-
-

Tuesday, January 03, 2012

20 Tahun yang akan Datang Bandung Bisa Lumpuh Total

Bandung - Wakil Walikota Bandung Ayi Vivananda menegaskan perlu segera dibenahi persoalan transportasi agar jalanan di Bandung nyaman dan lancar. Apabila tak terstruktur secara baik, diprediksi Kota Bandung lumpuh total pada 20 tahun mendatang.


Hal tersebut diungkapkan Wakil Walikota Bandung Ayi Vivananda kepada wartawan di Hotel Homan, Jalan Asia Afrika, Kamis (29/12/2011).

"Itu bisa terjadi kalau kita tidak segera menggunakan moda transportasi massal," kata Ayi.

Menurut Ayi pertumbuhan jumlah kendaraan roda dua dan roda empat di Kota Bandung tiap tahunnya terus meningkat. Belum lagi ditambah jumlah pengendara dari luar Bandung.

"Hingga 2011 ini jumlah kendaraan di Kota Bandung mencapai 1,2 juta kendaraan. Terdiri dari roda empat sebanyak 400 ribu, dan roda dua sebanyak 800 ribu. Ini terus bertambah, tapi pertumbuhan panjang luas jalan tetap," ucap Ayi.

Kota Bandung jumlah penduduknya 2,3 juta jiwa dan memiliki luas 16,700 hektare. Saat akhir pekan hampir 200 ribu wisatawan menyambangi Kota Bandung. "Kalau kendaraan itu semua ada di jalan dengan waktu bersamaan, kondisinya bisa stuck dan tak bergerak. Ilustrasinya begini, kalau ada gang diisi oleh 10 orang saja sudah sempit, terus diisi 100 orang pasti sulit bergerak," ucapnya.

Ia menambahkan, Pemkot Bandung kini sedang mengkaji operasional Trans Metro Bandung (TMB) untuk koridor dua atau membuka trayek Cicaheum-Cibeureum. Selain itu, lanjut Ayi, pihaknya berencana membuat tol dalam kota, serta bekerjasama dengan PT Kereta Api Indonesia (KA) soal sistem perkeretaapian, serta merancang masterplan transportasi regional dan kota.
(bbn/ern)
sumber : bandung.detik.com

Jika Ikhlas, Mengajar Basa Sunda itu Ibadah


Siti Khodijah Sutiadi, Guru di Lingkungan Dinas Pendidikan Kota Bogor
MENGAJARKAN bahasa Sunda kepada anak-anak yang hidup di perkampungan, bukanlah masalah yang rumit, meskipun sekarang banyak anak-anak yang mulai enggan berbasa Sunda dengan alas an takut tidak sesuai dengan undak-usuk basa. Tetapi, mengajar bahasa Sunda di daerah yang notabene menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, bukanlah pekerjaan yang mudah. Perlu kesabaran dan ketekunan.

"Wah, kirang-kirangna mah matak aral, tapi semua saya nikmati," ujar Siti Khodijah Sutiadi, S.Pd. guru bahasa Sunda SDN Papandayan Kota Bogor.

Oleh karena itu, menurut Siti, mengajarkan bahasa, kesenian, dan kebudayaan Sunda harus sepenuh hati dan rasa cinta sebagai perwujudan dari tanggung jawab moral seorang pengajar. Baginya, mengajarkan bahasa dan kebudayaan Sunda kepada anak-anak didiknya yang berasal dari berbagai etnis merupakan tatantangan yang sangat menarik.

Melalui pekerjaannya ini Siti ingin mencoba membuka wawasan anak-anak didiknya tentang kekayaan khazanah budaya Indonesia, salah satunya adalah budaya, bahasa, dan kesenian Sunda. Dengan sangat tekun dan telaten Siti memperkenalkan anak-anaknya pada waditra (alat-alat musik) Sunda seperti kecapi, suling, dan gamelan degung. Dengan penuh rasa cinta ia mengajari mereka da mi na ti la da, menabuh kenong, memetik kecapi, lalu ngahaleuang lagu anak-anak ciptaan Mang Koko dengan pengantar bahasa Sunda yang diselingi dengan bahasa Indonesia.

"Bogor yang berbatasan dengan Kota Metropolitan membawa masyarakatnya hidup dengan gaya metropolis. Tentu saja bahasa yang mereka gunakan pun adalah bahasa Indonesia, meskipun secara geografis masih termasuk Provinsi Jawa Barat. Ini menjadi sangat menarik buat saya. Sebagai orang Sunda saya harus menyampaikan amanat ini kepada generasi muda. Anak-anak di Bogor pun harus mengenal basa dan budaya Sunda," ujar perempuan kelahiran Ciamis, 15 Maret 1967 yang kini sedang meneruskan program magister manajemen.

Kecintaan ibu dari dua orang anak terhadap seni dan bahasa Sunda sudah melekat sejak kecil. Sejak lahir hingga menyelesaikan sekolah pendidikan guru, ia berada di lingkungan budaya yang sehari-hari menggunakan bahasa Sunda. Keistimewaan suaranya dimanfaatkannya untuk menyentuh lagu-lagu berbahasa Sunda. Sehingga tidaklah heran jika kepala sekolah mempercayainya untuk mengajarkan kesundaan pada anak-anak didiknya.

Berbekal suara, kelancaran berbahasa, dan keluwesan dalam bergaul, Siti juga sering didapuk menjadi master of ceremony dalam berbagai acara resmi kedinasan di lingkungan Dinas Pendidikan Kota Bogor. Bahkan, ia pun tidak jarang didaulat sebagai qariah dalam acara-acara tertentu karena ia menguasai qiroat dengan sangat baik. Suaranya yang merdu , kefasihannya mengucapkan lafaz Alquran, dan kemampuannya melantunkan lagu qiraat dengan gaya mujawad membuat orang-orang di lingkungan dinasnya sangat mempercayai Siti berada di maqom-nya itu.

"Qiraat merupakan bagian dari seni dan budaya. Sama halnya dengan mengajarkan bahasa dan kesenian Sunda pada anak-anak. Bagi saya, baik mengajarkan kesenian dan bahasa Sunda maupun membaca Alquran sangat bermanfaat dan bernilai ibadah. Itulah sebabnya saya jalani semuanya dengan ikhlas," ungkapnya. (nana sukmana/"GM)**
Galamedia
Senin, 26 Desember 2011

Hentikan Pembabatan Kawasan Hutan Cagar Alam!


Menhut Ultimatum Chevron
IBUN,(GM)-
Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan memperingatkan PT Chevron Geothermal Indonesia (CGI) agar tidak melakukan pembabatan hutan cagar alam yang ada di wilayah Kabupaten Bandung dan Garut. Selama ini proses perluasan pembuatan sumur panas bumi hingga ke kawasan cagar alam belum pernah dikonsultasikan pada Kementerian Kehutanan.

"Tidak boleh dong ada pembabatan kawasan hutan cagar alam sebelum izin kita keluarkan. Sampai kini, Kementerian Kehutanan belum mengeluarkan izin bagi PT CGI di Kabupaten Bandung. Izin yang pernah kita keluarkan hanya untuk pemanfaatan lahan tahap pertama, sedangkan yang sekarang belum kita keluarkan. Pokoknya selama izin belum keluar, tidak boleh mengganggu kawasan cagar alam," kata Zulkifli di sela-sela pencanganan Menabung 100 Juta Pohon, di Pertamina Geothermal Energy Kamojang, Kecamatan Ibun, Rabu (28/12).

Di samping itu, Menhut pun meminta kepada perusahaan panas bumi untuk memperhatikan lingkungan sekeliling. Diingatkan pula supaya program CSR lebih diarahkan pada lingkungan terdekat.

"Perusahaan geothermal jangan senang sendiri, tolong perhatikan lingkungan sekitarnya. Janganlah CSR diberikan jauh-jauh, tidak adil kalau masyarakat sekitar hanya jadi penonton," katanya.

Zulkifli menjelaskan, Kementerian Kehutanan mendukung pengembangan geothermal. Oleh karena itu pemberian izin dipercepat dan dipermudah. Hal itu tidak bisa dilepaskan dari tugas pemerintah mempercepat kebutuhan energi masyarakat

"Geothermal itu sumber energi ramah lingkungan terbarukan yang patut kita dukung. Apalagi geothermal sangat membutuhkan lingkungan terjaga. Keberadaan pepohonan mampu menyimpan cadangan air yang sangat dibutuhkan perusahaan geothermal," papar Zulkifli sambil menambahkan, rata-rata geothermal berada di kawasan konservasi.

Kegiatan pencanangan Menabung 100 Juta Pohon ini dihadiri pula oleh Direktur Utama Pertamina Geothermal Slamet Riyadi, Bupati Bandung Dadang M. Naser, perwakilan dari Pemkab Garut, serta pejabat dari Kementerian Kehutanan dan Pertamina. Pada kesempatan itu secara simbolis dilakukan penanaman pohon di kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Kamojang.

Ada pelanggaran

Sebelumnya Bupati Bandung, Dadang M. Naser mengatakan, pembuatan empat titik sumur baru di kawasan Gunung Puncakcae, Desa Cihawuk, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung oleh PT CGI dipandang telah merusak cagar alam. Karena itu Bupati mendesak perusahaan asing asal Negeri Paman Sam itu segera mengembalikan kondisi alam yang telah rusak itu.

"Pemkab Bandung melihat telah terjadi kerusakan alam di daerah Kertasari. Belum lagi perluasan itu tanpa sepengetahuan Pemkab Bandung selaku pemilik wilayah. Atas pelanggaran-pelanggaran tersebut, saya selaku Bupati tidak mengizinkan PT CGI melanjutkan kegiatan pembuatan sumur baru di Kecamatan Kertasari," tegasnya.

Dikatakan, upaya menghentikan kegiatan PT Chevron di Kertasari bukan berarti Pemkab Bandung menghalangi investasi. Kebijakan ini diambil semata-mata untuk menegakkan aturan. Jangan sampai pengusaha seenaknya berinvestasi tanpa melalui prosedur yang ditetapkan.

Perluasan PT CGI hingga ke cagar alam, menurut Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH) Jawa Barat telah melanggar memorandum of understanding (MoU) yang dibuat 13 Juli 2009. Dalam MoU itu sama sekali tidak diatur masalah perluasan penambangan sampai ke cagar alam.

MoU melibatkan empat pihak, yaitu Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jabar, Tubagus Unu Nitibaskara selaku pihak pertama, Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy, Suryadarma selaku pihak kedua, perwakilan PT CGI Barry S. Andrews selaku pihak ketiga, dan diketahui oleh Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Darori. MoU itu mengatur tentang peningkatan efektivitas pengelolaan cagar alam Gunung Papandayan.

Ketua FPLH, Thio Setiowekti mengatakan, perluasan penambangan yang dilakukan PT CGI sampai ke kawasan hutan cagar alam tidak termasuk dalam MoU yang dibuat tersebut. Perusahaan panas bumi asal Amerika Serikat ini mengajukan permohonan izin perluasan penambangan seluas 9 hektare, namun sampai sekarang Kementerian Kehutanan belum mengabulkannya.

"Padahal dalam MoU itu jelas disebutkan bahwa Cagar Alam Papandayan merupakan kawasan suaka alam, daerah tangkapan air, dan salah satu hulu dari dua daerah aliran sungai (DAS), yaitu Sungai Citarum dan Cimanuk," ungkap Thio. (B.104)**

Monday, January 02, 2012

Merajut Nilai Perjuangan Palagan Ambarawa


Oleh: ALWI BAFAQIH
PERTEMPURAN Ambarawa atau disebut Palagan Ambarawa merupakan peristiwa sejarah yang terjadi 66 tahun silam yang diawali dengan pendaratan Tentara Sekutu di semarang tanggal 19 oktober 1945 yang memboncengi belanda untuk menjajah kembali Indonesia. Tujuan terselubung penjajah ini menimbulkan perlawanan dari TKR yang pada saat itu baru dibentuk dan para laskar pejuang yang ada di Semarang, Magelang dan Ambarawa.

Kebulatan tekad melawan penjajah, rawe-rawe rantas malang-malang putung dipraktikkan saat melawan sekutu selama empat hari empat malam dengan penuh heroik, sehingga pertahanan sekutu jebol dan mereka mundur dari Ambarawa pada 15 Desember 1945.

Palagan Ambarawa menceritakan kepada kita tentang keyakinan para pejuang menghadapi sekutu walaupun memiliki persenjataan yang modern namun para pejuang kita dengan berani dan penuh keyakinan akan kemampuan sendiri dapat melakukan perlawanan dari memboikot logistik pasukan sekutu sampai kepada pertempuran bersenjata antara superior (sekutu) dan imperior (Indonesia). Suatu model pertempuran yang tidak berimbang tetapi tidak menyurutkan semangat para pejuang.

Para pejuang yakin dengan kemampuan sendiri karena nilai-nilai patriotisme dan militansi perjuangan begitu membara dalam sanubari mereka. Mereka solid (bersatu) dari berbagai daerah walaupun tidak saling kenal. Dengan berbekal keyakinan, mereka mampu mengusir penjajah. Pantang menyerah berdasarkan keyakinan man jadda wajada, siapa yang bersungguh sungguh akan sukses.

Nilai kejuangan 

Schwartz (1994) mendefinisikan nilai sebagai suatu tujuan akhir yang diinginkan, memengaruhi tingkah laku, yang digunakan sebagai prinsip atau panduan dalam hidup seseorang atau masyarakat. Bisa dikatakan bahwa nilai-nilai pada hakikatnya merupakan sejumlah prinsip yang dianggap berharga sehingga layak diperjuangkan dengan penuh pengorbanan. Seseorang yang hanya memperjuangkan nilai-nilai pribadi adalah indivudualis, sedangkan pejuang adalah seseorang memperjuangkan nilai-nilai sosial.

Dalam catatan sejarah perang darat mulai dari tahun 1945 sampai dengan tahun 2004, TNI telah melaksanakan 249 operasi tempur di darat (perang darat). Musuh yang dihadapi 33% dari Negara luar operasi militer untuk perang (OMP) dan 67% musuh dari dalam negeri/ pemberontakan bersenjata operasi militer selain perang (OMSP). OMP dilakukan pada masa merebut kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan bukan pada masa generasi sekarang sehingga yang tersisa dari OMP itu adalah nilai-nilai kejuangan serta taktik dan strategi. Sementara taktik dan strategi bisa selalu berubah tergantung dari faktor tugas, medan, musuh dan pasukan sendiri (TUMPAS) sedangkan nilai-nilai kejuangan tidak bisa berubah dan tidak boleh diubah.

Tantangan TNI

Tantangan TNI AD ke depan tidaklah ringan dalam menjaga keamanan wilayah darat. Kondisi geopolitik dunia sulit untuk diprediksi bila mengacu pada peristiwa yang terjadi akhir-akhir di Irak, Afganistan, atau Libia. Ini menyadarkan kita bahwa teknik invasi militer telah berubah. Kita mungkin tidak lagi melihat pertempuran yang sifatnya jantan antara satu negara melawan satu negara tetapi saat ini dunia sedang mengarah kepada terbentuknya blok-blok keamanan bersama seperti NATO, atau seperti Malaysia dan Singapura yang tergabung dalam "Five Power defence agreement" yang dalam salah satu klausal disebutkan jika salah satu Negara diserang akan dibantu oleh empat negara.

Kecil kemungkinan negara lain menyerang dan menduduki Indonesia karena letak geografis Indonesia yang unik sangat menyulitkan musuh. Namun untuk sekadar mengganggu dan memporakporandakan pertahanan Indonesia bukan hal yang mustahil terjadi.

Tantangan perang darat tidak seperti yang dialami di masa pertempuran melawan sekutu di Ambarawa tetapi sudah lebih kompleks yang dapat melibatkan serangan yang integral menggunakan tembakan rudal dari kapal selam, dari udara, dan rudal antar negara. Memang yang terbaik menurut Tsun Tzu adalah memenangkan pertempuran sebelum berperang seperti yang dilakukan Israel terhadap Suria.

Menghadapi perang darat dengan peralatan perang yang sudah uzur diharapkan nilai kejuangan menjadi sebuah antitesa dalam perkembangan perang modern. Nilai kejuangan yang dimaksudkan adalah semangat pantang menyerah, patriotisme, cintah tanah air, dan berani mati untuk negara dan bangsa. Nilai kejuangan ini memiliki makna yang penting dalam kehidupan pribadi prajurit maupun kelompok yang telah dibuktikan oleh pejuang zaman penjajahan.

Berbicara mengenai nilai, dapat kita lihat pada setiap kesuksesan seseorang dalam perjuangannya karena mampu memahami nilai perjuangan dan dapat menangkap pesan-pesan yang tersirat didalamnya. Sedangkan menyangkut nilai kejuangan dalam penggunaan teknologi perang ada istilah the man behind the gun, secanggih apapun senjata yang dimiliki tetapi tidak memiliki semangat bertempur dan mempunyai sifat mudah menyerah maka tidak ada artinya.

Menarik benang merah pertempuran Ambarawa dalam konteks kekinian adalah mengobarkan sikap berani mati pada prajurit, keyakinan yang kuat akan nilai-nilai kebenaran, serta cinta terhadap tanah air. Nilai kejuangan ini tidak bisa tertanam dalam diri prajurit sepanjang tidak muncul kesadaran akan perubahan tatanan nilai yang berkembang dewasa ini. Nilai-nilai kejuangan ini sampai sekarang sudah mulai terkikis oleh arus perkembangan globalisasi seperti nasionalisme menjadi globalisme seperti yang ditulis Samuel P. Huntington.

Pergeseran nilai dari kebersamaan kepada individualistis, kepedulian berubah kepada sikap apatis, cinta negara kepada cinta duniawi yang berlebihan menyebabkan tumbuhnya jiwa pengecut dan takut mati, memelihara sikap sombong dan angkuh menjadi tabiat yang buruk bagi prajurit. Jika sifat-sifat semacam ini masih bersemayan dalam jiwa prajurit, maka nilai-nilai kejuangan sulit tertanam dalam dirinya apalagi diharapkan untuk melindungi bangsa dan negara. Selamat Hari Juang Kartika ke 66, Semoga TNI AD selalu jaya dalam mengawal republik Indonesia. (Penulis, Kasibinmusmon Dinas Sejarah Angkatan Darat)**

2012, Seluruh RS di Jabar Buka Pelayanan Pasien Jamkesmas

Bandung - Jumlah rumah sakit (RS) di Jawa Barat saat ini ada 244. Namun hanya 133 RS atau 54,51 persen saja yang sudah melaksanakan pelayanan jamkesmas. Pada tahun 2012, seluruh RS bisa melakukan pelayanan jamkesmas sehingga tidak ada lagi RS yang menolak pasien miskin.

"Pada 2011, dari 244 RS di Jabar, baru 133 RS yang melaksanakan pelayanan jamkesmas. Tidak heran masih saja ada berita di media tentang adanya pasien yang memerlukan pelayanan terkesan tidak terlayani," ujar Kepala Dinas Kesehatan Jabar, Alma Lucyati saat memberikan laporan dalam acara Sosialisasi Kesiapan Jabar Menuju Universal Coverage Insurance Melalui KTP Berasuransi Kesehatan Serta Pencanangan dan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Jamkesmas di Hotel Savoy Homann Jalan Asia Afrika, Rabu (28/12/2011).

Masalahnya, ketersediaan tempat tidur untuk pasien jamkesmas mash belum terpenuhi. Dari 10 ribu kebutuhan tempat tidur untuk pasien jamkesmas, baru 4 ribu tempat tidur yang tersedia.

"Diawali RS yang telah membuka diri, diharapkan tahun 2012 mendatang kebutuhan 10 ribu tempat tidur itu bisa terpenuhi," katanya.

Di Jabar sendiri Alma meyebut ada 1.044 puskesmas di mana 127 di antaranya melayani perawatan (dengan kapasitas tempat tidur 20 buah), 249 PONEP (pranata emergency progresif). Rencananya di 2012 juga akan ditambah 112 PONEP baru di Jabar.

Selain itu, Dinkes Jabar bersama RSHS serta Askes diungkapkan Alma tengah mempersiapkan sistem rujukan untuk pelayanan kesehatan. Acara ini dihadiri Mentri Kesehatan Endang Raayu Sedyaningsih, Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron, Sekda Jabar Lex Laksamana, para kepala dinas kesehatan kabupaten dan kota se-Jabar, pengelola jamkesmas, dan para dirut RS se-Jabar.

Dalam acara tersebut dilakukan juga penandatanganan komitmen secara simbolis oleh sejumlah RS di Jabar tentang komitmennya melayani jamkesmas.
(tya/ern)
sumber : bandung.detik.com

Manajemen Benci dan Cinta


Oleh Meylina Hidayanti

Empat abad silam, setiap pagi seorang lelaki menemui seorang pengemis yahudi tua renta, tak bergigi, lumpuh serta buta kedua matanya, untuk melembutkan makanannya. Pengemis itu begitu membenci Islam sebagaimana ia membenci Rosulullah saw.

Saking begitu besar kebenciannya terhadap Rasulullah, sehingga setiap harinya ia senantiasa mencaci maki Rasulullah saw. Ia memuntahkan kebenciannya kepada Nabi yang datang dari bangsa Arab, bukan Yahudi.

Selain melembutkan makanan, lelaki itu juga memberikan suap demi suap makanan ke mulut sang pengemis tua itu. Dan pada setiap kali suapan itu pula, sang pengemis berkata “bunuh Muhammad... bunuh Muhammad” dan berbagai cacian yang terus keluar dari mulutnya.

Namun si Lelaki ini tetap saja dengan lembut memasukan makanan sesuap demi sesuap ke dalam mulut pengemis tua tersebut, hingga suatu ketika si lelaki tersebut tidak lagi datang menyuapi.

Hari itu, Abu Bakar Ash Shidiq menggantikan perannya. Suap demi suap makanan di masukkan ke dalam mulut si pengemis. “Siapa kau?” pengemis itu terkejut. "Engkau pasti bukan orang yang biasa menyuapiku. Orang itu lebih lembut daripada kau,” lanjutnya,

Abu Bakar menjawab dengan bertanya, “Engkau tahu siapa yang biasa menyuapimu?" Abu Bakar melanjutkan perkataannya. “Dialah Muhammad, Rasulullah. Kini beliau telah wafat. Maka aku datang menggantikan beliau."

Terhenyaklah si pengemis yahudi itu. Serta merta ia menangis. Air matanya
deras mengalir di pipinya. Hingga beberapa saat kemudian, dia pun menyatakan dirinya masuk Islam.


Ada buah yang bisa dipetik dari kisah tersebut betapa maasa lalu, kini dan masa depan selalu terkait, karena itu berhati-hatilah dan waspadai kecenderungan hati, sebab apa yang ada di hati saat ini bisa berubah total di masa depan. Berujar seorang ulama besar Ibnu Katsir, “Harapan itu maksudnya Allah mengubah cinta sesudah benci, rasa sayang sesudah berlawanan, dan keakraban sesudah bercerai berai."

Menyangkut perasan suka dan benci, sahabat sekaligus sepupu Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib ra “Bencilah musuhmu sekedarnya. Karena boleh jadi suatu hari nanti ia akan jadi orang yang kau cintai” (Ali bin Abi
Thalib ra).

Sungguh, bahwa segala sesuatu terdapat kadarnya, maka janganlah kita berlebihan terhadapnya. ”Jadikan rasa cenderungmu senantiasa wajar” (Ibnul Jauzi). Dengan hadirnya rasa benci ataupun cinta, rasa sayang ataupun
bermusuhan, serta keakraban ataupun bercerai berai, mampu membawa kita untuk memahami sebuah proses Bahwa segalanya akan senantiasa mengalami perubahan.

Hati dan perasaan yang ditumbulkan selalu mengalami proses perubahan yang tak akan pernah terhenti hingga sang waktu telah terhenti dengan sendirinya.

Adanya perubahan yang mengajarkan kepada kita untuk menghindari sikap mengklaim ataupun justifikasi terhadap seseorang karena telah hadir  rasa kecenderungan dalam diri. Perlu untuk memahamkan dan menanamkan dalam diri, bahwa rasa kecenderungan itu akan dapat berubah di waktu yang tak ditentukan sebagaimana kisah  pengemis tersebut diatas.

Sebagaimana pula banyaknya orang-orang Quraisy yang memeluk islam setelah kota Mekkah di taklukkan. Sebagaimana pula kisah Umar bin Khattab yang pada awal mulanya begitu membenci islam dan Rasulullah saw bahkan hampir membunuhnya, namun pada akhirnya ia menjadi salah satu sahabat terbaik Rasulullah saw, yang begitu mencintai islam dan Rasulullah saw.

Tak dapat di pungkiri bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan perasaan terhadap sesuatu, baik itu manusia atau benda. Namun, yang terpenting bagaimana memanajemen kecenderungan tersebut dan melatih diri untuk selalu memiliki alasan dan dasar yang kuat pada kebenaran. Sehingga ketika mencintai sesuatu maka ia layak dicintai karena kebenaran dan ketika membenci juga berdasar kebenaran.

Sangat bijak untuk mengikuti doa Rasulullah “Ya Allah, cintakanlah kami akan keimanan dan jadikanlah ia hiasan dalam hati-hati kami, dan jadikanlah kami membenci kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan” (HR.Ahmad)

Belajar berlaku adil, dengan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, serta sesuai kadarnya. “Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang diantara kamu dengan orang-orang yang pernah kamu musuhi di
antara mereka...” (QS.Al Mumtahanah:7) . Wallahu 'alam bi shawab


Penulis adalah sahabat Republika Online yang kini menjadi guru IPS Terpadu di SMPIT Az Zahra Sragen
sumber : www.republika.co.id

Sunday, January 01, 2012

Walhi Prihatin Krisis Ekologi di Jawa Barat


BANDUNG, (PRLM).- Wahana lingkungan hidup (Walhi) Jabar merasa prihatin dengan terjadinya krisis ekologi sepanjang tahun 2011 sehingga menambah catatan sejarah buruknya perlindungan dan penegakan keadilan lingkungan hidup. Krisis ekologi akan berdampak pada bekurangnya daya dukung dan tampung lingkungan hidup di bumi Jawa Barat.
"Krisis ekologi yang terjadi merupakan kelanjutan dari krisis pengrusakan alam dan lingkungan hidup sebelumnya yang belum terselesaikan, ditambah kasus-kasus baru yang mengemuka di 26 kabupaten/kota di Jawa Barat," kata Direktur Walhi Jabar, Dadan Ramdan, dalam pernyataannya ke PRLM, Selasa (27/12).
Lebih jauh Dadan mengatakan, fenomena krisis ekologis dapat kita periksa dari beragam kasus lingkungan hidup yang setiap hari muncul baik yang terpublikasikan maupun yang tidak terpublikasikan di media massa. "Dari catatan Walhi Jawa Barat, setiap media dalam sehari mempublikasikan minimalnya sekitar lima kasus lingkungan hidup. Jika diakumulasikan maka sepanjang tahun 2011 diperkirakan sekitar 10.800-an kasus lingkungan hidup terjadi di kawasan bioregional Tatar Pasundan," katanya.
Fenomena krisis ekologi mengemuka dibeberapa sektor penting diantaranya kehutanan, pertambangan, persampahan/limbah, penataan ruang, sumber daya air dan wilayah pesisir dan laut baik utara maupun selatan Jawa Barat.
"Di sektor kehutanan, krisis ekologis dapat di tunjukan dengan semakin kritisnya ekologi hutan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kualititatif, alih fungsi kawasan hutan baik di kawasan konservasi, lindung dan produksi semakin marak terjadi dan mengancam keberlangsungan keanekaragaman hayati, mengurangi pasokan ketersediaan air, longsor dan banjir di musim penghujan," katanya.
Berdasarkan laporan dari Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia, Indek Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) dari aspek tutupan hutan di Jawa Barat bernilai 38,69, berada dalam indeks kualitas yang sangat rendah. Sedangkan secara kuantitatif, berdasarkan catatan Walhi Jawa Barat, praktik alih fungsi kawasan hutan hingga tahun 2011 terakumulasi sekitar 95.000 hektar atau 10% dari total kawasan hutan negara di Jawa Barat," katanya. (A-71/das)***
sumber : www.pikiran-rakyat.com

Pelajaran dari Kisah Tiga Orang Bani Israel


Oleh Ina Febriany
Bersedekah adalah aktivitas ibadah nan mulia, namun disadari atau tidak sering dilupakan oleh sebagian orang. Kadangkala, saat kita sedang dalam keadaan berlimpah materi, ada saja kebutuhan yang harus dipenuhi. Sedangkan dalam keadaan sempit, maka shadaqah pun terasa sulit. Bagaimana bersedekah, sedang kebutuhan saja kian membelit? Akibatnya, hati kian sempit, dan merajalelalah sifat pelit. Naudzubillah.

Banyak orang berkata, sedekah tidak akan menjadikan si pemberi pelit. Ungkapan itu  ada benarnya. Namun, setiap orang memiliki persepsi masing-masing tentang hakikat sedekah mengingat makna shadaqah itu sendiri luas.

Rasulullah Saw bersabda, “Senyum kepada saudara muslim itu sedekah.” Ada pula yang memaknai sedekah bukan dari segi senyuman, namun pemberian--yakni mereka yang membiasakan dirinya untuk bersedekah dalam keadaan apapun-- baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Ada yang kalau sedang lapang saja mau memberi, namun kala sempit ia nyaris mengesampingkan sedekah. Atau ada pula yang sama sekali enggan bersedekah.

Dalam Qs Ali Imran, Allah berfirman, ''Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 133-134).

Allah telah berjanji--bagi siapapun hamba-Nya, lelaki maupun perempuan beriman, dalam keadaan lapang maupun sempit, tulus ikhlas, tidak ada unsur pamer dalam memberi, Allah akan melipatgandakannya sesuai dengan kehendak Allah, Sang Maha Meluaskan dan Menyempitkan Rezeki.

''Barang siapa yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (Al-Baqarah: 245)

Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, “ Sedekah yang bagaimana yang paling besar pahalanya ? ” Nabi Saw menjawab, “ Saat kamu bersedekahhendaklah kamu sehat dan dalam kondisi kekurangan. Jangan ditunda sehingga rohmu di tenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (HR. Bukhari)

Rasulullah menganjurkan kita untuk senantiasa membudidayakan sedekah dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi dalam keadaan kaya, ada amanat yang harus ditunaikan. Jika dalam keadaan kaya, itu adalah ujian dari Allah sebab Allah ingin melihat apakah hamba-Nya mampu mengolah apa yang Allah titipkan melalui sedekah. Sedangkan orang dalam keadaan sempit, itu pun cobaan dari Allah--sebab Allah ingin melihat apakah ia tetap berbagi meski dalam keadaan sulit materi.

Ada kisah mengenai tiga orang Bani Israil yang ketiga-tiganya diuji Allah Swt. semoga kita dapat memetik hikmah dari kisah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim ini.

Dari Abi Hurairah r.a, beliau mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Ada tiga orang Bani Israil (seorangnya) ditimpa penyakit kusta, seorangnya ditimpa penyakit rontok rambutnya dan seorang lagi buta. Maka Allah telah menguji ketiga-tiganya dengan mengutus kepada mereka seorang malaikat.

Malaikat tersebut telah mendatangi orang yang berpenyakit kusta dan bertanya kepadanya, “Apakah yang paling engkau sukai?”

Jawab sang penyandang kusta, “Warna yang bagus serta kulit yang baik dan sembuh dari kotoran yang menyebabkan manusia memandang jelek kepadaku.''

Maka malaikat itu menyapunya dan lalu hilanglah penyakit itu dan diberi warna serta kulit yang baik. Malaikat bertanya lagi, “Harta apakah yang paling engkau sukai?”

Ia menjawab, “Unta atau sapi.'' Maka malaikat memberikan unta yang sedang mengandung sepuluh bulan dan mendoakan orang yang berpenyakit kusta tersebut.

Kemudian malaikat mendatangi orang yang berpenyakit rambut rontok lalu bertanya, “Apakah yang paling engkau sukai?”.

Lelaki kedua menjawab, “Rambut yang bagus dan sembuh dari penyakit yang menyebabkan manusia memandang jelek  padaku.” Maka malaikat membersihkannya lalu hilanglah penyakit itu serta diberikan rambut yang baik.

Malaikat bertanya lagi, “Harta apakah yang paling Engkau sukai?” Ia menjawab, “Sapi,''. Maka ia diberikan sapi yang sedang bunting serta mendoakannya pula.

Kemudian malaikat datang ke orang buta, “Apakah yang paling engkau sukai?”

Ia menjawab, “Aku ingin Allah mengembalikan penglihatanku semoga aku dapat melihat manusia. Malaikat meyapu matanya dan Allah mengembalikan penglihatannya.

“Harta apakah yang paling kamu sukai?” tanya malaikat. Jawab si buta, “Kambing biri-biri,” Maka dia diberikan seekor biri-biri yang telah melahirkan anak lalu mendoakan si buta agar selalu mendapat barakah Allah Swt.

Maka, kedua lelaki (berpenyakit kusta dan rambut rontok) mengurusi kelahiran unta dan sapi begitu juga dengan lelaki buta. Setelah sekian lama, lelaki yang berpenyakit kusta telah memiliki satu lembah berisi unta, sedang lelaki berambut rontok telah memiliki lembah berisi sapi dan lelaki buta telah memiliki satu lembah berisi kambing biri-biri.

Selang beberapa waktu, malaikat kembali mendatangi lelaki yang berpenyakit kusta dengan menjelma sebagaimana keadaan lelaki sebelumnya (berpenyakit kusta).

Ia mengadu kepada lelaki tersebut, “Aku seorang lelaki miskin yang telah kehabisan bekal sewaktu aku bermusafir. Aku tidak mempunyai tempat untuk mengadu pada hari ini selain pada Allah dan pada Engkau. Aku memohon padamu demi yang telah memberikan padamu warna serta kulit yang baik juga harta seekor unta yang dapat membantuku meneruskan perjalananku.

''Aku mempunyai banyak tanggungan,'' jawab mantan penyandang kustal.

Malaikat menjawab, ''Aku rasa aku mengenalimu. Bukankah dulu kau berpenyakit kusta dan manusia memandang jelek kepadamu? Bukankah dulu kau orang fakir lalu Allah megaruniakan harta kepadamu ?''

''Aku mewarisi harta ini dari orangtuaku,'' jawab lelaki.

Malaikat menjawab, ''Sekiranya kamu berdusta, Allah akan menjadikanmu seperti keadaanmu sebelum ini.''

Malaikat pun mendatangi si rambut rontok serta melakukan hal yang sama, menjelma menyerupai keadaan seperti sebelum si lelaki kaya raya. Jawaban si rambut rontok pun senada. Ia enggan memberikan sebagian hartanya pada malaikat yang menjelma tersebut. Malaikat pun mendoakan agar Allah mengembalikan keadaannya seperti semula.

Terakhir, malaikat mendatangi si buta. Lalu mengadu,''Aku seorang lelaki pengembara yang miskin. Aku telah kehilangan kendaraan sewaktu aku mushafir. Maka aku tidak mempunyai tempat untuk mengadu melainkan kepada Allah dan engkau. Aku memohon darimu demi Yang telah mengembalikan penglihatanmu seekor kambing biri-biri yang bisa meneruskan perjalananku.''

Lelaki tersebut menjawab, ''Aku sebelum ini adalah lelaki buta. Allah telah mengembalikan penglihatanku. Oleh karena itu, ambilah apa yang engkau mau dan tinggalkan apa yang tidak engkau mau. Demi Allah, aku tidak akan mencegah dan mengungkit kembali pemberianku padamu untuk kau ambil karena Allah.

''Jagalah hartamu. Seseungguhnya kamu telah diuji oleh Allah. Allah telah meridhaimu dan membenci dua orang sahabatmu,'' jawab malaikat. Wallahu a'lam bishawwab.


Penulis adalah sahabat Republika Online
sumber : www.republika.co.id

Hindari 23 Gunung Berapi di Indonesia!

BANDUNG, (PRLM).- Malam pergantian tahun, bagi para penyuka alam bebas, identik dengan mendaki gunung dan menunggu terbitnya sang surya. Namun, di pergantian tahun 2011 ke 2012, para pendaki di Indonesia, mesti menghindari 23 gunung berapi yang ada.

Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Kegunungapian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, M. Hendrasto, menuturkan ke-23 gunung api itu terbagi dua kategori. "Tujuh belas gunung masuk kategori waspada dan enam gunung masuk kategori siaga," katanya kepada wartawan, Jumat (30/12) siang di ruang kerjanya.

Tujuh belas gunung api yang berstatus waspada antara lain Gn. Sinabung, Gn. Merapi, Gn. Talang, Gn. Kerinci, Gn, Dieng, Gn. Bromo, Gn. Semeru, dan lainnya. "Untuk waspada, masih boleh dinaiki tapi mesti diwaspadai aktifitasnya. Jangan mendekat ke kawah dalam radius satu hingga dua kilometer," kata Hendrasto.

Sementara untuk yang siaga adalah Gn. Papandayan, Gn. Krakatau, Gn. Ijen, Gn. Lokon, Gn. Karangetang, dan Gn. Gamalama. "Untuk gunung-gunung yang berstatus siaga ini, masyarakat diimbau untuk tidak menaikinya. Aktifitasnya masih tinggi. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami menyarankan agar menjauhi kawah. Radius dua sampai tiga kilometer dari kawah, harus kosong," katanya.

Meski banyak gunung lainnya yang berstatus normal, kata Hendrasto, tapi masyarakat harus tetap waspada. Hendrasto meminta warga yang mendaki, untuk mewaspadai kawah dan cuaca di sekitar gunung, khususnya gunung-gunung yang kawahnya masih aktif. Untuk di Jabar, beberapa gunung berkawah yang mesti dicermati, antara lain Gn. Tangkubanparahu, Gn. Ciremai, Gn. Gede, Gn. Galunggung, dan Gn. Salak.

"Warga diimbau tidak tidur dekat kawah. Apalagi turun ke dasar kawah. Perlu dipahami, cuaca di gunung cepat sekali berubah. Terlebih lagi saat ini masih masuk musim penghujan. Ini yang mesti menjadi perhatian warga dan para pendaki. Kalaupun ingin mengejar sunrise, sebaiknya tidak menginap di puncak. Pendakian diatur sedemikian rupa agar tiba di puncak menjelang matahari terbit. Jangan lupa kenakan masker," kata Hendrasto.

Hendrasto menjelaskan, ketika cuaca dingin, gas-gas di gunung termasuk di kawah, tidak langsung terurai. Padahal gas-gas tersebut termasuk gas-gas beracun yang jika terhisap dalam konsentrasi tertentu, bisa menyebabkan kematian. "Seperti gas karbon monoksida, karbon dioksida, dan sulfida. Kalau sulfida, mungkin hanya bikin pusing. Tapi yang berbahaya itu adalah karbon monoksida dan karbon dioksida. Itu bisa menyebabkan kematian," katanya. (A-128/A-89)***

sumber : www.pikiran-rakyat.com

Hitut (Bekok)


Motto Minggu Inih: “Nuju Strèss Mah Ngeunahna Nyieun Carita…….”

BAB I: PENDAHULUAN

Saumur hirup kuring can manggihan aya jelema mènta hampura kana calana sorangan. Sok wè pikir, sabaraha kali urang kabèh hitut makè calana, boh di warteg, di mobil atawa luhureun kasur; pèdah we teu bèja-bèja. Lamun di bèja-bèja gè cenah moal abus tivi, moal ujug-ujug beunghar. Logis ogè sih, tapi rada sinis.


Bèda deui jeung si Abud, sobat kuring baheula di SD. Keur diajar ogè manèhna mah sok bèbèja lamun hitut tèh ka guruna. Sok ngacung. Barudak di kelasna sok langsung nyurakan. Guru Pepekaen ngambek bari ngagebrag mèja lantaran ngarasa ngajarna kaganggu. Jep barudak jempè kawas gaang katincak.

“Naha manèh sok hitut di kelas?” guruna nanya bari kekerot.
“Ah, Pak, barudak gè sok hitut. Pèdah wè tara ngacung, tara bèbèja. Lumrah wè atuh hitut mah, Pak, da teu ngarusak lapisan ozon, teu nambah pemanasan global. Lamun…”

“Tapi ngarusak stabilitas sosial!” guruna motong omongan bari ngagebrag mèja deui. Si Mae nu diuk hareupeun si Abud ceurik bakating ku reuwas. Si Somad kiih sauetik bakating ku soak.

“Ah, Pak Guru gè ngarusak sakitar, èta wè sok ngaroko nuju ngajar.” Si Abud nèmbal sangeunahna, lèbèr wawanèn, wanian pisan èta jalu. Puguh wè guruna kasinggung, asa disapirakeun ku budak satepak. Antukna mah si Abud disetrap nangtung ku hiji suku di hareup kelas, nepi ka jam balik. Ti harita, si Abud di landian “si Raja Hitut” ku barudak di kelas. Manèhna mah sok nyengir ngadèngèna. Katelah kitu tèh lain pèdah hitut hungkul, pangpangna mah bèbèja waè saban rèngsè hitut. Saliwat mah asa agul ku hitut. Tapi sok sanajan ayeuna geus gedè, si Abud masih kènèh dipoyok “si Raja Hitut” ku kabèh babaturanna di lembur.

BAB II: PEMBAHASAN

Bèda ayeuna mah geus gedè, caritana geus jadi mahasiswa, si Abud sok rada baeud lamun dipoyok si Raja Hitut. Tapi ari polos sok bèbèja hitut mah masih kènèh nepi ayeuna ogè. Ceuk indungna mah, lamun pareng dipoyok kitu, di imah si Abud sok teu nafsu dahar. Tapi sok mènta duit gedè. Si Abud sok baeud lila, keuheul cenah ka barudak sok moyok waè.

Tapi kuring sok langsung ngupahan lamun pareng si Abud dipoyok barudak. Kuring sok nyarita yèn kuring gè sok dipoyok “si jomblo” ku barudak. Tapi kuring mah tara ngambek, sok sabar, sok ngahibur diri. Kuring mah jomblo gè jomblo profetik. Kuring mah hideung gè hideung nasionalismeu, hideung transendental. Ngadèngè kitu tèh si Abud sok bungah. Ngarasa aya batur meureun.

“Hitut kuring mah ngèngkrèng. Tapi tibaheula ogè tara bau.” Ceuk si Abud hiji poè. Kuring jadi inget ka omongan almarhum aki, yèn hitut stèrèo mah sok tara bau, bèda jeung hitut laon, biasana sok hangit, sok bau tungir zebra.

Loba ogè babaturan hitutna laon, tapi tara ngaku, kalahka hèhèotan nyumputkeun hitut dinu caang. Ku buraongnamah sok teu daèk tanggung jawab lamun ditanya saha nu hitut. Kalahka silih tuduh. Kuring pernah manggihan aya jelema garelut lantaran aya nu hitut keur darahar liwet. Pas ditanya saha nu hitut, hiji pamuda ngacung. Sabenerna mah masalah geus bèrès, ngan èta pamuda kalahka nyarita pangalamanna nempo jelema hitut dina cangkir. Puguh wè nu darahar kabèh eureun. Pasèa wè jadina. Padahal da sangu teu ujug-ujug ngilu bau.

Sok anèh nya jelema mah, cuman lantaran hitut, bisa garelut. Padahal hitut mah lain tindak pidana, moal abus naraka deuih. Beda deui lamun hitutna pajabat nu keur koropsi, pasti abus naraka, lantaran loba nyangsarakeun rahayat ku koropsina. Aneh ogè mun nempo aya masyarakat èra ngadèngè hitut di tempat umum. Padahal nu kudu dipikaèra mah kalakuan maranèhna nu jorok miceun sampah sambarangan.

Kuring gè lamun pareng dipasamoan sok tara daèk nahan hitut. Kapok. Pernah kuring hiji waktu lila nahan hitut pas upacara bendèra, nepika ngucur cai tinu irung. Untung lain geutih ogè; untung tinu ceuli teu kaluar haseup ogè. Ah, ayeuna mah beledag-beledag wè. Tapi kuring mah teu kawas si Abud nu teu welèh bèbèja tur hitutna ngajelengèng. Hitut kuring mah wijaksana; disebut bau teuing heunteu, disebut teu bau heunteu; hitut stèrèo heunteu, hitut èpès mèèr heunteu. Pokonamah meujeuhna keur dikonsumsi publik mah. Hiliwirna teu subversif!

Tapi kuring keur SMA pernah sabulan mumul ka masigit lantaran èra ku katua DKM. Soalna kuring kalepasan hitut nyegruk keur solat. Tapi kuring nuluykeun solat nepika rèngsèna. Ustad Mahmud nu nyaksian kajadian èta nyarèkan kuring ku fiqih. Naha nya kudu wudu deui lamun hitut pareng solat? Naha ogè bet beungeut nu dikumbah, padahal bujur nu nyieun ulah. Jadi naon hubunganna bujur jeung beungeut? Naha, dulur, hitut bisa ngabatalkeun wudu? Jiga paantel kulit jeung awèwè waè. Jigana aya hubungannana awèwè jeung hitut.

Kuring baheula pernah ngalaman hitut hareupeun awèwè. Èra pisan karasana. Tapi kuring baheula can ngarti naha bet èra, padahal èta awèwè lain kabogoh. Tapi lamun jujur mah kuring embung hitut hareupeun awèwè mah. Kuring leuwih milih ngabodor teu dikeprokan tibatan kapanggih hitut ku awèwè mah.

BAB III: HIRUP NGARASA TIISEUN

Ayeuna mah urang nyarita nu lian, mudah-mudahan teu balik deui ka carita nu aya pakuat-pakaitna jeung hitut. Geus sabulan leuwih si Abud jeung Neng Mia bobogohan. Antukna mah ayeuna kuring jadi leumpang sorangan balik kuliah tèh. Si Abud beuki lèngkèt pisan ka Neng Mia. Jiganamah “tiada hari tanpa Mia”, atawa “hidup tanpa Mia bagai kopi hitam terinjak Sodikin.”

Tapi kuring teu tiiseun teuing, da masih aya radio warisan almarhum aki kuring. Tibeurang nepi ka peuting radio digeder. Lamun kabeneran bèak batu batrèna, kuring sok nginjeum batu batrè jam dinding di masigit. Lamun geus bèak pisan, cenah batrè kudu di poè atawa di pèkprèk makè batu bata. Bèjanamah sok tokcèr. Tapi èta ogè ngan kapakè sakeudeung. Antuknamah di poè deui handapeun gantar.

Tapi kuring strès nempo batu batrè nu di poè dipodolan hayam. Tapi giliran dicoba, radio hurung ngagateng sapoè-sapeuting. Kuring jadi bisa ngadèngè wayang golèk nepika subuh. Baè bau tai kotok saeutik mah, asal tong tai kotok wè nu bau batrè. Tapi èmang kudu aya penelitian ti ilmuwan di Indonesia kunaon sababna tai kotok bisa ningkatkeun ènèrgi batu batrè. Ari nanya tai kotok dileubuan mah geus ka jawab ku Aki Asmi ogè, teu perlu diteliti deui, lin?

Tisaprak hulang-huleng sorangan, kuring jadi ngarasa bosen hirup, asa teu boga batur. Rèk bunuh diri, teu wani. Rèk nèangan kabogoh, hambur biaya. Soalna kuring mah geus yakin, duit bakal bèak tapi awèwè tetep nampik. Maenya kudu bogoh ka indung mah jiga Sangkuriang atawa Oedypus? Saumur hirup kuring masih lèlèngohan. Ras jadi inget boga langlayangan dina para. Teu mikir panjang deui, kuring ngejat mawa kenur jeung langlayangan. Kuring lumpat ka kulon, rèk ngapungkeun langlayangan. Meungpeung angin gedè. Karèk gè dua mèter langlayangan ngapung, kurunyung tèh Ki Apud. Solongkrong ngajak sasalaman. Tapi teu kungsi lila murang-maring ka kuring, pajar tèh tong langlayangan, sing èra ku umur.

Langlayangan dipaksa titah diturunkeun. Langlayangan disoek-soèk, ditincak-tincak. Geus kitu mah ki Apud lumpat ka imahna. Di palupuh imahna nungguan nini Apud bari ajrag-ajragan ngeprokan Ki Apud. Sabelas-duabelas eta nini jeung aki teh. Bedegong. Kungsi oge baheula kuring dikerem di imahna, bari si nini maksa kudu ngajawab naon bedana palid ku “p” jeung valid ku “v”. Kuring harita teu bisa ngajawab.
Ayeuna giliran si aki nu harèèng, teu puguh-puguh kalahka ngarujadkeun langlayangan kuring. Kuring beuki strèss. Kuring ngarasa sirah hareurin ku masalah. Can gè bèrès strès, kuring narima gosip ti Nini Memeh yèn si Abud jeung Nèng Mia putus. Geubeug tèh kuring olohok. Can ogè dua bulan geus putus deui. Kuring gura-giru muru si Abud.

BAB IV: PEGAT DURIAT

“Bud, bèjana manèh pegat jeung Neng Mia?” kuring nanya bari ungsrak-ingsreuk. Si Abud ngabalieur.
“Bud, naha bet putus sagala?” kuring terus ngadesek.
“No comment.” Ceuk si Abud teugeug bari buru-buru ngingkig. Beu, jiga sèlèbriti waè si èta ngomong kitu ka kuring. Ngarasa di udag-udag waè ku kuring, si Abud mawa merecon urut lebaran.
“Manèh hayang paèh diancurkeun?” si Abud ngancam bari ngacungkeun merecon jeung korek api, “geus balik tong ngaganggu kuring! Kuring hayang sorangan!” si Abud katempona strès pisan. Batan mercon disundut, kuring balik ngèlèhan. Tapi kuring panasaran kunaon si Abud jeung Neng Mia putus. Jiga wartawan, kuring terus muru informasi. Sugan wè si Onah, adi Neng Mia, bisa mèrè info.

“Why, Onah? Naha lanceuk Onah putus jeung si Abud?”
“Muhun, Kang, saurnamah tètèh tos teu bogoheun deui.” ceuk Onah. Ceuk carita Onah mah, tilu poè katukang si Abud nganteur Onah jeung Neng Mia ka ulang tahun babaturan Neng Mia. Karèk ogè babaturanna manyun rèk niup lilin, si Abud hitut tarik pisan. Puguh wè barudak ngaburiak. Bejana mah hayam diburuan oge ngilu barirat. Acara jadi paburantak. Neng Mia èraeun ku barudak sakelasna sok dipoyok boga kabogoh tukang hitut. Neng Mia jadi èra bareng jeung si Abud. Teu kungsi heuleut saminggu, Neng Mia mutuskeun si Abud. Kuring sedih ngadèngè caritana. Watir si Abud, lantaran hitut jadi putus jeung Neng Mia. Batur mah putus tèh lantaran teu disatujuan ku kolotna, atawa selingkuh, ieu mah putus lantaran hitut. Geuning ayeuna mah horeng hitut gè geus jadi sumber disintegrasi.

BAB V: DÈPRÈSI

Si Abud sobat kuring. Jadi kuring moal nganteup manèhna sedih sorangan. Kuring tibarèto sagulung-sagalang jeung manehna. Tikamari kuring teu nempo si Abud ngaliwat kuliah. Bisana mah sok nyampeur. Kuring datang ka imahna, indungna ceurik. Bèjana mah si Abud geus teu daèk dahar, teu daèk mandi jeung teu daèk adan di masigit deui. Pagaweanna ngègèlan suku korsi. Pagawèanna tèh murang-maring di kamar. Malahan indungna gè geus teu bisa asup ka kamar si Abud, sok dikonci. Katempo ku kuring dina panto kamarna aya tulisan: YANG TIDAK BERKEPENTINGAN DILARANG MASUK. Tapi kuring boga kapentingan ka manèhna. Kuring ngawani-wani keketrok panto. Lila teu dibuka. Ngadèngè sora kuring, panto dibuka. Kuring sedih nempona. Beungeutna culeuheu. Buuk galing pajeujeut. Gering kabengbat ku awèwè.

Bus kuring ka kamarna. Kamar lir ibarat gudang barang, acakadut teu kaurus. Dina tembok deukeut jandela, aya tulisan make spidol: HATIKU YANG BEKU. Dina kantongna ogè aya tulisan: DIRIKU YANG LÈNGOH. Kuring terus ngupahan jeung mapagahan manehna, sangkan bisa dahar jeung mandi deui. Sangkan daèk kuliah jeung adan di masigit deui. Sangkan bisa nalian anak hayam tatangga deui.
Kuring ngarasa hatè si Abud buyatak pisan diputuskeun ku Neng Mia, geus level digembrong laleur. Geus hanyir. Si Abud dèprèsi. Pagaweanna nanggeuy gado. Manèhna pernah ngomong boga niat rèk bunuh diri. Tapi ku kuring dipapatahan bèbèakan malahan makè reperen filsafat jeung tasawuf plus hadist jeung buku La Tahzan. Teu kagok kuring mere buku-buku fiksi tamba stress ka si Abud, ti mimiti buku Edgar Allan Poe, Agatha Cristie, Ellerly Queen nepika buku Fredy S. Teu poho kuring ngabelaan nyiar buku kumpulan carita Jose Saramago, Nadine Gordimer, Gabriel Garcia Marquez, Hemingway, Tagore nepika Puisi Gibran. Tapi wayahna, Bud, kuring ngan saukur mere judul keneh.

Terus manèhna cenah boga niat rèk abus gèng motor waè mèh kabangbrangkeun. Tapi ku kuring dicaram. Alesan kuring mah, kahiji si Abud teu boga motor, kadua si Abud teu bisaeun naèk motor, katilu sawah haji Komar digaley munding geuring. Kuring mah leuwih satuju si Abud ngilu gèng DAMRI, soalna jauh-deukeut ongkosna murah.

“Lamun hirup peurih kieu waè mah, kuring mending milih jadi suung waè…” ceuk si Abud rada pesimis. Tapi kuring terus ngupahan si Abud. Kuring ngajak manèhna ulin ka dago, ulin ka unpad Jatinangor poè minggu isuk-isuk. Mèh teu èra teuing ulin teu jajan mah, kuring duaan ngahaja udunan meuli kolor. Kuring ngajak manèhna maènbal jeung barudak. Teu lila tidinya, si Abud geus teu katempo sedih deui. Manèhna geus bisa seuri. Manèhna geus daèk dahar jeung mandi deui, geus daèk kuliah jeung adan deui. Kuring atoh nempona. Sakapeung manèhna sok masih murang-maring kènèh. Eta gè lamun nempo jèngkol, cenah sok inget ka Neng Mia. Si Abud ngomong masih bogoh kènèh ka Neng Mia. Manèhna rèk terus ngudag Neng Mia sangkan daèk deui narima cintana.

BAB VI: HIDUP MIA! HIDUP PERSIB!

“Kuring mah cadu mundur sacongo buuk, haram ngejat satunjang bèas! Puah!” si Abud meni sumanget ku rasa bogohna. Ku sumanget-sumangetna, si Abud nulisan tembok kelas ku spidol beureum: HIDUP MIA! HIDUP PERSIB! Malahan opat poe deui boga niat rèk megat Neng Mia di sakolana, rèk nyatakeun deui. Si Abud ngabèlaan meuli bonèka Doraemon keur engkè mèrè ka Neng Mia. Sakalian wè atuh jeung baling-baling bambuna, terus teundeun dina sirah pak lurah. Tapi kuring bungah si Abud teu laèr sumanget deui. Optimis.

Singgetna, si Abud megat, Neng Mia lumpat. Duanana pada-pada keukeuh. Si Abud keukeuh bogoh, Neng Mia keukeuh embung. Tapi kuring bungah nempo babaturan teu èlèhan jiga si Abud. Manèhna terus ngudag hatè Neng Mia. Tapi saprak aya kajadian kasar ti Neng Mia ka si Abud, kuring jadi narik dukungan. Malahan kungsi kajadian, Neng Mia rudet ngarasa dipegat jeung diudag waè ku si Abud, manehna gogorowokan mènta tulung. Antukna mah si Abud dikoroyok tukang ojèg. Untung kuring jeung babaturan masih bisa kènèh nulungan. Geus tèga pisan Neng Mia ka babaturan kuring. Lain èta hungkul kajadian peurih tèh. Si Abud kungsi diciduhan ku Neng Mia bakating ijid pisan. Kuring jadi cua ka Neng Mia. Hayangna mah ngulub sirah Neng Mia. Tapi anèhna tèh si Abud tara malik ngambek ka Neng Mia. Manèhna mah sok malah seuri. Jigana lantaran bogoh nu gedè pisan ka Neng Mia. Lamun kuring mah leuwih milih marmot tatangga katerap bronhitis batan diciduhan ku awèwè mah, batan dihina terus ku awèwè mah.

Geus teu kuat nempo babaturan dihina waè ku awèwè, kuring ngawani-wani nyarèkan si Abud sangkan eureun ngudag Neng Mia. Nasib geus jadi bubur, Bud. Ayeuna mah pohokeun wè awèwè haramjadol kitu mah. DUNIA TIDAK SELEBAR CELANA DALAM. Tapi si Abud keukeuh lieur ku Neng Mia. Manèhna janji rèk terus ngetrok hatè Neng Mia sangkan daèk narima deui. Kuring gogodeg bakating ku hèran. Gening aya ogè jelema kawas kieu, Gusti…

BAB VII: MANGKAT KA JAKARTA

Geus dua peuting ieu kuring terus mikiran lalampahan si Abud. Tapi pikiran kuring pajeulit jeung omongan lanceuk kuring peuting kamari nu nitah kuring cuti heula kuliah. Kuring dititah gawè di Jakarta, jadi buruh ngetik di kantor babaturan lanceuk. Sabenerna mah kuring embung ninggalkeun lembur, tapi cenah gajina gedè. Èta oge cenah ngaganti pagawèan Cep Boby nu keur geuring katabrak setum. Ceuk beja mah Cep Boby sukuna potong jeung sirahna rengat. Jigana pililaeun geuringna. Kabeneran kuring boga kabisa ngetik. Baè ngetik ku dua curuk gè, asal gancang jeung rancagè cenah. Dua poè geus bèrès ngurus sagala rupa, kuring isukna mangkat ka Jakarta. Si Abud bangun nalangsa nempo kuring mangkat. Tapi kuring sakeudeung ngahibur manehna. Kuring janji rek mawa duit loba ti Jakarta. Si Abud nyuuh ka Kuring ulah ninggalkeun manehna.

“Kuring euweuh batur ngobrol. Kuring euweuh batur curhat. Indung kuring mah teu ngartieun diajak ngobrol sual hiburan kontemporer mah.” Pokna semu ngaheulas.
“Bud, kuring mah sakeudeung. Kuring rèk ngudag duit heula. Geus loba duit mah urang duaan jaga bakal bagja. Salila kuring euweuh mah, ngobrol wè jeung calana.” Cekèng tèh ngaheureuyan.

Lima jam kuring nepi ogè ka Jakarta. Kakara ayeuna kuring incah jauh ti lembur. Hareudang geuning Jakarta tèh, teu kawas di lembur nu tiis ceuli hèrang panon kènèh. Kuring kudu bisa jaga diri cicing di lembur batur. Tong culangeung, tapi tong èlèhan. Sanajan di lembur batur, henteu ganti pileumpangan. Ieu mah itung-itung pangalaman wè, tong jiga Ki Duyeh, ti ngongkoak nepi ka ngungkueuk masih cicing dilembur, dagang surabi saumur-umur. Euweuh pangalaman anyar. Poè isukna kuring geus kudu langsung gawè. Teu pira ngetik laporan sapuluh halaman unggal poè, ditambah ngajumlah-jamlèh duit, kuring diburuhan saratus rèbu. Saminggu wè kali saratus rèbu, lumayan bedus. Lanceuk kuring omat-omatan nitah kuring nabung. Sabalikna kuring ogè omat-omatan ka lanceuk kuring supaya tong mènta duit. Kuring keur hayang pelit.

Teu karasa geus sabulan leuwih kuring gawè di Jakarta. Duit beuki numpuk waè. Bayangkeun wè si Bos mèrè duit saratus rèbu unggal poè. Untung wè dahar sapopoè mah aya jatah ti kantor. Kuring geus hayang buru-buru ka lembur. Kuring rèk ngeureuyeuh nabung keur nuluykeun kuliah deui. Kuring inget tibarèto hayang meuli hapè. Geus teu kuat hayang meuli hapè Nokya. Kuring hayang nelpon si Abud di lembur tapi pasti manèhna can bogaeun, soalna hapè mah nyieunna lain tina taneuh sumur. Kapikiran ogè rèk meuli skripsi. Ah, haram kètang. Kuring mah leuwih milih indit ngarit poè jum’at batan kudu meuli skripsi mah.

Sok jadi inget ngomong skripsi tèh. Tibaheula kuring jeung si Abud guligah mikiran skripsi. Kuring duaan ngadon kukurilingan neang judul nu alus. Kuring pernah boga judul hade: RADIKALISME AGAMA DALAM PERSPEKTIF TRIO MACAN. Tapi heuleut sabulan diganti deui jadi: BERAS IMPOR DALAM PANDANGAN SAYA SEKELUARGA, atawa leuwih heded lamun dibalik: SAYA SEKELUARGA DALAM PANDANGAN BERAS IMPOR. Kuring bingung milih judul. Si Abud mah cenah geus manggihan judul keur skripsina: HUTANG PROFETIK; SEBUAH INTEGRASI-INTERKONEKSI MARXISME DAN WASIAT KAKEK SAYA.

Ah, kuring mah can bisa nyieun skripsi lamun can aya lèptop. Tapi, lamun duit tabungan aya leuwihna kènèh, kuring ogè hayang meuli lèptop. Eta gening komputer nu jiga jojodog. Kuring jadi inget, baheula keur di SMA boga babaturan sakelas pindahan ti Jogja. Manèhna kamana-mana mamawa lèptop. Kungsi ulin ka imah kuring mawa lèptop. Manehna kasohor tukang molor, wajar we da tukang melong komputer. Kuring riweuh nyangu, manèhna mah lalajo video dina lèptop. Meni nyantèi pisan. Kungsi ogè lèptopna tinggaleun di dapur, ku nini kuring kalahkan dipakè talenan, di pakè nyiksik bawang. Sugan wè lamun pareng meunang rijki gedè, jaga kuring bisa meuli lèptop.

BAB VIII: BALIK KA LEMBUR

Geus hampir dua bulan kuring gawè, Cep Boby bejana geus cageur. Isukna kuring geus bisa balik deui ka lembur. Di tengah jalan, kuring balanja heula keur bawaeun ka lembur. Kuring meuli baju keur indung. Teu poho dahareun keur bebenyit. Kuring ogè inget ka si Abud. Kuring meuli roko sakaradus. Teu poho meuli kopi hideung. Soalna si Abud mah embung ngaroko lamun euweuh kopi. Bèda jeung kuring, kuring mah embung ngaroko lamun euweuh seuneu. Kuring ogè meuli baju koko jeung calana sontog keur si Abud. Keur bapa kuring mah meuli sarung, kopèah jeung kaca panon hideung, mèh katempona gaul jeung ginding. Keur indung meuli kurudung jeung mukena. Kuring oge meuli baju loreng tantara keur Ki Asmi, kokolot nu geus dianggap dulur. Sakalian meuli baju Spiderman keur incuna, si Abraham Entay. Ngahaja meulina dua stel, bisa parebut jeung Ki Asmi.

Kuring bungah bisa balanja keur kolot jeung dulur. Tapi kuring embung kokomoan balanja, soalna lalampahan masih panjang, dulur leutik masih riab. Can tangtu kahareup masih bisa ngala duit deui. Tapi kuring kahareupna boga kahayang ngebebenah imah jadi tilu umpak, panghandapna mah baè kolong keur hayam sarè. Sakuriling imah rèk dipinuhan ku wèsè umum mèh mangfaat ka urang lembur. Intina mah ngaminimalisir oknum masyarakat nu sok ngadon setor eusi beuteung di pipir imah. Lamun usum pemilu mah, wèsè bisa dijadikeun kamar suara.

Jam 12 beurang kuring nepi lembur. Di imah jempling. Sakeudeung sasarèan dina korsi tengah imah. Ari heug antukna mah ngan ukur molotot teu bisa sarè. Barudak badeur tingkalacat luhureun korsi ngaganggu kuring. Piraku kudu dibèrè racun beurit mah mèh lalindeuk. Geus asup adan asar kuring mandi. Tadina mah hayang panggih heula jeung kolot rèk prosèsi mere olèh-olèh, tapi jigana can baralik ti sawah. Kuring dandan ginding maksud rèk nepungan si Abud. Geus sono. Oleh-oleh keur manehna geus rapi di kantong kèrèsèkan. Saeutik disemprot parfum anyar. Jigana si Abud atoh pisan narimana.
Imah si Abud sarua jempling. Kuring keketrok bari hèhèotan. Ngahaja makè kaca panon hideung mèh si Abud pangling. Teu kungsi lila, panto muka. Nyampak indung si Abud ngabanghinghik ceurik. Hatè kuring ngadadak teu genah karasana…

BAB IX: PENUTUP

Langit lènglang. Kuring nangtung lila di jalan. Ngadègdèg nahan eungap. Ngarasa teu bisa nanaon. Pikiran geus barirat ka mana mendi. Hatè asa dibintih kasedih. Hatè asa ditindih kapeurih. Kuring nempo langit ujug-ujug baseuh. Kuring nempo panon poè kokolèbatan. Kuring nempo lalaki leumpang di jalan gedè teu makè calana. Sirahna dibuntel ku calana sorangan. Awakna kuleuheu teu kaurus. Sandal capit digantungkeun dina beuheung makè tali rapia. Kadèngè manèhna ngahariring. Teu kungsi lila manèhna ngarandeg, ngagantungkeun calana dina pager. Kuring ngadèngè manèhna mènta hampura ka calana sorangan. Ti belah kulon barudak leutik nyurakan bari nakolan kalèng. Manèhna seuri. Manehna ceurik. Manèhna ngamuk. Manèhna ngagorowok nyebut ngaran awèwè. Kuring teu kuat nahan cimata. Teu karasa cimata haneut seukeut dina pipi…

TAMAAAAAAAAAAAT
http://manuskripkesunyian.wordpress.com/2007/12/10/hitut/

Saturday, December 31, 2011

Saung Katineung


Saban poé minggu mah, réngsé solat subuh téh sok langsung morongkol deui. Béda minggu ayeuna mah, isuk-isuk gé geus leuleumpangan. Méméh balik ka imah, ngahaja nyimpang heula di kebon jagong ki Oleh. Geuning geus leubeut. Geus pada apal kabéh urang dieu mah, mun hayang jagong di kebon ieu kudu daék heula tarung panco jeung Ki Oleh, nu bogana. Teu jauh tidinya, maplak tatangkalan endah diharudum ibun.


Ka belah kulon, teuteup eunteup di saung laeutik sisi sawah Haji Nono. Matak nineung matak waas. Kleung angkleung ingetan ngahaleuang ka mangsa keur leutik sok ulin bareng Dedi, Kokom jeung Lilis di saung éta. Gogonjakan, ngoyag-ngoyag tali bebegig. Manuk hariber. Jiga ayeuna, manuk silih udag. Panon poé geus ngeteyep rék nembongan. Kuring ngarénghap panjang. Teu karasa, Gusti, geus jauh ngulur umur, geus moal bisa dieureun-eureun atawa mulut nu geus liwat.

Balik ka imah, brus kuring mandi di sumur tukangeun imah. Mun pareng genah gegejeburan, sok poho batur nu ngantay rék milu ka cai. Geus rényom kadéngéna. Si bibi rék nyeuseuh mah, ki Momo rék miceun mah, Nyi Mimin rék ngisikan mah, jeung nu séjénna. Atuh réngsé mandi téh kabéh pada ngékéak. Puguhing ki Momo mah, teu weléh bari nyindir.

“Abong lila bubujangan, mandi gé lila. Iraha kawin, Jang?” pokna bari seuri ngahahah. Geus remen nu nanya kitu téh, tapi sok tara dilayanan. Bubuhan kakeuheul geus manteng. Mun seug ki Momo lain kolot, geus titatadi ditalian di tangakal balingbing pipir imah. Katempo manéhna ngaleos, sengit haseup bakona néjéh liang irung.

Dijero kamar kuring ngarahuh. Panon anteng melong eunteung. Geuning nyaan katempo pisan geus kuduna mungkas lalagasan. Umur sakieu di lembur mah moal teu pada nganaha-naha can boga pamajikan téh. Tapi da nepika ayeuna, mumul kawin téh. Lain teu payu, geus aya nu harayangeun mah. Mumun mah, randa Isah mah, Téh Ninih mah, Kokom mah, Lilis mah, Dedeh mah. Kabéh gé saropan tur gareulis manis. Nya kitu téa, kuring resep kénéh léléngohan. Lain sieun, lain teu boga biaya. Puguh wé gawé mah geus kawilang lumayan. Tabungan di bank geus meujeuhna keur rumah tangga mah. Kumaha deui, haté embung baé méréan. Teu bisa dipaksa-paksa.

Kadieunakeun, geus tara aya deui nu nganaha-naha, iwal ki Momo wé nu bangor kénéh ngaheureuyan kuring sual kawin mah. Kitu deui nu di imah, geus sieun mun nanyakeun sual kawin téh. Éta gé tisaprak kuring mudalkeun kaambek kanu di imah lantaran hayoh ditanya iraha kawin. Murang-maring sagala disépak. Adat kuring gedé ambek. Tisaprak kajadian éta, urang imah teu wani-wani deui nyeungeut amarah kuring. Sensitip ngomong sual kawin mah.

Awéwé-awéwé nu mimitina ngadeukeutan kuring ge ayeuna mah geus tara datang ka imah deui. Kabéh geus ngarasa bosen nungguan kuring. Béja mah Mumun can lila kawin jeung Kang Dadang, urang Majaléngka. Randa Isah teu kuat hayang rumah tangga, antukna kawin jeung mandor pabrik. Téh Ninih béjana keur deukeut jeung urang Padang. Lilis geus tara deui ulin ka imah, bejana Dedi mikahayang. Kokom geus pindah ka Palémbang. Dedeh béjana kapincut deui ku lalaki séjén. Kabéh gé lus-les pada néang jalan séwang-séwang, bakating ku cangkeul nungguan jeung miharep kuring meureun. Ki Dudus mah ngahanjakalkeun kana lalampahan kuring. Cenah mah awéwé geus dina lawang panto, kari unggeuk. Nya ayeuna mah kabéh pada bedo kudu lila nungguan kuring unggeuk daék tumarima rumah tangga. Jadi iraha rék kawin? Teuing atuh!

“Man! Geus siap, Man?!” kadéngé aya nu ngageroan di luar imah, meupeus lamunan kuring. Rikat kuring maké baju. Inget poé ayeuna Ki Dudus hayang dianteur ka Jatinangor, ngadon rék neangan cokelat di Jatos. Kateuing keur naon! Keur nini Mimih meureun.

***

Dina angkot kuring amprok jeung Darmaji, babaturan és ém pé. Atuh sono geus lila teu tepung. Nya sajajalan téh ngawangkong. Manéhna geus boga budak hiji. Cenah kawin jeun urang Rancakalong, urut babaturan sakelas pisan. Enya, jeung Ida. Kuring inget kénéh ka manéhna.
“Man, kamari pisan panggih jeung Dedi. Jadi ogé nya rék kawin. Jodona mah geuning jeung Kokom nya…” Ceuk Darmaji. Kuring ngaranjug. Jeung Kokom?

“Béja mah rék ka Lilis?” kuring kerung. Darmaji malik kerung.
“Har, karék apal ilaing? Atawa api-api teu apal?” Darmaji mingkin heran
“Keur naon kuring api-api teu apal. Apanan Dedi gé geus lila tara ulin deui ka imah.” Témbal kuring. Darmaji katangen gogodeg. Manéhna lila neuteup kuring.
“Lilis teu nyarita?”

“Nyarita nanahaon, Lilis gé ayeuna mah tara ulin deui ka imah. Sugan téh geus kawin jeung Dedi di Bandung.” Tembal kuring. Jempé sakeudeung.
“Man, Ceuk Dedi mah manéhna téh mikahayang Lilis, tapi Lilis nampik. Nya ayeuna jadina mah jeung Kokom. Milu hiber rumah tangga di Palembang. Beu, ilaing babaturan ulin keur leutik Dedi malah teu apal..” Darmaji ngajéntrékeun. Kuring ngahuleng.

“Ilaing nyaho kunanon Lilis nampik Dedi?” Darmaji nanya.
“Naon?”

“Ceuk Dedi mah Lilis miharep rumah tangga jeung ilaing. Lilis sorangan nu balaka ka Dedi, yén manéhna rék satia nungguan ilaing. Beu ilaing bet téga mihukum Lilis. Malahan ceuk beja kamari-kamari indungna geuring parna, mikiran budakna can kawin-kawin…”

Leng pikiran asa rinyay ngadéngéna, nyéah kana jero dada. Di Cikuda Dedi turun. Baku poé minggu mah di jalan téh sok macét. Pangpangna mah di Jatinangor, paciweuh ku nu lalar liwat rék ulin ka pasar mingguan di Unpad. Panon poé geus karasa panas. Hawa beuki bayeungyang. Pikiran jeung haté noroweco teu pupuguh. Baruk Lilis nungguan kuring?

Sajeroning macét, supir ngarti. Manéhna nyetel kasét dina tip mobil. Kadéngé haleuang tembang sunda. Ari ti mimiti naék ki Dudus mah teu ngawangkong saeutik-eutik acan, jiga nu nyeri huntu. Nya ngadéngé tembang téh jadi aya dédéngéeun dina kaayaan macét mah. Rey karasa aya nu ngeleketey dina lelembutan. Deng tembang marengan panineungan nu teu karasa kumalayang. Haleuang tembang karasa kana puhu kalbu…

asih urang…
diapungkeun ka langit
muntang kana mega
ucang-angge duaan…

asih hurang…
dipentangkeun ka langit
manteng dina bulan
ayang-ayangan duaan…

asih urang…
tingkaretip jiga bentang1
…..

Ser haté nu simpé dumadak haneut ngadéngéna. Tembang bieu lir ungkara basa nu ngusapan mapay-mapay garingna rasa. Tembangna nyaritakeun wanoja nu keur geugeut panineungan ku rasa cinta. Kumalayang haté sajongjonan. Ngarasa bagja teu pupuguh, ngarasa ngemplong pikir, tapi sakapeung hariwang teu puguh. Kuring ngarérét ka ki Dudus nu titatadi teu usik-usik. Bet haté sakapeung ngarasa keueung. Enya, Dedi gé ditampik bubuhan Lilis hayang satia nungguan kuring. Teuing geus sabaraha taun. Tapi naha Lilis tara ulin ka imah deui? Teu kungsi lila, kadéngé deui tembang anyar tina tip…

…..
hate ngarasa geugeut
hayang geura geura deukeut
rasa liwung gandrung
diri kapidangdung
semu ngalanglayung
hayang geura geura tepung

sawangan kumalayang ngawang-ngawang
nyipta rasa tinu anggang jeung manehna
implengan gumalindeng anteng mayeng
namperkeun rasa katineung kadirina

harepan geus jadi ampihan rasa
moal laas najan anggang jeung manehna2
…..

Bener kitu Lilis masih kénéh kangen ka kuring? Bener kitu manéhna teu pundung kawas nu lian? Bener ceuk Darmaji, kuring téga nganyeunyeuri manéhna. Sok jadi hanjakal geus kasar ka Lilis. Kuring nu kungsi kasar ka manéhna. Kuring nu kungsi nyentak manéhna. Babakuna teu ditari teu ditakon unggal manéhna nganjang ka imah. Geuning Lilis mah tetep satia, tetep miharep. Teu karasa tembang dina kasét ganti deui…

…..
dina lambaran katrésna
aya ringkang can kasorang
diri kapidangdung
dipapareng kuciptaan
liuh gumulung kahéman
mugia nyorang kabancang

sumerahna ieu diri
tumarima demi cinta
najan diri kudu nandangan tunggara
najan ukur saliwatan
najan ukur sakedapan
abdi pasrah moal robah pamadegan…3
…..

Duh ibarat kitu Lilis nungguan kuring téh. Palangsiang, boa manéhna tara ka imah deui téh sieun ku kuring, tisaprak kuring ngamuk sual kawin, kabeneran manéhna harita keur aya di imah kuring. Jigana Lilis nyeri haté. Jigana Lilis éra. Jigana ayeuna gé Lilis tara manggihan indung kuring ka imah téh lantaran sieun kuring nyangka nu lian-lian. Padahal Lilis mah tibaheula gé baku sok ngadon nganteuran ka indung kuring mawa sarupaning buah-buahan. Lilis nu éstuning nyaah ka indung kuring nu geus kolot…

Tapi ayeuna mah Lilis geus jiga nu sieun datang ka imah gé. Nu di imah gé geus tara ngomong-ngomong sual Lilis. Kabéh sieun ku ambek kuring. Indung sorangan gé geus tara nyabit-nyabit sual kawin, sual Lilis. Haleuang tembang teu eureun-eureun minuhan pikir kuring, ngusapan haté kuring.

“Kang, tos dugi Cileunyi. Aéh kalahka ngaharuleng” supir nakol kaca panto meupeus lamunan. Kuring jeung ki Dudus ngarénjag reuwas. Tuluy silih pelong. Geuning sarua jeung kuring, sihoréng simanahoreng ki Dudus gé titatadi anteng ngalamun, poho rék eureun di Jatinangor mah.
“Eta geura genah ngarasa dipépéndé kawih sunda sajajalan. Sedih jeung bungah karasana panineungan…” ki Dudus gagaro sirah nu teu ateul.

“Sarua, Ki…”
“Pir! Milu deui muter ka Tanjungsari. Tapi tong dipareman tipna!” ki Dudus ngacung.

***

Sajajalan kasét digeder, béak diputer deui, béak diputer deui. Teu eureun-eureun. Atuh kuring gé nepika apal. Kuring jeung ki Dudus mupakat balik deui ka Tanjungsari ngabélaan hayang tuluy ngadangukeun tembang. Meuli cokelat ka Jatos mah teu jadi. Sapanjang balik mah euweuh nu cacarita. Simpé. Ukur sora mesin mobil. Ukur haleuang tembang. Duh, sajeroning dipépénde tembang, ingetan manteng ka Lilis. Tibaheula manéhna nungguan kuring.

Teu karasa balikeunna mah gancang, geus tepi deui ka Tanjungsari. Can ge lila turun tina mobil, supir ngagorowok, “Kang, kaset pajeujeut!”

Ki Dudus ngadadak hayang buru-buru balik. Inget ka si Nini cenah. Antukna kuring leumpang sorangan. Sajajalan pikiran ngarasa sasab ka awang-awang, asa teu manggih arah. Haté norowéco ngarasa diturih wanci nu can pasti. Di tengah sawah manuk silih udag. Kuring leumpang luhur galengan, dumadak ngarasa hariwang ku hirup…

Di imah, kabéh keur kumpul. Kaayaan tengah imah jiga nu geus kaanjogan sémah. Aya bubuahan dipiringan deukeut panto.

“Aya sémah, Mah?” kuring nanya bari muka jaket. Jempé sakeudeung.
“Enya, aya Lilis. Bieu pisan mulang.” Tembal indung. Kuring neuteup ki Momo, ret ka adi. Si bibi ngaléos ka dapur. Aéh aya naon asa beda ti sasari. Kuring diuk ngahuleng sajongjonan deukeut jandéla kamar. Duh, Lilis nganjang deui…Karasa haté nitah cengkat ngudag Lilis nu jigana can mulang jauh. Kuring ngarawél jakét rék kaluar.

“Rék kamana deui, A?” indung nanya. Kuring neuteup panon indung.
“Rék manggihan Lilis…” Pok téh halon.

“Mun sakirana rék nganyeunyeuri manéhna jiga baheula, leuwih alus tong manggihan.” Ceuk indung kuring semu beurat. Katémbong panon indung ngembeng ku cipanon. Haté kuring ngdadak héab. Simpé sajongjonan. Sakur jelema nu aya didinya neuteup seukeut ka kuring. Rénghap kuring karasa heureut. Gancang kuring kaluar, gidig leumpang gagancangan…

Sajajalan dada karasa beurat. Hawar kadéngé deui tembang nu tadi dina mobil, piligenti nyiwitan ati…

lamun enya jodona
lamun enya kuduna
moal rék aya nu bisa misahkeunnana…

lamun enya cintana
lamun enya hayangna
ulah rek aya nu nyoba misahkeunnana…4

Katémbong tikajauhan Lilis rék balik meuntas sasak. Leumpang kuring digancangan. Mingkin deukuet, dada karasa mingkin heureut. Tilu lengkah ka Lilis kuring ngarandeg.
“Lilis…”

Lilis ngalieuk, semu reuwas amprok jeung kuring. Sakeudeung silih teuteup anteub. Lilis ngeluk tungkul, jiga nu teu wasa paadu teuteup jeung kuring. Kuring ngadeukeutan manéhna. Gap teu asa-asa nyekel leungeun Lilis. Kuring teu nyaho naon nu ngalamuk dina haté Lilis ayeuna. Kuring nungtun manéhna mapay galengan muru saung. Sajajalan nu kadangu ukur sora manuk. Gék kuring duaan dariuk di saung jiga baheula keur leutik. Nya di saung eta pisan, Lilis babarengan deui jeung kuring. Lila paheneng-heneng. Duaan pabetem-betem. Kuring ujug-ujug bingung rék ngomong naon. Lilis tanggah lalaunan, neuteup ka kuring sakedapan. Duh, Lis, geus lila teu tepung. Angin karasa humaliwir. Kuring jeung Lilis silih teuteup. Teu karasa haté ngangkat leungeun sorangan ngaranggeum leungeun Lilis.

“Lis, hapunten Akang, “ pok téh,” Tong jadi pundung. Haté mah teu bisa dibobodo gening. Kuring teh gening teu bisa hirup sorangan…” ceuk kuring halon. Lilis neuteup panon kuring. Duh, bulu panonna mingkin carentik baé. Lilis nu manis, kuat nandangan tunggara satia nungguan haté kuring léah tumarima. Kuring ujug-ujug ngarasa deudeuh jeung geugeut ka Lilis. Katémbong aya nu ngeyembeng lebah kongkolak panonna.

“Lilis bakal satia salawasna…” pokna. Teu kungsi lila manéhna ceurik. Cipanonna nyakclak kana leungeun kuring. Haneut. Teu karasa Lilis nyangsaya kana dada. Cipanonna beueus karasa dina dada kuring.

“Horeeee!!!” kadéngé aya sora nu kareprok tukangeun saung. Kuring jeung Lilis ngarénjag bareng. Reuwas naker. Katémbong ki Momo jeung ki Dudus saparakanca tingtorojol muru saung. Nyi Mimin, adi, si bibi jeung indung kuring nuturkeun ti tukang, sareuri jiga nu bungah. Ki Oleh ajarg-ajragan atoh. Kuring jeung Lilis silih pelong, tuluy Lilis imut ngagelenyu.

“Man, ilaing jadi rék kawin jeung Lilis téh?” ki Momo nanya saklek jiga nanya ka maling. Kuring neuteup Lilis sakeudeung. Lilis imut surti. Kuring unggeuk. Sakur nu aya didinya kabéh keprok deui. Ki Oleh ajrag-ajragan. Indung kuring ngagabruk Lilis jeung kuring bari ngagukguk ceurik, bakating ku bungah. Indung kuring nangtung bari nyusutan cipanon. Teu eureun-eureun syukur ka Gusti. Duh, gening salila ieu téh kuring lain nganyeuneyuri Lilis hungkul, tapi nganyeunyeuri indung, ngariripuh diri sorangan…

Kuring jeung Lilis silih teuteup geugeut. Barang rék nangkeup pisan Lilis, ki Oleh nyekelan taktak kuring.
“Eit, ke heula! Méméh nangkeup Lilis, ilaing kudu panco heula jeung kuring!” ceuk ki Oleh.
“Emang Lilis jagong!” ceuk ki Momo némpas.

“Ilaing mah Oleh baku sok maén sengsor waé!” ceuk ki Dudus nyereng. Kabéh nu aya didinya seuri akey-akeyan ngadéngé aki-aki silih haok. Lilis tungkul bari imut manis. Saung jadi saksina. Duh, Lis, kakara nyadar Akang mah, raray anjeun mun pareng kaisinan estuning katingalna mani geulis…
http://manuskripkesunyian.wordpress.com/2008/02/14/saung-katineung/

Ironisme Pendidikan

Oleh: ROSYAD ABDULLAH M.
DALAM UU Nomor 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Untuk memenuhi hak warga negara, pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun.

UUD 1945 mengamanatkan, dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Sesuai putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-VI I 2008, pemerintah harus menyediakan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Anggaran pendidikan adalah alokasi anggaran pada fungsi pendidikan yang dianggarkan melalui kementerian negara/lembaga dan melalui transfer ke daerah, namun tidak termasuk anggaran pendidikan kedinasan, untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan yang menjadi tanggung jawab pemerintah.

Kenyataan di lapangan, kondisi pendidikan kita, khususnya menyangkut sarana prasarana pendudukung kegiatan belajar mengajar (KBM), belum sesuai apa yang diamanatkan undang-undang tersebut, jika bukan memilukan.

Tengok saja, salah satu contoh kondisi di Kab.Bandung. Sesuai data yang diperoleh dari Disdik Kab.Bandung, selama 2011, jumlah ruang kelas yang rusak dan belum direhabilitasi mencapai 1436 ruang.

Selama tahun anggaran 2011, tak satu pun ruang kelas yang dapat direhab atau dibangun. Ironisnya, hal itu karena terkendala aturan, yang satu pihak mengharuskan menggunakan sistem lelang tapi di pihak lain menginginkan sistem swakelola.

Menurut Sekretaris Disdik Kab.Bandung, Agus Firman, Rabu (7/12), dana alokasi khusus (DAK) tahun anggaran 2011 yang jumlahnya puluhan miliar khususnya untuk pembangunan (rehab) ruang kelas, sedikitpun tak ada yang terserap.

Hal itu akibat belum jelasnya sistem penganggaran dana. Sistem lelang atau swakelola? Dana tersebut lanjutnya, belum termasuk dana bantuan gubernur untuk rehab ruang kelas yang jumlahnya Rp 550 juta.

Diakui Agus, total ruang kelas yang seharusnya direhab tahun anggaran 2011 sebanyak 1436 ruang, terdiri dari Sekolah Dasar 1026 ruang, SMP 399 ruang, SMA 3 ruang san SMK 8 ruang. Tentu saja ironisme semacam ini sudah seharusnya mendapat penanganan serius, paling tidak dari lembaga terkait seperti pemeriontah Daerah dan DPRD.

Pada akhirnya, ironisme ini harus sampai kepada pihak Depdiknas untuk melakukan evaluasi, sejauhmana efektivitas pendanaan yang digulirkan selama ini yang jumlahnya tak sedikit. Jangan sampai, anggaran dana pendidikan cuma enak terdengar, tapi tak sedap dirasakan, karena masih banyaknya ruang sekolah yang rusak yang dapat menghambat proses KBM. Akhirnya kembali lagi, idealnya produk UU tetap memerlukan idealisme pelaksana UU. Tanpa itu, nonsense! (Wartawan HU Galamedia)** Kamis, 22 Desember 2011

Ka Hareup Ngala Sajeujeuh

KATA jeujeuh mengandung arti ukuran, kehati-hatian, kepastian, tidak berlebihan. Pas. Para karuhun Sunda, memberikan wejangan agar dalam berucap dan bertindak, haruslah penuh jeujeuhan. Jangan sembarangan, sehingga menimbulkan hal-hal yang kontroversial dan kontraproduktif.

Jika maju, untuk mengerjakan sesuatu yang baru, harus sajeujeuh, maka ke belakang cukup dengan salengkah saja. Tidak terlalu mundur jauh ke masa lalu, agar tidak menimbulkan keluh-kesah mempersoalkan keadaan. Seolah-olah masa lalu terlalu indah untuk ditinggalkan, masa depan terlalu dikhawatirkan untuk dituju.

Peribahasa ka hareup ngala sajeujeuh, ka tukang ngala salengkah, adalah pedoman hidup penuh kearifan para karuhun Sunda yang penuh etos kerja. Mengambil yang baik di masa lalu, sekaligus menciptakan yang lebih baik di masa kini. Sehingga menempuh masa depan berlandaskan pada tatapakan yang kuat kokoh.

Dengan melihat ke sebagian masa lalu, para karuhun Sunda mengoreksi segala kesalahan agar tidak kembali terulang. Sedangkan menghadapi masa depan, setelah segala kekurangan disempurnakan pada masa sekarang, dan mulai menata langkah-langkah ke masa depan.

Menyiapkan bekal bagi anak cucu, buyut, bao, canggahwareng, udeg-udeg, dan kakait siwur, rangkaian anak keturunan dari generasi ke generasi berupa kekayaan material-finansial, yang terus bertambah, dan kekayaan mental-spiritual, yang panceg dalam adeg-adeg.

Ka hareup ngala sajeujeuh, ka tukang ngala salengkah, mengandung unsur muhasabah (nyaliksi diri), yaqzoh (hudang kasadaran), dan taubah (bersih lahir batin). Sehingga, hubungan erat antara diri sendiri (mikrokosmos) dengan alam semesta (makrokosmos), tetap harmonis. Melahirkan kondisi yang normal dan penuh harapan dalam kehidupan sehari-hari. (Tim Disparbud Jabar)**

Friday, December 30, 2011

Negeri Impian

Oleh: RINNY ROSLIANY
UDARA dingin, semilir menyejukkan wajah. Meski hari sudah beranjak dari pukul 11.00 WIB, hawa menyengat dari panas matahari tidak begitu terasa. Begitu pula ketika jam bergerak perlahan menuju ke angka 12.00 WIB. Hawa panas yang biasa menyengat di ibu kota ini, sangat tidak terasa. Puluhan pohon yang berjejer dan sejumlah taman di setiap kota rupanya menjadi peredam panas matahari. CO2 dikeluarkan dari setiap jari daun, yang membuat udara menjadi sejuk.

Meski, di alur jalan lalu lintas dipenuhi oleh kendaraan. Namun, tidak ada kemacetan. Tertib dan berjalan lancar. Padahal hari itu, long week end alias libur panjang. Suara klakson tidak bersahutan. Yang terdengar, malah suara burung pipit dan kutilang yang berada di taman di sudut kota ini.

Perjalanan panjang dari kantor ke rumah yang biasanya ditempuh dalam satu jam ternyata hanya memakan waktu 30 menit. Kunyalakan televisi di tengah rumah dan terlihatlah sebuah tayangan mengenai satu peradilan. Sang koruptor, mantan anggota DPR RI itu diadili karena terbukti bersalah.

Namun yang paling mencengankan adalah dalang di balik kasus itu. Nama-nama besar yang selama ini selalu menolak dikait-kaitkan, ternyata berhasil diungkap oleh pihak komisi pemberantasan korupsi (KPK). Pindah ke channel lain, buronan yang juga mantan isti pejabat di negeri ini tertangkap. Tidak lagi ada kepura-puraan bahwa dia menderita sakit demensia alias pelupa berat. Terkuaklah semua.

Kupindahkan channel lainnya. Owh, sang Presiden sedang berada di salah satu sudut negeri ini. Langsung membereskan semua permasalahan akibat konflik di ujung timur negeri ini. Aset emas yang menjadi perguncingan dan perebutan di wilayah itu, bisa diambil oleh Presiden karismatik. Tentu untuk kepentingan warganya.

Bahkan, sang Presiden meniru apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khathab. Diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas'ud berkata, "Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat dibandingkan ilmu mereka. Mayoritas sahabatpun berpendapat bahwa Umar bin Khattab menguasai 9 dari 10 ilmu.

Layaknya Khalifah Umar Bin Khatab pula, dengan kecerdasannya Presiden menyatukan menciptakan lembaga peradilan, membentuk lembaga perkantoran, membangun balai pengobatan, membangun tempat penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan hukuman cambuk bagi peminum "khamr" (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk, audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya. Yang pasti, Presiden menjadi seorang pemimpin yang arif, bijaksana dan adil dalam mengendalikan roda pemerintahan.

Tidak lama kemudian, 'Prang', suara keras itu sangat memekakkan telinga. Aku kaget dan mataku terbelalak ketika mendapati sebuah tayangan yang jauh berbeda di televisi di ruang keluargaku. Sang mantan anggota DPR RI yang terkena kasus dugaan korupsi, ternyata masih disidang. Bahkan, hingga saat ini penyidik belum mampu mengungkapkan kasus tersebut.

Sang nyonya pejabat yang juga tersangka atas dugaan suap, malah diberitakan drop. Konon, katanya, sakit lagi. Ahhh. Dengan kesal, kupindahkan lagi ke channel lainnya. Walah, di provinsi paling ujung negeri Indonesia ternyata masih ada pertikaian. Kasus pilkada hingga masalah emas di tambang freeport.

Saking kesalnya, aku keluar rumah. Hawa panas langsung menyergap mukaku. Tidak ada semilir angin sejuk seperti tadi. Kemudian kususuri kota ini, loh ke manakah pohon yang tadi kulihat berjejer rapi? Malah habis ditebang karena ada pelebaran jalan raya. Akibatnya ketika hujan deras megguyur, malah memenuhi jalanan kota ini. Saluran drainase yang dibuat asal-asalah ternyata tidak bisa membawa air hujan ke sejumlah got. Oalah, kuusap mukaku. Bermimpikah aku? (wartawan HU Galamedia)** Sabtu, 24 Desember 2011

Hafalan Sholat Delisa Sebuah Keikhlasan


BERANGKAT dari novel, sebuah cerita yang begitu indah dan penuh kehangatan dituangkan dengan apik menjadi tontonan keluarga yang menyejukkan. Dengan menyuguhkan judul yang sama, Hafalan Sholat Delisa film tersebut juga sama-sama mengambil setting peristiwa tsunami Aceh pada 26 Desember 2004.

Kisah ini menceritakan kehidupan Delisa (Chantiq Schagerl), gadis kecil kebanyakan yang periang, tinggal di Lhok Nga desa kecil di pantai Aceh, mempunyai hidup yang indah. Ia anak bungsu dari keluarga Abi Usman (Reza Rahadian). Ayahnya bertugas di sebuah kapal tanker perusahaan minyak internasional.

Delisa sangat dekat dengan ibunya yang dia panggil Ummi (Nirina Zubir), serta ketiga kakaknya, yaitu Fatimah (Ghina Salsabila), dan si kembar Aisyah (Reska Tania Apriadi) dan Zahra (Riska Tania Apriadi). Pada 26 Desember 2004, Delisa bersama sang ibu sedang bersiap menuju ujian praktik salat ketika tiba-tiba terjadi gempa. Gempa yang cukup membuat ibu dan kakak-kakak Delisa ketakutan.

Tiba-tiba tsunami menghantam, menggulung desa kecil mereka, menggulung sekolah mereka, dan menggulung tubuh kecil Delisa serta ratusan ribu lainnya di Aceh serta berbagai pelosok pantai di Asia Tenggara. Delisa berhasil diselamatkan prajurit Smith, setelah berhari-hari pingsan di bukit cadas.

Sayangnya luka parah membuat kaki kanan Delisa harus diamputasi. Penderitaan Delisa menarik iba banyak orang. Prajurit Smith sempat ingin mengadopsi Delisa bila dia sebatang kara, tapi Abi Usman berhasil menemukan Delisa.

Delisa bahagia berkumpul lagi dengan ayahnya, walaupun sedih mendengar kabar ketiga kakaknya telah pergi ke surga dan ibunya belum ketahuan ada di mana. Namun Delisa bangkit, di tengah rasa sedih akibat kehilangan, di tengah rasa putus asa yang mendera Abi Usman dan juga orang-orang Aceh lainnya. Delisa telah menjadi malaikat kecil yang membagikan tawa di setiap kehadirannya.

Walaupun terasa berat, Delisa telah mengajarkan bagaimana kesedihan bisa menjadi kekuatan untuk tetap bertahan. Walau air mata rasanya tak ingin berhenti mengalir, tapi Delisa mencoba memahami apa itu ikhlas, mengerjakan sesuatu tanpa mengharap balasan.

Cukup lama

Dikatakan Sony Gaokasak yang tidak lain sutradara Hafalan Sholat Delisa, film dengan kekuatan besar membutuhkan proses produksi dengan persiapan yang cukup lama, lebih dari dua tahun. Termasuk film garapannya ini. Dimulai dari pencarian lokasi dan perencanaan desain produksi, dilanjutkan dengan pencarian pemeran tokoh-tokohnya.

"Dalam usaha pencapaian mood visualisasi dibutuhkan penciptaan ruang dengan pilihan lokasi yang mampu mewakili tuntutan imajinasi cerita. Komposisi lokasi 80% outdoor dan 20% indoor serta 3 fase besar yang menjadi latar film," papar Sony kepada wartawan saat ditemui di Radio Ardan Bandung Sabtu (24/12).

Dijelaskannya, ketiga fase tersebut yaitu fase keindahan sebelum datangnya tsunami, fase kehancuran yang menghanyutkan saat datang tsunami, serta fase yang menguatkan saat Delisa dan orang-orang di sekitarnya kembali mendapatkan kekuatan cinta. "Semoga karya ini mampu menginspirasi seluruh masyarakat," ujarnya.

Tidak hanya sang sutradara yang betul-betul jatuh cinta pada film Hafalan Sholat Delisa, para pemain film tersebut pun merasakan hal yang sama. Salah satunya Nirina Zubir yang berperan sebagai Ummi Salamah. Menurutnya dari sekian peran yang pernah ia bawakan untuk beberapa film layar lebar, film inilah yang bisa dikategorikan tidak mudah.

"Film ini benar-benar beda, di sini saya main sebagai ibu 4 anak padahal saya ini ibu satu anak. Di samping itu peran ibu di film Hafalan Sholat Delisa ini adalah sosok ibu yang begitu sabar, saleh, dan penyayang. At least banyak yang bisa saya petik di sini sebagai bekal seorang ibu," katanya saat ditemui di tempat yang sama.

Sementara Chantiq yang memerankan Delisa mengatakan, dirinya cukup senang bisa bermain film bersama aktor dan aktris senior. "Wah seneng banget bisa main film ini, enggak bisa aku katakan dengan kata-kata. Jadi jangan lupa nonton. Dan buat anak-anak, banyak pesan moral yang disampaikan film ini," ujarnya. (tri widiyantie/"GM")**
Galamedia
Senin, 26 Desember 2011

Keajaiban di Balik Manisnya Madu


Oleh: ELLA PUSPITA SUTARMAN
MADU adalah cairan yang kental yang dihasilkan oleh lebah madu memiliki banyak sekali manfaat dan dapat mengobati berbagai macam penyakit. Masyarakat seringkali salah presepsi tentang madu seolah madu adalah kotoran lebah karena berasal dari perut lebah. Sebenarnya bukan, madu disimpan dalam honey sac dalam perut lebah yang terpisah dari perut besar lebah (large intestine, stomach). Di dalam honey sac inilah proses penguraian disakarida diubah menjadi monosakarida.

Kebanyakan produk madu yang beredar di pasaran merupakan madu yang berasal dari lebah ternak (Apis mellifera). Sedikit produk madu yang berasal dari lebah hutan (Apis dorsata). Padahal Indonesia terkenal dengan hutan hujan tropis yang terbentang dari Sumatera - Papua. Madu lokal tersebut dipanen secara lestari dan higinis oleh komunitas adat masyarakat sekitar hutan untuk diolah. Madu hutan juga mempunyai aspek lingkungan dan sosial ekonomi yang sangat penting bagi hutan dan komunitas masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.

Produk madu yang dihasilkan oleh lebah hutan biasanya memiliki kualitas yang lebih bagus dari lebah ternak, karena lebah hutan lebih mandiri dibandingkan lebah ternak. Tumbuh-tumbuhan obat yang seringkali ditemukan di dalam hutan hujan tropis menjadi salah satu sumber pakan bagi lebah hutan. Berbeda dengan lebah ternak yang terbiasa diberi makanan oleh pemeliharanya dan biasanya tidak menyukai tumbuh-tumbuhan obat.

Menurut Dr Ir Erwan MSi dari Fakultas Peternakan Universitas Mataram, NTB, lebah jenis Apis dorsata banyak dijumpai di hutan Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumba (NTT), Deli, Bengkulu atau Lampung (Sumatera Utara/Selatan) yang selama ini memang dikenal pula sebagai daerah penghasil madu Apis dorsata yang terbesar dan bermutu prima. Selain itu, lebah ternak mudah terserang penyakit, biasanya jika lebahnya sakit seperti terkena flu para peternaknya memberikan aspirin dengan langsung mengoleskannya pada tubuh si lebah. Sudah begitu lebah akan sehat kembali. Tetapi dampaknya dapat mengontaminasi dan memengaruhi kualitas madu yang akan dihasilkan si lebah.

Lebah madu membuat sarang madu dengan bentuk heksagonal. Sebuah bentuk penyimpanan yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk geometris lain. Bentuk sarang yang heksagonal memungkinkan mereka menyimpan madu dalam jumlah maksimal. Tidak ada tambalan dalam pembuatan sarang ini.

Lebah madu selalu hidup berkoloni, rata-rata setiap koloni berkisar 60-70 ribu lebah dalam satu sarang. Walaupun populasi yang demikian padat, lebah mampu melakukan pekerjaannya secara terencana dan teratur rapi.

Saat ini madu belum banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Padahal madu berkhasiat untuk tubuh karena mengandung aneka zat gizi seperti karbohidrat, protein, asam amino, vitamin, mineral, dekstrin, pigmen tumbuhan dan komponen aromatik. Berdasarkan data, konsumsi madu penduduk Indonesia saat ini mencapai 15 gram/kapita/tahun. Jumlah ini masih jauh dibandingkan dengan konsumsi madu oleh masyarakat dinegara-negara maju seperti Jerman, Inggris, Jepang dan Amerika Serikat yang mencapai 1000-1600 gram/kapita/ tahun.

Madu sangat baik dan aman dikonsumsi oleh berbagai golongan umur. Madu bermanfaat untuk memperkuat janin yang lemah pada ibu hamil, menjaga stamina dan kesehatan ibu, memenuhi asupan gizi bagi pertumbuhan janin. Madu menjaga ketahanan tubuh dan meningkatkan nafsu makan pada anak, membantu pertumbuhan fisik, dan tahan terhadap penyakit, dan memulihkan stamina.

Hasil penelitian ahli Gizi dan pangan, madu mengandung karbohidrat yang paling tinggi diantara produk ternak lainnya susu, telur, daging, keju, dan mentega sekitar (82,3% lebih tinggi). Setiap 100 gram madu murni bernilai 294 kalori.

Sebagian masyarakat mungkin berpikir bahwa mengonsumsi madu akan menyebabkan obesitas dan tekanan darah tinggi yang menyebabkan penyakit jantung karena mengandung sukrosa, glukosa, dan fraktosa. Ajaibnya kandungan sukrosa, glukosa, dan fraktosa pada madu justru menyehatkan. Suatu riset dari studi menghasilkkan suatu rekomendasi bahwa madu mempunyai efek yang positif bagi penderita penyakit jantung. Dalam relatif singkat, madu dapat menurunkan kolesterol dan yang paling dramatis adalah menurunkan tingkat CRP terhadap orang yang mempunyai kadar kolesterol tinggi. Tampaknya CRP mempunyai peranan penting penyebab penyakit jantung selain kolesterol. Madu mudah dicerna dan dapat memperbaiki fungsi ginjal dan usus, cocok untuk diet, karena rendah kalori. Jika dibandingkan dengan jumlah gula yang sama, kandungan kalori madu 40% lebih rendah. Walau memberi energi yang besar, madu tidak menambah berat badan.

Seseorang sahabat menghadap Nabi Muhammad saw lalu berkata, "Saudaraku mengeluhkan sakit pada perutnya." Nabi berkata, "Minumkan ia madu." Kemudian orang itu datang untuk kedua kalinya, Nabi berkata, "Minumkan ia madu." Orang itu datang lagi pada kali yang ketiga, Nabi tetap berkata, "Minumkan ia madu." Lalu orang itu datang lagi dan menyatakan, "Aku telah melakukannya (namun belum sembuh juga malah bertambah mencret)." Nabi bersabda, "Allah Mahabenar dan perut saudaramu itu dusta (ada yang tidak sesuai dengan perut saudaramu itu). Minumkan lagi madu." Orang itu meminumkannya lagi, lalu saudaranya pun sembuh. (HR. Al-Bukhari no. 5684 dan Muslim no. 5731). (Penulis, mahasiswa UNPAD jurusan Teknologi Industri Pangan)**
Galamedia
Senin, 26 Desember 2011

Thursday, December 29, 2011

Tips Belanja Selama Berwisata


Oleh: Arzetti Bilbina
SELAMA berwisata, selain menikmati segala wana wisata yang ada, kegiatan seru lainnya yang dapat dilakukan saat berwisata adalah berbelanja.

Belanja merupakan salah satu kegiatan yang disukai banyak orang saat berwisata. Bahkan pelaku bisnis di industri pariwisata melihat wisatawan sebagai pasar yang potensial.

Dengan pasar yang potensial tersebut sehingga muncul istilah wisata belanja atau wisata sambil berbelanja yang banyak ditawarkan oleh berbagai pelaku industri pariwisata. Bagi Anda yang berkantong tebal dan uang bukanlah masalah, Anda tinggal membuat daftar barang yang ingin dibeli serta daftar lokasi wisata belanja yang hendak dituju. Tetapi, bagi Anda yang berkantong tipis dan pas-pasan, sebaiknya Anda perlu kiat khusus saat belanja agar perjalanan Anda bisa tetap berlangsung mulus dan menyenangkan. Berikut tips wisata belanja bagi Anda:

Buat Daftar

Sebaiknya Anda membuat daftar belanja, barang apa saja yang ingin dibeli sebelum melakukan wisata belanja atau paling tidak tahu persis apa yang ingin dibeli. Hal ini sangat perlu diperhatikan oleh Anda karena dengan membuat daftar belanja kita bisa memperkirakan jumlah barang yang kita mau beli.

Jangan sampai barang-barang yang kita tidak inginkan terbeli oleh kita dan menjadi hal percuma dan tidak bermanfaat

Tentukan Anggaran

Tentukan plafon anggaran yang akan digunakan saat berwisata belanja, agar kita bisa memperkiraan jumlah pengeluaran yang dibutuhkan. Jangan sampai besar pasak daripada tiang, pengeluaran yang dikeluarkan untuk belanja lebih besar dari pemasukan yang kita punya.

Cari Informasi

Mencari informasi tentang tempat penjualan barang-barang yang ingin Anda beli, mungkin bisa membantu Anda agar kita bisa menghemat sedikit pengeluaran dan kita tidak susah payah berjalan jauh untuk mencari barang yang kita inginkan. Informasi itu, bisa dapatkan dari berbagai sumber (internet atau koran) atau dari masyarakat lokal.

Jangan Mudah Tergiur

Di tempat belanja, jangan terbuai program diskon atau promosi. Program diskon yang tampak jor-joran bisa mendorong Anda membeli barang-barang yang tidak diperlukan. Jika akhirnya tergoda, teliti dengan cermat barang yang akan dibeli.

Murah Tapi Bermanfaat

Untuk menghemat sebaiknya cari harga termurah untuk barang dengan kualitas yang kurang lebih sama. Sebaiknya Anda jangan lupa melakukan penawaran untuk memperkecil pengeluaran. Lakukan penawaran dengan tenang, jangan menunjukkan kesan Anda sangat tertarik pada suatu barang. Ajukan harga penawaran setengah dari harga diajukan penjual.

Bersikap Tenang

Selama berbelanja lakukan dengan tenang, jangan terburu-buru. Hindari belanja pada saat jam sibuk atau jika Anda tidak punya cukup waktu. Selamat berbelanja!!!! (net)**
Galamedia  Kamis, 29 Desember 2011

Mang Endin Telah Berpulang...



DUNIA perwayangan kembali kehilangan seorang perajin terkemuka. Setelah Mang Iin berpulang, kini Endin Suhandi meninggalkan karya dan keluarganya untuk selama-lamanya.

Mang Endin --begitu ia dipanggil oleh kawan-kawannya-- meninggal pukul 05.00 WIB, Rabu (28/12) saat tengah jalan pagi menemani cucunya di sekitar rumahnya, Gg. Curug Canglung Dalam, Mohamad Toha, Bandung.

"Ia tiba-tiba jatuh, lalu pingsan sebelum kemudian meninggal," ujar Titi, salah seorang anaknya.

Mang Endin tinggal di sebuah rumah berukuran 6 x 8 meter. Sebuah rumah yang amat sederhana di pinggir pintu Tol Muhammad Toha. Di situlah ia biasa membuat wayang. Hasilnya untuk menafkahi istrinya, Pipih Sopiah dan keenam anaknya.

Pria kelahiran Bandung, 5 Juni 1941 ini merupakan salah seorang seniman pembuat wayang yang sangat kreatif, terbuka, dan mau menerima perubahan. Karya-karyanya sangat istimewa sehingga banyak digunakan para dalang di Jawa Barat. Bahkan belakangan Mang Endin di-booking Asep Sunandar Sunarya dari Giri Harja III.

Menurut salah seorang dalang dan ahli wayang, Wa Kabul E.S., wayang hasil karya Mang Endin sangat istimewa, terutama untuk jenis buta seperti Rahwana dan Dursasana. Di tangan Mang Endin wayang-wayang tersebut seperti hidup dan berkarakter.

"Mang Endin memang jagonya membuat wayang Raja-raja Beureum dan buta. Wajahnya betul-betul menakutkan. Ini yang tidak dimiliki pembuat wayang lainnya," jelas Wa Kabul.

Dikatakannya pula, pembuat wayang memang bukan hanya Mang Endin, masih banyak pembuat wayang lainnya dari kalangan generasi muda. Tetapi yang harus dicatat, wayang buatan Mang Endin nyari, seperti hidup dan proporsional. Sehingga dengan meninggalnya Mang Endin, dalang-dalang di Jawa Barat sangat kehilangan tokoh pembuat wayang terbaik.

"Para pembuat wayang memang banyak jumlahnya, lebih muda dan mungkin lebih pintar. Tetapi Mang Endin itu pencipta bentuk, sedangkan yang lain hanya meniru. Mang Endin seorang inspirator, layak disebut maestro. Mudah-mudahan ada penghargaan dari masyarakat dan pemerintah atas karya-karyanya ini," ungkap Wa Kabul.

Sementara itu, seorang dalang muda, Opik, menilai karya Mang Endin bukan sebuah produk massal. (nana sukmana/"GM")**