, antusiasme masyarakat tersebut tidak lepas dari potensi industri kayu yang memang tengah terbuka lebar saat ini. Pasalnya, pasokan kayu dari pulau Kalimantan sekarang ini sudah mulai berkurang dan harganya relatif kalah bersaing akibat biaya produksi yang tinggi.

Tisna menegaskan, biaya produksi kayu di hutan rakyat tidak akan sebesar di hutan lindung seperti di Kalimantan. â€Å“Paling yang diperlukan hanya surat keterangan asal-usul dari kantor desa setempat. Dengan begitu biaya produksi di luar budi daya bisa dibilang hampir tidak ada,” ujarnya.

Menurut Tisna, sebagian besar kayu yang ditanam masyaraka adalah jenis Jabon yang sebenarnya memiliki umur tanam relatif singkat. Kayu jenis tersebut sudah bisa dipanen dalam waktu dua tahun dengan diameter hingga 50 sentimeter. (A-178/A-88)***

sumber : www.pikiran-rakyat.com

Empat Nama Lagi Akan Dijagokan Jadi Pahlawan Nasional

BANDUNG, (PRLM).-Setelah meloloskan nama Sjafrudin Prawiranegara sebagai pahlawan nasional, Jawa Barat masih punya empat nama lagi yang dijagokan menjadi pahlawan nasional. Keempat nama itu merupakan usulan dari beberapa kabupaten dan kota di Jabar yang telah melalui seleksi dari Pemprov. Jabar untuk diajukan ke pemerintah pusat.

Anggota Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Prov. Jabar Nenny Kencanawati menyebutkan, keempat nama calon itu adalah dr. Dustira (ajuan Pemkot Cimahi), Badruzzaman (dari Garut), Abdullah bin Nuh (dari Cianjur), dan Ahmad Sanusi (dari Sukabumi). "Untuk Ahmad Sanusi, tahun ini adalah pengajuan yang kedua. Sjafrudin saja diakui sebagai pahlawan nasional setelah pengajuan ulang ketiga," ujar Kepala Biro Pengembangan Sosial Pemprov. Jabar itu, Jumat (11/11) di ruang kerjanya.

Munculnya lima nama yang diajukan sebagai pahlawan nasional itu (termasuk Sjafrudin yang telah diakui sebagai pahlawan nasional), merupakan pekerjaan yang panjang dari TP2GD yang diketuai Asisten Daerah Prov. Jabar bidang Kesejahteraan Rakyat Aip Rivai.

"Jadi awalnya diajukan dari TP2GD dari masing-masing kabupaten dan kota. TP2GD provinsi lalu mengkaji dan meneliti usulan-usulan tersebut. Jika memenuhi kriteria dan persyaratan, seperti data dan fakta, baru diusulkan ke pemerintah pusat melalui Dinas Sosial Provinsi Jabar. Di pusat, usulan diterima TP2P dan dikaji oleh Dewan Gelar yang terdiri dari para pakar. Dewan Pakar inilah yang merekomendasikan nama-nama usulan tadi ke presiden," ujarnya.(A-128/A-160/kur)***

sumber : www.pikiran-rakyat.com

Bahaya Menuduh Kafir


Oleh: Imron Baehaqi Lc
Menuduh adalah suatu perbuatan yang tidak menyenangkan. Orang yang dituduh akan terluka hatinya, apalagi tuduhan yang dialamatkan kepada dirinya tidak disertai dengan bukti-bukti yang benar. Tentu ia akan merasa sangat terzholimi. Tuduhan seperti ini biasanya akan menimbulkan efek-efek negatif, seperti jalinan persaudaraan yang tidak harmonis, penceraian dalam rumah tangga, hilangnya kepercayaan dan harga diri, hilangnya pekerjaan dan jabatan dan sebagainya. Namun efek yang paling berbahaya adalah kerusakan akidah bagi pelakunya.

Oleh sebab itu, Islam telah memperingatkan kepada umatnya supaya tidak melakukan sembarang tuduhan  kepada saudara seagamanya. Peringatan ini bisa dilihat dari beratnya hukuman atas seorang yang menuduh suatu perbuatan keji terhadap sesama saudaranya sendiri. Seperti menuduh melakukan perbuatan zina (qadzaf) sedangkan dia tidak mampu menghadirkan empat orang saksi, maka hukuman bagi orang yang menuduh itu adalah didera sebanyak 80 kali dera. (QS. An-Nur:4-5).

Demikian pula menuduh kafir tanpa keterangan yang dapat dipercaya adalah suatu perbuatan yang tidak dibenarkan dalam Islam. Tuduhan inilah yang menimbulkan efek paling berbahaya tadi, yaitu rusaknya akidah.

Berdasarkan kaidah asas Islam dalam perkara akidah disebutkan, bahwa tidak dibolehkan mengkafirkan seseorang dari golongan ahli kiblat, kecuali dengan bukti yang jelas dan akurat. Sebab pada dasarnya, sosok seorang muslim adalah iman, maka mengkafirkan seorang muslim dengan tanpa alasan yang kuat adalah perbuatan yang dilarang. Sekiranya tuduhan tersebut tidak benar, maka sebaliknya orang yang menuduh itu adalah kafir. Hal ini menunjukan betapa kerasnya larangan melakukan perbuatan menuduh dan saling melemparkan tuduhan kafir tanpa dalil. (Lihat: Dr Wahbah Zuhaili, Akhlakul Muslim: 'Alaqatuhu bin Nafsi wal Kaun, Darul Fikr al-Mu'asir, Beirut Lubnan, h. 298).

Pendapat di atas didasarkan kepada dalil Alquran surat al-Ruum ayat 44, Allah SWT. berfirman, "Siapa yang kafir, maka dia sendirilah yang menanggung akibat kekafirannya itu; dan barang siapa yang mengerjakan kebajikan, maka mereka menyiapkan untuk diri mereka sendiri (tempat yang menyenangkan)."

Dalam menafsirkan ayat di atas, Prof  Dr Wahbah Zuhaili menjelaskan, bahwa sang penuduh (tanpa bukti yang valid) itu adalah kafir, yaitu entah dia itu fasik karena menutup kebenaran atau ia benar-benar kafir ( kafir mutlak). Sedangkan kufur mutlak, maknanya lebih luas dari fasik. Allah berfirman: "Barang siapa yang kafir setelah datang keterangan-keterangan yang jelas, maka mereka itulah orang-orang yang fasik". (QS  Al-Nuur: 55).

Sedangkan, Nabi SAW telah menegaskan, bahwa orang yang menyifatkan saudara muslimnya dengan sifat kekufuran, maka hal itu adalah dosa. Bahkan tuduhan itu berbalik kepada dirinya. Sebagaimana diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim dari Abi Dzar RA., bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda: "Barang siapa yang memanggil seseorang dengan kata-kata kafir, atau berkata: wahai musuh Allah, sedangkan tidaklah demikian halnya, maka tuduhan dan kata-kata itu kembali dan berlaku  kepada dirinya."  (HR  Bukhari dan Muslim)

Keterangan nash Alquran dan Hadis di atas hendaknya menjadi perhatian dan pelajaran bagi setiap muslim supaya lebih berhati-hati dan waspada untuk tidak mudah atau tergesa-gesa melemparkan sebuah tuduhan. Apalagi menuduh kafir terhadap sesama saudara muslim sendiri dengan tanpa bukti atau informasi yang valid.  Sebab, tuduhan tersebut hanya akan membawa akibat yang membahayakan terhadap banyak pihak, terutama pelakunya sendiri. Di mana kemurnian akidahnya bisa rusak, gara-gara menuduh kafir terhadap saudaranya tanpa bukti dan kebenaran yang jelas dan nyata. Wallahu 'Alam bi Shawab

Penulis adalah Pengurus Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia, Bidang Dakwah dan Tarjih.
sumber : www.republika.co.id

Monday, November 14, 2011

Greenpeace Adakan Lokakarya Jurnalisme Masyarakat Citarum

SOREANG, (PRLM).- Lima puluh aktivis dan supporter Greenpeace mengadakan kegiatan Lokakarya Jurnalisme Masyarakat (Workshop Citizen Journalism) bersama dengan masyarakat yang tergabung dalam komunitas Elingan, Sabtu (12/11).

Komunitas masyarakat itu tinggal di sekitar Sungai Citarum dan anak Sungai Citarum, Bandung, Jawa Barat.

Sungai Citarum, yang dilansir oleh Asian Development Bank (ADB) merupakan sungai yang paling tercemar di dunia, disebabkan oleh sejumlah industri yang berada di sekitar Citarum membuang limbah beracun dan berbahaya ke sungai.

"Kami mengadakan workshop (lokakarya-red.) ini untuk meningkatkan kapasitas warga yang setiap harinya merasakan dampak pencemaran air agar mereka memiliki kemampuan untuk melapor dan bercerita. Dengan kemampuan tersebut, mereka dapat meraih hak mereka untuk meminta kepada industri dan pemerintah agar warga memperoleh informasi yang akurat, dan kedua agar pihak-pihak tersebut dapat membersihkan kembali sungai mereka, kata Ahmad Ashov, Jurukampanye Air Greenpeace Indonesia dalam rilisnya kepada "PRLM", Sabtu (12/11).

Pada hari Minggu (13/11), aktivis Greenpeace dan para supporter bersama dengan komunitas sekitar Citarum akan mendokumentasikan polusi yang diakibatkan oleh industri di sepanjang sungai.

Aktivitas ini dilakukan beberapa hari setelah pemerintah memulai proses rehabilitasi Sungai Citarum. Pengerukan saja tanpa memperhatikan permasalahan utama seperti pencemaran limbah industri dan kerusakan hutan di daerah hulu dapat menyebabkan usaha pengerukan tersebut menjadi tidak efektif dalam jangka panjang.

Laporan ‘Konsekuensi Tersembunyi’ yang diluncurkan Greenpeace pada bulan Mei yang lalu memperlihatkan bahwa pencemaran sumber air oleh industri telah mengakibatkan biaya ekonomi, sosial dan lingkungan yang sangat besar dalam jangka panjang dan ini harus dibayar mahal oleh masyarakat.

Institute of Ecology Universitas Padjadjaran, menemukan potensi resiko pencemaran di Sungai Citarum terhadap manusia dan lingkungan sudah memasuki tahap yang serius. Sedimen sungai ditemukan makin kehilir makin beracun, keanekaragaman biota menurun akibat bahan-bahan kimia berbahaya dan telah terjadi akumulasi logam berat pada ikan-ikan di Sungai Citarum.

Hasil polling (jajak pendapat-red.) Greenpeace bersama LP3ES pada bulan Maret yang lalu menunjukkan bahwa sebanyak 79.8% masyarakat tau bahwa Sungai Citarum telah tercemar oleh limbah beracun dan berbahaya industri dan 92,3% masyarakat mengetahui bahwa limbah beracun dan berbahaya mempunyai dampak yang sangat berbahaya bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Sebanyak 81,5% masyarakat mengetahui bahwa mereka mempunyai hak untuk bertanya mengenai limbah beracun dan berbahaya yang mencemari sungai dan air dan 63.5% masyarakat setuju untuk mengambil peran aktif dalam menjaga dan mencegah pencemaran Sungai Citarum dari pencemaran industri. Sementara itu 81% masyarakat setuju Industri harus berhenti membuang limbah berbahaya dan beracun ke dalam Citarum.

Partisipasi masyarakat dan peran aktif mereka dalam pengawasan, pelaporan, pengaduan dugaan pencemaran yang dijamin oleh hukum di Indonesia, yang merupakan hak bagi setiap warga negara.

â€Å“Masyarakat memiliki hak atas penyediaan informasi tentang limbah beracun dan berbahaya yang disebabkan oleh kegiatan industri, ujar Ashov.

"Dalam mengatasi persoalan Citarum khususnya masalah pencemaran sangatlah perlu dilibatkan peran dari masyarakat sipil. Saya sangat mendukung upaya dari Greenpeace yang memberikan program pelatihan pendokumentasian pencemaran untuk dipublikasikan melalui media web site. Tentunya saya menaruh harapan agara masyarakat sipil tidak lagi susah mengekspos pencemaran yang terjadi, kata Ketua Elingan, Deni Riswandini.

Greenpeace mendesak industri untuk segera menghentikan pencemaran sungai dengan bahan kimia berbahaya dan juga mendesak pemerintah untuk menegakkan pengawasan yang lebih ketat dan mengambil tindakan terhadap pencemar dan memberikan informasi terbuka kepada publik mengenai bahan kimia beracun yang mencemari sungai yang menjadi tumpuan hidup jutaan orang itu. (A-191/A-88)***

sumber : www.pikiran-rakyat.com

Motif Batik dari Desa Celak Gununghalu


GUNUNGHALU,(GM)-
Perempuan asal Kp. Celak Kaler, RW 09, Desa Celak, Kec. Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WKSS) Desa Celak berhasil menciptakan motif batik tulis yang diberi nama Sanghyang Sri Dewi. Motif batik ini diciptakan 24 perempuan yang semuanya ibu-ibu rumah tangga.

Motif batik Sanghyang Sri Dewi menggambarkan motif padi lengkap dengan daunnya. Harga batik tulis ini cukup mahal yakni Rp 350.000 per potong dengan ukuran 2,24 meter. Pasarannya pun sangat terbatas, yakni masih seputaran Kec. Gununghalu.

Perajin batik di Desa Celak, Kec. Gununghalu memang masih sangat asing di telinga. Berbeda ketika menyebut batik asal Kab. Garut, pasti langsung ingat batik garutan. Begitu pun dengan Kab. Tasikmalaya memiliki batik Sukapura, baik tulis maupun cetak.

Batik Sanghyang Sri Dewi memang belum sepopuler motif batik yang sudah terlebih dahulu berkembang. Maklum, baru pada bulan Juni lalu, ibu-ibu di Gununghalu ini belajar membatik.

Keterampilan membatik dari para ibu rumah tangga ini tidak lepas dari program yang digulirkan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Sanggar Kegiatan Belajar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) KBB di lokasi P2WKSS. Sedangkan P2WKSS sendiri merupakan program kerja Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) KBB.

Prestasimengembangkan batik tulis itulah yang menjadikan Desa Celak mewakili KBB pada lomba P2WKSS tingkat Jawa Barat. Pada acara penilaian akhir lomba P2WKSS dari Tim Evaluasi Akhir P2WKSS Jabar, Selasa (8/11), dihadiri Bupati Bandung Barat Abubakar, Wakil Bupati Ernawan Natasaputra, Kepala BPPKB Dodo Suhendar, Ketua Tim Evaluasi Akhir P2WKSS Provinsi Jabar Sri Asmawati Kusumawardanii, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan, BPPKB KBB, Nur Julaeha, dan tamu undangan lainnya.

Guru dari Banyumas

Ketua Pokja P2WKSS Celak, Yeyen Nuryeni (50) mengatakan, keterampilan membatik yang dikuasai ibu-ibu rumah tangga ini didapatkan dari dua orang perajin batik asal Banyumas, Jawa Tengah. Hanya satu minggu para ibu rumah tangga ini mendapat pendidikan membatik.

"Awalnya, batik tulis yang dibuat masih bermotif khas Banyumas. Kita mulai belajar dari menjiplak gambar, mencanting, memberi warna, sampai merebus. Setelah mendapat pembekalan ilmu membatik, mulailah terpikir untuk menciptakan motif sendiri. Setelah melalui berbagai proses, akhirnya dipilih motif Sanghyang Sri Dewi. Pemilihan motif ini disesuaikan dengan kondisi lingkungan Celak yang sebagian besar lahan pertanian.

Sanghyang Sri Dewi sendiri adalah Dewi Sri atau dewi padi," paparnya.

Salah seorang perajin batik, Yeti Rohaeti (24), warga Kp. Celak Kaler mengatakan, keterampilan membatik yang didapatnya bisa membantu penghasilan keluarga. Apalagi, suaminya yang bekerja di Bekasi berpenghasilan pas-pasan. Sedangkan dua anaknya membutuhkan tambahan biaya seiring usianya yang terus bertambah.

"Tadinya, saya sama sekali tidak memiliki keterampilan membatik. Maklumlah saya hanyalah tamatan sekolah majelis (setingkat SMP, red).

Sebagai ibu rumah tangga, bisanya ya mengurus rumah tangga. Tapi sekarang alhamdulillah semuanya berubah, saya memiliki penghasilan sendiri, meski masih minim," kata Yeti.

Bupati Bandung Barat Abubakar mengungkapkan, sebenarnya KBB memiliki potensi batik yang bisa dikembangkan menjadi aset daerah. Sebelum lahir perajin batik di Desa Celak, terlebih dahulu dikenal batik Lembang.

"Sekarang batik sudah menjadi pakaian wajib bagi PNS KBB yang digunakan tiap Kamis dan Jumat. Hanya saja batik yang digunakan bukan batik khas KBB. Untuk ke depannya pasti kita akan gunakan batik KBB. Mudah-mudahan pada saat peringatan hari jadi KBB sudah bisa ditetapkan motif batik khas KBB," harap Abubakar. (B.104)** koran galamedia Rabu, 09 November 2011

Berbuatlah karena Allah


Oleh Dr Abdul MannanProblematika besar bangsa ini sejatinya bermula dari sebuah kerusakan kecil. Seperti peristiwa kebakaran hebat, ia bermula dari percikan api yang kecil. Karena itu, kita harus senantiasa mengantisipasi terjadinya kerusakan kecil agar tidak telanjur makin besar.

Kerusakan kecil itu ialah ketidakmurnian niat dalam berbuat atau melakukan sesuatu. Islam sangat memperhatikan masalah niat. Niat yang salah (tidak karena Allah) akan menghilangkan pahala dari kebaikan yang dilakukan meskipun amal tersebut tergolong amal saleh yang dicintai Allah dan rasul-Nya. “Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya. Sesungguhnya bagi setiap orang adalah apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari Muslim).

Jadi, sekalipun seseorang mampu merangkai kata-kata indah nan memukau atau mampu bekerja keras dengan penuh semangat, tapi tidak diniati karena Allah, sia-sialah semuanya. Niat yang buruk atau niat yang ditumpangi oleh kepentingan nafsu akan menimbulkan perselisihan serius sehingga menyebabkan terjadinya perdebatan, perteng karan, perkelahian, bahkan permu suhan dan dendam. Oleh karena itu, ber hati-hatilah dalam mengambil sebuah keputusan sebelum bertindak.

Kita harus memastikan secara jernih bahwa yang kita lakukan benar- benar semata-mata karena Allah agar mendapat keridaan-Nya. Jika sudah memastikan bahwa yang kita lakukan adalah murni karena Allah, lalu direspons keliru oleh orang lain, janganlah terprovokasi untuk marah. Tetaplah tenang dan bersegeralah mengingat Allah. Bahkan jika perlu, mohonkanlah ampun buat orang tersebut dan bermusyawarahlah bersamanya dalam mengambil keputusan. “Maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS [3]: 159).

Demikianlah yang dicontohkan oleh Khalid bin Walid. Tatkala ia dinonaktifkan sebagai panglima jenderal kaum Muslimin oleh Khalifah Umar bin Khattab, Khalid sama sekali tidak bereaksi negatif, justru ia bersyukur karena Allah telah membebaskan dirinya dari besarnya amanah yang sangat berat. Ketika ditanya oleh sahabatnya perihal penonaktifan dirinya, Khalid menjawab singkat, “Saya berjihad ini karena Allah, bukan karena Umar.” Khalid tetap dalam pasukan meskipun berubah posisi hanya sebagai prajurit biasa.

Sebagai seorang Muslim, sikap seperti itulah yang harus kita pelihara dalam diri kita, yaitu menjaga kemurnian niat dalam berbuat. Jangan sampai hanya karena tidak lagi diberi kesempatan memimpin, lalu langsung meradang dan mencemooh semua orang.

Begitupun bila kita sebagai pemegang kebijakan, hendaknya mengambil keputusan atas dasar niat suci karena Allah yang disertai dengan musyawarah. Jangan sampai membuat keputusan atas dasar kepentingan diri (otoriter), apalagi hanya karena pengaruh pihak lain.

Saat ini dan ke depan, marilah kita tata kembali niat dalam berbuat dan semata-mata hanya mengharap rida Allah SWT. Sekiranya semua umat Islam memahami hal ini dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari, akan terbinalah ukhuwah Islamiyah. Wallahu a’lam.
sumber : www.republika.co.id

Bandung Raya Masuki Musim Hujan


BANDUNG, (PRLM).- Saat ini, wilayah Bandung Raya sudah memasuki musin hujan. Pada umumnya curah hujan rata-rata sudah diatas 100 milimeter. Puncak musim hujan diperkirakan akan terjadi pada akhir Januari 2012.
Demikian dikatakan prakirawan Annie Hanifah dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung, kepada "PRLM" di sela-sela acara Pelatihan Peningkatan Informasi Iklim (PPII) Provinsi Jabar tahun 2011 di Bandung, Selasa (8/11).
"Dilihat trennya, wilayah Bandung Raya sekarang ini sedang memasuki masa hujan," katanya.
Menurut Annie, dilihat dari curah hujan yang terjadi pada dasarian III Oktober 2011, untuk beberapa daerah di Bandung, sudah lebih dari 50 milimeter, kecuali daerah Cileunyi. Begitu juga, saat dilihat curah hujan pada dasarian satu November 2011, meskipun masih kurang dua hari, tetapi curah hujannya pada umumnya sudah mencapai di atas 100 milimeter, kecuali di daerah Cemara masih 56,7 milimeter.
"Tapi kalau dilihat di daerah lainnya seperti Cileunyi yang mewakili Bandung Timur pada pengukuran Selasa (8/11) pagi mencapai 104,5 milimeter. Sedangkan Senin (7/11), Padalarang mewakili Bandung Barat curah hujannya mencapai 115,5 milimeter dan Baleendah yang mewakili Bandung Selatan curah hujannya sudah mencapai 162 milimeter," ucapnya.
Apalagi di daerah Lembang kata Annie yang mewakili Bandung Utara, curah hujannya sudah mencapai 190,2 milimeter. Salah satu ciri terjadi musim hujan, bila dalam satu dasarian curah hujannya mencapai di atas 50 milimeter yang diikuti dua dasarian berikutnya.
Menurut Annie, di wilayah Bandung, musim hujan diperkirakan akan berlangsung dari Oktober hingga Mei. Puncak musim hujan diperkirakan akan terjadi pada akhir Januari 2012.
"Meski demikian perlu diwaspadai juga pertengahan Februari, Maret dan April karena diperkirakan curah hujannya masih tinggi," ucapnya. (A-62/A-88)***
sumber : www.pikiran-rakyat.com

Sunday, November 13, 2011

Pengelolaan Sungai Cikapundung Harus Dilakukan Secara Terpusat


NGAMPRAH, (PRLM).- Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung Barat Adiyoto mengatakan, pengelolaan Sungai Cikapundung harus dilakukan secara terpusat, membawahi koordinasi lintas daerah. Pemusatan itu sama halnya dengan pengelolaan Sungai Citarum melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, yang memperkuat segi tugas, fungsi, bahkan anggaran.
Å“Hal itu ditujukan agar Sungai Cikapundung yang terkait dengan Kabupaten Bandung Barat dan Kota Bandung dapat terkelola secara terpimpin oleh pusat, minimal pemerintah provinsi, ujarnya, Selasa (8/11).
Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Kota Bandung merasa pencemaran limbah kotoran sapi di hulu Sungai Cikapundung, di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, telah mengganggu program Cikapundung Bersih yang diterapkan di Kota Bandung.
Hulu Sungai Cikapundung berada di sekitar Gunung Bukit Tunggul, Gunung Palasari, dan Gunung Putri, Desa Suntenjaya, sekitar 16 km dari Lembang. Sungai itu mengaliri tiga wilayah, yakni Kabupaten Bandung Barat, Kab. Bandung, Kota Bandung, yang bermuara ke Sungai Citarum.
Selain itu, ia pun tidak sependapat dengan pencemaran yang hanya dikaitkan dengan limbah peternakan di bantaran sungai. Padahal, kata dia, secara jelas pembuangan limbah ke sungai banyak juga dilakukan oleh warga melalui limbah rumah tangga, atau juga industri. Å“Memang paling mudah untuk menyalahkan para peternak. Padahal, kontribusi pencemaran banyak dari penyebab lainnya, katanya.
Ia berharap, ada konsolidasi antara dinas lainnya yang berkaitan seperti industri dan perdagangan, cipta karya dan tata ruang, ketenagakerjaan, ataupun Perhutani sebagai pengelola kawasan hulu sungai. Semua pihak harus memikirkan mekanisme pengelolaan mulai hulu Sungai Cikapundung hingga kawasan hilir.
Menangani lingkungan tidak bisa dilakukan secara parsial, dan bukan juga dengan cara saling tuding. Saya pikir pola pemusatan manajemen seperti halnya Sungai Citarum oleh pusat bisa dilakukan di Sungai Cikapundung juga, atau paling tidak dipimpin pemerintah provinsi, ujarnya.
Dihubungi terpisah, Anggota DPRD Kabupaten Bandung Barat Samsul Maarif mengatakan, tanggung jawab penanganan Sungai Cikapundung tidak bisa dibebankan kepada Kabupaten Bandung Barat saja. Perlu ada pengelolaan bersama antarpemerintah daerah yang berkaitan dengan Sungai Cikapundung itu. Å“Jangan saling egois lah. Komunikasi komprehensif lintas daerah sangat perlu dalam menyikapi permasalahan ini, ucapnya. (A-196/das)***
sumber : www.pikiran-rakyat.com

Citarum Roh Kesejahteraan Masyarakat Jawa Barat

 NANDANG SUKANDA/"PRLM"
NANDANG SUKANDA/"PRLM" WALI Kota Bandung, H. Dada Rosada dan Bupati Purwakarta, H. Dedi Mulyadi serta Ketua Forum DAS Citarum, H. Eka Santosa berbicang-bincang sebelum pelaksanaan diskusi Bedah Citarum. Mereka diterima...
BANDUNG,(PRLM).-Sungai Citarum merupakan roh kesejahteraan masyarakat Jabar. Kelemahan Sungai Citarum ketika dikelola dengan APBN, APBD, sistem operasional prosedur (SOP) maupun kewenangan.
"Kita membangun masyarakat termasuk Sungai Citarum dengan perspektif birokrasi yang ibarat antara pengguna dengan PSK," kata Bupati Purwakarta, H. Deddi mulyadi, dalam diskusi bedah Citarum II di Aula "PR", Rabu (9/11).
Menurut Deddi, menangani Sungai Citarum kadang ditarik untung dan ruginya sehingga kalau ada untung akan dikerjakan. "Sedangkan kalau tidak ada keuntungan tidak akan dikerjakan. Belum lagi dengan tugas kewenangan yang kadang saling melempar kewenangan antara kewenangan pusat, provinsi, dan kabupaten/kota," katanya.
Deddi mengatakan, harus ada perubahan paradigma dalam memandang keberadaan sungai sehingga sungai dipelihara.
"Kalau orang-orang dulu mengatakan jangan mendekati sungai apalagi merusaknya karena ada kunti atau jin," katanya.
Dia mengusulkan agar ada tenaga yang mengawasi keberadaan Sungai Citarum tiap 2 Km. "Tak perlu mengalokasikan dana besar, namun bisa dengan memberdayakan Linmas dengan diberi honorarium Rp 500.000,- per bulan," katanya.(A-71/kur)***
sumber : www.pikiran-rakyat.com

Pemkot Bandung Bebaskan PBB bagi Warga Miskin dan Pejuang


BANDUNG, (PRLM).- Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung akan mengurangi bahkan membebaskan pajak bumi bangunan (PBB) kepada masyarakat miskin, pejuang dan janda pejuang kemerdekaan, dan tokoh pejuang sosial dan lingkungan hidup. Selain itu, pengurangan dan pembebasan PBB juga akan diberikan kepada pemilik lahan dan bangunan yang memperhatikan lingkungan hidup dan bangunan cagar budaya.
Demikian hal tersebut tercantum dalam rancangan peraturan daerah (raperda) menjadi Perda tentang Pajak Daerah yang disahkan pada Rapat Paripurna DPRD Kota Bandung, Selasa (8/11). Rapat tersebut dihadiri oleh Walikota Bandung Dada Rosada, Wakil Walikota Bandung, Ayi Vivananda, unsur muspida, kepala SKPD dan anggota DPRD Kota Bandung.
Riantono, ketua pansus 12 DPRD Kota Bandung, yang membahas tentang pajak daerah, mengatakan Perda tersebut akan efektif berlaku pada tahun 2013. â€Å“Kita menunggu Peraturan Walikota (Perwal)-nya. Kemudian menyiapkan infrastruktur dan SDM-nya, karena ini tidak bisa begitu saja dilakukan tanpa persiapan yang matang,” ujar Riantono ditemui usai rapat Paripurna.
Menurut Riantono, pengurangan dan pembebasan PBB bagi rakyat miskin dan pejuang ini merupakan penghargaan dari pemerintah kepada mereka yang berjasa. â€Å“Warga miskin itu harus dibantu oleh pemerintah, dan pengurangan dan pembebasan PBB ini merupakan salah satu bantuan kepada mereka,” ujarnya.
Kepala Dispenda Kota Bandung, Yossi Irianto mengatakan pemerintah memandang perlu adanya pengurangan dan pembebasan PBB bagi warga miskin dan warga yang berjasa. â€Å“Pajak pada dasarnya untuk masyarakat. Secara tidak langsung contonya melalui pembangunan jalan dan infrastruktur lainnya, secara langsung diberikan pengurangan kepada warga miskin,” ujarnya.
Yossi menjelaskan, pajak dari sektor PBB di Kota Bandung bisa meraup sampai Rp 210 miliar, namun potensinya sebenarnya cukup besar bahkan bisa sampai Rp 300 miliar. Dijelaskan, pajak dari sisi regulasi adalah untuk mengatur. Dari itulah kami memandang perlu adanya aturan yang tidak membebani rakyat. â€Å“Masa masyarakat yang tidak mampu membayar, dipaksa. Makanya kita beri keringanan,” ujarnya. (A-113/das)***
sumber : www.pikiran-rakyat.com

Spirit Kurban

Oleh Prof Dr Achmad Satori Ismail


Segala yang diciptakan Allah pasti memiliki tujuan agung. Tidak ada syariat yang ditetapkan kecuali ada hikmah dan maqasid syariah (tujuan) di baliknya. Di antara keutamaan penyembelihan kurban pada hari Nahar dan Tasyrik adalah: Pertama, pengampunan dari Allah. Rasulullah SAW bersabda, "Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan. Dan bacalah, 'Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah  SWT, Tuhan semesta alam." (HR Abu Daud  dan at-Tirmizi).

Kedua, mendapat keridaan Allah. Ibnu Juraij meriwayatkan bahwa dulu orang-orang jahiliyah berkurban dengan daging dan darah unta yang dipersembahkan untuk Ka'bah. Maka, para sahabat mengadu kepada Rasulullah SAW seraya berkata, "Kita lebih berhak dalam berkurban." Dari peristiwa ini turunlah ayat, "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS al-Hajj [22]: 37).

Ketiga, menyembelih kurban adalah amalan yang paling dicintai Allah pada Hari Raya Idul Adha. Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan orang-orang yang melaksanakan ibadah kurban. "Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai Allah  dari Bani Adam ketika Hari Raya Idul Adha selain menyembelih hewan kurban." (HRTirmidzi, Ibnu Majah, dan hakim).

Keempat, hewan kurban sebagai saksi di hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah  hewan kurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah sebelum mengalir ke tanah. Karena itu, bahagiakan dirimu dengannya." (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim).

Kelima, mendapatkan pahala yang besar. Pahala yang amat besar, yakni diumpamakan seperti banyaknya bulu dari binatang yang disembelih. Hal ini merupakan penggambaran tentang betapa besarnya pahala berkurban. Hal ini dinyatakan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, "Pada tiap-tiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan." (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Selain keutamaan di atas, kita juga mendapati spirit dalam berkurban. Adapun yang harus kita teladani dalam berkurban adalah pertama, menghidupkan sunah Nabi Ibrahim AS. Allah SWT berfirman, "Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): 'Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.' Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan." (QS an-Nahl [16]: 123).

Kedua, belajar sabar dan taat menunaikan perintah Allah. Kisah antara Nabi Ibrahim dan Ismail AS menggambarkan nilai tersebut. (QS ash-Shaffat [37]: 102-111).

Ketiga, menebarkan kepedulian dan kasih sayang kepada karib kerabat dan umat manusia secara umum. Keempat, sebagai rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung. Seperti nikmat iman, nikmat Islam, kehidupan, kesehatan, dan keluasan rezeki. (QS 14:34). Empat spirit kurban ini bila diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa akan membawa kestabilan dalam semua segi kehidupan.
sumber : www.republika.co.id

Saturday, November 12, 2011

SASTRA UJUNG KULON



Prasasti Ujung Kulon
(Ti Pupuhu Nu Sejati) sumber : SANGATEN

1. Ujar-ujar panglungguhan para susuhunan
Jajar pusaka titis waris karatuan
Udagan para kusumah nyampurnakeun badan
Nyandak waris pituduh, ti Bumi Suci Banyu Rasa Kahuripan
Geusan pibekeleun para satria ngaguar cumarita sangaten

2. Kinayungan nu mawa pangadegan wahyu Cakra Ningrat
Utusan ti Pajajaran nu pasti, sanes ti Kalinyamat
Lumungsurna teu mawa jimat, tapi mibanda syahadat
Olohok lain kabengbat kunu jadi, tapi inget ka riwayat
Nalika jaman nu parantos kaliwat

3. Umbul-umbul siloka tanjung bandera
Jadi tanda pikeun balarea nu aya
Ulah pada baburia, hijikeun tekad bangsa
Nincak kana hambalan, napak dina jalanna
Gumelar dina waktuna, cumarita dina hakna

4. Kikidung nu mawa beja, warisan ti pupuhu
Ulah rek di popoho, lamun rek pada ngagugu
Lumaku lalanang jagat, lai oge dikudu-kudu
Olahan nu mikahayang, teu surti kapara guru
Nurutkeun bae kahayang, ahirna kakurung nafsu

5. Ujung Kulon waris nu pasti, panglungguhan SANGHYANG SIRAH
Jumeneng alas mawangi, titis waris Eyang Kudratullah
Ulah poho kanu pasti, waris suci ti para kusumah
Nitih wanci nu mustari, ngadegkeun amanah prasasti sejarah
Gumelar wangsit nu pasti, ngalaksanakeun pancen amanah

6. Kakayaan waris ti gusti, pikeun ngeusi jati diri
Ujian pikeun diri, ngawujudkeun ngawangun nagri
Lumaku ulah ka lali-lali, komo bari ngaku-ngaku diri
Omongan bari teu pasti, nyasarkeun kanu rek ngabdi
Nu mana nu sejati pasti, nu nyiloka ngaraksa diri

Kurban Mendidik Bersyukur


Oleh Prof Dr Asep S Muhtadi


Dalam perspektif surah al-Kautsar, kurban merupakan salah satu ekspresi syukur. Seperti diisyaratkan ayat kedua surah tersebut, kurban disejajarkan dengan shalat yang dilakukan untuk mewujudkan rasa terima kasih manusia kepada Allah atas segala pemberian nikmat-Nya yang besar tak terhingga. Praktik kurban juga secara tersirat memperlihatkan sebuah pengorbanan sebagai ikrar pengabdian kepada-Nya. Sedangkan secara syariat, kurban itu diwujudkan dalam bentuk penyembelihan hewan yang dagingnya dibagikan kepada pihak-pihak yang berhak menerimanya.

Dalam kurban, seseorang sejatinya tidak hanya tulus menyembelih hewan secara fisik, tapi juga menyembelih sifat-sifat hewani yang melekat pada diri para pelakunya. Sifat kebinatangan yang kerap muncul dalam bentuk penindasan hak-hak asasi terhadap sesamanya, misalnya, dapat saja muncul pada siapa pun. Tidak hanya pada penguasa yang dipandang memiliki potensi lebih besar menindas rakyat, tapi juga pada rakyat yang sering tidak sanggup mengendalikan kebebasan sehingga berakibat lahirnya penindasan pada kekuasaan.

Secara historis, seperti tersirat dalam surah al-Kautsar, kurban diperintahkan untuk mensyukuri nikmat. Padahal, ketika wahyu ini diterima, Nabi Muhammad SAW tengah dalam keadaan duka. Caci maki dan tekanan fisik ataupun mental yang dilakukan orang-orang kafir Makkah saat itu datang bertubi-tubi. Pendeknya, Nabi beserta para sahabatnya selama tinggal di Makkah hampir tidak pernah merasakan suasana aman dalam hidupnya. Bahkan puncaknya, Nabi mendapat ancaman untuk dihabisi baik raga maupun nyawanya.

Tapi, di tengah duka yang amat melukai Nabi beserta para sahabatnya itu, Allah justru memerintahkan untuk bersyukur atas nikmat-nikmat yang Allah limpahkan kepadanya seolah semua penderitaan itu adalah nikmat. Inilah suasana yang melatari turunnya tiga ayat Alquran yang kemudian menjadi salah satu surah, yaitu surah al-Kautsar. Ketika Nabi tengah terjepit di antara impitan caci maki dan ancaman, Allah mengatakan, "Sesungguhnya telah Aku berikan kepadamu nikmat yang amat banyak." (QS al-Kautsar: 1).

Lalu, bagaimana cara mensyukuri nikmat? Dalam ayat berikutnya, secara berturut-turut Allah memerintahkan Nabi untuk mendirikan shalat dan berkurban //(fashally lirabbika wanhar). Shalat dan kurban dalam ayat ini merupakan wujud syukur manusia atas nikmat Allah. Dalam shalat, kita bersyukur karena Allah telah menganugerahkan banyak nikmat. Sedangkan kurban, seperti diilustrasikan dalam ayat di atas, merupakan simbolisasi rasa syukur dengan cara mengorbankan sebagian harta yang dimiliki untuk kemudian dibagikan sesuai ketentuan syariat.

Dua ayat pertama dari surah al-Kautsar ini memberikan pelajaran bahwa di balik penderitaan sesungguhnya ada nikmat tersembunyi. Secara lahir kerap kita hanya memandang penderitaan tidak lebih dari cobaan atau bahkan siksaan. Padahal, ketika seseorang sanggup menghadapinya dengan tulus dan penuh kesabaran, sesungguhnya ada kekuatan amat besar yang sanggup mengubah derita menjadi nikmat. Kesabaran itu sendiri adalah nikmat yang belum tentu setiap orang sanggup menggapainya.

sumber : www.republika.co.id

Sang Perayu

Oleh Jusuf AN
    TUGASKU hanyalah merayu. Dan merayumu, Rijal, tak segampang merayu orang kebanyakan. Merayumu butuh lebih energi, dan tentu strategi. Juga kesabaran berlipat-lipat, menunggu waktu yang tepat untuk melepaskan busur-busur rayuan paling mematikan.
    Aku masih di sini, Rijal, berkelebatan di atas kepalamu, di sekitar dadamu, mengawasimu saat malam kau berangkat tidur hingga kau bangun tidur dan kembali hendak tidur. Aku tak pernah jauh-jauh darimu. Aku terus bersamamu, menguntitmu ke mana pun kau pergi. Akulah yang kauanggap musuh sehingga berkali-kali kau berusaha mengusirku.
    Boleh saja kau mati-matian ingin mengusirku, tapi aku, aku, Rijal, akan tetap bertahan. Doa dan ayat Alquran yang kaulantunkan tentu saja akan membuatku terlecut dan kemudian aku menyingkir darimu sembari merintih kesakitan. Tapi aku tak mati, Rijal. Aku cuma sakit. Sakit yang lama-lama, karena saking terbiasa aku alami, sehingga tak pernah lagi kuhayati rasanya. Sakit yang sebentar saja akan hilang setiap kali kukenang masa laluku: kegagalan-kegagalan yang aku alami, serta dendam kesumat pada moyangmu. Betapa aku sengaja memelihara dan senantiasa mengingat masa laluku. Sakitku akan segera musnah manakala kuingat bahwa kau adalah manusia, yang punya saat-saat lengah, yang pastilah suatu ketika akan takluk oleh rayuanku. Sakitku, seluruhnya kutabung, dan kelak aku akan merayakan kemenangan sambil mengenang perihnya perjuangan.
    Sungguh, masih lekat ingatanku saat-saat berperang menghancurkan benteng cahaya di dada Musthafa, ayahmu. Keseriusannya bergelut dengan kitab-kitab tafsir, hadis, tauhid, dan fikih tak sanggup kuperdaya. Niat dan tekadnya menghafal Quran menyala-nyala, menutup celah-celah hatinya untuk kumasuki. Tekad itu pula yang kini meletup-letup dalam dadamu.
    Aku tak kuasa memaksa, tak punya daya untuk mementahkan atau membusukkan rencanamu untuk menghafal Alquran. Maka, mau tak mau aku mesti mengikutimu, bersabar menunggu saat-saat lengahmu sembari mengotak-atik rencana agar dapat mengalahkanmu lebih cepat. Mengalahkanmu, yang berarti kemenanganku, adalah ketika kau mati setelah benar-benar melepas ketahuhidan pada Allah. Itu adalah kemenanganku yang utama. Kalau itu tak dapat kucapai, paling tidak aku dapat mengalahkanmu dengan cara membuatmu sulit menghafal Alquran, atau membuatmu dapat lebih cepat hafal Alquran tapi pada saat yang bersamaan sifat ke-aku-anmu berhasil kusemaikan. Aku juga berharap Zulaikha, perempuan yang kaucintai itu, mengingkari janjinya untuk menunggu sampai kau hafal Quran. Janji yang Zulaikha tunjukkan dengan hanya seanggukan kepala. Aku ingin hatimu patah dan remuk oleh pengkhianatan Zulaikha nantinya. Atau, Zulaikha setia menunggumu, tetapi kau yang tak setia. Sebab, betapa banyak perempuan di dunia, dan tak sedikit yang lebih ayu dan cerdas dari Zulaikha. Ah, tapi mungkin kau akan tetap pada tekadmu untuk menikahi Zulaikha, dan tak apa. Tapi kelak, (mungkin saja) Zulaikha mandul, dan kau mencampakkannya untuk kemudian menikah lagi dengan perempuan yang subur.
    Aku telah mengantongi beberapa bahan yang akan kurangkai dalam rangka memenangkan perjuanganku. Aku telah menyusun sekian siasat, sesaat setelah kutahu renanamu berangkat ke Jombang tak bisa diganggu gugat. Aku punya rencana utama, rencana cadangan, rencana tambahan, rencana alternatif, dan rencana-rencana lain yang semuanya masih dalam bayangan. Aku bukanlah koruptor, pembunuh, atau perompok bank, dan memang caraku menyusun rencana tidak dapat disetarakan dengan mereka. Betapa menyusun rencana sudah menjadi kebiasaan bagiku sehingga aku tak butuh waktu lama untuk mengumpulkan sekian peluang, menandai sekian kelemahan-kelemahanmu, untuk kemudian bersiap menuju medan juang selanjutnya.
    Rijal, kau boleh tersenyum ketika teringat nikmat terbesar dalam hidupmu: kembali hidup sesudah jantungmu dinyatakan tak berdegup. Kau boleh beristigfar jutaan kali sambil menangis saat teringat masa lalumu yang segelap malam gerhana. Kau boleh menyusun apa saja agar matahari menerangi jalan-jalanmu di masa depan. Kau boleh berdoa, memohon apa saja. Kau boleh, Rijal, meski aku tak pernah menyuruhmu. Dan tanpa kusuruh pun kau telah melakukan sebagian di antaranya. Tapi, Rijal, inilah aku, makhluk yang kaunamai dengan setan ini, telah telah seribuan tahun mengenal bumi dan perangai manusia. Inilah aku, Rijal, yang tersembunyi dari matamu, senantiasa akan mengiringi gerak hati dan pikiranmu.
    Semua dokumen masa lalumu aku simpan di kepalaku yang kecil dan bertanduk. Aku hafal setiap lembar catatan hari-harimu sejak lahir hingga dua puluh dua usiamu kini. Semuanya kusimpan rapi, dapat aku keluarkan kapan saja jika aku butuhkan, kapan pun dapat kujejalkan ke kepala atau dadamu.
    Kau tak secerdas Musthafa muda, yang kini genap seratus hari lalu dikubur. Tapi aku tak bisa meremehkanmu. Musthafa telah memaku azan di telinga kananmu, dan ikamat di telinga kirimu beberapa detik setelah kau pertama kali memekikkan tangis karena kucubit. Kau yang dilahirkan ketika bumi mulai bertumbuhan dengan gedung-gedung, dan aspal mulai disiramkan di jalan-jalan mulanya adalah anak manja yang masih senang menetek ibumu sampai usia hampir lima. Tak seperti Musthafa kecil yang senang bertualang ke hutan, kau kecil menggemari main bola dan bermain kartu remi di kedai kopi. Sampai kemudian guru sekolahmu membuatmu jatuh gila pada buku, dan tak dinyana, setelah buku menjadi kawan sepimu, dan kau mulai pandai berwudu dan merapal Quran, mulailah tampak tanda-tanda darah Musthafa yang mengalir di tubuhmu.
    Memang, kemudian aku telah berhasil mengenalkanmu pada perempuan bernama Zulaikha, santri ayahmu, tetapi apa yang dulu aku harapkan setelah kau jatuh hati dengan perempuan itu sangatlah melenceng. Kau ketahuan membelai jidat Zulaikha, sesuatu yang sangat menggeramkan Musthafa. Kau menolak dinikahkan dan ibumu kemudian memberi jalan keluar. Kau kuliah dikuliahkan di Jogja, sementara Zulaikha pulang ke kampungnya.
    Di Jogja memang telah berkali-kali kau hampir berhasil kuperdaya. Hampir, itu artinya tidak lama lagi. Ada cahaya yang senantiasa menyelubungi dadamu saat aku berusaha meniupkan suara-suara, rayuanku. Mungkin cahaya itu adalah doa Musthafa, entahlah. Yang terang, kau tak pernah menamatkan kuliahmu. Kau memilih pulang ke Tuban, melupakan proposal skripsimu. Kau memilih hengkang kuliah setelah ayahmu meninggal untuk kemudian berencana menghafal Quran. Kau telah bertandang ke rumah Zulaikha di Rembang, dan di sana kau menggantungkan janji: akan melamar perempuan itu setelah kau mengantongi gelar hafiz Alquran. Tak dinyana, teranyata Zulaikha masih terus mengenangmu.
    Dapat aku bayangkan jika rencana yang telah kaususun itu berjalan mulus. Kelak setelah hafal segeluntung Alquran kau akan menikah. Lalu Zulaikha kauboyong ke Tuban. Kau akan menggantikan Musthafa, menghidupkan pengajian di masjid, membesarkan pesantren, dan beranak pinak. Kau akan semakin sukar untuk mendengar bisikan-bisikan yang kuembuskan ke dadamu. Aku akan lebih sering menangis dan merintih oleh lecut doa dan ayat-ayat Quran yang kaubaca.
    Ough, betapa membayangkan keberhasilan rencanamu itu, seketika membelakak mataku, mengepal tanganku, mengencang urat leherku, tegak ekorku, mengaum geramku.
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/40599/Sang-Perayu

Mahadharma The Festival, Ajang Silaturahmi Komunitas Bandung


Bandung - Tak bisa dipungkiri Bandung sebagai kota kreatif banyak melahirkan komunitas-komunitas dan industri bisnis yang cukup unik-unik. Hal itulah yang mendasari Hima Manajemen FE Bisnis Unpad untuk menggelar Mahadharma The Festival yang digelar di Monumen Perjuangan, Sabtu (12/11/2011).

Ada sekitar 20 komunitas kreatif dan 7 komunitas seni sunda serta puluhan produk-produk dari industri kreatif Kota Bandung meramaikan gelaran yang dimulai pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB.

Menurut Ketua Panitia Mahadharma The Festival, Aldy Primanda, komunitas yang ikut serta dalam festival ini terdiri dari komunitas kreatif olahraga, hobby, komunitas sunda seperti pencak silat, tongeret, dan komunitas kesenian sunda.

"Selain itu kita juga ada band-band yang akan tampil. Tapi mereka hanya sebagai pemanis, kita fokusnya ke festivalnya itu sendiri," tutur Aldy kepada detikbandung disela-sela acara.

Sebagian dari komunitas-komunitas selain memberikan informasi kepada masyarakat juga akan unjuk kabisa di atas panggung.

"Tujuan kita ingin mengumpulkan komunitas untuk silaturahmi. Karena acara ini gratis, masyarakan bisa lebih mengetahui komunitas apa saja yang ada di Bandung," terangnya.

Panitia Mahadharma The Festival juga menggelar aneka permainan tradisional untuk warga sekitar, seperti aakodan dan sonlah.

Panitia bukan tanpa arti memakai nama Mahadharma untuk tajuk acara ini, menurut Aldy, Mahadharma The Festival terdiri dari dua suku kata. Yakni Maha dan Dharma, maha artinya besar, dharma artinya perbuatan baik.

"Jadi kita intinya ingin berbuat baik dengan membuat acara yang besar yakni mengumpulkan komunitas ini," jelas Aldy.

Acara ini mengambil tema Bandung dari Masa ke Masa yang dibagi menjadi beberapa area. Area Bandung Lautan Api menceritakan Bandung dengan lukisan yang dibuat oleh mahasiswa FSRD ITB. Ares Sunda Pisan Yeuh isinya adalah komunitas-komunitas sunda. Area Bandung tempo dulu bentuknya semacam foodcourt yang situasinya menggambarkan bandung tempo dulu.

"Inti acara ini, kita pengen ningkatin kegunaan ruang publik. Karena kan makin kesini pengunjung monumen ini semakin sedikit. Kita mencoba angkat fungsi monumen untuk menggelar festival ini," ujar Aldy.

Beberapa komunitas yang hadir di gelaran ini adalah Indie Yo, Bandung Cycle Chic, Fun Magug, Sloopy Skateboarder, Komikara, Klastic dan yang lainnya. Sedangkan industri kreatif Bandung di ataranya diisi okeh CeyTety Chips, Ayam Bu Tejo, Nanutz Mania, Lemonade Stand, Sushi Shisha, dan lainnya.

(avi/tya)

sumber : bandung.detik.com

Friday, November 11, 2011

Wujudkan Manajemen Pangan

Oleh: ENTANG SASTRAATMADJA
TAHUN ini, Hari Pangan Sedunia di negara kita dipusatkan di Gorontalo, Sulawesi Utara dan digelar sejak 20 - 23 Oktober 2011 lalu. Peringatan HPS kali ini benar-benar kurang terpublikasi secara meriah karena media massa rupanya lebih tertarik untuk mengangkat soal reshufflel Kabinet ketimbang memuat berita tentang Hari Pangan. Hal ini wajar terjadi, karena media massa jelas akan lebih senang memberitakan masalah-masalah kepolitikan yang menggegerkan dari pada bicara soal pangan yang cenderung adem-ayem dan biasa-biasa saja.

Bangsa kita rupanya lebih menyukai berita tentang siapa-siapa saja para Menteri yang bakal diganti. Publik pasti akan lebih menyenangi informasi soal muka-muka baru yang akan dipilih Presiden SBY untuk duduk dalam rengrengan kabinet. Bahkan suka atau pun tidak, tentunya mesti diakui bahwa sebagian besar rakyat kita, cenderung bakal menyukai berita-berita tentang merosotnya popularitas Presiden SBY dan Partai Demokratnya.

Begitulah perilaku masyarakat di negeri ini. Sebuah gambaran yang pantas untuk dijadikan bahan perenungan bersama.

Terlepas dari hiruk pikuknya kepolitikan di dalam negeri, rasa-rasanya akan menjadi sebuah kekeliruan yang dapat berakibat fatal apabila memperingati HPS di tahun 2011 ini kita melupakan pentingnya manajemen pangan dalam kehidupan.

Apalagi apabila kita seolah-olah tidak mempedulikan hal tersebut. Untuk itu, tidaklah terlampau berlebihan jika dalam menyemarakan peringatan HPS yang kali ini, kita mencoba untuk mengulasnya secara singkat. Paling tidak, kita perlu menghayati apa sebetulnya urgensi manajemen pangan dalam merancang kebutuhan dan tuntutan masyarakat di masa kini dan masa yang akan datang.

Dalam sistem pangan, sebetulnya dikenal adanya sub sistem ketersediaan, sub sistem distribusi, dan sub sistem konsumsi.

Ketiga sub sistem ini merupakan paduan yang saling terkait dan sudah sewajarnya mampu kita rajut dengan penuh kehati-hatian. Ketiga sub sistem ini tidak boleh dipisahkan. Apalagi dipersepsikan sebagai bagian yang terpisah antara satu sub sistem dengan sub sistem lainnya. Namun sesuai dengan perkembangan yang ada, ke tiga sub sistem itu mestilah dapat diposisikan ke dalam kesatuan yang saling mempengaruhi sekaligus saling melengkapi.

Ketersediaan pangan yang cukup bahkan berlebih (surplus) adalah dambaan segenap warga bangsa di dunia. Begitu pun dengan adanya distribusi yang merata di seluruh penjuru tanah air dengan tingkat harga yang terjangkau oleh masyarakat adalah keinginan yang senantiasa harus diwujudkan. Bahkan semakin randahnya laju konsumsi beras per kapita per tahun, adalah harapan yang selalu ingin digapai. Bangsa ini mendambakan agar laju konsumsi beras per kapita per tahunnya itu dapat ditekan hingga dibawah angka 100, sebagaimana yang sekarang ini sudah dicapai oleh negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia atau pun Thailand.

Andai ketiga subsistem diatas mampu kita rajut dalam sebuah kesatuan, baik dalam pola pikir mau pun pola tindak, maka itulah sesungguhnya yang dimaknai dengan manajemen pangan. Pemahaman semacam ini mutlak dibutuhkan agar dalam menganalisis persoalan pangan di negeri ini kita tidak terjebak dalam hal-hal yang bersifat sesaat atau jangka pendek semata. Justru dengan manajemen pangan inilah kita dituntut untuk mampu berpikir tentang masa datang.

Termasuk dengan indikator yang terukur dan tersterukturkan secara holistik. Harapan kita, mudah-mudahan peringatan HPS tahun 2011 ini mampu memberi ruang kepada terwujudnya manajemen pangan seperti yang didambakan bersama. (Penulis adalah Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat)**
koran galamedia
Selasa, 08 November 2011

Jual Gelang Kokka (Kaukah) Murah

Gelang Kokka Oval Rp. 30.000



Gelang Kokka Sisik Rp. 40.000



Gelang Kokka Bulat Rp. 40.000


Gelang Kokka Tasbih 33 Rp. 32.000

Gelang Kokka Tasbih 33 Pilar Rp. 32.000



Gelang Kokka Mardjan Rp. 30.000





Gelang Kokka Mardjan Hitam Rp. 30.000





Gelang Kokka Berlian Rp. 40.000





Gelang Kokka Berlian Hitam Rp. 40.000



 
 ym: achonk2001
085759846855
Ansor

Jual Tasbih Kokka (Kaukah) Murah

Tasbih Kokka / Kaukah 99 biji | Terbuat dari kokka | Ukuran Diameter Biji 8mm

  Beli  



Tasbih Kokka 99 Standar Hitam Rp. 120.000

Tasbih Kokka / Kaukah 99 biji | Terbuat dari kokka | Ukuran Diameter Biji 8mm


Tasbih Kokka 99 Oval Rp. 160.000
 Tasbih Kokka / Kaukah 99 biji model oval| Terbuat dari kokka | Ukuran Biji Panjang 13 mm, Lebar 8 mm

  Beli  


Tasbih Kokka 99 Berlian Rp. 160.000
 Tasbih Kokka / Kaukah 99 biji model cutting berlian| Terbuat dari kokka | Ukuran Diameter Biji 8mm

  Beli  


Tasbih Kokka 99 Berlian Hitam Rp. 160.000 
 Tasbih Kokka / Kaukah 99 biji model cutting berlian| Terbuat dari kokka | Ukuran Diameter Biji 8mm

  Beli  


 
 ym: achonk2001
web : http://www.marurah.com
Ansor

Jayadrata

KEGELISAHAN berkecamuk dalam dada Jayadrata. Seribu benteng hidup ksatria Kurawa tak juga mampu meredam resah hatinya. Matanya nanar memandang wajah matahari di atas sana yang timbul tenggelam dipermainkan gelombang awan hitam. Dia berharap siang cepat berlalu dan malam pun menjelang agar hidupnya bebas dari ancaman.
     Sumpah Arjuna yang akan memenggal kepalanya sebelum matahari tenggelam membuatnya berada pada tepi jurang kematian. Untunglah seribu prajurit pilihan Kurawa berhasil menghadang hasrat Arjuna. Penengah Pandawa itu kesulitan menembus barikade yang dibuat oleh para kesatria Kurawa. Kematian Abimanyu oleh ulah licik Jayadrata membangkitkan kemarahan Arjuna. Dia ingin membalaskan sakit hatinya.
    Tak ubahnya seekor tikus yang tersesat, Jayadrata bersembunyi di tengah benteng pertahanan yang dibuat prajurit Kurawa. Sang komandan, Duryudana, terus menghibur dan menenangkan hatinya yang masih ketar-ketir menghadapi detik-detik menegangkan.
    "Tenanglah, Jayadrata! Tak ada yang bisa menyentuh kulit tubuhmu seinci pun karena kamu berada dalam perlindungan paling aman. Arjuna yang sombong itu tak akan mampu menembus barikade pasukan Kurawa!" ujarnya meyakinkan.
    "Terima kasih, Kakang Prabu! Anda benar-benar pemimpin yang sangat mengayomi rakyat!" ucap Jayadrata puji sanjung kepada pimpinan Astina itu. Duryudana tertawa keras, hatinya menjura mendengar sanjungan punggawanya.
    Begitulah adab dan perilaku yang terjadi dalam pemerintahan Kurawa. Hal lazim antara pimpinan dan bawahan saling melontarkan pujian. Pimpinan berhasil menina bobo rakyat dengan slogan dan kata-kata menyejukkan. Sementara para birokrat atau punggawa Kurawa berlaku menjilat dan menyanjung pimpinan dengan bahasa "sendika dawuh". Prinsip asal bos senang menjadi pedoman. Mereka bermuka dua.
    Tapi meski sudah mendapat jaminan perlindungan dari para pimpinan Astina, tak dimungkiri hati Jayadrata masih diliputi waswas. Pikirannya membayangkan berbagai kemungkinan buruk. Dia tahu reputasi Arjuna sebagai kesatria tanpa tanding. Memang, sumpah Arjuna yang akan membakar diri jika tak berhasil membunuh Jayadrata sebelum matahari tenggelam tak ubahnya bumerang. Tapi siapa pun tak akan meragukan kesaktian Arjuna. Tak ada satu pun kesatria di muka bumi bisa mengalahkan Arjuna!
    Rasanya tak ada lagi tempat di sudut bumi ini yang bisa dijadikan persembunyian oleh Jayadrata. Karena ke mana pun dia pergi, Arjuna bakal menemukannya. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh titisan Dewa Indra itu? Ke dalam perut bumi, ceruk laut, atau kegelapan rimba sekalipun akan mudah ditembus. Arjuna bukan sembarang kesatria. Segala macam ilmu kesaktian dimilikinya. Bahkan rahasia alam semesta tergenggam di tangannya.
    Nyali Jayadrata rasanya menciut bagai batu yang menyusut menjadi debu, jiwanya mengerdil oleh tekanan batin yang menggerus tajam. Sungguh, belum pernah Jayadrata merasakan ketakutan dan ketegangan sehebat ini. Merasakan bayangan kematian sebegitu dekat, saking dekatnya ia bisa merasakan desir napasnya menyentuh pori-pori kulitnya. Perasaannya tercekam ngilu!
    Tiba-tiba Jayadrata mengenang kembali perjalanan hidupnya sampai pada titik ini. Keterlibatannya dalam perang Bharatayuda dan berdiri pada pihak Kurawa bukan tanpa alasan. Selain alasan primordial—kawin dengan Dursilawati, saudara perempuan Kurawa—ada alasan lain melatari keberpihakannya pada Kurawa. Masih terekam jelas dalam ingatannya, bagaimana ia dipermalukan Pandawa bersaudara. Kepalanya digunduli oleh Wrekudara. Rasa sakit hati dan dendam kesumat menggumpal dalam dada Jayadrata!
    Jika dilihat dari silsilah, sesungguhnya ia masih ada hubungan saudara dengan Pandawa. Menurut cerita Begawan Sapwani, gurunya, ia terlahir dari ari-ari pembungkus bayi Wrekudara yang dibuang. Oleh sang Begawan ari-ari itu dipungut dan didoakan hingga menjelma bocah laki-laki yang tumbuh dewasa. Tak heran bila perawakan Jayadrata mirip Gatotkaca, anak Wrekudara. Namun meski terbilang saudara Wrekudara, keluarga Pandawa tak mengakuinya.
    Atas didikan gurunya, Jayadrata menjelma menjadi kesatria sakti mandraguna. Dia memiliki sifat jujur, lugas, dan pemberani. Dia diwarisi oleh gurunya pusaka ampuh berupa gada bernama Kiai Glinggang. Kehebatan Jayadrata dalam perang tanding memikat hati Sengkuni. Patih Hastinapura itu lalu membujuk Jayadrata agar mau mengabdi di kerajaan Hastinapura. Dengan senang hati Jayadrata memenuhinya.
    Di Hastinapura ia menunjukkan kehebatannya sebagai prajurit yang tangguh. Prabu Drestarastra berkenan menjadikannya menantu dengan mengawini Dewi Dursilawati, adik perempuan Duryudana. Dia diberi kedudukan istimewa sebagai raja di kerajaan Sindu.
    Kedekatannya dengan Kurawa dan limpahan fasilitas mewah dari kerajaan membuat Jayadrata lupa diri. Dia melupakan ajaran kebaikan dari gurunya. Dia pernah menculik Drupadi dan berkeinginan menikahinya. Tindakannya itu tentu saja mengundang kemarahan keluarga Pandawa. Dia kemudian diburu oleh Pandawa. Begitu tertangkap, tubuhnya dihajar hingga babak belur oleh kakak beradik Pandawa. Rambutnya dicukur habis oleh Wrekudara. Untunglah datang Yudhistira menyelamatkan jiwanya.
    Atas peristiwa itu Jayadrata menjadi benci dan dendam pada Pandawa. Dia lalu bertapa ke hadapan Siwa dan memohon kekuatan agar bisa menaklukkan Pandawa. Namun Siwa mengatakan bahwa hal itu sangat mustahil. Meski demikian, Siwa menganugerahkan kepada Jayadrata kemampuan mengalahkan Pandawa bersaudara pada hari pertama Bharatayuda, kecuali Arjuna. Karena tidak ada yang mampu mengalahkan Arjuna dalam perang Bharatayuda.
    Tak mampu mengalahkan Arjuna, maka Jayadrata mengalihkan sasaran kepada Abimanyu, putra kesayangan Arjuna. Pada hari ketiga belas di medan laga Kurusetra, Jayadrata berhasil menghentikan Pandawa di dekat formasi Cakrawyuha yang sulit ditembus. Sementara Abimanyu yang terkurung dalam formasi itu dikeroyok oleh para kesatria Kurawa. Abimanyu kewalahan bertarung sendirian menghadapi ratusan kesatria Kurawa. Ia gugur dengan kepala terpenggal dari badan.
    Kabar kematian Abimanyu menggusarkan hati Arjuna. Ia lalu mengejar Jayadrata. Pihak Kurawa tak tinggal diam. Mereka berusaha melindungi Jayadrata. Kesal tak bisa menangkap Jayadrata, akhirnya Arjuna mengeluarkan sumpah akan membakar diri jika sampai matahari tenggelam belum berhasil memenggal kepala Jayadrata. Sumpah yang sempat menciutkan hati keluarga Pandawa dan memunculkan sedikit kegembiraan buat Kurawa. Karena sumpah seorang kesatria adalah janji yang harus ditepati!
    Duryudana dan saudara-saudaranya berusaha sekuat tenaga melindungi Jayadrata dari kejaran Arjuna. Sementara Arjuna tak henti melontarkan anak panah dari Gendewanya ke arah benteng hidup yang memagari tubuh Jayadrata. Begitu ketat dan berlapis-lapis pertahanan yang dibangun Kurawa guna melindungi Jayadrata, tak peduli ribuan prajurit kehilangan nyawa menjadi perisai. Begitulah prinsip Kurawa, apa pun dilakukan demi sebuah kemenangan, tak terkecuali mengorbankan rakyat tak berdosa!
    Aroma anyir darah yang meruap berpadu dengan gelombang debu tebal menyeraki langit. Padang Kurusetra menjelma kuburan massal bagi prajurit yang gugur. Wajah matahari terlihat sayu. Keletihan memenat pada tubuh semua prajurit. Mereka sudah kehilangan daya dan konsentrasi lagi. Mereka sudah mencapai titik kulminasi, di mana kejenuhan dan keletihan bercampur jadi satu. Pada situasi semacam ini, datangnya sebuah kabar menggembirakan bagai oasis di tengah padang tandus.
    Maka, ketika langit berubah gelap, matahari tenggelam di balik kekelaman, dan seruan kemenangan bergema ke segenap penjuru perkemahan Kurawa, wajah-wajah kegembiraan memancar bagai sinar bulan purnama. Duryudana dan saudara- saudaranya tak henti menyorakkan yel-yel kemenangan. Mereka sangat gembira karena durasi perang sudah habis. Lebih dari itu, mereka gembira akan menyaksikan aksi "pati obong" Arjuna!
    "Hari telah gelap! Waktu perang telah habis! Saatnya kita saksikan kobaran api dari tubuh Arjuna!" teriak Duryudana di tengah riuh massa.
    "Ayo, kita saksikan bersama-sama pembakaran Arjuna! Kita rayakan kemenangan!" Dursasana tak kalah mengobarkan emosi kegembiraan.
    "Benarkah semua telah berakhir?" Jayadrata yang masih bingung dengan sorak-sorai di sekelilingnya celingukan seperti orang linglung.
    "Benar, Jayadrata! Semua telah berakhir! Lihatlah, langit telah gelap. Matahari telah tenggelam! Kita menang! Kita menaaanggg.!"
    Jayadrata termangu-mangu, seperti tak percaya. Tapi langit di atas sana terlihat gelap, wajah matahari tak lagi nampak. Benar saja, siang telah lenyap berganti malam. Sebuah perasaan lega tiada terhingga mendadak meluap dalam dada Jayadrata. Bibir Jayadrata menyungging lebar, tak kuasa menyembunyikan kegembiraan. Dia kemudian larut dalam sorak-sorai kemenangan prajurit Kurawa. Benteng hidup yang melindungi dirinya buyar berhamburan oleh keriuhan menyambut kemenangan.
    Dari kejauhan Arjuna dan para punggawa Pandawa hanya bisa terpaku memandang kemeriahan di perkemahan Kurawa. Tapi mereka tak terlihat resah atau kecut hati, terutama Arjuna. Kesatria berbudi halus dan bijaksana itu terdiam untuk beberapa saat, seakan membiarkan seterunya di seberang sana menikmati pesta kemenangan. Keyakinannya begitu kuat tertanam dalam jiwanya bahwa kejahatan akan sirna. Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti!
    Setelah merasa cukup membiarkan Kurawa mabuk oleh kemenangan, Arjuna lalu menoleh pada Kresna seraya mengirim sebuah isyarat. Kresna mengangguk mengerti. Dengan suatu gerakan khusus Kresna pelahan membelah langit dan memperlihatkan wajah matahari dengan seterang-terangnya. Dengan kesaktiannya Kresna berhasil membuat semacam gerhana yang menyebabkan langit berubah gelap gulita, seolah malam telah tiba. Malam semu inilah yang disambut oleh Kurawa dengan sukacita.
    Maka, ketika cahaya matahari tiba-tiba muncul dari balik langit yang gelap, mata para punggawa dan prajurit Kurawa pun terbelalak terpana. Rona pucat dan ngeri memancar pada wajah mereka, terutama Jayadrata. Dan saat ia mendongak ke atas, tampaklah bayangan kematian menderas ke arahnya, meluncur bagai bola api yang jatuh dari langit. Tapi sesungguhnya kilatan cahaya yang datang itu berupa panah api yang amat sangat dikenalinya. Itulah panah api senjata pamungkas Arjuna bertajuk Pasupati!
    Sebelum ia sempat bergerak dalam waktu sepersekian detik, kecepatan laju panah Pasupati telah mendahuluinya, menerabas lehernya. Dan sebuah kepala menggelinding ke tanah, mengakhiri jiwanya. Semua yang ada di sekitarnya hanya bisa diam terpana, tak bisa berbuat apa-apa!
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/48110/Jayadrata

Hubungan KIAMAT Dengan KA BAH



Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun untuk manusia beribadah adalah rumah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi manusia. (QS. Ali Imran: 96)

Kita mungkin pernah bertanya kenapa harus solat menghadap Kiblat, juga kenapa harus ada Ibadah Thawaf, Ini juga sering jadi perenungan manusia, seperti ini :
1. Ketika mempelajari Kaidah Tangan Kanan (Hukum Alam), bahwa putaran energi kalau bergerak berlawanan dengan arah jarum jam, maka arah energi akan naik ke atas akan naik ke atas. Arah ditunjukkan arah 4 jari, dan arah ke atas ditunjukkan oleh Arah Jempol.


2. Dengan pola ibadah thawaf dimana bergerak dengan jalan berputar harus berlawanan jarum jam, ini menimbulkan pertanyaan, kenapa tidak boleh terbalik arah, searah jarum jam misalnya.


3. Kenapa Solat harus menghadap Kiblat, termasuk dianjurkan berdoa dan pemakaman menghadap Kiblat

4. Kenapa Solat Di Masjidil Haram menurut Hadist nilainya 100.000 kali dari di tempat sendiri.

5. Singgasana Tuhan ada di Langit Tertinggi

Perenungan Sintesa :

1. Energi Solat dan Doa dari individu atau jamaah seluruh dunia terkumpul dan terakumulasi di Kabah setiap saat, karena Bumi berputar sehingga solat dari seluruh Dunia tidak terhenti dalam 24 jam, misal orang Bandung solat Dzuhur, beberapa menit kemudian orang Jakarta Dzuhur, beberapa menit kemudian Serang Dzuhur, Lampung dan seterusnya. Belum selesai Dzuhur di India Pakistan, di Makasar sudah mulai Ashar dan seterusnya. Pada saat Dzuhur di Jakarta di London Sholat Subuh dan seterusnya 24 jam setiap hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya.

2. Energi yang terakumulasi, berlapis dan bertumpuk akan diputar dengan generator orang-orang yang bertawaf yang berputar secara berlawanan arah jarum jam yang dilakukan jamaah Makah sekitarnya dan Jamaah Umroh / Haji yang dalam 1 hari tidak ditentukan waktunya.

3. Maka menurut implikasi hukum Kaidah Tangan Kanan bahwa Energi yang terkumpul akan diputar dengan Tawaf dan hasilnya kumpulan energi tadi arahnya akan ke atas MENUJU LANGIT. Jadi Sedikit terjawab bahwa energi itu tidak berhenti di Kabah namun semuanya naik ke Langit. Sebagai satu cerobong yang di mulai dari Kabah. Menuju Langit mana atau koordinat mana itu masih belum nyampe pikiran saya. Yang jelas pasti Tuhan telah membuat saluran agar solat dan doa dalam bentuk energi tadi agar sampai Ke Hadirat Nya. Jadi selama 24 Jam sehari terpancar cerobong Energi yang terfokus naik ke atas Langit. Selamanya sampai tidak ada manusia yang solat dan tawaf (kiamat?).



Kesimpulan
1. Solat dan Doa, diyakini akan sampai ke langit menuju Singgasana Tuhan selama memenuhi kira-kira persyaratan uraian di atas dengan sintesa (gabungan/Ekstrasi) renungan hukum agama dan hukum alam, karena dua-duanya ciptaan Tuhan juga. Jadi hendaknya ilmuwan dan agamawan bersinergi/ saling mendukung untuk mencapai kemaslahatan yang lebih luas dan pemahaman agama yang dapat diterima lahir batin

2. Memantapkan kita dalam beribadah solat khususnya dan menggiatkan diri untuk selalu on-line 24 jam dengan Tuhan, sehingga jiwa akan selalu terjaga dan membuahkan segala jenis kebaikan yang dilakukan dengan senang hati (iklas).

3. Terjawablah jika sholat itu tidak menyembah batu (Kabah) seperti yang dituduhkan kaum orientalis, tapi menggunakan perangkat alam untuk menyatukan energi solat dan doa untuk mencapai Tuhan dengan upaya natural manusia.

4. Tuhan Maha Pandai, Maha Besar dan Maha Segalanya

Ini sekedar renungan dan analisa , semoga saja mampu memotivasi kita dan para Pakar untuk memicu pemikiran, penelitian lebih dalam untuk lebih mempertebal keimanan dan menjadi saksi bahwa Tuhan menciptakan semesta dengan penuh kesempurnaan tidak dengan main-main (asal jadi) sehingga makin yakin dan cinta pada Tuhan Yang Maha Esa. Mungkin renungan ini berlebihan dan berfantasi, tapi sedikitnya ini pendekatan yang mampu menjawab pertanyaan sebagaimana di atas dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci dan Hadist bahkan mendukungnya. Semoga bermanfaat…

Ramalan Untuk Memastikan Bahwa Ka’bah Dan Kiamat hanya Allah Yang Tahu :

1. Ka’bah Akan Hancur Dengan Sendirinya (Terbukti dengan ditenggelamkannya satu pasukan yang akan menyerang ka’bah suatu hari nanti)

2. Jika Pusat Bumi Bergeser Akan Banyak Kekacauan (seperti Musim Yang tidak Mengenal waktu)

3. Kiamat Akan Cepat Terjadi Jika Sholat Sudah Ditinggalkan

4. Anda Pasti Juga pernah mendengar jika Siapa Yang Meninggalkan sholat berarti telah merobohkan Agama.

5. Untuk selain Islam, kapan kapan akan kita kupas, bagaimana kemampuan Pentium 2 dan pentium 4 sungguh berbeda, bagaimana petunjuk Allah Disempurnakan dari umat Ibrahim, Musa hingga Muhammad saw, Nabi Isa menyempurnakan Taurat dengan Injil, Dan Muhammad menyempurnakan keduanya Dengan Al Qur’an. Hingga Kalian mengerti bahwa kita dulu adalah umat yang satu
termasuk ini penejelasan ilmiahya : planet mengelilingi matahari termasuk galaksi bimasakti seperti orang tawaf di Ka'bah.
taroh di page1 kalo berkenan

 
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10613871

Thursday, November 10, 2011

Manajerial Tepat, Kunci Keberhasilan

SELALU bekerja maksimal, baik di lembaga pendidikan, organisasi maupun perusahaan. Membagi waktu yang efektif, menerapkan manajerial yang tepat dan memanfaatkan teknologi informasi yang makimal, menjadi kunci keberhasilan Ketua DPK Asosiasi Pengusaha Konstrusi Indonesia (Aspekindo) Kab. Bandung, Yus Hermansyah.S.T., M.Si.

Dari seluruh kegiatan yang di gelutinya, pria kelahiran Subang, 17-3-1964 ini, lebih fokus membesarkan usaha jasa konstruksi sekaligus rajin membawa bendera Aspekindo Kabupaten Bandung. Ketika diberi kepercayaan sebagai ketua DPK Aspekindo Kab.Bandung Tahun 2010, Yus langsung membenahi struktur kepengurusan yang kompeten, sekaligus menempati kantor yang strategis di Jln. Raya Banjaran-Soreang, Cipetir 316, Kab. Bandung.

Dia membuat gebrakan, seperti sering rapat koordinasi intern secara rutin, bekerjasama dengan pihak ketiga dan mengikuti pelatihan, seminar jasa konstruksi, dan rajin mensosialisasikan Aspekindo di kalangan pengusaha swasta dan pemerintah sangat positif. Dapat terlihat dan dirasakan langsung oleh anggota Aspekindo semakin bergairah yang dampaknya anggota Aspekindo Kab. Bandung rata-rata setiap anggota tahun 2011 minimal dapat empat paket pekerjaan.

"Jasa Konstruksi lebih menantang,di bandingkan kerjaan lainnya, sekaligus nyambung dengan background S1 saya Teknik Sipil, ini kerjaan yang sangat saya sukai," kata bapak dua anak dari istri Solikhah, S.Pd.I., M.M.

Menurut Yus, bekerja di bidang kontraktor cukup menantang. Masih banyak anggapan masyarakat bahwa pekerjaan kontraktor kurang berkualitas dan tidak sesuai bestek. Diakuinya, tidak dimungkiri kontraktor pasti dalam pekerjaannya mencari untung. Masalah kualitas yang jelek menurutnya, akibat mental pengusaha dan birokrasi yang harus di benahi, karena unsur KKN masih sangat rentan.

"Menjadi rahasiah umum dapat kontrak kerjaan tidak gratis, dari mulai tender sampai pencairan penuh dengan KKN berapa meja yang harus di lalui, ekonomi biaya, nyata adanya. Belum lagi keterlibatan pihak ke tiga 'broker gentayangan' yaitu dari kalangan oknum DPR/DPRD, LSM, Ormas, Wartawan dan oknum penegak hukum ikut bermain. Korupsi berjamaah yang semakin mewabah sulit untuk di berantas, Ini tantangan. Sekaligus duka cita," papar Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kab. Bandung 2011 ini.

Dalam perjalanan hidup, menurutnya ada suka dan duka. Tetapi Yus mengaku punya prinsip untuk meraih keberhasilan yaitu, belajar, belajar, dan belajar. "Pengalaman adalah guru yang paling baik," katanya.

Karena prinsip itulah dia saat ini menjadi lokomotif tiga bidang kegiatan yang masing-masing membawa gerbong di tempat yang berbeda. Sebagai Ketua Yayasan di STAI SABILI telah meluluskan 6500 alumni, Pemred Tabloid Nasional Politik & Kriminal sudah usia ke 12 Tahun dengan jumlah wartawan 112 orang, yang terakhir selaku Ketua DPK Aspekindo Kab. Bandung dengan anggota 47 perusahaan. (rosyad am/"GM")** Koran Galamedia
Yus Hermasyah, S.T., M.Si., Ketua Aspekindo Kab. Bandung

Kurban Deklarasi Tauhid Umat

Oleh: ACEP HERMAWAN
KONOTASI kurban adalah penyembelihan hewan dalam rangka ibadah kepada Allah Swt. "Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah" (QS. Al-Kautsar [108]: 1-2). Konotasi ini menandakan adanya penyucian diri dari sifat-sifat penghambaan diri kepada selain Allah yang akan tertanam kuat dalam perilaku.

Dalam ranah historis, asal-usul kurban telah terekam jelas dalam cerita Ibrahim yang telah menjalankan perintah Allah dengan sabar dan tawakal. Ibrahim berkali-kali diuji dengan berbagai ujian berat yang memerlukan pengorbanan yang sangat besar. Dari beberapa ujian yang diikutinya, yang paling berat bagi Ibrahim adalah perintah untuk mengorbankan putra semata wayang yang sangat dicintainya ketika itu, yaitu Nabi Ismail.

Drama kurban merupakan sebuah penegasan bahwa Tuhan Ibrahim bukanlah Tuhan yang haus akan darah manusia. Dia adalah Tuhan (Allah) yang ingin menyelamatkan, membebaskan, dan melindungi umat manusia dari berbagai bentuk perilaku jumud manusia. Dari diri Ibrahimlah diturunkan generasi para nabi yang kemudian mengajarkan keesaan Tuhan (baca: monoteisme) dalam tiga tradisi agama: pertama, tradisi Yahudi yang diajarkan oleh Musa dengan kitab Tauratnya; kedua, tradisi Kristiani yang diajarkan oleh Isa dengan kitab Injilnya; dan ketiga, tradisi Islam yang diajarkan oleh Muhammad Saw dengan kitab Alqurannya.

Oleh sebab itu, kurban sebagai bentuk refleksi historik atas perjalanan kebajikan yang pernah ditorehkan manusia masa lampau, yakini Nabi Ibrahim dalam rangka untuk mengenang perjuangan monoteistik dan humanistik yang telah diukirnya. Artinya, kurban bermakna keteladanan Ibrahim (al-uswah al-Ibrahimiyah) yang mampu mentransformasi pesan keagamaan ke dalam aktualisasi perjuangan hidup kemanusiaan (al-insaniyah).

Setiap agama mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Tuhan. Karena hanya dengan niat terikhlaslah akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelaksanaannya dekat kepada Allah. Dalam kaitan dengan kurban, Allah swt menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging hewan yang dikurbankan, melainkan ketakwaan dalam melaksanakannya. Allah tidak mengharapkan daging dan darah hewan kurban, tetapi mental ketaqwaan yang diminta, namun ketakwaan hanya akan tumbuh di hati yang bersih dan ikhlas.

Pada kacamata ini terlihat ada dua nilai kurban yang satu sama lain saling menguatkan dalam upaya mengesakan Tuhan (tauhid), yakni nilai pendekatan diri kepada Tuhan (habluminallah) dan nilai pendekatan diri kepada sesamanya (habluminannas). Mengesakan Tuhan merupakan pengkristalan dari sikapnya yang selalu menyandarkan hidupnya kepada Tuhan dan keterampilan hidupnya di tengah-tengah masyarakat. Dalam bahasa Syafi'i Ma'arif (2002), yang terbentuk tidak hanya tauhid individu akan tetapi tauhid sosial umat. Artinya, pada kurban terdapat nilai ketauhidan yang sangat kental.

Pada sisi lain, ketauhidan merupakan puncak keimanan manusia kepada Allah, yang termanifestasi dalam seluruh perilakunya yang sangat terpuji. Perilaku ini sekurang-kurangnya terwakili oleh dua unsur, yaitu keikhlasan dan ketaatan. Keikhlasan mengandung arti bahwa ibadah kurban yang dilakukan benar-benar murni hanya semata-mata karena Allah dan dalam rangka menjalankan perintah-Nya. Sedangkan ketaatan mengandung arti bahwa ibadah kurban yang dilaksanakan harus berdasarkan atas ketaatan kepada perintah Allah dan bukan didasari atas ketaatan kepada selain-Nya.

Hewan yang disembelih (dikurbankan) dalam proses ritual ibadah kurban tak lain merupakan simbol keburukan yang disembelih yang melekat pada diri manusia. Teologi ritual ini, menandakan penyembelihan atas sifat-sifat kebinatangan seperti egois, serakah, rakus, menindas, tidak taat aturan, menentang norma atau etika (amoral), membunuh, memperkaya diri sendiri, memonopoli seluruh sektor perekonomian, korupsi, penindasan terhadap kaum minoritas, arogan, dan apatis terhadap realitas sosial masyarakat dan keumatan.

Dalam kenyataan sosial, kita sering menjumpai umat Islam rajin menjalankan ibadah, tapi kejahatan dan kemaksiatan juga dilakukan. Sering terjadi paradoks yang begitu dalam antara ajaran ideal-normatif Islam dengan kenyataan kehidupan sosiohistoris kaum muslim. Indonesia diakui sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dengan ketaatan melakukan ritual yang tinggi. Ironisnya, Indonesia juga diakui sebagai salah satu negara paling korup di dunia.

Dengan demikian, ritual kurban adalah sebuah deklarasi akan prinsip Tauhid yang menjadi keistimewaan agama Islam atas agama lainnya, meruntuhkan tembok pemisah atara elit dan rakyat jelata, miskin dan kaya, putih dan hitam, serta mampu menyatukan seluruh umat dengan segala perbedaannya dalam satu wadah penghambaan kepada Allah. Dapat dikatakan, bahwa hari raya Idul Adha adalah menifestasi keyakinan akan Tauhid dan simbol solidaritas umat manusia.

Melalui momentum Iduladha 1432 H, saatnya kita tegakkan nilai-nilai ketuhanan (al-ilahiyah), kemanusiaan (al-insaniyyah), keadilan (al-'adl), dan solidaritas sosial (at-ta'awun al-ijtima'i) sebagaimana diajarkan Ibrahim; dan membumikan ajaran Ismail sebagai simbol aktualisasi nilai-nilai ketuhanan di tengah kehidupan umat manusia yang kian picik dan terus menghamba pada materi. Pada gilirannya, ibadah kurban dapat memberi makna, warna dan tren baru bagi model kehidupan individu dan sosial, masyarakat dan negara modern secara terbuka. (Penulis, kandidat doktor pendidikan UIN SGD Bandung, Direktur Eksekutif Najah Islamic Centre)** Kurban Deklarasi Tauhid Umat
Oleh: ACEP HERMAWAN
KONOTASI kurban adalah penyembelihan hewan dalam rangka ibadah kepada Allah Swt. "Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah" (QS. Al-Kautsar [108]: 1-2). Konotasi ini menandakan adanya penyucian diri dari sifat-sifat penghambaan diri kepada selain Allah yang akan tertanam kuat dalam perilaku.

Dalam ranah historis, asal-usul kurban telah terekam jelas dalam cerita Ibrahim yang telah menjalankan perintah Allah dengan sabar dan tawakal. Ibrahim berkali-kali diuji dengan berbagai ujian berat yang memerlukan pengorbanan yang sangat besar. Dari beberapa ujian yang diikutinya, yang paling berat bagi Ibrahim adalah perintah untuk mengorbankan putra semata wayang yang sangat dicintainya ketika itu, yaitu Nabi Ismail.

Drama kurban merupakan sebuah penegasan bahwa Tuhan Ibrahim bukanlah Tuhan yang haus akan darah manusia. Dia adalah Tuhan (Allah) yang ingin menyelamatkan, membebaskan, dan melindungi umat manusia dari berbagai bentuk perilaku jumud manusia. Dari diri Ibrahimlah diturunkan generasi para nabi yang kemudian mengajarkan keesaan Tuhan (baca: monoteisme) dalam tiga tradisi agama: pertama, tradisi Yahudi yang diajarkan oleh Musa dengan kitab Tauratnya; kedua, tradisi Kristiani yang diajarkan oleh Isa dengan kitab Injilnya; dan ketiga, tradisi Islam yang diajarkan oleh Muhammad Saw dengan kitab Alqurannya.

Oleh sebab itu, kurban sebagai bentuk refleksi historik atas perjalanan kebajikan yang pernah ditorehkan manusia masa lampau, yakini Nabi Ibrahim dalam rangka untuk mengenang perjuangan monoteistik dan humanistik yang telah diukirnya. Artinya, kurban bermakna keteladanan Ibrahim (al-uswah al-Ibrahimiyah) yang mampu mentransformasi pesan keagamaan ke dalam aktualisasi perjuangan hidup kemanusiaan (al-insaniyah).

Setiap agama mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Tuhan. Karena hanya dengan niat terikhlaslah akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelaksanaannya dekat kepada Allah. Dalam kaitan dengan kurban, Allah swt menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging hewan yang dikurbankan, melainkan ketakwaan dalam melaksanakannya. Allah tidak mengharapkan daging dan darah hewan kurban, tetapi mental ketaqwaan yang diminta, namun ketakwaan hanya akan tumbuh di hati yang bersih dan ikhlas.

Pada kacamata ini terlihat ada dua nilai kurban yang satu sama lain saling menguatkan dalam upaya mengesakan Tuhan (tauhid), yakni nilai pendekatan diri kepada Tuhan (habluminallah) dan nilai pendekatan diri kepada sesamanya (habluminannas). Mengesakan Tuhan merupakan pengkristalan dari sikapnya yang selalu menyandarkan hidupnya kepada Tuhan dan keterampilan hidupnya di tengah-tengah masyarakat. Dalam bahasa Syafi'i Ma'arif (2002), yang terbentuk tidak hanya tauhid individu akan tetapi tauhid sosial umat. Artinya, pada kurban terdapat nilai ketauhidan yang sangat kental.

Pada sisi lain, ketauhidan merupakan puncak keimanan manusia kepada Allah, yang termanifestasi dalam seluruh perilakunya yang sangat terpuji. Perilaku ini sekurang-kurangnya terwakili oleh dua unsur, yaitu keikhlasan dan ketaatan. Keikhlasan mengandung arti bahwa ibadah kurban yang dilakukan benar-benar murni hanya semata-mata karena Allah dan dalam rangka menjalankan perintah-Nya. Sedangkan ketaatan mengandung arti bahwa ibadah kurban yang dilaksanakan harus berdasarkan atas ketaatan kepada perintah Allah dan bukan didasari atas ketaatan kepada selain-Nya.

Hewan yang disembelih (dikurbankan) dalam proses ritual ibadah kurban tak lain merupakan simbol keburukan yang disembelih yang melekat pada diri manusia. Teologi ritual ini, menandakan penyembelihan atas sifat-sifat kebinatangan seperti egois, serakah, rakus, menindas, tidak taat aturan, menentang norma atau etika (amoral), membunuh, memperkaya diri sendiri, memonopoli seluruh sektor perekonomian, korupsi, penindasan terhadap kaum minoritas, arogan, dan apatis terhadap realitas sosial masyarakat dan keumatan.

Dalam kenyataan sosial, kita sering menjumpai umat Islam rajin menjalankan ibadah, tapi kejahatan dan kemaksiatan juga dilakukan. Sering terjadi paradoks yang begitu dalam antara ajaran ideal-normatif Islam dengan kenyataan kehidupan sosiohistoris kaum muslim. Indonesia diakui sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dengan ketaatan melakukan ritual yang tinggi. Ironisnya, Indonesia juga diakui sebagai salah satu negara paling korup di dunia.

Dengan demikian, ritual kurban adalah sebuah deklarasi akan prinsip Tauhid yang menjadi keistimewaan agama Islam atas agama lainnya, meruntuhkan tembok pemisah atara elit dan rakyat jelata, miskin dan kaya, putih dan hitam, serta mampu menyatukan seluruh umat dengan segala perbedaannya dalam satu wadah penghambaan kepada Allah. Dapat dikatakan, bahwa hari raya Idul Adha adalah menifestasi keyakinan akan Tauhid dan simbol solidaritas umat manusia.

Melalui momentum Iduladha 1432 H, saatnya kita tegakkan nilai-nilai ketuhanan (al-ilahiyah), kemanusiaan (al-insaniyyah), keadilan (al-'adl), dan solidaritas sosial (at-ta'awun al-ijtima'i) sebagaimana diajarkan Ibrahim; dan membumikan ajaran Ismail sebagai simbol aktualisasi nilai-nilai ketuhanan di tengah kehidupan umat manusia yang kian picik dan terus menghamba pada materi. Pada gilirannya, ibadah kurban dapat memberi makna, warna dan tren baru bagi model kehidupan individu dan sosial, masyarakat dan negara modern secara terbuka. (Penulis, kandidat doktor pendidikan UIN SGD Bandung, Direktur Eksekutif Najah Islamic Centre)**  Koran Galamedia

Budaya Sunda Kurang Dikenal

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan menyatakan, saat ini seni dan budaya Sunda semakin dijauhi oleh orang Sunda. Mereka merasa gengsi untuk mengangkat seni dan kebudayaannya.

Hal itu diungkapkan Gubenur pada pelantikan pengurus Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus) Sunda angkatan kedua periode 2011 - 2016 di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur Bandung, Sabtu (5/11). Syarif Bastaman dilantik sebagai Ketua Bamus Sunda menggantikan Adang Darodjatun.

Pejabat lain yang dilantik yaitu Drs. Ernawan S. Koesoemaatmadja, M.B.A., C.I.Q.A. (Sekjen), Dr. Avip Saefullah, M.Pd. (Dewan Karesian), dan Ir. R. Roza Mintaredja (Dewan Karamaan).

Sejumlah pejabat hadir dalam pelantikan tersebut, seperti Wali Kota Bandung Dada Rosada, Wakil Wali kota Bandung Ayi Vivananda, serta sejumlah pejabat lainnya dan para tokoh Sunda, termasuk penggagas Bamus Sunda, Adang Darodjatun.

Menurutnya, seni dan budaya Sunda dijauhi orang Sunda karena budaya Sunda kurang dikenal masyarakat. Pasalnya, media massa kurang memberikan ruang bagi perkembangan kesenian dan kebudayaan Sunda.

"Kurangnya ruang di media massa ini membuat seni dan budaya Sunda kurang dikenal olah masyarakat," tandasnya.

Ia menyatakan, dijauhinya budaya Sunda oleh orang Sunda dapat terlihat kini masyarakat sudah tidak nanggap kesenian seperti wayang golek, calung, reog, dan sebagainya. Tidak hanya itu, pakaian khas Sunda maupun bentuk dan jenis bangunan Sunda pun sudah banyak ditinggalkan.

"Masyarakat Sunda lebih mencintai dan menggemari seni budaya dari daerah dan negara lain. Dalam peribahasa Sunda, jati kasilih kujunti," terangnya.

Sehubungan hal tersebut, Gubernur mengajak masyarakat dan Bamus Sunda memelihara seni budaya agar bisa mendirikan dan membangkitkan jati diri bangsa. Menurutnya, ini bukan membangkitkan sifat kadaerahan yang sempit. "Tapi mengingatkan urang Sunda agar kembali pada jati dirinya yang diawali mencintai seni dan budayanya," tambahnya.

Pada kesempatan itu, Gubernur pun meminta agar orang Sunda mau jarambah ke berbagai daerah maupun negara dan hangan kembali jika belum sukses. Dia mencontohkan orang Cina yang di setiap negara ada dan mereka mampu menguasai ekonomi.

"Sekarang Cina mampu menguasai dunia di bidang ekonomi dan sebagainya," ujarnya.

Gubernur menilai, pelantikan Bamus Sunda bisa ngahangkeutkeun sumanget masyarakat dalam organisasi kasundaan serta mengembangkan ajen inajen kasundaan. "Saya berharap Bamus Sunda mampu mengajak masyarakat kembali pada jati diri orang Sunda," tandasnya.

Sementara Ketua Bamus Sunda Pusat, Syarif Bastaman menyatakan, Bamus Sunda siap berkontribusi untuk kemajuan Jabar, termasuk kemajuan seni dan budayanya serta bahasa Sunda. Gerakan kasundaan sudah sejak lama dilakukan berbagai organisasi kasundaan.

"Bamus Sunda akan menggali tetekon dan kearifan lokal budaya Sunda melalui bahasanya, untuk mengembalikan jati diri orang Sunda," tandasnya. (B.81)**Galamedia